
Udara Kota Munich masih dingin menusuk sampai ke tulang. David melangkah dengan pasti memasuki Schneider Corp Building, mengabaikan tatapan-tatapan kekaguman dari staff wanita di lobby. David hanya memberi senyum tipis dan anggukan halus pada staff yang berpapasan dengannya, walau terasa aneh karena ia tidak pernah bersikap dingin seperti ini.
Sebenarnya tidak ada hubungannya cuaca dengan sikapnya hari ini. Hanya saja ia ingin melakukan hal ini, entah dorongan darimana. Setidaknya beranggapan jika bersikap baik pada orang lain tidak akan membuatnya baikbaik saja. Seperti yang ia lakukan beberapa tahun lalu, percintaanya dipertaruhkan dan harus berakhir.
David memasuki lift khusus Direksi di sisi lift staff, diiringi James dibelakangnya. Hari ini ia hadir di perusahaan untuk menggantikan ayahnya yang sedang berada di Amerika. Dan karena ia tidak ada jadwal mengajar di Universitas saat ini.
Ting...
Lift berbunyi, menandakan bahwa mereka telah sampai di lantai yang dituju. Karpet abu-abu biru tebal menyambut sepatu pantofel kulit hitamnya. David melangkah menuju ruang kerjanya di ujung koridor. Ia menghela nafas panjang saat mendaratkan bokongnya di kursi kebesarannya, memikirkan apa yang dialaminya.
Valleria Ambrosio
Satu nama yang berhasil memporak-porandakan hidupnya. Tapi ia tidak bisa kesal saat ini, terlebih jika apa yang ia pikirkan benar. Bahwa wanita itu tidak berada didunia yang sama dengannya. Memikirkannya membuat kepala sakit, sampai ia membuat James yang berada diluar memasuki ruangannya setelah mendengar erangan frustasinya.
“Ada apa, Sir?” tanya James saat masuk.
David tak bergeming, diam dengan semua pikiran yang memenuhi otaknya. Semua salahnya karena membuat wanita cantik dan sexy itu berakhir tragis, jika benar apa yang dipikirkannya tentang kata-kata Luke di Melbourne beberapa hari lalu. Lalu bagaimana dengan keluarga Ambrosio?
“Sir...”
“Aku tidak apa-apa James, silahkan kembali ke mejamu,” ucap David datar tidak terbaca, bahkan bagi James sahabatnya sendiri. Lelaki itu segera keluar dari ruang kerja David, meninggalkan lelaki itu degan pikirannya yang entah sedang menjelajah dimensi lain.
David mengetuk-ngetuk meja kerjanya dengan jari, lebih tepatnya sebuah foto yang ia letakkan di atas meja. Ia tersenyum miris melihat kemesraan seorang lelaki dengan wanita berambut hitam dengan manik coklat madunya yang jernih. Bahkan senyum bahagia terpancar dari wajah kedua orang di foto itu, semakin membuatnya merasa miris.
“Jika benar kau sudah tidak ada lagi, kumohon maafkan aku...” ucapnya lirih dengan masih fokus pada foto di depannya.
David mengangkat foto itu, menatapnya dengan tatapan sedih mendalam. Sulit untuk melukiskan tentang perasaannya, wanita dalam foto ini pernah mengisi sebagian cerita masa lalunya. Sebuah cerita cinta masa muda yang penuh dengan kelabilan emosi dan perasaan.
Pikiran David melayang ke masa di mana ia pertama kali bertemu dengan wanita itu. Sosok gadis cantik, cerdas dan ceria bernama Valleria Ambrosio. Mahasiswa arsitektur tingkat akhir di Oxfort University, putri seorang kurator museum di Italia. Seperti itulah kehidupannya akhir-akhir ini, memikirkan Valleria bisa membuatnya tersenyum bahkan tersipu malu.
Memorinya berputar pada kejadian 5 tahun lalu, pertemuan kembalinya dengan Valleria disebuah club di Roma. Menghabiskan malam di club untuk melepas penat setelah bertemu Professor Luca Boselli siang tadi.
__ADS_1
***
“David Schneider...” suara yang ia kenali menginterupsi, membuatnya harus membalikkan badan.
Suara yang sudah tidak didengarnya beberapa bulan ini sejak menjalin hubungan dengan Sarah. Apa ini salah? Ada sedikit rasa rindu menyeruak dari hatinya. Mungkin hanya perasaan rindu teman pada temannya, bukan seperti perasaan cinta.
“Valleria Ambrosio...”
“Wah... Kau di sini ternyata!” pekiknya senang dan langsung memeluk tubuh David.
“Kau sedang apa?” tanyanya pada Valleria tanpa melepaskan pelukan wanita itu.
“Aku? Tentu saja bersenang-senang,” kekehnya melepas pelukan, walau sebenarnya enggan karena lelaki itu membalas pelukannya.
“Sedang apa kau di Italia?” Valleria penasaran dengan kehadiran David dihadapannya saat ini.
“Aku bertemu Professor Luca Boselli membahas tesisku,” jawabnya sembari menenggak vodka.
“Bagaimana kekasihmu?” tanya David yang saat ini sedang menatap mata coklatnya.
“Sudah berakhir dan lagi kenapa kau tidak bertanya saat kita bertemu beberapa bulan lalu?”
David hanya diam dan nampak mengetukkan jarinya di atas meja bar. Ia lebih menikmati posisi seperti ini ketika berada di club, karena ia tidak ingin dihampiri oleh para peganggu. Mengenai pertanyaan Valleria, tentu saja dia tidak bisa melakukannya diwaktu dan keadaan yang tidak tepat.
“Kenapa? Kau tidak menceritakan tentang kita padanya?” tanya Valleria seperti mengerti apa yang jadi alasan David diam.
“Aku tidak bisa, mengingat gadis itu cukup labil soal perasaan,"” sedikit banyak David tahu mengenai karakter ini. Luke yang jarang bicara memberitahu tentang karakter adik sepupunya. Termasuk kandasnya hubungan Sarah dengan Andrew karena sifat labilnya.
“Ya. Aku mengerti. Ayo minum lagi,” kekeh Valleria bersulang dengan David yang wajahnya memerah karena telah banyak minum sebelumnya.
Mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol dengan minuman menjadi perantaranya. Seakan-akan telinga mereka baik-baik saja dengan suara dentuman keras musik di club. Bahkan sesekali keduanya terlihat seperti orang bodoh karena teriak-teriak. Bukan aksi teriaknya yang terlihat seperti orang bodoh, tapi ekspresi wajah yang mengatakannya.
__ADS_1
David yang telah mabuk kesadarannya menurun menarik tubuh Valleria. Membuatnya tersentak kaget dan turun dari kursi sambil meringis kesakitan akibat cengkraman David di tangannya. Menarik pinggangnya untuk merapat pada tubuh tinggi berotot itu. David mengikis jarak diantara mereka, wajahnya semakin dekat ke wajah cantik gadis itu. Mencium bibir pink Valleria, melumatnya lembut dan dibalas oleh gadis itu. Ciuman lembut mereka berubah panas, nafas tersengal saat tautan bibir mereka lepas.
David membayar minuman mereka, setelahhnya menarik tangan Valleria untuk keluar dari club. Melewati kerumunan orang yang sedang asik menikmati musik yang diramu oleh seorang DJ. Saat ini David tengah mengemudikan mobilnya di jalanan Roma yang masih ramai walau jam telah menunjukkan pukul 2 pagi. Lebih hebatnya lagi calon Professor itu masih bisa mengemudikan mobil di bawah pengaruh alkohol. Dan Valleria sudah tidak tahan langsung memberikan permainan mulutnya dibwah sana, memberikan pemanasan pada miliknya yang telah menegang sempurna. Membuat David berulang kali mengerang nikmat tiap kali kepala Vallria bergerak cepat.
“Shit!!! Stop it, Vall... We can have more in, not in the car when I am driving,” protes David berusaha mengangkat kepala Valleria, menjauh dari miliknya.
Sesampainya di kamar hotel keduanya kembali berciuman panas, David menutup pintu dengan kaki karena tidak ingin melepaskan tautannya. Kedua orang yang terlihat seperti memendam begitu banyak rindu itu melucuti pakaian masing-masing. Membuat tubuh mereka polos tanpa ada sehelai benang pun menutupi. David begumul dengan Valleria di atas ranjang kamar president suite yang disewanya untuk beberapa hari kedepan. Desahan saling bersahutan, kamar yang dingin telah berubah menjadi panas. Nampak jelas dari kedua tubuh polos yang masih saling menyatu itu. Hingga lenguhan panjang terdengar keseluruh penjuru kamar.
“Dave...” panggil Valleria yang kepalanya bersandar di dada bidang dan hangat David.
“Tidak bisakah kita kembali bersama?" tanyanya yang berhasil membuat David melepaskan pelukannya.
“Maksudmu?” David menatap tajam wajah kelelahan Valleria yang baru saja ia gagahi.
“Kita kembali bersama. Kau akhiri hubunganmu dengannya dan lupakan semua masa lalu diantara kita berdua,” pintanya.
“Bukan berarti setelah kita melakukannya kau bisa seperti ini, Valle,” ucap David langsung berjalan menuju kamar mandi.
Valleria tercenung mendapati perlakuan David, merasa tersakiti akibat penolakan itu. Masih jelas dalam ingatannya saat Sarah mengenalkan David sebagai kekasih. Terpaksa mengubur rasa rindu dan cintanya, karena tidak ingin melukai Sarah yang telah baik padanya. Terlebih ia cukup dengan gadis berambut pirang yang jadi juniornya di Oxford University.
Mengingat penolakan David membuatnya ingin memukul mundur Sarah. Ia bangkit dari tempat tidur, mendekati tasnya di atas nakas. Ia mengambil ponsel dan setelah itu meletakkan ponselnya tersembunyi dari jangkauan mata David. Bersyukurlah David belum keluar dari kamar mandi, sehingga ia bisa meposisikan kamera ponsel tepat mengarah ke ranjang. Tidak lama lelaki itu keluar dengan lilitan handuk sebatas pinggang, mengekspose pahatan sempurna di tubuhnya.
“Maaf...” ucap David saat menghampiri Valleria.
“Tidak apa, aku tidak bisa memaksamu.” Tapi aku bisa membuat Sarah mundur dan meninggalkanmu. Lanjutnya dalam hati.
Mereka kembali bercumbu dengan sangat panas, melebihi sebelumnya. Mungkin setelah ini tidak akan ada pergumulan panas diantara mereka, karena David memastikan tidak akan menemui Valleria lagi. Itulah yang ia pikirkan saat berada di kamar mandi, sesal dan rasa bersalah karena telah mengkhianati kekasihnya. Bukan hanya karena hal itu, tapi karena perasaannya pada Valleria yang masih tertinggal jauh di dalam sana.
Keesokan harinya David bangun karena paparan sinar matahari dari celah tirai menerpa wajahnya. Mungkin Valleria membuka tirai tapi tidak kembali menutupnya sempurna. Ia mengedarkan pandangan, namun tidak menemukan sosok wanita yang tadi malam bergumul dengannya. Bahkan tas dan pakaiannya juga sudah tidak ada. David bangkit dari tidurnya dan melilitkan handuk sebatas pinggang, berjalan menuju kamar mandi. Di sanapun dia tidak menemui sosok Valleria, wanita itu sungguh pergi meninggalkannya.
“Maafkan aku, Valleria... Maafkan aku, Sarah...” lirihnya saat melihat pantulan dirinya pada cermin besar di kamar mandi.
__ADS_1