The Billionaire'S Daughter

The Billionaire'S Daughter
Bab 33


__ADS_3

Beberapa minggu sekembalinya dari Melbourne, Sarah tengah sibuk mengerjakan proyek baru, sebuah apartement di Utara Kota London. Pertunangan yang harusnya diadakan dalam waktu dekat sengaja diundur atas dasar keinginan Sarah, dan Andrew hanya menyetujui saja.


Bukan karena ia tidak siap, hanya saja ia perlu memberi kesempatan lagi untuk David. Menemukan alasan dibalik pernuatan menyakitkan yang telah David lakukan padanya. Dan mengenai Valleria, sudah lama ia tidak bertemu dan mendengar kabar tentangnya. Selama ia koma dan sudah sadarkan diri, seniornya itu seperti ditelan bumi. Tidak ada satupun teman yang mengetahui keberadaannya. Kalau pun ada hanya mengatakan bahwa Valleria kembali ke negara asalnya, Italia.


Andrew sedang sibuk di perusaahaan penyiaran miliknya, tapi saat ini Sarah jauh lebih bisa mengerti kondisinya. Mungkin karena ia juga sudah merasakan bagaimana sibuknya orang saat bekerja, jadi ia tidak akan merengek lagi seperti dulu. Rencananya siang ini Sarah akan mengunjungi Oxford University untuk bertemu dengan mentornya dulu. Karena mereka akan mengerjakan proyek bersama membangun sebuah sekolah untuk anak-anak tunawiswa di London.


Sarah memacu mobil menuju Oxford University ditemani Rose yang tengah sibuk memainkan ponselnya. Entah apa yang sedang dilihat oleh gadis berambut merah itu, yang ia tahu sahabatnya selalu punya hal menarik untuk diamati.


“Ada berita apa hari ini, Miss Encyclopedia?” tanya Sarah mencibir.


“Penasaran?” goda Rose pada Sarah yang fokus menyetir.


Sarah memilih diam dan menikmati alunan lagu yang ada di playlistnya. Mengabaikan Rose yang tengah melihatnya dengan tatapan menggoda. Gadis itu juga tidak mengatakan ada gosip apa hari ini, karena ia tahu jika Sarah hanya ingin mengejeknya.


Akhirnya mereka sampai di Oxford University setelah menempuh perjalanan selama 1 jam dari kantor. Sarah memarkirkan mobil di parkiran khusus tamu yang jaraknya berdekatan dengan parkiran staff dan pengajar. Rasanya sudah cukup lama keduanya tidak menginjak area Universitas setelah lulus beberapa tahun lalu.


Keduanya disambut hangat oleh Professor dan para staff yang mengenal mereka. Bersahabat semasa kuliah dan memiliki minat yang sama pada bangunan tua. Bahkan sering mengerjakan proyek renovasi sejak masih menempuh pendidikan S2 di sini.


Keduanya merupakan kolaborasi arsitek hebat yang dimiliki Inggris, mereka mampu menciptakan maha karya seni dalam bentuk bangunan-bangunan indah. Dan sudah berapa banyak bangunan tua yang telah dijamah oleh tangan hangat mereka.


Meeting dengan para Professor berlangsung sebentar tidak seperti dengan rekan bisnis mereka. Dan ini adalah persembahan dalam rangka ulang tahun Universitas untuk anak-anak tunawisma yang tidak bisa melanjutkan pendidikan, tentu keduanya sangat antusias.


Setelahnya mereka berkeliling Universitas dengan berjalan kaki. Bersyukur mereka mengenakan pakaian santai hari ini. Kaos dilapisi jas dipadukan dengan jeans dan sneaker. Mereka ingin mengenang masa-masa kuliah dulu, masa yang mereka rindukan. Langkah keduanya berhenti di depan auditorium Fakultas Sastra dan Budaya. Lebih tepatnya Sarah yang menghentikan langkahnya, jauh tertinggal di belakang Rose. Menyadari Sarah tidak di sisinya, Rose berbalik dan melihat sahabatnya tengah terpaku di depan spanduk yang terpampang di depan auditorium.


“Ya Tuhan! Kenapa kau berhenti?” protesnya berjalan mendekati Sarah. Namun sedetik kemudian ia membeku melihat foto di spanduk.


“Ke-kenapa kau melihatanya?” tanya Rose sedikit gagap, karena tahu foto siapa yang ada di sana.


“David Schneider.”


“Kau mengingatnya?” tanya Rose menatap Sarah dengan mata membola. Sedangkan yang ditanya terlihat biasa saja dan menanggukkan kepala pelan.


Sarah menganggukkan kepala pada staff yang menegurnya, mungkin karena mereka mengenal Sarah. Di sinilah pertama kalinya ia bertemu dan berkenalan dengan David. Lelaki itu dulu mengisi seminar budaya yang diadakan di auditorium, saat itu David masih bergelar PhD (Doctor of Philosophy). Dan sekarang ia berada di sini lagi, melihat lelaki itu berdiri di depan mimbar sedang memberi kuliah umum sebagai seorang Professor dari Universitas ternama di Jerman.


Rose menyusul Sarah yang telah mengambil tempat duduk, mendengarkan setiap kata demi kata yang dari mulut David. Semuanya berubah, lelaki itu makin dewasa dan tampan. Harus Sarah akui itu dan jantungnya masih berdebar saat melihatnya, walau hanya sedikit. Setengah jam sudah Sarah dan Rose mengikuti kuliah umum yang diberikan David. Lebih tepatnya hanya Sarah, karena Rose tenang sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


Dari atas panggung David menyadari kehadiran gadis yang tersenyum hangat padanya. Membuatnya juga membalas dengan senyuman, mengabaikan suara heboh mahasiswi yang terpesona dengan senyumnya. Karena senyuman itu hanya tertuju pada satu titik, Sarah DimitrovJacob.


Selesai sudah kuliah umum yang diberikan oleh David, sebagian mahasiswa bahkan telah meninggalkan auditorium. Menyisakan beberapa gadis yang sibuk ingin mengajaknya berfoto. David melangkahkan dengan pasti kearah belakang, tempat di mana Sarah berada.


“Hi, Sarah...”


“Hi...”


“Hi juga, Rose. Lama tidak berjumpa,” ucap David menyapa Rose yang tengah asik dengan ponselnya, mengabaikan kehadiran David diantara mereka. Rose hanya mengerjapkan matanya sesaat dan mengangguk pelan pada David.


“Hebat! Kuliah umum yang mengagumkan,” puji Sarah pada David yang ikut duduk di sampingnya.


“Benarkah?” tanya David antusias.


Sarah hanya mengangguk disusul oleh Rose yang tidak terlalu memperhatikan kuliah umum David. Sarah sudah memperingatkan Rose untuk tutup mulut, seolah dia masih lupa ingatan. Dan berterima kasihlah pada Rose karena masih ingat kata-kata Sarah sebelumnya. David nampak asik menikmati waktunya bersama Sarah, hal yang sangat ia rindukan sejak lama. Seakan beban berat dalam pikirannya luruh begitu saja.


David tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini untuk merebut hati Sarah yang mungkin telah jadi milik Andrew. Ia mengajak Sarah dan Rose makan siang di salah satu restaurant tempat kencannya dan Sarah dulu. Mungkin dengan begitu Sarah akan mengingatnya, tidak ada salahnya mencoba dan berusaha. Sejenak ia melupakan kehadiran Gabriel, buah cintanya dengan mendiang Valleria. Yang kematiannya menjadi misteri, karena ia masih tidak percaya jika Luke membunuhnya. Walau ia menyebut Luke dengan kata “monster” tapi bersahabat dengannya membuat David tahu seperti apa lelaki itu. Ada sesuatu yang Luke sembunyikan tentang kematian Valleria, ingatkan dia untuk mencari tahu.


David mengemudikan mobilnya sendiri, karena Sarah memilih untuk mengemudikan mobilnya sendiri dengan Rose. Tak berapa lama mereka telah sampai di sebuah restaurant Italia yang terkenal di Kota Oxford. Dulu ia akan menjemput Sarah dari Universitas untuk makan siang di tempat ini. Menikmati kebersamaan yang jarang terjadi, karena tinggal di Negara yang berbeda.


Ketiganya disambut ramah saat memasuki restaurant, bahkan beberapa orang menyapa Sarah dan David. Kenapa bukan Rose? Karena mereka mengenal pasangan itu, sudah lama mereka tidak datang kemari. Sekarang Sarah paham kenapa dulu ia sering sekali datang ke tempat ini sendirian dan sebagian mereka akan menyapanya dengan ramah. Setelah ingatan itu kembali dia ingat jika David menyatakan cintanya di sini. Di malam pertama salju turun bulan Desember, hal yang paling ia sukai sejak kecil.


“Jadi apa yang kalian lakukan di Universitas?” tanya David membuka pembicaraan.


“Kami sedang meeting untuk membahas sebuah project,” jawab Sarah seraya menganggukan kepala pada pelayan yang baru saja mengantarkan pesanan mereka.


“Terdengar menyenangkan, kerja sama Universitas dengan alumni,” ucap David pelan.


“Begitulah, Prof,” Rose menganggukkan kepala, dia harus merespon David karena Sarah mengkodenya.


Sarah merasa tidak nyaman dengan kebersamaan mereka, apalagi David memesankan makanan untuknya. Membuatnya memilih diam seolah tidak perduli, walau hatinya berkata lain. Ia perduli dengan semua perhatian yang David berikan padanya, masih semanis dulu.


David menceritakan berbagai pengalamannya saat menjelajah tempat-tempat baru untuk mempelajari budaya di tempat tersebut. Dan yang membuat Sarah dan Rose terpukau adalah saat David menunjukkan budaya dari Negara Indonesia, tepatnya Suku Asmat di Papua. Mereka tidak habis pikir bagaimana kaum lelaki di sana tidak menggunakan celana, dan hanya menutup bagian vitalnya dengan batang labu yang dikeringkan. Itupun tidak tertutup sempurna, hanya bagian “itu” saja.


Melihat antusiasme Sarah membuat David tersenyum lega, setidaknya dia tahu bagaimana caranya menarik perhatian wanita itu. Dari yang ia tahu bahwa Sarah menyukai tempat baru dan sedikit berpetualang. Dia juga tahu jika Sarah sering ikut Anthony bertugas sebagai tenaga relawan di camp pengungsian atau pedalaman. Wanita hangat yang menjadi sedingin es, karena kesalahannya di masa lalu. Dalam hati David berjanji tidak akan mengulangi kesalahan dan membuat hati Sarah terluka. Sudah cukup kekacauan yang ia buat, bukan hanya satu kekacauan namun dua.

__ADS_1


“Apa kau sudah menikah Professor Schneider?” tanya Rose penasaran, membuat Sarah terbatuk pelan. David segera memberikan gelas berisi air pada Sarah untuk meredakan batuknya.


“Belum,” jawab David santai.


“Wah… Jadi penasaran seperti apa gadis incaran seorang Professor dan pengusaha setampan anda,” kekeh Rose tanpa memperdulikan delikan tajam Sarah.


“Bukannya kau tahu seperti apa gadis incaranku, Miss Scott,” ucap David tenang, namun diabaikan oleh orang yang dimaksud. Sarah tidak ingin terbuai dengan semua perlakuan dan kata-kata manis David. Rasanya sudah cukup membuat hatinya terluka, tidak akan ada kali kedua merasakan sakit dari orang yang sama.


“Bagaimana dengan kalian Miss Scott dan Miss Jacob?” tanya David yang sebenarnya hanya pancingan. Keduanya menyadari jika pertanyaan David sebenarnya ditujukan hanya untuk Sarah.


“Saya telah memiliki tunangan di Canada, dan Sarah juga memiliki tunangan,” jawab Rose jujur, mengabaikan cubitan kecil dari Sarah di pahanya.


“Benarkah?” David menyeringai kearah Sarah.


“Benar, tunangan saya seorang pengusaha media dan perhotelan,” jawab Sarah penuh penekanan.


“Lelaki di pesta malam itu?” tanya David memastikan. Sebenarnya tidak perlu dilakukan, hanya melukai perasaannya sendiri. Sarah mengangguk pelan, tidak ingin melanjutkan bahasan tentang pertunangannya dan Andrew. Karena ia sadar jika kata-kata David hanya sebuah jebakan untuk mengetahui apakah ingatannya telah kembali.


David sadar jika Sarah sedang menghindar dari semua pertanyaan yang ia berikan, dan mungkin saja ingatannya sudah kembali. Apalagi setelah ia menerima perhatian kecil Sarah pada makanan yang dipesannya, pasta tanpa keju, karena David memiliki alergi terhadap olahan keju. Awalnya ia sempat terkejut ketika Sarah mengatakannya pada seorang pelayan, tapi setelahnya ia bisa melihat Sarah bereakssi biasa saja seolah tidak mengatakan apapun.


Mereka makan dalam keadaan hening, hanya sesekali David berbicara yang lagi-lagi hanya ditanggapi oleh Rose. Karena Sarah lebih banyak diam, kalaupun merespon hanya sebuah anggukan atau dehaman. Setelahnya mereka memutuskan berpisah dan sebelum Sarah berjalan keluar restaurant, David mencekal tangan gadis itu. Menyisakan mereka berdua dimeja ini, karena Rose sudah lebih dulu keluar dari restaurant.


“Do you remember me?” Sarah diam menatap David bingung, tidak mengerti arah pertanyaan itu. “Sarah please… Tell me if you remember me,” ucapnya memohon.


“Sorry, Professor Schneider. I am not understand what do you mean,” Sarah mencoba melepasan cekalan tangan David yang langsung dilepaskan oleh lelaki itu.


“You’re my lover,” lidah David kelu mengatakan ini, namun ia harus melakukannya untuk menahan Sarah agar tidak pergi lagi dari hidupnya.


“No! I am not!” tolak Sarah seraya berjalan keluar restaurant meninggalkan David membeku di tempatnya. Namun tidak berapa lama lelaki itu sudah mengejarnya dengan langkah besar.


“Give me a chance…” lirihnya pada Sarah yang hendak membuka pintu mobilnya.


“Huh?”


“Give me a chance, aku ingin memperbaiki semua dan memulainya dari awal lagi. Jika masa lalu kita terlalu menyakitkan untukmu,” David memohon dengan kedua lututnya berada di tepi jalan. Membuat perhatian orang-orang tertuju pada keduanya, bahkan Rose yang sejak tadi berada di dalam mobil keluar untuk melihat pertunjukkan yang dibuat David.

__ADS_1


“Aku tidak mengingatmu, tapi jika itu yang kau inginkan maka baiklah. I’ll give you a chance. But, if you can’t touch my heart so please leave me”, ucap Sarah sebelum membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya, meninggalkan David dalam posisi masih berlutut. Kejam memang, tapi semua itu dilakukan Sara untuk kebaikan mereka. Agar tidak ada lagi yang terluka dan tersakiti karenanya.


Tepat di sudut jalan Sarah menghentikan laju mobilnya, meminta Rose menggantikannya mengendarai mobil. Karena saat ini perasaannya tidak nyaman, air mata yang ditahan tak mampu dibendung lagi. Apalagi David harus merendahkan diri di depan umum seperti tadi, membuatnya merasa bersalah. Ia marah dan kecewa atas apa yang dilakukan David padanya di masa lalu. Jujur saja perasaanya masih ada untuk lelaki itu, walau saat ini Andrew yang nyaris memenuhi seluruh hatinya. Kekasih pertamanya yang selalu ada untuknya dalam keadaan apapun. Dia sadar dengan apa yang ia lakukan, memberi David kesempatan seperti yang disarankan oleh Andrew. Setidaknya ia sudah mencoba untuk berdamai dengan masa lalu.


__ADS_2