
Seorang lelaki tampan dengan setelan jas tengah duduk di kursi kebesarannya, tept menghadap beberapa jajaran eksekutif di perusahaan milik keluarganya. Ia terlihat sesekali menatap pergerakan jarum jam yang melekat di pergelangan tangannya. Detik demi detik begitu terasa lambat bagi seorang David Schneider. Entah apa yang ada dalam benaknya saat ini, sehingga rapat tahunan yang ia pimpin terasa tidak lagi jadi fokusnya. Tubuhnya memang berada di tempat ini, ruangan dengan pintu kayu besar ini. Namun tidak dengan jiwanya, karena sejak beberapa jam lalu ia sudah tidak terlalu menyimak apa yang dikatakan oleh para eksekutif.
“Sial! Tempat duduk ini rasanya panas sekali!” gerutu David dalam hati ketika mulai merasa bosan dengan meeting tahunan Schneider Corporation milik Ayahnya. Kali ini David mewakili Ayah dan Kakaknya untuk memimpin rapat tahunan. Ia sibuk memainkan pulpen berwarna merah ditangannya, menandakan bahwa saat ini ia merasa jenuh dengan jalannya rapat. David memang tidak memiliki cukup ketertarikan pada bisnis milik keluarganya, dan nampak jelas ketika ia terpaksa harus menghadiri rapat.
“Mr. Schneider, bagaimana pendapat anda mengenai rencana anggaran tahun mendatang?” seorang eksekutif mulai bertanya pada David mengenai pendapatnya.
“Saya rasa cukup baik, tetapi perlu dilakukan diskusi ulang dengan CEO perusahan untuk keputusannya,” David memberikan pendapatnya dengan penuh percaya diri, karena apa yang dikatakannya memang benar.
“Baiklah kalau begitu meeting kali ini kita akhiri sampai di sini, dan semua proposal akan ditinjau ulang oleh CEO,” Asisten David mengakhiri rapat besar tersebut.
David menarik kasar dasi merah yang mencekek lehernya sedari tadi. Kekesalannya selalu terjadi ketika terpaksa menghadiri meeting perusahaan. “Aku seorang Profesor Budaya dan tidak memiliki ketertarikan pada dunia bisnis. Michael Schneider sungguh menyebalkan!” Pekiknya frustasi di aula rapat yang besar dan sudah mulai kosong, karena saat ini hanya berdua dengan Asistennya, James.
__ADS_1
“Sabar, ku yakin kau bisa melewatinya!” James menepuk pelan bahu David yang berdiri lemas dengan dasi yang sudah berantakkan.
David dan James bersahabat sejak mereka kecil, dan Ayah James adalah Asisten Michael Schneider. Ayah David memang seorang pebisnis sukses di Jerman dengan reputasi sangat baik. Hanya saja dia amat senang membangkitkan emosi David, walau tujuannya hanya untuk mengerjainya.
“Tolong siapkan pesawat untuk keberangkatanku ke London besok!” perintah David pada James sebelum beranjak meninggalkan kantor.
“Baik,” jawaban kepatuhan James pada sahabat sekaligus atasannya tersebut.
David memacu kencang mobil sport miliknya di jalanan Kota Munich, sebuah kota indah di Jerman dengan segala cerita sejarah masa lalu. Udara yang cukup dingin dan mencekik menusuk jantung pun sudah tidak ia perdulikan lagi. Yang ia inginkan saat ini hanyalah cepat sampai di tempat yang menjadi tujuannya. Dan kini mobil sportnya tepat berhenti di depan pagar besar sebuah kawasan berisi bangunan-bangunan klasik khas Jerman. Dengan pohonpohon yang sudah memutih akibat ditutupi salju yang terus turun di peenghujung bulan Desember.
Tulisan itu terpampang jelas tepat di depan mobilnya, David merupakan seorang Dosen Budaya di Universitas ini dengan reputasi yang sangat baik. Tentunya tidak lupa mahasiswi-mahasiswi cantik yang selalu beredar didekatnya. Ia tergolong lelaki muda dan berprestasi, di usianya yang masih 30 tahun ia berhasil mendapatkan gelar “Professor” dan sering menjadi pembicara di berbagai seminar budaya. Track record sebagai seorang Professor, billionaire dan berasal dari keluarga trillionaire Jerman membuat kehidupan pribadinya cukup mennjadi sorotan. Apalagi di usianya yang sudah cukup untuk berkeluarga David masih terlihat betah dengan kesendiriannya. Lebih tepatnya ia masih terkunci pada cerita dalam hatinya sendiri, sehingga sulit untuk menerima perempuan lain dalam kehidupannya. David memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat hari ini, ia pun bergegas pulang ketika sudah memastikan tidak ada kelas lagi setelahnya.
__ADS_1
“I need to tell them…” David terus mengucapkan kalimat yang sama sepanjang jalan menuju mansion orang tuanya. Sebenarnya apa yang dia pikirkan? Apa yang ingin dibicarakannnya? Hatinya menggebu dan otaknya berpikir keras untuk mengatakan apa yang jadi keinginan sebenarnya. Sampai mobil sport yang sedari tadi dipacu dengan kecepatan tinggi itu perlahan melambat dan berhenti tepat di depan pagar besi yang menjulang tinggi. Mobilnya tepat berada di ambang jalan masuk menuju mansion besar milik trillionaire Michael Schneider, orang tuanya. Bangunan megah yang dikelilingi oleh dinding bata merah using, menegaskan kesan tua dan antik pada bangunan mansion itu.
Ia menekan klakson mobil sportnya dengan tidak sabar, berharap pagar besar itu terbuka otomatis untuk menyambut kedatangannnya. Mobil sportnya telah memasuki jalan besar menuju bangunan utama mansion, sampai mobil itu tepat berhenti di depan air mancur. ia keluar dari dalam mobil dan berjalan menaiki udakan tangga menuju pintu kayu besar pada bangunan utama. Seorang maid yang membukakan pintu untuknya nampak tersenyum ramah dan hangat pada putra kedua Michael Schneider. David membalas senyuman ramah itu dan berjalan menyusuri koridor maansion. Seketika ia terdiam sesaat tepat di depan ruangan besar yang biasa digunakan keluarga Schneider berkumpul. Ditatapnya sepasang mata berwarna biru terang dengan kerutan-kerutan tipis diujung kelopak matanya. Perlahan pemilik sepasang mata tersebut berjalan mendekatinya, wanita paruh baya itu ialah Rowiena Muller. Seorang pemilik yayasan budaya dan sosial yang terpandang di Jerman. Seantero Jerman mengenalnya dengan sangat baik, sebagai pribadi yang hangat dan sangat tulus. Dialah ibu dari 3 orang anak keluarga Schneider, ibu dari Laura Schneider, David Schneider, dan Samuel Schneider.
“What happen to you, sweetheart?” belaian lembut tangannya mendarat di rambut coklat David.
“Aku harus menemuinya. Aku tersiksa! Aku tidak tahan lagi!” suara David mulai bergetar saat Rowiena mulai menyandarkan kepala David di pundaknya, pelukan hangat seorang Ibu benar-benar menenangkan perasaannya yang kalut.
“Apa kau sudah cukup siap untuk bertemu kembali dengannya?” Laura memandang wajah adiknya dengan tatapan khawatir.
“Akhirnya hari ini datang juga, Daddy akan segera menghubungi Edward untuk mengabarkan kedatanganmu!” suara Michael Schneider berat sesaat sebelum meminum teh panasnya.
__ADS_1
“Aku hanya berharap dia kembali mengingatku, karena aku sungguh merindukannya,” langkahnya gontai menuju sofa di sisi sang Ayah.
Bodoh! Dia sedang mencoba melukai diri sendiri saat mengatakan ingin menemui seorang yang akan mengingatnya pun tidak. Masa lalu mereka cukup pelik, namun perasaan David tidak pernah benar-benar hilang pada gadis cantik berambut pirang bernama. Sarah Dimitrov-Jacob, kekasih yang ia rindukan setengah mati dan bahkan ia sudah hampir mati karena tidak bisa bertemu sejak 5 tahun lalu.