The Billionaire'S Daughter

The Billionaire'S Daughter
Bab 5


__ADS_3

David berusaha memperingatkan gigolo itu untuk pergi setelah mendengar alasannya. Sungguh David tidak habis pikir dengan ini semua sampai sepasang perempuan dan lakilaki menghampiri mereka. Setelahnya ia tahu jika kedua orang itu adalah teman Sarah yang sudah dipastikan sebagai alasan Sarah berada di club.


David mengatakan pada Sarah untuk kembali dan memperingatkannya untuk tidak datang lagi ke club. Apalagi jika ia tidak yakin bisa bersenang-senang di tempat seperti ini. Karena Sarah memang tidak cocok berada di tempat seperti ini. Gadis itu terlalu dingin dan nyaris tak tersentuh, bahkan ia pun tidak benar-benar bisa menyentuh hati terdalam Sarah.


David berlalu meninggalkan mereka yang masih merasa penasaran akan sosoknya. Walau sebenarnya ia tidak ingin beranjak dari hadapan Sarah, tetapi ia merasa harus melakukannya. Karena ia tidak mampu mengendalikan perasaannya, rasa rindunya yang amat dalam. Perasaan ingin memeluk dan mengecupnya, mengatakan jika ia sangat rindu. Akibat puzzle ingatan Sarah tentang dirinya hilang entah ke mana, David tidak mampu untuk memaksakan ingatan tentangnya. Ia menghabiskan1 botol Vodka karena suasana hatinya sedang tidak baik saat ini.


“Rasanya aku bisa gila dibuatnya! Wanita jahat!”


David menenggak sloki terakhir Vodka ditangannya, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk turun ke lantai dansa. Menikmati Jumat malam kelabunya di club malam dengan sound system terbaik di dunia ini. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia menikmati suasana ini, tidak perduli pada sekelilingnya. Yang ia perduli hanya rasa kecewa dan marah karena dilupakan oleh gadis yang ia cintai. Bukan pada gadisnya, melainkan pada dirinya sendiri.


“Bodoh! You so stupid David Schneider! She not remember you, and you can’t forget her even just a second,” ia terus menyumpah serapah pada dirinya sendiri dalam setiap gerakan tubuhnya, sampai tubuhnya tidak sengaja menubruk seseorang cukup keras.


“Sorry, are you okay?” David mengulurkan tangannya untuk membantu gadis yang terduduk karena tubrukannya. Sesaat ia terdiam menatap wajah gadis yang tidak asing di matanya. Gadis bermbut coklat sebahu itu menyambut uluran tangannya dan kini ia berdiri tepat di hadapan David. Manik abu-abu itu menatapnya intens, sampai berapa saat kemudian ia memekik heboh ditengah suara dentuman musik.


“Dave???” gadis itu terkejut saat menyadari siapa yang menubukk dan menolongnya.


“Halsey? You?” David menjabat tangan gadis bernama Halsey itu dengan senyum hangat di wajah tampannya. Setelahnya mereka memutuskan untuk berjalan menuju meja bar yang dijadikan David sebagai tempat memantau pergerakan Sarah.

__ADS_1


“Sejak kapan kau datang? Paman Edward tidak membicarakan kedatanganmu,” Halsey mulai melancarkan aksi tanya jawabnya karena rasa penasaran yang sudah memuncah.


“Tadi siang, cukup mendadak. Mungkin Paman Edward sibuk dan tidak sempat berkabar. Kau bertemu Sarah atau memang ada janji dengannya di sini?” David menunjuk botol Vodka yang kosong pada bartender untuk memesan lagi.


“She’s here? Where? Aku sendirian dan baru saja tiba, juga tidak ada janji dengannya,” rasa penasarannya semakin menjadi, karena ia bukan seperti gadis pada umumnya. Rasa penasarannya terlalu besar, bahkan tak jarang ia menjadi detektif dadakan. Halsey Claire Jacob, ia adalah adik sepupu kecil Sarah dan keduanya sangat dekat. Bahkan bagaimana kisah cinta Sarah dan David pun ia tahu, walau ia tidak tahu pasti apa alasan Sarah melupakan semua tentang lelaki itu.


“Sebelumnya ia memang berada di sini, tapi aku sudah memintanya untuk pulang. Sebelum terjadi kekacauan lebih lagi di sini,” gumamnya pelan sebelum lembali menenggak 1 sloki Vodka yang ddissuguhkan bartender padanya.


“Kekacauan apa?” Halsey menyilankan kedua tangan di depan dada dengan mata memicing.


“Hmmm…” David hanya menunjuk lelaki yang sedang berdansa dan menatap kearahnya dengan dagu.


“Don’t Halsey!” ia menarik tangan Halsey.


“Kau ini selalu saja bertingkah semaunya, dan tolong jangan bertingkah seperti anak kecil, Halsey,” David menatap tajam manik abu-abu gadis itu.


“Jadi katakana apa yang terjadi, Halsey ini tahu,” rengeknya memaksa David untuk mengatakan apa yang telah terjadi pada Sarah.

__ADS_1


“Berapa usiamu sekarang?” tanya David ketus.


“20 tahun, kenapa?” Halsey masih tetap cemberut saat David menarik tangannya untuk pergi, segera setelah membayar bill mereka.


“Kau masih seperti anak umur 15 tahun yang dulu ku kenal,” ia tersenyum miring saat meninggalkan kerumunan manusia yang tengah menikmati permainan music DJ.


“Biarin!” Halsey melepas tangannya dari genggaman David, ia berdiri didepan lelaki bertubuh tegap dan sexy kekasih sepupunya.


“Jadi apa yang terjadi pada Kak Sarah?” gadis itu kembali menyilangkan tangan di depan dada dengan kepala mendongak menatap tajam David.


“He’s gigolo and try to disturb Sarah,” David berjalan menuju mobil sportnya yang baru saja diantakan oleh valley di lobby club.


“Gila! Aku akan memberitahu Kak Luke tentang ini,” Halsey bersip untuk menghubungi kakak sepupu tertuanya ketika David mengambil paksa ponselnya.


“Tidak perlu, semua akan semakin kacau jika dia turun tangan. Ayo ku antar pulang!” David membukakan pintu mobil untuk gadis kecil The Jacob. Gadis itu menurut saja pada David dan segera merebut ponselnya dari genggaman lelaki itu, membuat lelaki itu menggeleengkan kepala ketika memasuki mobil. Sepanjang perjalanan keduanya memilih untuk tidak saling berbicara, apalagi Halsey nampak sibuk dengan ponselnya. Sampai tidak terasa kini mobil David telah berada di depan mansion milik Karl Jacob, ayah Halsey.


“Ingat pesanku Mr. Proffesor! She’ll back to you, just touch her whole body!” Halsey terkikik saat meneriaki David sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu rumahnya.

__ADS_1


“Anak itu…” ia hanya bisa **** senyum mendengar semua ocehan Halsey yang begitu polos dan terkadang bodoh. Setelahnya ia kembali memacu mobil sportnya memebelah jalanan Kota London yang masih terlihat sibuk saat tengah malam.


__ADS_2