
Sudah 2 hari Sarah istirahat di mansion orang tuanya, Dokter Josephine menyarankan agar ia lebih banyak istirahat dan tidak memikirkan hal berat, karena traumanya sewaktuwaktu bisa kembali. Apalagi ia sangat kacau ketika bertemu David. The Jacob masih menutupi kejadian ini dari Luke yang dipastikan akan mengamuk jika tahu. Sedangkan Andrew mengetahui kondisi Sarah dari Edward Jacob, dan saat ini ia tengah menemani Sarah.
“Sweetheart…” paggilnya pada Sarah yang melamun menatap layar hitam televisi.
“Yaa…” Sarah memalingkan wajah kearah Andrew yang sedang menatapnya sendu.
Sarah sangat mengenal tunangannya, Andrew selalu bersikap ramah dan tenang di depan orang lain. Tapi selalu menunjukkan segala ekspresi jika sedang bersamanya. Sarah merasa bersalah karena memberi David kesempatan untuk kembali mendekatinya. Walau ia yakin kalau Andrew tidak akan melarang dan justru memberinya dukungan moral. Hanya saja hatinya belum benar-benar bisa berdamai dengan masa lalu.
“Apa yang kau rasakan setelah memberinya kesempatan untuk kembali masuk dalam kehidupanmu? Kehidupan kita?” tanyanya dengan tangan menangkup wajah Sarah agar menatapnya lurus.
“Tidak tahu, rasanya ini salah,” ucap Sarah dengan tatapan mata kosong dan tidak terbaca Andrew.
Andrew terkejut mendengar jawaban Sarah, “rasanya ini salah” dan apakah karena dirinya atau hal lain. Sarah bukan wanita yang mudah dimengerti setelah kejadian itu, sering kali kata yang keluar dari mulutnya sulit untuk dipahami orang lain. Selama ini Andrew selalu berusaha untuk menjadi pendengar yang baik bagi wanita yang dicintainya.
“Bukan kita, tapi semua yang pernah aku rasakan dan lakukan dengannya. Semua itu salah atau mungkin aku hanya terbawa perasaan saat itu,” ucap Sarah yang melepas tangkupan Andrew pada wajahnya, dan memeluknya seakan tidak ada hari esok. Andrew hanya menikmati dan membalas pelukannya, memberikan kehangatan penuh cinta pada Sarah.
Maafkan aku, Drew. Aku harus memilih jalan ini. Gumamnya dalam hati ditengah pelukan hangat seorang Andrew Niall McCraven.
Keesokan harinya Andrew tidak bisa menemani Sarah karena ada perjalanan bisnis ke Jerman. Walau ia merasa tidak nyaman karena kemungkinan bertemu dengan David semakin lebih besar. Sejujurnya ia tidak ingin menghadiri acara yang sama dengan David, tapi jadwalnya telah tersusun rapi selama berada di Jerman.
Rasa kesalnya pada David semakin menjadi saat beberapa minggu lalu Luke memberi kabar mengejutkan. David Schneider memiliki seorang putra dengan Valleria Ambrosio yang tewas bunuh diri 5 tahun lalu. Akhirnya Luke memutuskan untuk menceritakan padanya tentang apa yang sebenarnya terjadi 5 tahun lalu pada Valleria.
Sejak hari pertama di Jerman, Andrew sudah disibukkan oleh jadwal dengan beberapa relasi bisnis. Membahas beberapa kesepakatan kerja, dan ia tidak pernah lupa memberikan kabar pada Sarah karena tidak ingin kejadian beberapa tahun lalu terulang lagi.
***
Bordeaux, Perancis
Sarah melangkahkan kaki memasuki mansion milik keluarga bangsawan Perancis. Kedatangannya ke Bordeaux untuk membahas proyek renovasi mansion di Kanada. Ia memperhatikan interior mewah mansion melebihi milik kakeknya di Inggris dan menyerupai kemewahan mansion The Jacob di Skotlandia.
Seorang pelayan menyambutnya yang datang sendiri tanpa Rose mendampinginya. Selain bekerja, ia juga ingin menenangkan diri dari semua yang ia alami akhir-akhir ini. Seakan dirinya dipaksa untuk menerima beban berat yang ia sendiri tidak mampu menopangnya.
“Selamat datang di Manoir de Roux, Nona Jacob,” seorang pelayan paruh baya menyambut Sarah.
“Terima kasih. Tapi apa itu Manoir de Roux?”
“Manoir de Roux artinya Mansion Roux,” ucap pelayan itu memberi penjelasan dan Sarah mengangguk paham. Keduanya berjalan menyusuri koridor berwarna gading yang di dindingnya dihiasi berbagai lukisan khas Perancis. Sebenarnya hanya lukisan mawar merah, yang menurut Sarah sangat Perancis.
Tibalah Sarah dan pelayan tadi di depan sebuah pintu kayu besar, pelayan itu untuk mengetuk pintu dari luar. Sedangkan Sarah menunggu untuk dipersilahkan masuk kedalam sana.
__ADS_1
“Monsiur… Nona Jacob telah tiba,” ucap pelayan itu sopan.
“Berikan dia masuk,” ucap suara di dalam sana, terdengar dingin dan tegas bahkan lebih dari yang biasa telinganya tangkap dari anggota keluarga Jacob.
Pintu besar itu terbuka dan menampilkan sebuah ruangan besar dengan interior mewah, begitu klasik dan Sarah sangat menyukainya. Ia melihat seorang pria paruh baya tengah duduk menghadapnya. Sarah tersenyum ramah seraya berjalan kearah sofa yang ditunjuk oleh pria itu.
“Bagaimana kabarmu, Nona Jacob?” tanya pria itu berbasa basi.
“Baik, Monsiur. Bagaimana dengan anda? Daddy mengatakan kesehatan anda menurun,” Sarah berusaha ramah pada pria bernama Pierre Julien Roux itu.
“Ayahmu selalu berlebihan, aku baik-baik saja. Sudah lebih dari setahun tidak mengunjungi Kakekmu, Philips Jacob. Semoga semuanya baik-baik saja.”
“Mereka baik-baik saja, jadi kita mulai dari mana, Monsiur?” ucap Sarah tidak betah berbasa basi sembari mengeluarkan tablet dari dalam tas.
Pierre menjelaskan rencananya untuk merenovasi mansion putranya yang telah kosong selama 1 tahun lebih. Semenjak putranya meninggal tidak ada lagi kehidupan di mansion besar itu, bahkan Sarah bisa melihatnya dengan jelas dari foto-foto yang ia terima. Terlebih lagi keberadaan kedua cucunya yang entah berada di mana sekarang. Sarah merasa iba pada Pierre Julien Roux yang tidak lain adalah sahabat kakeknya.
“Jadi saya harus mengerjakan perbaikan pada beberapa bagian mansion putra anda di Kanada?” tanya Sarah memastikan.
“Benar, kalau perlu jangan sampai bentuk dan interiornya berubah, kalau-kalau kedua cucuku kembali,” pintanya lirih, bahkan dari nada bicaranya Sarah bisa menilai bahwa Pierre sangat menderita.
“Baiklah, Monsiur. Saya akan berusaha memenuhi keinginan anda,” ucapnya sebelum menyesap jasmine tea yang menjadi suguhan andalan Manoir de Roux. Itulah informasi yang ia dapat dari Philips Jacob.
“Merci, Sarah. Staffku akan menyiapkan semua keperluanmu selama di sana. Mungkin akan memakan waktu lebih dari setahun, apakah tidak masalah?”
“K merasa iba pada Pierre Julien Roux yang tidak lain adalah sahabat kakeknya.
“Jadi saya harus mengerjakan perbaikan pada beberapa bagian mansion putra anda di Kanada?” tanya Sarah memastikan.
“Benar, kalau perlu jangan sampai bentuk dan interiornya berubah, kalau-kalau kedua cucuku kembali,” pintanya lirih, bahkan dari nada bicaranya Sarah bisa menilai bahwa Pierre sangat menderita.
“Baiklah, Monsiur. Saya akan berusaha memenuhi keinginan anda,” ucapnya sebelum menyesap jasmine tea yang menjadi suguhan andalan Manoir de Roux. Itulah informasi yang ia dapat dari Philips Jacob.
“Merci, Sarah. Staffku akan menyiapkan semua keperluanmu selama di sana. Mungkin akan memakan waktu lebih dari setahun, apakah tidak masalah?”
“Tidak, Monsiur,” jawab Sarah yakin.
“Keluarga Jacob dan tunanganmu?” keluarga Jacob dan tunanganmu?”
“Semuanya tidak masalah, Monsiur. Mungkin saya juga membutuhkan suasana baru selain Eropa,” ucapnya penuh keyakinan.
__ADS_1
Mungkin ini kesempatan yang akan ia gunakan untuk menenangkan diri, meredam semua perasaan yang berkecamuk di dada. Memastikan sesuatu dalam hatinya, meyakinkan diri tidak ada yang salah dalam keputusan yang telah ia ambil. Pertunangan resminya dan Andrew belum digelar, tapi keduanya telah mengenakan cincin di jari manis masing-masing. Sepasang cincin yang dipesan khusus dari Spanyol.
Cincin kecil bertahtakan berlian melingkar di jari manis Sarah sejak beberapa minggu terakhir. Kesibukan Andrew membuat peresmian petunangan cucu keluarga trillionaire Britania Raya itu terpaksa ditunda.
Beberapa hari setelah pertemuan dengan Pierre Julien Roux, Sarah ditemani Nick Jacob saat bertolak ke Quebec – Kanada. Satu-satunya kakak sepupu yang berada di Inggris, karena dua lainnya saat ini berada di Manhattan. Kalau meminta bantuan Harry dan Henry, adik sepupunya dirasa percuma karena bisa dipastikan mereka akan sibuk sendiri.
“Kau yakin dengan keputusanmu ini?” tanya Nick memastikan saat mereka memasuki pesawat jet pribadi keluarga Roux.
“Aku sangat yakin, Kak,” jawab Sarah yang masih sibuk membenarkan posisi syalnya.
“Baiklah, aku harap dia mengerti dan menghargai keputusanmu ini.”
“Dia selalu mengerti dan aku selalu jahat terus menyakitinya dengan perasaanku,” ucap Sarah lirih.
Nick memilih diam, menatap wajah sendu adik sepupunya yang telah memilih langkah besar. Entah ia akan bersyukur atau menyesalinya di kemudian hari. Nick berharap agar semuanya baik-baik saja, terlebih lagi kondisi Sarah bisa menjadi lebih stabil dari sebelumnya. Melupakan dan meninggalkan kedua lelaki yang memiliki arti besar dalam hidupnya bukanlah perkara mudah. Bahkan The Jacob dibuat terkejut dengan keputusannya menerima tawaran dari Pierre Julien Roux. Ia akan lama kembali ke Inggris, bahkan Halsey marah dan menyebutnya pengecut. Hanya karena hatinya belum tetap di satu tempat dan belum yakin dengan semua keputusannya selama ini.
Ya, benar! Sarah memang gadis yang seperti itu.
***
Andrew baru selesai melakukan meeting dengan Kementrian Pariwisata Jerman, karena ia pemilik dari beberapa hotel berbintang di Negara ini. Rencanya ia akan menghubungi Sarah yang berada di Perancis setelah memeriksa beberapa email. Tapi belum sempat ia menghubungi tunangannya, sebuah email masuk dari seseorang yang namanya sangat ia kenal. Membuatnya menggeram tertahan menahan emosi dan kecewa.
*From : Sarah Dimitrov-Jacob To : Andrew Niall McCraven Subject : I am Gone but Not Leave
Dear My Love, Apa kabarmu hari ini, Darling? Semoga urusanmu di sana berjalan lancar. Maafkan aku mungkin beberapa waktu terakhir keadaanku tidak baik dan membuatmu khawatir. Maaf karena selalu membuatmu tersakiti selama ini, tapi jujur aku sangat mencintaimu. Hanya saja hatiku masih sulit berdamai dengan masa lalu, jadi kuputuskan untuk pergi.
Aku pergi bukan untuk meninggalkanmu, aku akan kembali dan entah kapan hatiku benar-benar siap. Setidaknya setelah itu tidak ada lagi bayang-bayang masa laluku dengannya di kehidupan masa depan kita. Saat ini aku sedang berada di dalam pesawat Keluarga Roux menuju Quebec, Kanada. Ku telah menyepakati sebuah kerja sama dengan Monsiur Pierre Julien Roux dan ku harap kau tidak menyusulku kemari. Jangan mengirimkan seorang spy seperti yang selama ini kau lakukan.
Percayalah… Jika waktunya tiba aku akan kembali padamu, dengan hati dan diri yang utuh hanya untuk mencintaimu.
Sincere Love,
Sarah Dimitrov-Jacob*
Andrew tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Sarah, pergi membawa luka dan sakit yang membelenggunya selama 5 tahun ini. Tidak membiarkan Andrew membantu menyembuhkan lukanya.
“Why Sarah? Why you gone? You not let me help you to heal wounds…” Andrew meraup kasar wajahnya.
Andrew merasa dunianya runtuh, tidak lagi sama setelah kepergian wanita yang paling ia cintai. Walau Sarah mengatakan hanya pergi tidak meninggalkannya, tapi tetap saja wanita itu tidak berada di sisinya. Bahkan ia dilarang untuk bertemu dan mengirimkan orang untuk memantau keadaan Sarah. Wanita yang mencuri hati dan pikirannya sejak kecil, sampai suara pesan masuk di ponselnya menginterupsi.
__ADS_1
Luke Jacob
No need to be worried, she’s okay. Just give her a time to forgive and forget anything that happen. She’ll be your future and trust me… I’ll inform you anything about my sister…