The Billionaire'S Daughter

The Billionaire'S Daughter
Bab 9


__ADS_3

Tangan dan matanya masih fokus pada lembaran kertas draft design untuk project yang sedang ia kerjakan. Hanya saja kali ini pikirannya cukup terusik dengan tatapan lelaki yang sedang duduk di sofa.


“Hmmmm...” gumamnya penuh arti sembari mengangkat wajah menatap lelaki itu. Andrew mengangkat sebelah alisnya menatap Sarah yang meliriknya penuh arti.


“Kau tidak bekerja?” tanya Sarah sambil melipatkan menyilangkan kedua tangan di dada. Ia menggedikkan dagu berulang kali menuntut jawaban dari Andrew.


“Shhhhhh...”Andrew menghela nafas panjang sebelum berdiri menghampiri Sarah. Ia duduk di kursi hadap yang memang tersedia, menopang rahang tegasnya dengan tangan yang bertumpu di meja.


“Ini sedang bekerja,” senyum jahil terbit di bibir tipisnya.


“Kerja apa? Dari tadi kau hanya memandangiku,” gerutu Sarah kesal karena Andrew mengganggunya.


“Memang! Aku sedang bekerja untuk meluruhkan hatimu. Dan mencairkan...” godanya sebelum getaran pada saku celananya menginterupsi.


“Huh. Mengganggu saja,” keluhnya sembari mengambil ponsel dari dalam saku. Ia menatap layar ponsel untuk sesaat sebelum menjawab panggilan itu.


“Yes, McCraven speaking.” Andrew beranjak meninggalkan Sarah menuju dinding kaca yang dipenuhi embun dingin dari salju yang turun. Matanya menatap kosong dengan tangan kirinya seperti sibuk merogoh sesuatu di saku celana. Hingga akhirnya terdengar suara makian yang mengagetkan Sarah.


“Brengsek...!!!” suaranya penuh amarah, membuat Sarah terperanjat dan meletakkan pulpennya.


Kenapa lagi dia? Sarah hanya menggeleng heran dan menatap Andrew yang rahangnya mengeras karena menahan emosi. Entah siapa yang menghubungi, sampai mampu membuat lelaki dingin itu meledak. Karena tidak biasanya Andrew kehilangan kendali seperti sekarang.


“Berani sekali dia menampakkan diri,” suara Andrew masih terdengar kasar dan penuh amarah, membuat Sarah merasa tidak nyaman dan menghampiri Andrew. Membelai lembut punggung kokoh lelaki itu, karena dia tahu hanya itu yang mampu menenangkan sahabatnya pada saat-saat seperti ini. Pelak saja perlakuan Sarah itu membuatnya memalingkan wajah walau hanya sebentar untuk menatapnya. Ia menggenggam tangan Sarah posesif, seperti rasa takut mehilangan menyelimuti hari dan pikirannya.

__ADS_1


Sarah mulai merasakan emosi Andrew teredam dan ia membimbing tubuh lelaki itu agar duduk di sofa. Sekedar meregangkan otot-otot Andrew yang tegang saat emosi.


“I'll call you back,” ia segera memutus sambungan sebelum menyandarkan kepala di bahu Sarah.


Masih segar dalam ingatannya tadi bagaimana ia harus menguatkan Sarah yang sangat rapuh. Ketika menemui pskiater di Philips Jacob Hospital tadi siang, ia yang selalu menguatkan Sarah.


***


“Kau pasti bisa, Sweetheart. Trust me!” Andrew menggenggam tangan Sarah ketika turun dari mobil, berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Yang ada dipikirannya saat ini hanya bagaimana agar gadisnya sembuh dari luka yang bahkan tidak dipahaminya. Sarah memiliki trauma dan sebagian ingatannya hilang bahkan sebagian cerita tentang dirinya. Dan sejak saat itu semua prilaku dan kepribadian Sarah seakan berubah. Lenyap tanpa bekas. Sebelumnya ia adalah gadis manis dan ceria, ia juga sangat mudah bergaul dengan siapa saja. Namun setelah kecelakaan itu, membuatnya benar-benar menjadi orang lain.


Dingin.


Itulah penilaian orang tentang Sarah Dimitrov-Jacob saat ini. Hanya dengan keluarga dan sahabatnya sajalah ia bersikap normal, walau kadang sedikit menyebalkan.


Mungkin aku mulai gila. Pikirannya tidak bisa dikontrol, sampai ia sadar Andrew yang sedari tadi duduk di sisinya membelai lembut punggungnya untuk memberikan ketenangan.


“Sejak berapa lama kamu merasakannya?” tanya Dokter Darla, pskiater yang menanganinya dengan tatapan penuh perhatian. Sarah menatapnya dalam penuh keraguan, sejujurnya ia hanya tidak tahu harus mengatakan apa.


“Tidak apa, let me know. So, I can help you, Miss Sarah,” Dokter Darla berusaha meyakinkan Sarah jika semuanya akan baik-baik saja.


“Around 4 years ago,” ucap Sarah pelan sambil menunduk memandangi kakinya yang bergoyang gelisah. Kepalanya terangkat dan segera menoleh ketika ada suara yang memecah keheningan ruang prakter Dokter Darla, dan ia sangat mengenal siapa pemilik suara itu.


“Paman Paul,” Sarah segera bangkit dari duduknya dan menghambur ke pelukan Dokter Paul. Ya, dia kakak tertua dari ayah Sarah. Selama ia koma dan dalam masa pemulihan di Philips Jacob’s Hospital, Paul yang merawatnya.

__ADS_1


“How my niece? She’s okay?” ia mengecup kening Sarah sebelum melepas pelukan keponakannya.


“As you can see, Uncle. I'm not okay,” Sarah tertunduk lemas sebelum dirangkul Andrew, membawanya kembali duduk di kursi malas yang tersedia di ruangan dokter.


“Bagaimana? She is okay?” tanya Paul memasukan kedua tangan kedalam saku snellinya.


“She isn’t okay, Sir,” Darla menatap mata Paul yang terlihat cemas dengan kondisi keponakannya.


“Separah apa?” suaranya terdengar penuh kekhawatiran. Sarah hanya menatap pamannya yang kini telah berdiri di sisinya, tanpa melepas rangkulan tangan Andrew pada punggung rapuhnya.


“Sarah mengeluhkan sering menangis ketika salju turun tanpa alasan yang jelas,” Darla membaca coretan-coretan yang tidak dimengerti oleh Sarah dan Andrew. Karena memang tangannya sedari tadi sibuk menulis saat mendengarkan Sarah bercerita.


“Separah itukah?” Paul mulai mengernyitkan dahinya.


“Ya. Sepertinya ini ada hubungannya dengan kecelakaan itu. Karena semuanya berlangsung selama 4 tahun lebih,” terangnya datar sebelum terkejut mendapati wajah Andrew telah berubah menjadi merah padam. Paul pun merasakan jika Andrew mengetahui sesuatu.


“Andrew....” Paul memanggil Andrew dengan sangat halus, karena dia tahu apa penyebab perubahan mimik wajah lelaki itu.


“Ssshhhh...” Andrew menarik nafas panjang sebelum akhirnya ia berbicara. Mengepalkan tangan kirinya di atas paha, menahan amarah yang telah siap meledak.


“Sarah kecelakaan di Skotlandia ketika salju mulai turun dan mobilnya lepas kendali akibat jalan licin bersalju,” suara Andrew terdengar sangat parau dan berat. Sarah hanya terdiam dan menatap lelaki disampingnya itu dengan penuh tanya. Apakah lelaki itu baik-baik saja? Karena dia tahu Andrew tidak ingin mengingat kejadian buruk yang telah terjadi pada dirinya. Sarah tahu betul bagaimana sikap dan perhatian Andrew sangat berlebih padanya.


“Now I'm okay, Drew,” Sarah membelai lembut lengan Andrew yang sedari tadi menahan emosi.

__ADS_1


“Semua itu bermula dari satu kejadian dan mungkin menjadi trauma bagi Sarah. Itu sebabnya ada beberapa bagian memori yang hilang, bahkan lebih parahnya menimbulkan hal-hal semacam ini,” Darla mengakhiri ketegangan yang terasa di ruang prakteknya.


__ADS_2