The Billionaire'S Daughter

The Billionaire'S Daughter
Bab 32


__ADS_3

“Arrrrggghhhh..." teriaknya sambil mengacak rambut.


Kepalanya nyaris pecah memikirkan apa yang telah ia perbuat 5 tahun lalu. Ia akui jika semua itu adalah kesalahannya, tapi dia tidak bisa memilih. Karena hatinya terpaut pada kedua sosok wanita itu, Valleria dan Sarah. Katakanlah dia egois, tapi mungkin saat itu dia lebih menyakiti Valleria, membuatnya pergi dan kecewa.


Tok... Tok...


Suara ketukan di pintu ruang kerjanya yang terbuat dari kaca itu menyadarkan David dari lamunan panjangnya. Ia hanya berdeham untuk mengizinkan siapapun itu untuk masuk. Saat ini tatapannya terpaku pada sosok yang baru saja memasuki ruang kerjanya, bersama dengan David. Ia sangat mengenal kedua sosok yang tengah berjalan bersisian dengan James, pia paruh baya dan seorang wanita cantik berambut hitam dengan manik coklat madu. Kehadiran kedua orang itu membuat David terkejut untuk beberapa saat.


“Maaf, Sir. Sir Ambrosio dan Miss Ambrosio ingin bertemu dengan anda,” ucap James mengabaikan David yang masih terpaku di tempatnya. Matanya masih tertuju pada wanita berambut sebahu dengan mata coklat madunya. Tapi tatapannya berbeda, tidak ada kerinduan atau cinta di sana, yang ada hanya kekecewaan dan kesedihan. David berdeham untuk menetralkan suara dan perasaanya. Mempersilahkan kedua orang itu untuk duduk di sofa yang ada di ruangannya.


“Sudah lama sekali, Mr. Ambrosio,” ucap David berbasa basi tanpa memutus tatapannya pada wanita itu. Ia hanya tidak habis pikir, bagaimana bisa sebelumnya ia berpikir bahwa wanita itu telah tiada. Sedangkan saat ini dia sedang duduk dihadapannya.


“Benar. Sudah 6 atau 7 tahun tidak bertemu, kau terlihat makin tampan,” ucap Jose Ambrosio tersenyum tipis.


“Terima kasih. Ada apa sampai kalian ke mari?” tanya David tanpa basa basi, karena tidak mungkin mereka datang tanpa kepentingan.


“Kami ke mari hanya ingin menyampaikan pesan Vall untukmu,” David mengangkat sebelah alisnya karena bingung dengan perkataan Jose Ambrosio. Pesan dari Valleria? Untuk apa menyampaikan pesan jika orang itu sedang duduk di depannya saat ini.


“Kau pasti bingung dan menganggap hal itu aneh,” Jose mengatakan sesuatu yang ambigu baginya.


“Maksudnya?”


“Selama 6 tahun ini kami memilih untuk diam, tidak mencarimu karena kami berpikir semua akan baik-baik saja. Bahkan saat pemakaman Vall dilangsungkan pun kami hanya diam,” ucap wanita disamping Jose Ambrosio membuat David terkejut.


Pemakaman? Valleria dimakamkan? Kenapa? Apa benar dia telah tiada di dunia ini? Jadi sekarang ia benarbenar seorang pembunuh, pembuhuh gadis yang pernah sangat dicintainya. Secara tidak langsung dialah penyebab kekacauan ini, kalau dia tidak memulainya mungkin Valleria tidak berbuat senekat itu dan membuat Sarah kecelakaan. Dan sudah pasti Luke tidak akan bertindak dengan kegilaannya, walau David yakin bukan Luke yang melakukannya.


“Pe---pema---kaman?” ia terbata ketika bertanya pada kedua orang yang hanya memberi anggukan.


“Kami ingin memberikan diary ini untukmu, beberapa hari sebelum ditemukan bunuh diri di Berlin ia sempat menghubungiku. Dia mengatakan jika sesuatu terjadi tolong berikan ini padamu, namun kami tidak melakukannya karena percuma. Kau telah memiliki kekasih dan kami tidak ingin hubungan kalian renggang,” wanita itu terus bicara tanpa memperdulikan wajah putih pucat milik David.


“Kalau kau ingin tahu siapa wanita yang sedang bicara ini, Vincetia Ambrosio. Saudara kembar Valleria dan kau belum mengetahuinya,” kalimat Jose Ambrosio itu menjawab pertanyaan yang sedari tadi memenuhi pikirannya.


“Dan kami membutuhkanmu untuk menolong Gabriel, anak itu sangat butuh dirimu saat ini,” Vincentia menyerahkan amplop coklat bersegel pada David.


“Gabriel?” David membeo menyebutkan nama yang baru sekali ini didengarnya.


“Ya. Usianya 5 tahun, minggu lalu ia mengalami kecelakaan dan kehilangan banyak darah. Tapi---“ Jose Ambrosio menitikkan air matanya.

__ADS_1


“Tapi apa?” David semakin penasaran dengan kalimat terputus pria paruh baya itu.


"Tapi saat hendak dilakukan transfusi darah oleh ayahnya, semuanya tidak cocok. Gabriel tidak memiliki golongan darah yang sama dengannya atau dengan kami. Jadi lelaki itu marah dan meninggalkan Gabriel dengan kami,” Vincentia melanjutkan kalimat ayahnya yang terputus, karena pria itu tengah sibuk menghilangkan jejak basah pada pipi keriputnya.


“Lalu apa hubungannya denganku?” David semakin bingung dengan arah pembicaraan ini. Gabriel? Ia harus menolong anak itu, tapi dia tidak tahu siapa anak itu sebenarnya.


“Semua ada di diary ini termasuk mengenai kehadiran Gabriel. Aku baru melihatnya beberapa hari lalu sebelum akhirnya mengajak Ayah menemuimu di sini. Tolong kau buka amplop dan lembaran diary yang aku tandai itu.”


David mengikuti apa kata Vincetia, membuka amplop yang ada dihadapannya. Dengan tangan sedikit bergetar ia meraih amplop itu, membuka segelnya. Bahkan jantungnya bekerja dengan sangat cepat ketika jarinya menyentuh sesuatu di dalam amplop, pikirannya sudah tidak fokus lagi. Matanya membola melihat foto-foto Valleria bersama seorang bayi yang baru lahir. Dan setelah itu foto-fotonya menuntun bayi laki-laki belajar berjalan. Ia melihat senyuman hangat Valleria, bahkan saat semua mengatakan wanita itu telah tiada.


“Dia Gabriel Ambrosio, putra Valleria,” ucap Jose Ambrosio semakin membuat perasaan David tak menentu. Dan untuk apa mereka menunjukkan foto-foto Valleria dengan putranya.


Tunggu dulu! Gabriel putra Valleria? Usianya 5 tahun? Dan wajah ini? Sangat tidak asing, benar! Wajah itu sangat mirip Samuel saat bayi. Tapi bagaimana bisa putra Valleria memiliki wajah mirip dengan Samuel dan dipastikan mirip dengannya, karena David dan Samuel sangat mirip. Kecuali jika Gariel adalah anaknya. Benar! Itu adalah kemungkinan terbesar jika benar itulah yang jadi alasan kedua orang ini datang menemuinya, bukan menjaga Gabriel.


David menatap buku diary merah ditangannya, aksen mawar merah kesukaan Valleria. Ia membuka bagian buku yang terlah diberi tanda oleh Vincentia, sebuah rangkaian kata yang ia kenali sebagai tulisan tangan Valleria.


*Dear David, my Sunshine...


Aku tidak pernah membayangkan akan menulis sesuatu seperti ini dalam buku harianku.


Tapi entahlah aku sangat menginginkannya, ku merasa semua tidak akan berlangsung lama dan berakhir sangat cepat . Pagi itu aku pergi dengan perasaan kecewa, marah dan dendam. Kau masih menolakku dan menolak untuk kembali padaku karena Sarah. Sejujurnya aku tidak ada masalah dengan gadis baik itu, dia bahkan terlalu baik padaku. Hanya saja aku sangat terkejut ketika dia mengenalkanmu sebagai kekasihnya padaku.


Setelah pertemuan itu, aku mengirim video dan foto apa yang kita lakukan malam itu pada Sarah. Aku hanya ingin dia mundur dan melepasmu. Tapi aku salah, justru berita kecelakaan yand dialaminya membuatku terpuruk. Bukan tidak mungkin mereka akan mencariku, kemudian membalas rasa sakit gadis itu. Aku minta maaf, tidak pernah terpikir akan seperti ini akibatnya.


Tadinya aku ingin memberitahu tentang Gabriel jika kau memutuskan untuk kembali padaku. Tapi kurasa semuanya tidak perlu, anak itu tidak membutuhkan ayah kandungnya dan nama Schneider di balik namanya. Biar Fabio merawatnya karena berpikiran Gabriel adalah putranya. Menggunakan nama keluarga mereka, Fabio sangat menyayangi Gabriel.


Aku hanya berharap kau bahagia dengan pilihan dan cintamu padanya. Maafkan aku Dave telah membuat kalian terluka. Maafkan aku karena begitu mencintaimu. Maafkan aku karena tidak bisa menghentikan perasaan ini. Maafkan aku karena tidak memberitahu tentang Gabriel. Maafkan aku...


Your Valleria*


Air mata David tidak berhenti membasahi pipi, begitu menyakitkan rasa cinta Valleria untuknya. Betapa brengseknya dia tidak menyadari kehadiran Gabriel, putranya. Membiarkan putranya menghabiskan hidup sebagai anak orang lain. Betapa menyakitkan akhir hidup Valleria, walau ia tidak tahu apa yang dilakukan Luke pada wanita itu. Ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Luke, karena ia turut andil dalam masalah ini. Dan kali ini dia tidak akan membiarkan cintanya yang tersisa pergi, Gabriel. Putranya membutuhkan pertolongan dan kehadirannya.


“Aku akan menemuinya,” ucap David lirih pada kedua orang yang menatap iba padanya. Seharusnya mereka membenci David, tapi mereka tidak melakukan itu. Karena satu-satunya peninggalan berharga Valleria sedang menunggunya. Pasangan ayah dan anak itu telah pergi meninggalkan David yang tidak bisa berhenti meitikkan air mata, hatinya remuk redam. Tangannya meraih ponsel di saku celananya, menghubungi orang yang membuat semuanya semakin kacau.


“Untuk apa kau menghubungiku?” tanya orang dari dari balik sambungan dengan sinisnya.


“Apa yang kau lakukan padanya, brengsek? Kau mebunuhnya!!!” teriak David frustasi.

__ADS_1


“Bukan aku, tapi dia sendiri. Untuk apa aku mengotori tanganku dengan darah seorang jalang,” nada bicaranya tenang namun menusuk, membuat emosi David semakin memuncah. Luke sungguh keterlaluan kali ini, memisahkan ibu dan anak untuk selamanya.


“Kau membunuh ibu dari putraku, brengsek! Kau benar-benar monster Luke!!!” teriaknya lagi.


“----“


“Kenapa diam? Terkejut? Ya kau mengacaukan semuanya, monster. Kau melindungi adikmu tapi kau menghancurkan kehidupan bayi kecil yang saat itu baru belajar berjalan, bahkan belum bisa memanggil ayah dan ibu. Dan kau mebuatku kehilangan akal saat ini,” tangis David pecah tak tertahan lagi. Memikirkan rasa sakit yang diderita Valleria dan Gabriel membuatnya semakin sakit. Luke. Nama itu sungguh dibencinya saat ini.


“Aku akan bertanggung jawab atas anak itu,” kata Luke berusaha tetap tenang, walau jelas David bisa menangkap kegugupan dari suaranya.


“Tidak perlu. Dia seorang Schneider dan perlu kau ingat, aku tidak akan melepaskan Sarah. Ancaman monster sepertimu tidak membuatku takut. Aku tidak akan membiarkan cintaku pergi kedua kalinya karena kesalahan bodohku,” David memutus sambungan, tanpa perlu menunggu jawaban dari lelaki itu.


“James...” teriaknya dari kursi kebesarannya.


“Yes, Sir,” James menghampirinya yang masih memiliki jejak basah di pipi.


“Batalkan semua pekerjaanku untuk hari ini dan tolong siapkan pesawat. Aku akan berangkat sore ini ke Roma,” ucapnya.


“Baik, Sir. Tapi maaf, untuk apa anda ingin pergi ke Roma sore ini?” tanya James hati-hati, karena ia paham perasaan David tidak menentu setelah kedatangan Jose Ambrosio dan Vincentia Ambrosio.


“Aku ingin menemui putraku, peninggalan satu-satunya dari Valleria,” jawab David membuat James terkejut dan tidak mampu berkata-kata lagi.


David keluar gedung tergesa-gesa, langkahnya lebar menuju mobil sport yang sedang terparkir di depan gedung. Perasaannya berkecamuk saat ini, memikirkan semua fakta yang baru saja ia dapat, memacu mobil dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di mansion orang tuanya. Menyiapkan diri dengan semua yang akan keluarganya katakan. Bahkan mungkin murka ayahnya akibat kesalahannya dimasa lalu.


Sesampainya di mansion, ia langsung disambut oleh kedua orang tuanya yang sedang bersantai di ruang keluarga. Michael Schneider menatapnya tajam, seolah sudah tahu apa yang akan ia katakana. Sedangkan Rouwiena Muller tetap memancarkan tatapan hangatnya namun ada sedikit kecewa di sana. Seperti yang ia pikirkan, bahwa ayahnya tahu apa yang akan ia katakan.


“Valleria Ambrosio” dua kata yang memporak porandakan perasaannya saat ini meluncur begitu saja dari mulut Michael Schneider.


“Jadi benar wanita itu telah tiada dan melahirkan seorang Schneider?” tanya Michael penuh penekanan saat menyebutkan nama keluarganya.


“Maafkan aku, Dad,” hanya itu kalimat yang lolos dari mulut David.


“Jemput dia! Bawa ke mari dan kembalikan dia sebagai Schneider, bukan putra orang lain. Kami pergi bersamamu sore ini.”


Awalnya Michael dan Rouwiena sangat terkejut mengetahui fakta itu, bahkan sangat murka pada. Namun ada perasaan hangat ketika melihat foto-foto Gabriel yang dikirim James, kemiripan dengan kedua anaknya semakin meyakinkannya jika Gabriel memang anak David dan kekasih pertamanya, Valleria Ambrosio.


“Mulailah menata hidupmu, lupakan Gadis yang sebentar lagi akan menjadi milik orang lain,” Rouwiena membelai lembut punggung putranya.

__ADS_1


“Aku akan membawa Gabriel sebagai Schneider, tapi untuk Sarah, aku tak akan melepaskannya pergi.” ucap David berlalu meninggalkan kedua orang tuanya.


Sore harinya The Schneider bertolak ke Roma dengan pesawat pribadi mereka. Rencananya David akan mengajak serta Jose dan Vincentia Ambrosio. Namun ayah dan anak itu telah kembali ke Italia setelah bertemu dengannya. Laura dan Samuel pun turut serta dalam keberangkatan ini, karena ingin melihat keponakan yang mewarisi wajah David dan Samuel. Tunggu Daddy, Gab. Daddy akan membawamu kembali ke tempat seharusnya kau berada.


__ADS_2