
Pria itu menggeram tertahan saat melihat kertas-kertas berserakan di meja kerjanya. Rahangnya mengetat dengan wajah merah menahan emosi. Akhir-akhir ini emosinya memang kurang baik dan sering meledak. Sebenarnya ini bukanlah sifat aslinya. Tapi sejak mengetahui kenyataan tentang kecelakaan yang menimpa kekasihnya, semua kebaikan itu perlahan luntur. Yang ada hanya amarah. Ya! Dia marah dan benci pada diri sendiri. Begitu bodoh sampai melupakan jika pernah melakukan sesuatu. Meniduri seorang jalang yang licik dan membuat semuanya hancur.
“Sudahlah, David. Jika kau datang ke kantor hanya ingin mengamuk lebih baik jangan kemari,” ucap Michael yang berdiri di ambang pintu ruang kerja David. Sedikit banyak ia mengetahui apa yang terjadi pada putranya, bahkan merasa kecewa dengan apa yang telah terjadi. Hanya saja tidak ada gunanya untuk menyesal sekarang, gadis yang dicintai putranya telah memilih lelaki lain.
“I'm so stupid, Dad” David tersenyum lirih menahan sesak yang menyeliputi dadanya.
“I know,” jawab Michael singkat.
“Ada apa, Dad? Tidak biasanya datang ke ruanganku?” David heran karena selama bekerja di sini, tidak pernah ayahnya itu masuk ke ruang kerjanya.
“Tolong gantikan Daddy meeting dengan client di Australia,” pinta Michael yang kini telah duduk di sofa yang ada di ruangan putranya.
“Apa? Daddy serius? Itu jauh dan tidak mungkin Dave meninggalkan tanggung jawab di Universitas,” tolaknya karena saat ini ia tengah menyiapkan jadwal riset. Dan Michael secara mendadak memintanya untuk melakukan perjalanan bisnis.
“Hanya 2 hari dan setelahnya kau bebas, Prof,” mata Michael menatap manik mata putranya dari balik kacamata. “Baiklah...” jawabnya pasrah.
Di tempat yang berbeda Sarah sedah berjalan menuju home stay setelah seharian meninjau lokasi proyek barunya. Langkahnya terhenti tepat didepan pintu masuk, ketika mendengar suara yang tidak asing ditelinganya.
“Sarah...”
Gadis itu berbalik menatap ke arah datangnya suara, matanya berbinar dengan senyum menyembang. Wajah yang dirindukannya selama seminggu ini. Ia berlari menuju orang yang memanggilnya, memeluk tubuh itu. Entah kenapa gadis ini begitu manja dan sedikit rapuh beberapa tahun belakangan.
“Mum... I missed you.”
“I miss you too, Sweetheart,” Mariana balas memeluk tubuh putrinya.
Sarah mengajak ibunya untuk masuk, bahkan tangannya tidak mau lepas untuk bergelayut dilengan Mariana. Memang sudah seminggu ini ia tidak saling bertemu. Karena selepas pesta mereka berpisah, Sarah bersama Andrew dan Mariana kembali ke kediamannya bersama sang suami. Pagi harinya ia bertolak ke Sofia, Bulgaria untuk mengunjungi kakak Sarah yang sedang sakit. Sedangkan Sarah mengantar Andrew yang akan berangkat ke Hawaii.
Perbincangan mereka terpaksa berhenti ketika Rose menuruni tangga dengan suara menggelegarnya. "Aunty Mariana... Long time no see." Rose berlari kearah Mariana dan memeluknya erat. Gadis itu memang cukup dekat dengan The Jacob sejak menempuh pendidikan S1 bersama Sarah.
__ADS_1
“Kau masih belum berubah ya, Rose, selalu ceria,” kekeh Mariana melihat tingkah sahabat putrinya.
“Harus, Aunt, memangnya Sarah yang selalu sedingin salju,” Rose menjawil lengan Sarah yang memang sedang duduk di sisinya.
“Bagaimana pekerjaan kalian? Menyenangkan?” tanya Mariana sebelum menyesap teh panas yang tadi dibuatkan Sarah.
“Cukup menyenangkan,” jawab Sarah.
“Dan melelahkan, Nyonya,” sambung Rose.
“Semoga semuanya cepat selesai, sehingga bisa segera kembali ke London,” ucap Mariana sembari melirik Sarah yang tengah memainkan ponselnya dan mengangguk pelan.
“Mungkin lusa sudah kembali ke London, Nyonya,” Rose memainkan ujung rambut merahnya.
“Really?”
“Yes, Mum. We'll back to London so soon,” jawab Sarah.
“Semua masih bisa dikerjakan dari London, yang terpenting sudah dapat draft aslinya. Dan Sarah juga harus pergi ke suatu tempat untuk beberapa waktu.”
“Huh? Where?” tanya Mariana dan Rose bersamaan. Membuat Sarah menghentikan aktifitasnya bermain ponsel.
“Hawaii,” ia melirik Mariana dan Rose bergantian karena wajah terkejut mereka.
“Ingin nyusul Andrew?” Mariana bertanya dengan penuh kehati-hatian, karena Sarah bisa cepat berubah jika lawan bicaranya salah bicara.
“Iya.”
“Kau tidak cerita, Sar?” Rose terdengar kecewa, karena untuk pertama kalinya Sarah mengerjakan hobby mereka dengan waktu yang sangat singkat. Terlebih alasannya karena seorang lelaki, ya walaupun ia cukup tahu siapa Andrew bagi sahabatnya ini.
__ADS_1
“Maaf. Barusan Andrew hubungi untuk datang dan tidak ingin kejadian dulu terulang lagi.”
“Baiklah kalau begitu maumu. Mum akan bicara dengan Dad mengenai pertunangan kalian secara resmi. Karena berita yang beredar diluar cukup simpang siur,” tukas Mariana sembari membereskan tasnya.
Mariana hanya datang untuk mengunjungi putrinya, tidak untuk bermalam. Jadi setelah menemui Sarah, ia memutuskan untuk kembali ke London. Dari London ke Raunds, Mrs. Mariana Dimitrov-Jacob menggunakan helikopter pribadi suaminya agar cepat sampai. Jadilah ia kembali dengan helikopter yang sama. Ia sudah menyimpan banyak kosakata dalam kepalanya untuk dikatakan pada Edward Jacob.
Sarah dan Rose memilih kembali kedalam kamar masing-masing untuk beristirahat. Karena memang hari ini cukup melelahkan setelah berkeliling seharian. Sekolah yang akan mereka renovasi itu cukup besar, dan melakukannya ditengah cuaca dingin seperti sekarang memang bukanlah pilihan yang tepat.
Beberapa waktu kemudian Mariana telah sampai di kediamannya, bersyukurlah mansion mereka memiliki helipet sendiri. Diujung jalan dari helipet terdapat taman wamar putih, tempat kesukaan keluarga kecilnya untuk menghabiskan waktu. Suaminya sedang duduk di salah satu kursi taman dengan buku yang sedang fokus ia baca. Mariana berjalan menghampiri suaminya, mengecup pipi Edward.
“Sarah terlihat baik-baik saja di sana,” ucapnya membuka pembicaraan dan duduk di depan suaminya.
“Aku tahu, mereka melaporkannya,” Edward masih sibuk dengan buku bacaannya.
“Dia akan menyusul Andrew ke Hawaii,” ucapan Mariana barusan berhasil mencuri perhatian Edward. Pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu kini menutup buku yang ia baca dan meletakkannya di atas meja. Menatap iris hijau Mariana, mencari jejak kebohongan di sana.
“Aku serius, Edward, tadi dia mengatakannya. Lusa Sarah kembali ke London,” Mariana menyilangkan tangan didepan dada, menatap wajah terkejut suaminya.
“Bagaimana bisa?” tanya Edward penasaran.
“Entahlah. Tapi mungkin ingatan yang kembali itu jadi alasannya.”
“Sepertinya sudah tidak ada peluang untuk David menjelaskan semuanya pada putri kecil kita,” Edward menarik nafas kasar dan meraup wajahnya.
“Biarlah. David juga tidak akan mendapatkan kebenaran apapun dari tindakannya dulu, Darling. Yang aku dengar justru keponakanmu telah membereskannya,” Mariana membelai lembut punggung tangan suaminya yang memang sedari berada di atas meja.
“Luke memang nampak berbeda, tapi aku percaya pada semua tindakannya. Walaupun aku tidak bisa menyalahkan David sepenuhnya atas apa yang menimpa Sarah,” tangannya beralih mengganggam jadi jemari Mariana.
“Mungkin memang Andrew yang pantas untuk putri kecil kita,” ucap Mariana dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Pasangan suami istri ini sangat paham dengan apa yang terjadi pada putri mereka 5 tahun lalu. Hanya saja mereka tidak ingin membesar-besarkan masalah. Mereka sadar bahwa kondisi Saarah yang masih muda dan sedikit labil, mungkin jadi alasan ia kehilangan kontrol emosi saat itu. David adalah lelaki biasa dan normal tentunya, jadi jika ia kehilangan kendali dirinya itu juga hal wajar. Bukankah pergaulan seperti itu sudah sangat biasa terjadi pada anakanak muda sekarang? Tanpa terkecuali siapapun mereka dan datang dari keluarga mana.