
Suasana pesta yang ramai menenggelamkan seorang lelaki dengan segala pikirannya. Hanya senyum tipis yang ia berikan ketika ada yang menyapa. Tubuhnya dan jiwanya seakan berada di tempat terpisah, meski saat ini ia tengah menghadiri pesta ulang tahun seorang pengusaha asal Kanada.
Saat ini pikirannya tengah tertuju pada pemilik senyum yang menghangatkan hati. Gabriel Schneider, putrnya dengan mendiang Valleria Ambrosio. Sekarang Gabriel adalah alasannya bertahan dari semua rasa sakit dan kecewa. Kecewa pada keadaan, seandainya saja ia mendengarkan Valleria saat itu. Seandainya saja ia tidak mengenal dan jatuh cinta pada Sarah.
Tapi berapa kalipun berandai-andai semuanya sia-sia, karena apa yang telah hancur tidak akan pernah kembali utuh lagi. Tidak akan ada yang berubah dari hidupnya, Valleria telah pergi dari dunia dan Sarah juga sangat membencinya. Sekarang hanya ada dia dan Gabriel, putranya. Walau semuanya masih terasa asing ketika tak terduga menjadi seorang ayah dari anak laki-laki berusia 5 tahun. Bahkan media Jerman sempat menyoroti kemunculan Gabriel secara di depan publik sebagai seorang Schneider.
“Selamat malam, Mr. Schneider,” suara lembut wanita menyadarkan David dari lamunan panjangnya.
“Selamat malam...” jawabnya sembari melihat seorang wanita muda berambut pirang dengan balutan gaun berwarna tosca. Menampilkan leher jenjang dan bahu putihnya yang dihiasi freckles.
“Boleh saya duduk di sini?” tanyanya menunjuk kursi kosong di depan David.
“Silahkan...” David mempersilahkannya duduk.
“Senang bisa melihat anda, Professor Schneider. Saya Caroline Auermann,” gadis itu mengulurkan tangan pada David yang langsung membalas uluran tangannya.
“Senang bertemu anda, Nona Auermann. Tapi seingat saya putri Tuan Ludwig Auermann itu bernama Claudia.”
Karena keluarganya dan Keluarga Auermann cukup dekat, bahkan terlibat beberapa kerjasama bisnis bersama. Tapi ia merasa belum pernah bertemu dengan perempuan ini sebelumnya. Atau mungkin ia lupa, karena terlalu banyak bertemu banyak orang. Tapi ia bukan tipikal orang yang pelupa. Jadi siapa perempuan di depannya ini?
“Wah... Ternyata anda mengenal Claudia adik sepupu saya. Saya putri Frans Auermann, Kakak dari Paman Ludwig,” ucapnya menjawab kebingungan David.
“Oh, adik dari Stephen?”
“Ya. Anda pasti pernah bertemu dengannya?”
David hanya mengangguk paham, karena saat ini otaknya telah dipenuhi oleh banyak hal. Entah mengapa sedari tadi ia merasa tidak nyaman, seperti ada sesuatu yang mengganjal di hati dan pikirannya. Caroline menyadari gerak-gerik tidak nyaman David.
“Sepertinya anda merasa kurang nyaman dengan kehadiran saya, Professor Schneider,” ucapnya sembari merapikan gaun yang ia kenakan.
“Maaf, saya tidak bermaksud. Hanya saja saat ini sedang tidak dalam kondisi yang baik,” David jujur tentang kondisinya saat ini.
Sejak tadi siang ia mengeluhkan sakit kepala, bahkan berjalan pun rasanya sulit. Bahkan James harus menyelesaikan beberapa pekerjaannya selama berada di Kanada. Hanya karena malam ini adalah pesta ulang tahun orang rekan bisnis keluarganya, sehingga tidak nyaman jika tidak hadir sedangkan ia berada Kanada.
“Perlu ke rumah sakit?” tanya Caroline khawatir.
“Sepertinya,” jawab David memegangi kepalanya yang semakin terasa sakit.
“Mau saya antar? Kebetulan saya ada janji temu dengan dokter di Philips Jacob’s Hospital,” Caroline menawarkan tumpangan pada David.
“Tidak, Nona. Terima kasih,” tolaknya halus.
“Tidak masalah, orang tua kita juga saling mengenal. Tidak ada ruginya menerima bantuan orang lain, Professor.” ucap Caroline membantu David berdiri.
“Baiklah. Saya akan menghubingi James,” David mengambil ponsel dari saku untuk menghubungi James.
“Hello...”
“---“
“Aku akan memeriksakan diri ke Philips Jacob’s Hospital, kau bisa menemuiku di sana.”
“---“
“Tidak perlu, aku bersama seorang teman.”
“---“
David memasukkan kembali ponselnya kedalam saku. Ia berjalan dibantu Caroline, karena sakit yang mendera kepalanya. Keduanya menghampiri Martin Levy, pria yang sedang berulang tahun. Berpamitan dengan alasan memiliki janji dengan seorang dokter.
__ADS_1
Selama perjalanan David memejamkan matanya dengan tangan yang terus memegangi kepala. Caroline tidak ingin mengganggu David. Ia mengerti jika lelaki itu sedang dalam kondisi tidak sehat. Sedikit banyak Caroline tahu tentang lelaki di sampingnya ini, tentang kisah cintanya dengan Sarah Dimitrov-Jacob dan putra kecilnya dari wanita Italia bernama Gabriel Schneider.
Sesampainya di Philips Jacob’s Hospital, Caroline membantu David menyusuri koridor. Bahkan membantu mendaftarkan lelaki itu pada seorang dokter kenalannya. Setelah selesai memeriksa kondisi David, keduanya memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit. Namun langkahnya terhenti saat melihat orang-orang yang ia kenal.
“Henry? Halsey? Untuk apa mereka di sini?” gumam David saat melihat Henry dan Halsey berjalan cepat dengan wajah cemas.
Halsey yang menangis membuat David semakin bertanya-tanya ada apa sebenarnya. Karena ia tahu benar seperti apa adik sepupu Sarah, apalagi penampilan Henry tidak kalah kacaunya dengan sang adik. Membuat David semakin yakin jika telah terjadi sesuatu.
Ia melangkahkan kaki mengikuti langkah kakak beradik itu. Namun langkahnya dan Caroline berhenti ketika melihat keduanya berhenti melangkah. Tepat di depan ruang ICU yang ada di sisi koridor. David rasa enggan untuk lebih mendekat, dan Caroline sadari itu.
“Kenapa tidak hampiri saja mereka?” tanyanya yang penasaran dengan David.
“Untuk apa?” David mengerutkan keningnya.
“Kau penasaran dengan apa yang mereka lakukan?” Caroline menunjuk kearah Henry dan Halsey dengan dagu lancipnya.
David tidak menjawab, melainkan hanya melirik sekilas kearah kakak beradik itu. Ia sangat ingin tahu siapa yang sedang berada di dalam ruang ICU, apalagi melihat wajah cemas kedua kakak beradik anak Karl Jacob. Tapi ia tidak ingin mendekati Henry dan Halsey, karena ia tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Bukan tidak mungkin akan ada keributan yang ditimbulkan oleh Henry, terlebih Henry dan Halsey adalah cucu pemilik rumah sakit.
Sudah hampir satu jam David mengawasi Henry dan Halsey ditemani oleh Caroline. Perempuan yang baru dikenalnya tapi entah mengapa bisa membuatnya percaya, sesuatu yang sudah sejak lama tidak ia rasakan. Mungkin sejak pengkhianatan yang dilakukan Valleria, hingga ia tidak mengetahui kehadiran Gabriel.
Tidak berapa lama ia melihat pergerakan dari Henry dan Halsey. David melangkahkan kakinya lebih dekat ketika melihat seorang dokter keluar dari ruang ICU. Ia memanfaatkan posisi Henry dan Halsey yang membelakanginya untuk mencuri dengar pembicaraan mereka. Karena seingatnya tidak ada seorang Jacob yang tinggal di Kanada. Matanya membola ketika langkahnya semakin dekat, mendengar sesuatu yang meruntuhkan dunianya. Bahkan ia bisa merasakan cengkraman tangan Caroline pada tangannya.
“Kondisi kehamilan Nona Sarah Jacob cukup lemah, jadi shock yang dialaminya menimbulkan kontraksi pada kandungannya,” terang dokter yang berbicara pada Henry dan Halsey.
“Sarah hamil?” teriaknya yang berhasil membuat Henry dan Halsey menoleh kearahnya.
Wajah Henry sudah mengeras dan Halsey terlihat panik. Mereka tidak menyangka akan bertemu dengan David di tempat ini, bahkan saat ini ada seorang gadis pirang menggenggam tangannya. Sungguh pemandangan yang menggangu mata gumam Henry dalam hati.
“Ya. Nona Sarah hamil, tolong segera kabari tunangannya. Saya rasa Tuan Henry paham dengan apa yang saya maksud,” ucap Dokter Sulivan yang beranjak meninggalkan keempat orang itu dalam keheningan.
David sungguh tidak bisa berkata-kata, karena apa yang ia dengar tadi cukup menjadi bukti jika tidak ada lagi dirinya dalam hati Sarah. Henry dan Halsey juga bingung harus melakukan apa? Terlebih lagi Sarah tidak mengizinkan siapapun memberitahu keberadaannya pada Andrew dan David. Walau pada akhirnya David tidak sengaja menemukannya.
“Kalian tahu Sarah hamil?” tanya David ketika telah berhasil mengendalikan dirinya.
“Jadi kau Caroline Auermann? Designer itu?” tanya Halsey antusias ketika mengetahui bahwa Caroline adalah seorang designer terkenal.
“Iya, Nona Jacob,” jawab Caroline ramah sembari membelai lembut lengan David.
Jujur saja David merasa kurang nyaman dengan perlakuan yang diberikan oleh Caroline, hanya saja ia tidak memiliki cukup tenaga untuk mendebat saat ini. Tubuhnya lemas karena padatnya jadwal di Universitas dan perusahaan, sehingga kesehatannya menurun, dan membuatnya harus pergi ke rumah sakit.
Hampir 2 jam keempat orang itu diam di depan ruang ICU. Menunggu apakah Sarah telah sadar dari pingsannya atau lebih tepatnya tertidur karena kelelahan. Hingga suara bariton yang penuh amarah menggema di seluruh penjuru koridor.
“Kenapa kau di sini?”
Keempat orang itu memalingkan wajah kearah suara, melihat Luke Jacob dengan tatapan dinginnya pada salah satu dari mereka. Anthony Jacob lebih dulu bmenghampiri Halsey yang kembali menangis, mencoba menenangkan adik sepupu manjanya itu.
“Luke,” ucap David berdiri dengan Caroline yang memegang lengannya, karena kondisi tubuhnya lemah.
“Jawab aku!” pinta Luke penuh penekanan, karena ia hanya ingin tahu alasan David berada di sini.
“Maaf sebelumnya, saya Caroline Auermann teman Anthony. Kami ke mari untuk memeriksa kondisi kesehatan Tuan Schneider, dan tidak sengaja melihat The Jacob,” Caroline berusaha menjelaskan pada Luke dengan tenang.
Luke melirik David dan Caroline bergantian, namun matanya berhenti tepat pada tangan kedua orang itu. Bisa dilihatnya Caroline merangkul tangan David protektif. Sekali lihat saja ia bisa tahu apa yang tengah terjadi pada gadis itu.
“Berhati-hatilah, Nona Auermann,” ucap Luke melewati kedua orang itu, berjalan memasuki ruang ICU Sarah.
Di dalam ruang ICU keempat Jacob itu bisa melihat dengan jelas kondisi Sarah. Dokter Sulivan mengatakan jika Sarah sedang dalam kondisi yang tidak baik, terlebih keberadaan janin dalam kandungannya. Kedua kakak beradik putra Paul Jacob sangat terkejut dengan apa yang mereka dengar, dan dapat dipastikan siapa ayah janin dalam kandungan Sarah.
“Bagaimana ini” tanya Anthony pada Luke yang nampak berpikir sembari melihat wajah pucat Sarah.
__ADS_1
“Diam saja, biarkan sesuai keinginan Sarah,” Luke meraup wajahnya kasar.
“Tapi ia perlu tahu,” Anthony mengacak rambutnya frustasi.
“Sarah mengatakan jika ia yang akan kembali pada Andrew, jadi biarkan saja seperti ini,” ucap Luke membelai pipi pucat Sarah.
Kondisi Sarah sungguh kacau, apalagi sat ini ia sedang mengandung anaknya dengan Andrew. Sedangkan Luke sebagai seorang kakak tidak bisa melakukan apapun selain menuruti keinginan sang adik. Dokter Sulivan mengatakan bahwa usia kandungan Sarah sudah 21 minggu. Artinya sudah cukup lama Sarah mengandung tanpa mereka ketahui, atau bahkan mungkin ia juga tidak tahu jika sedang mengandung. Entahlah seperti apa perasaan keempat Jacob saat ini, bahkan mereka harus menyiapkan jawaban yang tepat dari setiap pertanyaan keluarga besarnya. Karena sudah dipastikan rumah sakit ini akan menjadi ramai setelah kehadiran The Jacob esok hari.
“Kalian pulanglah, kalian juga perlu istirahat,” bujuk Anthony pada kedua adik sepupunya.
“Tidak, Kak. Kami ingin menemani Kak Sarah, dan juga tolong maafkan kami telah lalai menjaganya dan kandungannya,” ucap Henry tidak hentinya membelai rambut Halsey yang tidur bersandar di bahunya.
“Ini bukan salah kalian, sebaiknya kalian istirahat. Jangan sampai Mummy kalian mengamuk padaku,” ucap Luke menatap sendu kedua sepupunya.
Setelah dibujuk oleh Luke dan Anthony akhirnya kedua anak Karl Jacob itu menurut untuk pulang, karena mereka pasti lelah menemani Sarah. Luke dan Anthony berpikir keras apakah mereka harus memberi tahu Andrew atau tidak. Tapi jika mengingat keinginan adik sepupunya, mereka tidak ingin melakukannya. Sungguh mereka bimbang, terlebih mendapati kenyataan tentang kehamilan Sarah.
Keesokan harinya The Jacob telah tiba di Quebec, Kanada. Seperti biasa kehebohan akan terjadi mengiringi kedatangan mereka. Di rumah sakit saja para staff nampak lebih sibuk dari biasanya. Sang pemilik rumah sakit dan keluarganya datang. Bukan sekedar ingin berkunjung, tapi karena salah satu cucunya dirawat di sini. Berita kehamilan Sarah pun harus dirahasiakan dari publik. Itulah permintaan Philips Jacob, agar seluruh dokter yang tahu menutup mulut mereka.
“Jadi bagaimana keadaan cucuku?” tanya Philips pada Dokter Sulivan yang baru memasuki kamar rawat Sarah.
“Kondisinya stabil, Sir. Sebentar lagi Nona Sarah akan sadar.”
“Baiklah, kalian bisa pergi,” ucap Philips menghampiri tubuh Sarah yang lemah.
Ia membelai lembut wajah cucu perempuannya, karena seingatnya Sarah tidak serapuh ini. Kenapa cinta begitu kejam padanya? Kenapa terlalu sulit untuk cucu manisnya ini? Ia tahu benar seperti apa Sarah, karena kedua cucu perempuannya sangat dekat dengannya.
“Kenapa kau sejauh ini, Sarah? Kakek tahu kau masih mencintai Dave, lalu kenapa menyiksa diri dengan mempertahankan Andrew?” Philips masih membelai wajah pucat cucunya.
Semua orang di ruang rawat itu mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Philips Jacob. Saat yang lain bereaksi biasa saja, tapi tidak dengan Luke. Wajahnya mengeras saat mendengar Philips mengatakan cucunya masih mencintai David. Sungguh ia tidak rela jika Sarah harus berakhir dengan David. Karena ia tahu Sarah terlalu baik untuk disakiti.
***
Sarah menjalani kehamilannya tanpa sosok Andrew, ayah dari bayi yang dikandungnya. Proyeknya di Quebec telah selesai sejak sebulan lalu. Saat ini ia menetap di penthouse milik Anthony di Manhattan. Tidak aman baginya jika berada di tempat Luke, karena Andrew sering berkunjung jika ke Manhattan. Sarah masih belum bisa menemui tunangannya, karena hatinya belum siap.
“Kau sudah siapkan semua keperluanmu, Sarah?” tanya seseorang yang baru masuk ke kamar tidurnya.
“Belum,” jawabnya tanpa memalingkan wajahnya dari salju yang turun diluar gedung.
“Mau aku bantu?”
“Silahkan.”
“Kau tidak ingin memberi tahu tunanganmu? Aku bertemu dengannya kemarin.”
“Belum saatnya, aku belum siap, Belle,” ucap Sarah dengan wajah sendu.
“Maafkan aku, Sarah.”
“Tidak masalah. Dan apa alasanmu bertahan sebagai tunangan Luke?” tanya Sarah heran pada, tunangan Luke.
“Entahlah,” jawab Belle acuh sembari membereskan keperluan Sarah.
“Kembalilah pada keluarga Roux, Monsiour Pierre sangat merindukan kalian,” Sarah menghampiri Belle sambil membelai perutnya yang sudah membesar.
“Tidak ada jaminan kami aman bersamanya,” Belle membantu Sarah bejalan keluar dari kamar.
Rencanya hari ini ia akan berangkat ke Philips Jacob’s Hospital untuk proses persalinan. Mungkin dalam minggu ini bayinya akan terlahir ke dunia. Entah akan seperti apa wajahnya, Sarah sangat penasaran. Cintanya pada David pun telah pergi, namun ia belum siap bertemu kembali dengan Andrew. Ia merasa bersalah karena selalu mengabaikan lelaki yang selalu dan terlalu baik padanya selama ini.
Beberapa nggota keluarga Jacob pun telah datang ke Manhattan untuk menyambut kelahiran bayi Sarah dan Andrew. Walau tidak semuanya hadir, demi menghindari kecurigaan keluarga McCraven yang sangat dekat dengan mereka.
__ADS_1
Andrew menuruti keinginan Sarah untuk tidak mencarinya, karena ia tahu betapa keras kepalanya Sarah Dimitrov-Jacob. Dan sudah berulang kali pula temantemannya berusaha untuk menjodohkannya dengan gadis lain. Tak sekalipun Andrew tertarik, karena hatinya telah terpaut pada satu nama.
Sarah.