The Billionaire'S Daughter

The Billionaire'S Daughter
Bab 28


__ADS_3

“Ada apa mereka ingin bertemu denganku?” tanya David pada James yang baru saja menyampaikan pesan Luke jika ingin menemuinya.


“Saya kurang paham Sir, tapi Sir Luke dan Sir Andrew ingin menemui anda di salah satu restaurant. Mereka akan segera mengirimkan alamatnya pada saya,” jawab James yang tidak membuat David merasa puas.


Saat ini David sedang mengira-ngira apa yang akan dilakukan mereka, pasalnya ia mengenal dengan baik Luke dan Andrew. Mereka bersahabat sejak di High School, walau pada akhirnya mereka menempuh pendidikan di Universitas yang berbeda. Namun mereka tetap menjalin persahabatan dengan baik, hingga pada saat ia menjalin kasih dengan Sarah. Andrew perlahan menjauhinya, selalu ada alasan untuk menolak ajakannya bertemu. Hingga kecelakaan tragis menimpa Sarah, membuatnya tahu tentang masa lalu yang terjalin antara Sarah dan Andrew.


Andrew dan Luke semakin menjauhinya, membuatnya bingung. Jangan tanya tentang lelaki dingin dengan jiwa membunuh itu, David nyaris mati jika saja Andrew tidak menghalanginya pukulan membabi buta Luke padanya.Bahkan menatap matanya pun David tidak mampu, penuh amarah dan dendam.


“Jadi bagaimana tentang Valleria?” tanya David pada James yang belum beranjak dari hadapannya. Karena ia masih penasaran dengan wanita itu, mantan kekasihnya.


“Valleria Ambrosio terakhir terlihat di toko roti Kota Roma, 5 tahun lalu. Tepatnya setelah kecelakaan Miss Sarah Jacob,” jawab James pasti.


Tubuh David menegang seketika saat mendengar penuturan James mengenai keberadaan Valleria setelah 5 tahun berlalu. Memutar kembali ingatan tentang perkataan Luke 5, jika dia akan membalas siapapun yang menyakiti miliknya. Apakah Luke sungguh membalas perbuatan wanita bermanik abu-abu dan surai hitam pekat itu? Ia sungguh memikirkan apa yang terlewatkan selama 5 tahun ini, tentang keadaan Valleria.


Kepalanya serasa nyaris meledak karena banyak pertanyaan terus bermunculam dalam benaknya. Tidak ada untungnya menerka apa yang telah terjadi, kecuali bertanya langsung pada kedua lelaki itu. Saat ini James tengah mengemudikan Audi S8 milik David, karena dipastikan lelaki itu tidak dapat mengemudi dengan baik dalam pikiran kacau. Cukup hati dan pikirannya saja yang kacau, jangan tubuhnya lagi karena berakhir di rumah sakit akibat kecelakaan.


David berjalan keluar dari mobil saat Audi S8 Black miliknya berhenti tepat di depan sebuah restaurant mewah yang tampak sepi. Seperti tidak ada pengunjung bahkan terlihat jelas dari luar jika tidak ada pengunjung di lantai dasar restauran bergaya klasik ini. David mulai paham dengan kondisi ini, ketika sampai di depan pintu kayu oak dengan ornament kaca.

__ADS_1


CLOSE


Dia tahu benar apa yang dilakukan lelaki dari The Jacob dan McCraven, sesuatu yang cukup sulit dilakukan orang biasa. Menyewa restaurant hanya untuk membicarakan sesuatu atau memang ingin makan. Karena dulu ia pernah melakukan hal yang sama untuk seorang gadis bernama Sarah Dimitrov-Jacob.


Pelayan sepertinya tahu jika dia adalah orang yang sedang ditunggu oleh dua lelaki penyewa restaurant ini. Kakinya melangkah pasti menaiki anak tangga menuju lantai 2, di mana Luke dan Andrew berada. Pikirannya melayang pada kejadian 5 tahun lalu.


***


Roma, Italia


David melangkahkan kakinya turun dari pesawat jet milik keluarga Schneider. Rencananya selama beberapa hari kedepan dia akan melakukan pertemuan dengan Professor Luca Boselli, seorang arkeolog kenamaan Italia. Hal ini berhubungan dengan data risetnya untuk mendapatkan gelar Professor dibidang Budaya. Rasa lelah dan kantuk tidak menjadi halangan untuk bertemu dengan Professor Luca siang ini.


Cutie Pie Sarah


Senyumnya mengembang saat membaca nama yang tertera pada layar panggilan. Gadis tercintanya sedang menghubungi, karena sebelum berangkat dia telah mengabari Sarah. Dan mungkin gadis itu sedang memastikan keberadaannya, karena Sarah sedikit rewel jika David melupakannya walau hanya sebentar.


“Hello, Cutie Pie...” sapanya.

__ADS_1


“Hello, Mr. D,” balas suara lembut dibalik sambungan.


“I just landed in Rome, now on the way to restaurant.”


“Thanks, God. Hope you got best advice from Professor Luca Bocelli.”


“Thank you Cutie Pie, love you.”


“Love you, Mr. D.”


Sambungan pun terputus, menyisakan David yang tersenyum memandangi foto gadis berambut panjang diantara taman mawar putih. Sarah adalah kekasih yang menemaninya hampir 1 tahun ini sangat menyukai mawar putih. Bahkan ia rela mengubah taman rumput belakang mansionnya di Berlin menjadi taman mawar putih. Semua akan ia lakukan demi membuat Sarah bahagia dan nyaman. Gadis berdarah Inggris-Skotlandia dan Bulgaria itu memang tidak pernah menyebutnya dengan nama David atau Dave. Menurutnya D lebih singkat dan terlihat spesial, karena tidak ada orang lain yang memanggil kekasihnya dengan sebutan itu.


David tiba disalah satu restaurant masakan Italia yang terkenal di Roma. Ia disambut ramah oleh pelayan yang menunjukkan meja di mana Professor Luca berada. Lelaki itu nampak sumringah ketika bertemu dengan Professor yang sudah malang melintang di dunia arkeolog. Dia tampak tidak sungkan berbicara dengan pria paruh baya berkacamata tebal di depannya. Rambutnya berwarna perak sempurna dengan kerutan yang menghiasi setiap sudut wajahnya. Namun dari yang David tangkap, pria ini memiliki semangat tinggi dalam membagikan ilmunya. Termasuk pada David yang memang sangat membutuhkannya saat ini.


Acara makan siang dan konsultasi mengenai tesisnya pun selesai, semua berjalan dengan lancar sesuai keinginannya. Professor Luca Bocelli bahkan merekomendasikannya pada seorang Professor lain dari Amerika. Namun bagi David sudah cukup Professor Luca Bocelli sebagai mentornya. Akhirnya mereka berpisah dan David meminta diantar ke sebuah club terkenal di Roma. Menghilangkan kejenuhannya setelah aktifitas sebulan ini. Setidaknya ia bisa menikmati Vodka yang tidak bisa ia nikmati ketika bersama degan Sarah, karena tidak menyukai kebiasaannya meminum alkohol.


Banyak gadis sedang menatap David dengan mata laparnya. Seakan-akan meminta dipuaskan dari rasa lapar yang sudah mencekek leher mereka. Tidak ada seorang gadis pun yang mampu menolak pesona David Schneider. Karena lelaki ini terkenal dengan sifat flamboyannya melebihi kedua sahabatnya, Luke dan Andrew. Tentunya tidak lupa James sahabat sekaligus orang setianya itu.

__ADS_1


David sudah berhasil meloloskan lebih dari 5 sloki Vodka, namun rasa kantuk dan lelahnya belum juga pergi. Hingga suara seorang seseorang terdengar samar tepat di belakangnya. Suara yang tidak asing baginya dan benar saja pikirnya ketika membalikkan badan kearah datangnya suara.


“Valleria Ambrosio???”


__ADS_2