
Semakin malam suasana pesta lebih ramai karena kehadiran tamu dari kalangan atas. The Jacob yang terpandang dengan segala reputasi baiknya di kancah bisnis dunia tidak diragukan lagi eksistensinya. Karena acara puncak belum dimulai, semua tamu masih bebas bercengkrama. Tidak terkecuali seorang gadis dengan lelaki tampan mempesona. Senyumnya yang telah lama hilang kini hadir kembali.
Perbincangan mereka sepertinya sangat menarik, hingga lupa dengan keadaan sekitar. Pada beberapa pasang mata yang menatap dengan tatapan bahagia dan ada juga yang menatap dengan tatapan marah. Carol dan Aaron yang baru tiba juga langsung bergabung dengan mereka. Suasana hangat sungguh tercipta dari keakraban mereka. Sarah pun merasa aneh dengan perasaan sendiri, bagaimana seorang David yang baru bertemu dua kali bisa menarik perhatiannya. Membuatnya merasa hangat dan nyaman bukanlah hal mudah, dan perasaan seperti sudah mengenal itulah yang menjadi pemicunya.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Sarah menyelidik.
David terdiam karena bingung harus menjawab apa, terlebih lagi Carol dan Aaron juga menatap penuh selidik membuatnya merasa tidak nyaman. Ia menarik nafas dalam sebelum memberikan alasan pada Sarah.
“I guess no,” jawabnya meyakinkan.
Sarah dan kedua sabahatnya hanya mengangguk setuju. Entahlah. Mungkin Sarah hanya tidak ingin bicara banyak, karena itu bukan karakternya.
“Thank you, Dave,” David menaikkan satu alisnya, tidak paham dengan maksud gadis cantik di depannya. Mereka masih asik beribincang, yang entah siapa yang memulai. Bahkan David tanpa canggung tertawa dengan lelucon-lelucon kecil dari mulut Carol.
“You're so gorgeous my sweet cousin.”
Seorang gadis manis menghampiri Sarah dan menghadiahinya sebuah pelukan hangat. Siapa lagi kalau bukan Halsey, ya gadis itu selalu ceria. Gaunnya lebih sedikit terbuka dari yang dikenakan Sarah, membuat mata semua lelaki memandang kearahnya. Sarah yang anggun dan Halsey yang sexy. Mungkin itulah yang saat ini ada dalam pikiran lelaki-lelaki yang melihat mereka.
Halsey sudah bergabung dengan mereka dan aktingnya sungguh luar biasa. Seolah tidak mengenal David, dan mengajaknya berkenalan. Rupanya pemandangan itu membuat kakak-kakak dan sepupu-sepupunya jengah.
“Halsey itu selalu bodoh dan ceroboh. Aku harap dia tidak mengalami apa yang dialami Sarah,” Henry berdecak kesal melihat kelakuan adiknya yang ramah pada David. Sejujurnya tidak hanya dia, melainkan mereka berenam sungguh dibuat kesal.
__ADS_1
“Aku menyusul Sarah,” Andrew meninggalkan Jacob's cousin untuk mengambil alih gadisnya dari tangan lawan. Karena sedari tadi ia merasa tidak nyaman dengan cara David menatap Sarah. Yang dia tahu bahwa lelaki itu sedang berusaha mengambil hati gadisnya kembali. Tidak cukup luka yang telah dia berikan, kata-kata itu menggaung diseluruh sudut kepalanya. Ia hanya mengedipkan sebelah mata pada Carol dan Aaron yang menyadari kehadirannya. Memberikan kode untuk diam, syukur saja Halsey sudah beranjak dari sisi mereka. Jadi ia dengan bebas mengambil alih Sarah dari seorang David Schneider.
Tanpa aling-aling dan interupsi yang berarti, Andrew telah berhasil merengkuh pinggul ramping Sarah. Tangannya mendekapnya posesif dan terus merapatkan tubuh mereka. Sarah menyadari kehadiran Andrew hanya pasrah saja, karena ia paham bahwa lelaki ini sedang cemburu. Lain Sarah, lain pula David yang sudah mengetatkan rahang melihat perlakuan Andrew pada gadis yang dicintainya.
“Aah sorry, Sweetheart. I am so busy to talk with your cousins,” bisiknya ditelinga Sarah yang masih dapat didengar David dengan jelas. Membuat lelaki itu mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih.
Benar. David hanya perlu untuk mengendalikan diri, karena ia sadar sedang berada di mana. Tidak mungkin ia membuat kekacauan di pesta milik The Jacob, di mana banyak media yang sedang meliput. Bisa mempermalukan diri sendiri dan keluarga besarnya. Ia menarik nafas panjang mengontrol emosinya, dan itu sangat disadari oleh Andrew yang masih mendekap pinggul Sarah dengan posesif.
“That's okay. Lain kali jangan acuhkan aku lagi, karena kau tahu jika aku tidak suka?” ucap Sarah ramah yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Andrew.
Sarah memperkenalkan kedua lelaki itu dan dari wajahnya mereka berdua saling tidak menyukai. Sarah yang masih dalam dekapan Andrew merasa nyaman-nyaman saja. Bahkan sesekali ia membenarkan posisi jas yang dikenakan lelaki itu. David semakin panas menyaksikan kemesraan yang sedang ditampilkan keduanya. Pemandangan itu tidak luput dari mata Paul, Edward dan Karl. Ketiga kakak beradik itu tersenyum melihat pemandangan langka tersebut. Bagaimana tidak? Sudah 5 tahun berlalu dan akhirnya waktu yang mereka tunggu-tunggu tiba.
“Aku sudah sangat menunggu momen ini,” ucap Edward dengan smirk.
Berbeda dengan kedua kakaknya, Karl tidak tahu apaapa penasaran dengan ucapan mereka. Bagaimana bisa seorang ayah membiarkan putrinya yang mengalami trauma dan amnesia membuat kehidupan rumit.
“Sebenarnya ada apa?”
“Aah he didn't know about the truth.”
Karl merasa kedua kakaknya aneh, bahkan mengabaikan pertanyaannya. Kebenaran apa yang tidak ia ketahui? Tapi dia cukup tahu dengan karakter kedua kakaknya, tenang tapi menghanyutkan. Namun rasa penasarannya sedikit terjawab ketika Paul mengatakan bahwa keponakannya tersebut hanya perlu mengetahui kebenaran dengan caranya sendiri. Untuk dekat dengan awal dari segala rasa sakit yang ia derita. Sedikit banyak ia mulai sadar tentang rasa sakit yang dirasakan oleh keponakannya sebelum dan paska kecelakaan.
__ADS_1
Acara puncak telah dimulai, pasangan yang tidak lagi muda tersebut naik keatas panggung. Mereka saling memuji dan menampilkan kemesraan yang tidak dibuat-dibuat. Anak-anak dan cucu-cucu mereka turut hadir di panggung saat acara tiup lilin dan potong kue akan dimulai. Semua mata tertuju kepada generasi ke-3 keluarga Jacob. 5 cucu lelaki dan 2 cucu perempuan yang semuanya tampak sangat mempesona. Banyak kamera terus mengarah pada mereka, dan pada wartawan tersebut dapat banyak berita kali ini.
Luke adalah cucu tertua yang terkenal dingin namun memiliki jiwa sosial yang tinggi. Kariernya juga sangat baik dan masuk jajaran pebisnis sukses di Eropa dan Amerika. Tak jauh berbeda dengan kakak mereka, Anthony dan Nick juga sama dinginnya. Anthony seorang Dokter yang lebih tertarik membantu menangani masalah kesehatan di negara terbelakang. Dan Nick adalah seorang Jaksa dan CEO muda yang terkenal dengan sifat flamboyannya. Sarah adalah cucu ke-4 yaang usianya lebih muda setahun dari Nick. Pribadinya tidak jauh berbeda dengan ketiga sepupunya. Dingin dan bahkan lebih dingin dari es. Pribadinya yang tertutup selalu menjadi alasan sulit untuk orang lain ingin dekat dengannya. Henry, Harry, dan Halsey ketiganya adalah cucu terakhir keluarga Jacob. Ketiganya memiliki pribadi hangat dan ceria, bertolak belakang dengan keempat sepupunya.
Dan di sinilah mereka, berdiri di atas panggung bersama keluarga besar Jacob. Tersenyum bahagia dan bersikap ramah pada semua tamu yang hadir. Membiarkan ratusan kamera mengabadikan wajah mereka dalam bentuk foto dan video. Dan berpasang-pasang mata menatap mereka.
Setelah acara potong kue, dimulailah pesta dansa yang menjadi acara wajib dalam pesta mereka. Berpasang-pasang tengah fokus menatap kepada pasangan yang terlihat sangat serasi. Lelakinya tampan dan perempuannya sangat cantik mempesona siapapun yang melihat. Rupanya mereka semua lupa siapa bintang dalam pesta ini. Philips Jacob dan Lily Katherine Jacob hanya tersenyum memandangi pasangan muda tersebut berhasil mencuri perhatian tamu-tamu mereka.
“I am so glad to having you in my life. As my husband and my love. You give me a best family and now I feel happy when saw her smile,” Katherine membelai wajah penuh keriput milik suaminya, menghadiahkan kecupan kecil dibibir. Philips sangat memahami wanita yang telah hidup bersamanya selama 57 tahun ini. Terlebih istrinya itu selalu mengkhawatirkan kodisi cucu perempuannya yang masih sedikit amnesia.
Lelaki dan gadis itu tengah berdansa mengikuti alunan musik, mengabaikan sekeliling. Tangannya memeluk erat tubuh wanita itu seakan enggan melepasnya. Ia menggeram tertahan saat jari-jari lentik wanita itu memainkan rambutrambut halus di tengkuknya. Sensasi panas menjalar ke seluruh tubuhnya, dengan tatapan yang tak terputus sedikitpun. Ada pancaran kesedihan, kecewa, luka dan marah dari mata gadis itu. Ingin rasanya membisikkan kalimat, “semuanya baik-baik saja.” Namun ia tidak berdaya untuk mengatakan dan hanya berakhir dengan mendaratkan keningnya tepat dikening gadis cantik itu. Mata yang masih saling tatap dan deru nafas hangat menerpa wajah mereka. Otak pun rasanya sudah kekurangan oksigen dan rasanya seperti lepas kendali.
Sarah tersentak merasakan lehernya dikecup lembut. Walau hanya kecupan kecil, namun kecupan-kecupan tersebut mampu membangkitkan rasa hangat dalam hatinya. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan semua perasaan yang sepertinya tidak benar. Sepasang bibir tipis yang mengecap bibirnya lembut dan perlahan, membuatnya merasa terbuai dengan sensasi yang entah apa. Dia juga tidak mengerti.
Ketika pasangan itu hanyut dalam dunia dan kemesraan yang mereka ciptakan, melupakan ratusan pasang mata yang tengah memandang mereka takjub. Menyisakan seseorang dengan perasaan marah yang memuncak, tatapan mata berkabut aura pembunuh dan dingin yang menusuk. Hingga ia tersadar dari tatapan penuh amarahnya ketika bahunya ditepuk.
“Calm down...” suara itu cukup mampu meredamkan sedikit emosinya, walau tidak sepenuhnya terkendali. Hanya untuk sesaat, setidaknya untuk saat ini saja.
Pesta dansa telah usai, menyisakan pasangan yang masih larut dalam kemesraan mereka. Bibir yang sedari tadi saling memagut telah terlepas. Sembari mengatur nafas yang masih tersengal, Sarah nemeluk erat tubuh tegap lelakinya.
“I'll never let you go, even just for while. Cause now I remember who you are,” bisiknya tepat ditelinga lelaki pasangan dansanya, dan sukses membuat wajah keduanya bersemu merah.
__ADS_1
She really remember me? Aku harap ini bukan mimpi dan ini awal segalanya. Aku mencintaimu, Sarah.