The Billionaire'S Daughter

The Billionaire'S Daughter
Bab 10


__ADS_3

Andrew tersadar dari lamunan panjangnya ketika sadar jika Sarah sudah menyandarkan kepala tepat di dadanya. Ia membelai lembut rambut pirang gadis itu, walau ada sesuatu yang ia rasa cukup aneh.


Awkward.


Itulah yang dirasakannya kini, bagaimana tidak? Jika tangan Sarah tanpa sengaja menyentuh gundukan di dibalik celana jeans Andrew. Membuatnya menghela nafas panjang untuk mengendalikan diri. Karena ia sadar jika Sarah masih trauma dan belum mencintainya.


Calm down, Drew. Kali ini Sarah menengadah menatap mata sendu Andrew, ia tidak sadar jika lelaki yang sedang memeluknya ini sedang menahan hawa panas akibat perbuatannya. Sarah mengangkat wajahnya sejajar dengan wajah Andrew. menatapnya lekat hingga tatapan mereka bertemu, dan tanpa aling-aling ia mengecup bibir Andrew.


Shock!


Mata Andrew membola melihat apa yang baru saja dialaminya. Hingga ia sadar jika itu hanyalah sebuah kecupan persahabatan dari Sarah untuk menenangkannya. Tanpa berharap lebih dari kecupan Sarah, ia langsung merubah posisi untuk meletakkan kepala di pangkuan Sarah. Membiarkan gadis itu membelai rambut coklatnya.


“Kau tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja. Pasti sebentar lagi sembuh,” ucap Sarah memecah keheningan yang sedari tadi terjadi.


“Aku tahu kau tidak baik, Sweetheart,” tatapnya penuh kekhawatiran pada keadaan Sarah.


“I'm okay,” Suaranya terdengar sangat tenang, walau sebenarnya tidak.


***


Kakinya melangkah begitu berat tak bersemangat, sangat berbeda dengan dia yang biasanya. Dipandangnya name tag yang terpampang di depan salah satu ruangan di Philips Jacob’s Hospital.


Dr. Paul Jacob

__ADS_1


“Shhhhh...” ia menarik nafas panjang sebelum mengetuk pintu ruang praktek Paul. James hanya berdiri menunggu di sisi pintu, karena tidak ingin mendengar percakapan pribadi antara keduanya.


“Hey, Dave. Please have a sit,” Paul menyapa David dengan ramah dan mempersilahkannya duduk. Tidak sepatah katapun keluar dari bibirnya, sampai akhirnya suara Paul lah yang memecah keheningan mereka.


“Tadi Sarah ke mari,” ucapnya dengan santai sambil menatap David yang nampak memerah karena emosi, teringat kemesraan yang tadi tersaji didepan matanya.


“Dengan Andrew,” suaranya terdengar datar.


“Bagaimana kau tahu, Dave?” tanya Paul mulai penasaran ketika mendengar David menyebut nama Andrew. Ia menatap mata David dan terlihat sedang menahan amarah.


Aah... Dia melihat mereka rupanya. Decak Paul dalam hati sebelum akhirnya David membuka pembicaraan.


“Paman ingin bicara apa?” terdengar jelas suara David sedikit tegang. Ketegangan itu belum berakhir ketika Paul membuka mulutnya mulai berbicara. Menanyakan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan dan mengerti.


“Tidak ada. Hari itu kami baik-baik saja, dan bahkan Sarah menghubungiku,” David nampak tertekan memikirkan pertanyaan yang terlontar dari paman Sarah.


“Ada yang salah, Paman?” sambungnya.


“Dia melupakan semua tentangmu, dan pasti ada yang salah dengan itu,” Paul bangkit dari duduknya mengambil sebuah berkas dalam map berwarna putih.


SARAH DIMITROV-JACOB


Nama Sarah tertera pada map pasien yang dipegang oleh Paul. Dia mulai membuka map tersebut dan menelisik pada rekap medis dengan nama Dokter Darla Spencer. Mata David semakin membola melihat kertas dengan nama Sarah dan seorang pskiater.

__ADS_1


“Sarah mengalami gangguan psikis, diakibatkan trauma sebelum dan pasca kecelakaan,” Paul bicara dengan tenang, mengimbangi David yang nampak gusar. Sebenarnya ada apa? Pertanyaan itu terus berputar dalam benaknya.


“Aku tidak tahu, karena dia melupakanku,” suaranya terdengar lemah dan tertunduk, mendapati kenyataan bahwa tidak ada dirinya dalam ingatan gadis tercintanya. Trauma? Trauma apa yang telah ia berikan pada Sarah.


“Dia hanya tidak mengingat apapun tentangmu, Dave. Dokter Darla mengatakan bahwa penyebab trauma itu bisa saja kau. Alam bawah sadarnya tidak menginginkan ingatan itu hadir kembali,” Paul menjelaskan informasi apa yang ia terima dari Darla.


“Aku berbuat salah apa padanya?” David mengacak rambut pirangnya karena frustasi, bahkan ia terdengar mengerang kesal.


“Aku tidak menuduhmu, Dave. Aku di sini berbicara sebagai Paman serta dokter yang merawatnya selama ini,” Paul tetap terdengar sangat tenang, karena lelaki paruh baya itu adalah sosok yang paling tenang diantara 3 bersaudara Jacob. Karena itulah Sarah dan Halsey sangat dekat dengannya.


“Aku paham, Paman. Dan apakah kini Sarah sedang berkencan dengan Andrew?” matanya penuh harap untuk mendengar Paul mengatakan bahwa tidak ada yang terjadi diantara dua orang itu.


“Nothing,” jawabnya datar sembari menyusun kembali rekam medis milik keponakannya tersebut.


“Tenangkan pikiranmu, dan tolong renungi jika mungkin kau pernah bersalah,” pesan Paul ketika David hendak beranjak meninggalkan ruangan prakteknya.


“I have to go now. Thanks, Uncle, I'll thinking about it. Bye.” David menyenggol lengan James yang masih berdiri di sisi pintu.


“Where we'll go?” wajah James penuh tanya ketika mendapati sahabatnya keluar dalam keadaan pucat pasi.


“Office...” David berlalu melewati James yang masih menatapnya bingung. Setelahnya mereka memacu mobil meninggalkan rumah sakit menuju Schneider’s Building di London Utara. Perkataan Paul mengenai kondisi psikis Sarah berputar di pikirannya.


Aku berbuat apa? Kenapa Sarah mengalami trauma dan melupakanku? Sebenarnya kejadian apa yang terjadi sebelum kecelakaan itu?

__ADS_1


Aaarrrggghhhh... Bisa gila aku kalau seperti ini terus. David menggaruk kepalanya yang tidak gatal, membuat James memicingkan mata pada sahabatnya yang terlihat tidak baik.


__ADS_2