The Billionaire'S Daughter

The Billionaire'S Daughter
Bab 20


__ADS_3

“Kau yakin untuk kembali?”


“Ya. Lebih baik seperti ini dulu untuk sekarang. Aku tidak ingin menjadi lelaki bodoh yang tidak tahu apa kesalahanku,” ucapnya.


James hanya menatap David yang lebih dulu memasuki pesawat jet pribadi milik keluarga Schneider. Semalam ia sedikit terkejut saat lelaki itu mengatakan ingin kembali ke Munchen pagi ini, namun tidak ada hal yang dapat ia lakukan selain patuh. Karena hampir seluruh hidupnya dihabiskan bersama dengan keluarga Schneider, jadi ia paham benar seperti apa lelaki itu.


Salah paham apa yang sebenarnya terjadi antara Sarah dan David? Aku harus segera menemukan semua buktinya sebelum semua semakin kacau. Gumamnya dalam hati menyusul David memasuki pesawat.


Selama perjalanan David lebih banyak diam dan menatap keluar jendela. Walau sesekali ia mengecek beberapa email yang diterimanya dari Universitas dan perusahaan. Ia masih belum bisa fokus, karena separuh hati dan pikirannya tertinggal di London. Sarah Dimitrov-Jacob.


Di tempat lain, sebuah kamar hotel presiden suit. Sepasang anak manusia yang masih terlelap dengan berpelukan. Setelah pergulatan panjang semalam, melepas kerinduan yang sudah tak terbendung. Andrew mengerjapkan mata ketika sinar matahari yang menyilaukan mengenai wajahnya, masuk melalui celah-celah tirai. Memeluk tubuh wanitanya yang masih dalam keadaan telanjang dibalik selimut mereka. Memandang wajah teduh Sarah yang masih terlelap. Bulu matanya yang panjang dan lentik, hidung yang mancung serta bibir penuh yang sensual. Bibir manis yang selalu menjadi candu baginya.


“Selamat pagi, Sweetheart,” ia mengecup puncak kepala Sarah yang tepat berada di bawah dagunya.


Sarah tidak bergeming, mungkin akibat kelelahan setelah percumbuan mereka. Andrew sangat senang menggoda wanita yang masih memeluknya dengan erat. Dada kenyal dan hangat itu menempel pada perutnya, membuatnya merasakan setiap tarikan nafas Sarah.


Perlahan Sarah mengerjapkan matanya melirik sekilas lelaki yang tengah memeluknya. Ia tersenyum tipis seraya mengeratkan pelukannya, mencoba untuk tidur kembali. Namun usahanya gagal karena Andrew terus menghujaninya dengan kecupan-kecupan kecil diseluruh wajah.


“Honey please stop, I'm still sleepy...” ucapnya kembali menenggelamkan kepala pada dada bidang Andrew.


“But I sould to go, Sweetheart,” ucapnya sembari mengecup puncak kepala Sarah.


Mendengar perkataan Andrew membuatnya tersadar dan melepaskan pelukannya pada tubuh lelaki itu. Ia duduk dan menatap wajah lelaki yang masih bertelungkup dengan tangan memeluk perut Sarah.


“Aku harus berangkat ke Hawaii hari ini, ada sedikit masalah di sana dan harus segera diselesaikan,” imbuhnya.

__ADS_1


“Hawaii? Lagi?” Andrew hanya mengangguk pelan dan beranjak dari ranjang dengan tubuh polosnya. Membuat wajah Sarah memanas nyaris seperti kepiting rebus warnanya. “Can you wear bathrobe before standing?” tanya Sarah yang malu melihat pemandangan lelaki telanjang didepannya.


“Bukankan semalam kau sudah melihat dan merasakannya, Sweetheart?” seringainya menggoda Sarah. “But---“


"You love it, Sweetheart and please don't be shy. Secepatnya aku kembali untuk mengurus pertunangan kita" katanya sembari berlalu memasuki wolk in toilet.


“Aawwww...” Sarah meringis ketika hendak melangkahkan kakinya turun dari ranjang. Perih pada bagian intinya membuatnya sulit berjalan, Andrew segera menghampirinya.


“Maaf, Sayang. Sakit ya?”


“You think?”


“Iya aku tahu itu sakit, kalau begitu biar aku bantu untuk membersihkan dirimu,” lagi-lagi tatapan menggoda itu membuat wajah dingin ini menjadi panas.


“Aku jalan sendiri saja even still pain,” tolaknya.


Di dalam sana Andrew membantunya membersihkan diri, karena paham bahwa wanita itu masih lelah dan merasa sakit di bawah sana. Ia rasa harus bertanggung jawab atas perasaan tidak nyaman yang dimiliki Sarah.


Selesai membersihkan diri dan berpakaian mereka memilih untuk sarapan di restoran hotel. Menikmati momen yang telah lama hilang dan mereka tidak rasakan lagi. Sarah mulai menunjukkan perubahan, sifat aslinya sedikit muncul dan membuat Andrew bahagia. Artinya trauma gadis itu sedikit besar telah berkurang, walau belum sepenuhnya sembuh. Dan Andrew telah menyiapkan diri jika hal itu terjadi, karena bukan tidak mungkin jika nanti Sarah akan memilih kembali pada David Schneider.


“Kau yakin tidak ingin ikut saja ke Hawaii?”


Ini sudah kesekian kalinya Andrew mengajak Sarah untuk ikut berangkat ke Hawaii. Namun selalu ditolak dengan alasan sedang mengerjakan proyek renovasi bangunan tua di Raunds, Northamptonshire. Sebuah desa di Inggris yang di sana sering diadakan pertunjukan musikal dan pertunjukan musik lainnya. Jika Sarah mengatakan akan mengerjakan proyek renovasi bangunan tua, maka Andrew tidak dapat berbuat banyak. Karena gadis itu selalu mencintai bangunan-bangunan tua, terlebih yang memiliki catatan sejarah. Katanya ada kebanggaan tersendiri ketika bisa merenovasinya mendekati bentuk asli bangunanbangunan itu.


Sarah memilih untuk mengantar kepergian lelaki itu ke Heathrow Airport. Sepanjang perjalanan dari hotel menuju bandara, gadis itu selalu bergelayut manja pada lengan kekar Andrew. Menyandarkan kepalanya dibahu bidang milik lelaki itu, dengan jari-jari lentiknya bermain pada kancing kemeja yang dikenakan Andrew.

__ADS_1


“Sayang...”


“Hmmm...”


“Jika kau terus memainkan kancing bajuku seperti ini, nanti aku bisa membukanya di sini dan berakhir ketinggalan pesawat,” ucap Andrew gemas.


“Kau naik comercial flight?” Sarah mendongakkan kepalanya menatap manik biru Andrew.


“Ya. Sesekali berbaur dengan orang lain kan baik,” katanya.


“You change.”


“Yeah! I am change but still same and not be a stranger,” entah kenapa kata-kata itu mampu membuat Sarah menjadi murung.


“What happen, Sweetheart? I say something wrong?” tangan besarnya menangkup wajah Sarah yang menunduk lesu.


“No. Aku hanya merasa jadi stranger untukmu selama ini, maaf,” tangannya memeluk tubuh lelaki itu. Menenggelamkan kepalanya pada dada yang entah untuk kesekian kali menjadi candu baginya. Perasaan hangat yang menjalar keseluruh tubuh dan wangi musk yang menenangkannya. Sungguh beruntung ia selalu dicintai oleh lelaki ini.


“No need to say sorry. Semua bukan salah dan keinginanmu untuk melupakanku kan? Jadi berhenti meminta maaf,” Andrew mengeratkan pelukannya pada tubuh sintal Sarah. Menghirup aromanya dalam-dalam, yang akan ia rindukan ketika mereka berjauhan.


Sesampainya di bandara, Sarah mengeratkan pelukannya. Ada rasa enggan untuk melepas kepergian lelaki itu, walau hanya sebentar. Hingga Andrew berhasil meluluhkan hati wanitanya untuk melepas kepergiannya. Tangannya melambai saat telah memasuki gate keberangkatan dan meninggalkan Sarah yang sedang menitikkan air mata. Bukan karena salju turun melainkan karena salju hatinya sedang turun. Ada rasa kehilangan, yang mana ini bukanlah kepergian Andrew untuk pertama kali.


Kakinya melangkah berat meninggalkan bandara, memasuki mobil yang siap mengantarnya untuk kembali pulang. Mansion keluarga Edward Jacob.


Selama dalam perjalanannya dari London menuju Hawaii, lelaki itu tidak henti-hentinya tersenyum. Mengingat wanita yang ia cinta kembali, walau belum sepenuhnya kembali. Ketika memikirkan wanita itu sepenuhnya kembali, ada perasaan tidak rela menyeruak. Bagaimana jika pada akhirnya ia kembali pada David, entahlah. Bilang saja ia egois, tapi mencintai wanita ini membuat logikanya terkadang tidak berfungsi normal.

__ADS_1


Jika saatnya tiba dan kau akan tetap memilihnya sebagai rumahmu, aku akan melepaskanmu. Karena tidak ada yang lebih berharga selain kebahagiaanmu. Sarah Dimitrov-Jacob, apple of my eyes.


__ADS_2