
Langit Kota London begitu cerah sore ini, bahkan gumpalan awannya memancarkan bias matahari. Jari mungil Sarah tak henti memainkan bibir gelas sampanye miliknya. Ia terus melihat keluar jendela pesawat jet pribadi milik keluarga McCraven, sampai suara lembut salah satu pramugari menyadarkan lamunannya.
“Miss Sarah, jika anda ingin istirahat saya akan antar ke kamar,” ucap pramugari bernama Helena.
“No, thanks,” Sarah menolak tawaran Helena dengan menyunggingkan senyum tipisnya.
“Baiklah. Saya permisi, jika anda memerlukan sesuatu silahkan panggil saya, Miss,” Helena meninggalkan Sarah.
Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini, wajahnya terlihat begitu berbeda sore ini. Seperti ada beban berat yang tengah ditanggungnya saat ini, hingga ia memejamkan mataa dan memasuki alam mimpi. Sekedar mengistirahatkan syaraf-syarafnya yang tegang. Perjalanan yang cukup panjang ditempuh untuk bisa sampai ke Melbourne, membuatnya harus bermalam di dalam kamar tidur yang tersedia di pesawat jet dengan interior mewah ini.
Melbourne, Australia
Luke tengah menyesap hot Americano miliknya di salah satu VVIP Lounge yang terdapat di Melbourne Airport. Ia nampak menunggu seseorang dan bukan adiknya, Sarah. Melainkan seorang lelaki dengan perawakan tinggi dan wajah tampan yang sedang berjalan memasuki pintu lounge. Setelahnya lelaki itu duduk tepat dihadapan Luke yang masih menikmati minumanya.
“Hey, Bro,” sapanya.
“Hey, Bro. How’s your flight?”
“Nothing special and bit jet lag. Sarah masih dalam perjalanan kemari, mungkin besok siang sampai.”
__ADS_1
“I know. Uncle Ed call me, but we have a problem,” ucap Luke dengan rahang mengeras.
“Masalah apa?”
“David sedang berada di Melbourne.” Lelaki yang sedang menyesap hot cappucino tersedak, matanya membola saat mendengar kalimat yang diucapkan Luke, sahabatnya.
“Calm down, Drew. Everything will gonna be ok.”
“I am ok, just bit shock,” Andrew bersandar pada sofa, menengadah dengan tatapan kosong.
“Sifat asli Sarah kembali dan---“ Luke menjeda kalimatnya, membuat Andrew menegakkan tubuh dan memberi tatapan menuntut pada Luke dengan kedua tangan yang bertopang pada pahanya.
“Artinya cepat atau lambat seluruh ingatan Sarah akan kembali, jika itu yang akan kau bicarakan. Aku sudah tahu, your father told me a month ago.”
Tak jauh berbeda dengan kondisi sang sahabat, Andrew terus memikirkan segala kemungkinan jika benar ingatan Sarah telah kembali sepenuhnya. Sampai kehadiran seseorang menginterupsi mereka dari pikiran masing-masing.
Keduanya tengah menatap pria paruh baya yang berdiri tidak jauh dari posisi mereka duduk. Mark, orang kepercayaan keluarga Jacob di Australia. Kebetulan pria itu dipercaya Luke untuk mengurus semua keperluannya dan Sarah, walau telah sepakat dengan siapa gadis itu akan ikut. Sudah dipastikan jika Andrew lah orangnya, karena jadwal Luke lebih padat.
Sepanjang malam Andrew larut dengan laporan produksi perusahaannya yang memiliki kantor cabang di Australia. Sesekali ia melirik layar ponsel yang nampak tenang tanpa notifikasi. Merindukan Sarah, itulah yang dirasakannya saat ini. Entah mengapa kata-kata Luke siang tadi begitu menyita pikirannya. Ia berjalan kearah balkon penthouse miliknya, menikmati kerlap lampu dari gedung-gedung pencakar langit Kota Melbourne. Tak lama ia memutukan untuk kembali ke dalam kamar karena membutuhkan istirahat. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang berukurang king size dengan selimut tebal berwarna putih. Karena kamarnya bernuansa hitam dan putih khas lelaki.
__ADS_1
Andrew memandangi foto seorang gadis yang tersenyum bahagia, bahkan manik hijaunya nampak berkilau. Ia tersenyum sembari terus memandangi senyuman Sarah yang mempesona, namun kali ini hanya ada senyuma miris dan terluka.
“Jika waktunya tiba dan kau memutuskan untuk pergi, I'll let you go. You're happiness is important, no matter how hard for me, Darling,” lirihnya sebelum benar-benar memejamkan mata dengan ibu jari masih membelai lembut foto Sarah Domitrov-Jacob, kebahagiaan dan kesakitannya dalam waktu bersamaan.
Pagi menyingsing, sinar mentari pagi masuk melalui celah-celah tirai yang tidak tertutup sempurna. Andrew menggeliat perlahan, meregangkan otot tubuh yang kaku selama tidur dan mengerjapkan mata beberapa saat. Ia bangkit dari tidurnya dan berjalan kearah lemari untuk mengambil bathrobe, berlalu memasuki kamar mandi. Setelah hampir setengah jam berada di dalam kamar mandi, ia keluar dalam keadaan rambut basah dengan tubuh terbungkus bathrobe. Ia meraih ponsel di atas nakas, senyumnya mengembang saat membaca pesan dari seseorang.
My Sweetheart
Hon, I just landing and Luke picked me from the Airport. See you on the lunch. XoXo
Andrew tidak bisa menjemput Sarah di airport pagi ini, dan kemarin Luke mengatakan ingin menjemput adiknya. Terlebih sebelumnya Luke menyerahkan Sarah untuk tinggal bersamanya selama di Melbourne. Tidak tahu saja lelaki itu betapa rindunya seorang Andrew pada sosok Sarah. Sudah beberapa minggu tidak bertemu, entah apa yang akan terjadi pada mereka setelah makan siang dan kembali ke penthouse miliknya.
Di tempat yang berbeda Sarah tengah asik berbincang dengan Luke. Dia terlihat bersemangat ketika membahas proyek renovasi sekolah tua di Raunds. Senyum yang telah lama hilang itu telah kembali, wanita yang biasanya diam kini kembali ceria ketika membahas hal-hal kecil yang ia sukai.
“Kakak kenapa tersenyum dari tadi?” tanyanya pada Luke yang sedari tadi mendengarkan ceritanya dengan senyuman sarat akan arti.
“Nope. I just happy when you back,” Luke mengacak rambut pirang sebahu Sarah, membuatnya mendengus kesal.
Lihat! Wanita itu kini telah kembali pada sifat aslinya yang ceria dan terkadang mudah merajuk. Manja sama seperti Halsey ketika berada dekat dengan ketiga kakak sepupunya. Sepertinya alam bawah sadarnya telah melepas cengkraman masa lalunya. Luke tersenyum bagagia dengan perubahan adiknya, entah apa yang akan terjadi setelahnya.
__ADS_1
Luke sedikit lengang hari ini, jadi ia mengajak Sarah untuk ikut ke kantornya hari ini, sebuah gedung pencakar langit di Kota Melbourne. Tidak banyak hal yang ia lakukan selama di kantor Luke, karena bukan keahliannya mengerjakan pekerjaan lelaki dingin itu. Apalagi yang dikerjakan Luke saat ini adaah proyek pertambangan, sungguh Sarah tidak bisa membantu.
“Kau tahu Andrew ada urusan apa di sini, Kak?” Luke yang sedari tadi sibuk dengan tumpukan berkas di atas meja melirik Sarah sekilas. Ia hanya diam tidak menjawab pertanyaan adiknya, membuat Sarah kembali diam. Wanita itu teringat akan apa yang dialaminya saat berada di dalam pesawat milik McCraven.