
David tersadar dari pikiran panjangnya ketika melihat dua orang lelaki berpakaian rapi di depannya. Andrew nampak dingin walau tidak sedinging Luke, di mata cucu tertua Philips Jacob itu jelas sekali terpancar amarah yang siap meledak. Ia menarik nafas panjang sebelum berjalan mendekati meja di mana kedua lelaki itu berada. Tidak ada keraguan disetiap langkahnya, karena semua akan ia lakukan demi membuat Sarah kembali, termasuk menghadapi kedua lelaki ini.
“Langsung saja, apa mau kalian?” tanya David ketika berhasil mendaratkan bokongnya di kursi.
“Mauku kau mati!!!” bentak Luke ketika melihat David duduk dihadapannya.
“Isn’t easy, Mr. Luke Jacob,” ucap David tak kalah dinginnya dengan Luke, walau sejujurnya jantungnya bekerja sangat cepat saat ini. Menantan lelaki dingin dan mematikan sekelas Luke Jacob.
“Tenanglah,” Andrew menginterupsi ketegangan kedua orang yang sedang beradu tatap itu.
“Jadi apa tujuan kalian memanggilku kemari?” ia menanyakan tujuan kedua orang itu memanggilnya, karena dia sungguh tidak suka berbasa-basi.
“Berhenti mendekati adikku!” perintah Luke.
“Kalau aku tidak ingin berhenti?” tanya David menantang.
“Aku akan melenyapkanmu!” bentak Luke penuh amarah bagaimana bisa David menantangnya saat ini.
“Cukup, Luke. Aku yang akan mengatakannya,” Andrew mencoba untuk menengahi kedua orang itu.
“Kau pasti ingin aku menjauhi tunanganmu yang sebenarnya adalah kekasihku,” David terdengar menantang Andrew yang bahkan bicara sangat tenang padanya.
“Dasar brengsek!!!” satu pukulan medarat tepat di pipi kiri David, rupanya Luke tidak bisa menahan emosinya, sampai berakhir dengan melayangkan tinju di wajahnya. David terkejut, begitupun Andrew yang melihat betapa kerasnya Luke melayangkan tinjunya. David membersihkan darah yang keluar dari sudut bibirnya dengan ibu jari.
“Tenangkan dirimu, Luke. Banyak orang dan mungkin ada yang merekam atau memotret kejadian tadi,” Andrew menarik Luke untuk kembali duduk. Lelaki itu cukup tenang saat ini dan memperhatikan tindakan Andrew selanjutnya.
“Aku tidak suka basa basi denganmu ,Dave.”
__ADS_1
“Aku juga,” David memotong kalimat Andrew yang belum selesai.
“Aku akan memberimu kesempatan mendekati Sarah, sampai kau bosan mendekatinya dan pergi dari kehidupan tunanganku.”
“Dan kau tahu jika aku tidak akan pernah bosan untuk mengambil kembali milikku,” ucap David dengan pongahnya, nyaris saja pipinya mendapat hadiah kepalan tangan Luke lagi. Jika saja Andrew tidak menahannya, mungkin saat ini David sudah berakhir di rumah sakit.
“Aku akan melepaskannya jika memang dia menginginkanmu, tapi jika sebaliknya kau harus pergi dan melepaskannya,” ucap Andrew penuh penekanan.
“Kau menantangku?” bentak David pada Andrew yang masih tenang, tidak terpengaruh dengan emosi yang sudah sampai di ubun-ubun.
“Terserah kau menganggapnya apa, aku hanya melakukannya demi Sarah.”
“Baiklah. Promise me if you'll leave her when she said want me,” pinta David pada Andrew yang kini menampakkan wajah tidak suka.
Bagaimana bisa hari ini ia harus membuat berbagai sumpah pada orang yang berbeda. Tadi pagi dengan Sarah, setelahnya dengan Luke, dan sekarang dengan David. Apaapaan sebenarnya mereka ini, seakan dialah yang pantas memegang janji itu. Akhirnya dengan pasti Andrew mengucap janjinya untuk meninggalkan Sarah jika wanita itu menginginkan David. Keputusan berat dan paling tidak masuk akal menurutnya, berpisah dengan gadis yang memintanya untuk tetap tinggal.
“I promise,” ucap David pasti.
Sejenak keadaan menjadi hening, David sedang merokok di hadapan mereka berdua. Tanpa sadar dering ponsel Andrew menginterupsi keheningan mereka.
Sweetheart
“Hello, Sweetheart.”
“Hello, Darling, when you pick me?”
“Wait for 30 minutes ya, I'll be there.”
__ADS_1
“Okay. I love you, Darling.”
“I love you more, Sweetheart.”
Sambungan terputus, Luke tahu jika itu panggilan dari adiknya. Dan David menerka siapa yang menghubungi Andrew, walaupun kemungkinan besar adalah gadis yang dicintainya. Sarah.
“Who?” tanya Luke seolah tidak tahu siapa yang menghubungi sahabatnya.
“Your sister,” jawab Andrew tanpa perduli dengan ekspresi tidak senang David.
“Where Valleria?” David bertanya pada Luke namun sepertinya itu adalah pilihan yang salah. Lelaki itu segera menerjang tubuhnya dengan wajah merah padam. David menyebutkan nama orang yang membuat Sarah nyaris meregang nyawa.
“Brengsek!!! Beraninya kau menyebut nama jalang itu di hadapanku!” satu pukulan lagi mendarat di pipi David, Andrew menarik mundur tubuh Luke yang tegang agar menjauh dari David.
“Apa yang kau lakukan padanya monster?” teriak David penuh emosi.
“Masih berani kau bertindak begini? You're bastard!!!” Andrew tidak tinggal diam, tangannya menarik keras kerah kemeja hitam David. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan lelaki yang berada dalam cengkraman tangannya.
“Kau pura-pura bodoh atau memang bodoh?” tanya Andrew tanpa mengendorkan cengkraman di kerah David.
“Kalau kau ingin menemuinya, pergi ke neraka, brengsek!!!” bentak Luke berjalan meninggalkan David dan Andrew yang masih nampak bersitegang.
Melihat Luke berjalan meninggalkan mereka berdua, membuat Andrew melepaskan cengkramannya pada kerah David. Perlahan ia mendekatkan kepalanya pada kepala David, membisikkan sesuatu tepat di telinga lelaki yang tampak shock dengan bentakkan Luke.
“Kau memilih lawan yang salah.”
Andrew berjalan menuju Luke yang masih menunggu di ujung tangga. Meninggalkan David larut dalam pikirannya sendiri, memikirkan bisikan Luke padanya “menemui Valleria di neraka”. Apa artinya wanita itu telah tiada? Apa benar yang ia pikirkan, Luke membunuh wanita itu? Jika benar apa yang ada dalam pikirannya, artinya ia memilih lawan yang salah seperti kata Andrew.
__ADS_1
“Sarah... Valleria... Maafkan aku,” ucapnya lirih dan hanya bisa didengar oleh telinganya sendiri.