
“No!!!” teriak Sarah ketika terbangun dari mimpi buruknya, ia mengedarkan pandangannya kesegala arah. Seperti mencari-cari sesuatu hingga tidak menyadari kehadiran Helena yang nampak mendekatinya. Nafasnya masih tersengal dengan tubuh bersandar di kepala ranjang. Helena berjalan menuju nakas dan mengambil segelas air untuk diberikan pada Sarah.
“Minumlah, Nona. Mimpi hanya sebuah bunga tidur. Jadi tidak perlu ditanggapi, Nona.”
Sarah meraih gelas yang diberikan Helena padanya, dan meminumnya hingga tandas. Wanita itu nampak sangat kehausan setelah mendapatkan mimpi buruknya. Helena melihat jejak air mata di pipi Sarah yang mengering. Setelah yakin Sarah cukup tenang dengan nafasnya yang teratur, ia meminta izin untuk keluar dari kamar tidur itu. Langkahnya berhenti tepat di ambang pintu ketika Sarah mengucapkan terimakasih dan membalas dengan anggukan.
“Don't leave me please...” tangis Sarah pecah saat memeluk tubuhnya yang bergetar mengingat mimpinya.
Bagaimana bisa tenang jika mimpi itu terasa sangat nyata? Bahkan tanpa sadar ia menangis dalam tidurnya, seandainya Andrew berada di sisinya mungkin rasanya tidak akan sesakit ini. Namun ketakutan itu masih membayanginya, hingga akhirnya memilih untuk dijemput Luke daripada kekasihnya
***
“Kenapa melamun?” tanya Luke yang entah sejak kapan duduk di sisi Sarah.
“Huh?”
“Apa yang kau pikirkan?”
“Bagaimana jika ingatanku kembali?” Sarah terdengar ragu saat mengungkapkan pertanyaannya pada Luke.
“Bagus, artinya traumamu sudah sembuh,” jawab Luke pasti walau susah payah menekan gejolak emosi yang memuncah.
“Apakah semuanya akan baik-baik saja, Kak?” tanya Sarah sedih yang dapat siapapun rasakan.
“Semua akan baik-baik saja, tapi apa ingatanmu telah kembali?” Sarah menggeleng pelan menjawab pertanyaan Luke. Mulutnya kembali terkatup saat ingin mengucapkan sesuatu pada sang kakak ketika pintu di sampingnya terbuka. Menampilkan sosok lelaki yang ia rindukan akhir-akhir ini.
“Aku merindukanmu, Drew,” Sarah berjalan kearah sosok yang tidak lain adalah Andrew, kekasihnya. Ia memeluk lelaki itu erat seakan takut jika ada sesuatu yang ingin memisahkan.
__ADS_1
“Aku juga merindukanmu, Sweetheart. Ayo kita pulang ke penthouseku,” ajaknya yang mendapat anggukan setuju dari Sarah.
“Thanks, Brother,” ucap Sarah memeluk Luke sebelum pergi bersama Andrew.
Luke menganggukan kepalanya pada Andrew yang masih menatapnya, seakan-akan mereka sedang bicara dalam diam. Andrew dan Sarah keluar dari ruang kerja Luke, membawa koper milik Sarah bersamanya. Andrew tidak melepas genggaman tangannya pada tangan Sarah, menunjukkan kemesaan mereka yang membuat orang lain iri. Para lelaki memuja Sarah dan para perempuan memuja Andrew.
Jarak kantor Luke ke penthouse milik Andrew tidak begitu jauh, hanya membutuhkan 15 menit untuk sampai di penthouse dengan nuansa putih dan abu-abu. Sarah langsung menghambur memeluk Andrew ketika pintu telah tertutup sempurna.
Manik hijaunya tidak beralih dari memandang wajah tampan Andrew, tangannya membelai lembut rahang tegas itu. Rambut halusnya membuat Sarah kegelian sendiri, namun ia tidak ingin menghentikan tangannya. Setelahnya ia mendaratkan ciuman panas di bibir lelakinya, membuat lelaki itu terkejut. Namun hanya sesaat, karena kini keduanya telah menikmati ciuman panas itu. Saling menyesap bibir dan membelit lidah masing-masing, menyalurkan rasa rindu dan frustasi yang selama beberapa minggu membelenggu.
Andrew segera mengangkat tubuh sintal Sarah, membuat wanita itu membelitkan kedua tangan di leher kokohnya. Sarah melingkarkan kedua kaki di pinggang Andrew, dengan ciuman yang tidak lepas dari bibir keduanya. Andrew membawa tubuh sintal Sarah kedalam kamar untuk melepas rindu.
Di dalam kamar bernuansa maskulin khas laki-laki itu keduanya mulai menyalurkan rasa rindu dan sedih yang selama ini mengungkung. Sarah menekan tengkuk Andrew untuk memperdalam ciuman mereka, saling membelitkan lidah dan menjelajah mulut masing-masing. Suara dercapan ciuman basah itu memenuhi seluruh penjuru kamar, seakan dinding pun mengerti bagaimana kedua orang itu saling merindukan.
Andrew meloloskan dress yang dikenakan Sarah disela ciuman mereka, menyisakan bra dan celana dalam lace cream ditubuh indah itu. Manik birunya menggelap oleh gairah dan menelanjangi tubuh Sarah di atas ranjang. Ia melepas kasar dasi yang melekat di lehernya dengan tidak sabaran, bahkan Sarah bangkit untuk melepas kancing kemejanya.
“Darling, touch my whole body. Not just my naked body but deep inside my heart. I'm your,” ucap Sarah sebelum memagut kembali bibir Andrew yang ingin berucap.
Ciuman yang lebih lembut dari sebelumnya, mengantarkan penyerahan diri Sarah yang membuar Andrew melayang. Hingga tidak ada satupun penghalang di tubuh keduanya, kulit saling bersentuhan membuat gelayar panas terus menjalari aliran darah keduanya. Andrew memandang wajah Sarah yang lebih merah dari sebelumnya, meminta persetujuan untuk peenyatuan kedua tubuh dana jiwa mereka. Karena sebelumnya Sarah menolak permainkan lidah Andrew di bawah sana.
Sarah mengangguk pelan sebelum melingkarkan kedua kaki di pinggang Andrew. Menekan bokong lelaki yang sudah memposisikan kejantanannya tepat di depan pintu kenikmatan miliknya. Andrew dan Sarah memekik bersamaan, menikmati sensasi berbeda saat penyatuan mereka. Saat Andrew melesakkan miliknya menyentuh inti kenikmatan Sarah yang semakin membelitkan kaki di pinggangnya. Menekan keras bokongnya, seolah ingin dimasuki lebih dalam lagi.
Erangan dan desahan saling bersahutan, tidak perduli jika melakukannya di siang hari. Tubuh Sarah menggelinjang geli tiap kali Andrew menorehkan hasil karyanya di leher dan dadanya. Bercak kemerahan sebagai tanda kepemilikannya atas Sarah.
“Darling, ple---please,” racau Sarah merasakan hujaman di bawah sana.
“Tell me, Darling,” pinta Andrew yang sibuk menjilat dan kadang mengigit gemas telinga Sarah.
__ADS_1
“F*ck me harder!!!” teriak Sarah frustasi dengan peluh yang sudah membasahi wajah dan tubuhnya.
Mendengar teriakan frustasi Sarah meminta untuk dipuaskan, membuatnya semakin gencar menghujam di bawah sana. Menghujam dengan keras dan dalam hingga menyentuh rahim Sarah. Mendapat perlakuan seperti itu membuat Sarah terus mengerang nikmat dan nyaris terdengar menangis. Hingga tubuh Sarah melengkung keatas, mencengkram bokong Andrew untuk memperdalam miliknya di bawah sana.
“I am cummmmmm,” teriak keduanya bersamaan ketika berhasil mencapai puncak kenikmatan.
Sarah memeluk tubuh berkeringat Andrew, tidak membiarkannya untuk berguling kesamping. Karena dia masih ingin menikmati milik lelakinya berkedut didalam tubuhnya. Matanya terpejam sesaat ketika mendapat kecupan hangat di keningnya, membuatnya membelai lembut punggung telanjang Andrew.
“Thank you,” ia mencium mesra Andrew.
“I love you, Sarah.”
“I love you more, Andrew,” ucap Sarah ketika melepaskan belitan tangannya pada tubuh telanjang lelaki itu, membiarkannya berguling kesamping.
Sarah membelai mesra dada telanjang Andrew dengan jari lentiknya, mengecup leher lelakinya untuk memberi tanda kepemilikan di sana. Bahwa lelaki yang sedang memeluknya saat ini adalah miliknya.
“Darling...” panggilnya pada Andrew yang sedang memeluknya mesra.
“Hmmm...”
“Don't leave me please.”
Ucapan Sarah barusan sontak membuatnya terkejut, bahkan terpaksa membuatnya melepaskan pelukan pada tubuh gadis itu. Bagaimana bisa Sarah mengucapkan itu? Sedangkan jelas sekali jika mungkin gadis itu yang akan meninggalkannya. Andrew terlalu mencintai Sarah, sampai-sampai dia tidak tau bagaimana caranya untuk meninggalkan gadis cantik ini.
“Don't leave me no matter how,” Andrew hanya mengangguk pelan sebelum akhirnya kembaali merengkuh tubuh telanjang Sarah kedalam pelukannya.
Don't leave me, Andrew, even he's back to my memory.
__ADS_1