
Selama perjalanan dari Sunroof Real Estate menuju Raunds, Sarah lebih banyak diam dan menyibukkan diri dengan tabletnya. Mengecek semua jadwal selama berada di desa indah yang terkenal dengan pertunjukkan musikalnya. Berbeda dengan Rose, sahabat sekaligus asistennya yang heboh sendiri dengan semua gossip yang ia lihat di sosial media.
Sarah sama sekali tidak merasa risih dengan suara bising disebelahnya. Kebetulan mereka diantar oleh supir pribadi keluarga Jacob yang memang khusus melayani Sarah saat bepergian jauh seperti sekarang. Jadi mereka berdua lebih santai jika ingin beristirahat sebelum bekerja. Merenovasi bangunan tua bukanlah hal mudah, perlu ketelitian dan kehati-hatian agar tidak banyak merubah bentuk asli bangunan tersebut.
Akhirnya suara Rose lenyap juga, mungkin dia sudah capek dari tadi bicara terus. Ucapnya dalam hati.
Aah ternyata fikirannya salah ketika mendengar suara Rose berteriak sekencang-kencangnya. “APAAN INI???”
“Bisa tenang tidak?” Sarah bertanya dengan kedua tangan yang sudah menutup telinganya rapat.
“Kau seriusan melakukannya semalam?” tatapan menuntut jawaban dari Sarah yang menatapnya datar.
“Melakukan apa?” masih dengan nada datar yang stabil tanpa terpengaruh wajah mengintimidasi milik Rose. Karena memang itu keahliannya selain membuat desain tempattempat cantik bersama sarah. Segera ia memberikan tabletnya pada Sarah yang bertanya heran atas pertanyaannya barusan.
Selama beberapa detik Sarah diam dan menatap datar pada layar tablet Rose. “Oh iya semalam kami berdansa di acara Grandparents,” jawabnya datar dan kembali fokus pada tabletnya.
“Begitu Saja? Kalian terlihat mesra, bahkan berciuman. Benar?” tanya Rose masih penasaran tapi diabaikan Sarah yang sibuk dengan tabletnya.
“Aku rasa kau sudah lihat video dari akun tidak penting itu,” ucapnya datar tanpa espresi dan hanya fokus mencoretkan sesuatu pada layar tabletnya.
“God!!! She is so cold and try to kill me with her word,” teriak Rose frustasi dan masih terus diabaikan dengan ekspresi datarnya.
Rose hanya mengelus dada melihat sahabatnya yang sudah ia kenal sejak masa kuliah dulu. Bahwa gadis itu dingin dan terlalu dingin dengan ekspresi datarnya. Sejujurnya ia tahu bahwa Sarah memang dekat dengan Andrew, bahkan ia sudah sangat biasa melihat wajah tampan lelaki itu di ruang kerja Sarah. Namun ia hanya tidak percaya bahwa kedua orang itu akan memberikan tontonan romantis diacara pendiri dari Jacob’s Group. Dan yang terpenting adalah sejak kapan perempuan disampingnya ini bisa sehangat itu?
Sedangkan Sarah yang sedari tadi dipikirkan Rose benar-benar acuh dengan keadaan sekitar. Buktinya ia masih tetap asik dengan tablet ditangannya, memberi coretan pada beberapa gambar bangunan tua yang akan ia kerjakan nanti. Waktu itu sangat berharga untuknya dan ia tidak ingin membuangnya dengan omong kosong tentang berita tidak berbobot.
Biarkan saja kemesraan mereka semalam jadi konsumsi publik, anggaplah itu bonus dari sikap datarnya selama ini. Karena media selalu menyorotnya yang dingin diantara beberapa anggota keluarga Jacob. Pribadinya yang dingin tidak jauh berbeda dengan ketiga sepupunya, putra Paul Jacob yang terenal dingin.
Setelah menempuh perjalanan selama lebih dari 2 jam, akhirnya mereka sampai di Raunds. Sebuah plang bertuliskan Welcome to Raunds dikiri jalan membuat Sarah meminta supirnya untuk menghentikan mobil.
“Segarnya...” Sarah turun dari mobil diikuti oleh Rose yang juga menatap takjup dengan suasana desa ini. Sarah merentangkan tangannya lebar dan menghirup udara segar pedesaan yang tidak bisa ia dapatkan saat berada di London. Rasanya sudah lama sekali ia tidak merasakan udara sesegar ini, karena kalaupun sedang mengerjakan proyek bangunan tua hanya yang berada di daerah perkotaan. Karena bangunan-bangunan tersebut masuk cagar budaya. Berbeda dengan Raunds yang merupakan sebuah desa dengan segala cerita klasiknya.
“Pantas kau nampak senang sekali saat menerima project ini,” Rose menyenggol tubuh Sarah.
“Sekali-kali kita harus bepergian ketempat seperti ini,” ucapnya sembari melangkahkan kaki menuju mobil. Meninggalkan Rose yang sibuk memotret dirinya sendiri dengan latar desa Raunds.
Sarah yang sudah berada didalam mobil kembali fokus dengan tabletnya. Sesekali ia melirik jam tangan yang ia kenakan, menatap ponselnya berulang kali seperti sedang menunggu telepon dari seseorang. Sampai membuat Rose yang kini telah kembali duduk di sisinya menatap heran kearahnya. Rose tahu betul bahwa Sarah bukan tipe gadis yang sibuk dengan ponselnya, jika itu tidak berhubuhngan dengan pekerjaan.
Setelah menempuh perjalanan beberapa belas menit akhirnya mobil yang mereka tumpangi berhenti. Tepat di depan rumah klasik dengan dengan dinding bata merah yang terekspos. Benar-benar pemandangan yang asri dan menenangkan untuknya. Walaupun tidak sebesar mansion keluarganya.
__ADS_1
Jalan aspal yang lengang khas pedesaan dan pohonpohon dipinggirnya membuat suasana semakin tenang. Sarah berjalan berdampingan dengan Rose memasuki rumah yang akan mereka tempati selama beberapa minggu kedepan. Barang-barang mereka telah dibawa masuk lebih dulu oleh Thomas, supir pribadi keluarga Jacob lebih tepatnya Sarah.
Sesampainya di kamar, Sarah segera memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Dan lagi-lagi semua yang ada dirumah ini tidak semewah yang ada di mansionnya. Bersyukurlah Sarah tidak selalu hidup mewah seperti kebanyakan anak konglongmerat lainnya. Yang manja dan tidak bisa jika hanya untuk hidup biasa saja tanpa kemewahan.
Wanita itu sangat suka jika ikut dengan Anthony, sepupunya yang seorang dokter untuk terlibat kegiatan kemanusiaan. Tak heran jika The Jacob sering dibuat panik ketika Sarah mendadak menghilang dan berada di tempat antah berantah ketika berhasil dihubungi. Walau ia terkenal dingin seperti tiga bersaudara putra Paul Jacob, tapi kepribadiannya sama hangatnya dengan ketiga orang itu. Dingin di luar tapi hangat di dalam.
Selesai membersihkan diri dan berpakaian ia memilih untuk tidur. Karena ia merasa cukup lelah hari ini, terutama setelah meeting tadi pagi dengan team marketing tentang proyek commercial property milik Sunroof.
“Andrew kenapa belum hubungi? Mungkin masih sibuk,” gumamnya pelan dengan mata terus menatap layar ponsel. Hingga layarnya menampilkan foto dan nama seseorang di layar lemanggil, senyumnya merekah. Jari lentiknya langsung menggeser layar pemanggil. Menampilkan wajah yang sudah beberapa hari ini ia rindukan.
“Hello, Sweetheart...”
“Hello. Anything good? How your meeting today?”
“Anything good, Sweetheart. Tapi rasanya sepi tanpa kau di sini,” ucapnya lembut.
“Sejak kapan seorang Andrew Niall McCraven bisa mengucapkan kalimat menjijikan seperti itu?” kekehnya geli melihat ekspresi Andrew yang sangat lucu ketika sedang kesal. Ya walaupun ia tahu bahwa lelaki itu sangat menyeramkan jika benar-benar marah. Rasanya seperti ingin menenggelamkan diri saja di Thames River atau menjadi buih di lautan Skotlandia.
“Dan sejak kapan seorang Sarah Dimitrov-Jacob bisa bicara sepanjang itu?” kekehnya sembari menikmati wajah cemberut Sarah. Bibir penuhnya maju beberapa senti. Bibir yang menggodanya untuk dikecup, dihisap dan bahkan digigit gemas. Tapi saat ini ia sedang berjauhan dengan Sarah, karena pekerjaannya saat ini tidak bisa dialih tugaskan pada yang lainnya.
“Sekarang aku berada di Raunds dan udara khas pedesaannya sangat segar,” senyumnya merekah dan Andrew dapat melihatnya dengan jelas.
"Are you happy?"
“Maaf, Sayang, aku masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan di Hawaii,” ucapnya datar namun matanya memancarkan kesedihan yang bisa langsung ditangkap oleh Sarah.
“It's okay. Apa rencanamu malam ini?”
“Ada undangan makan malam salah satu rekan bisnis yang kebetulan berulang tahun hari ini.”
“Datang dengan wanita mana?” tanyanya penuh penekanan saat penyebutkan kata wanita, Andrew tersenyum menyadari wanitanya tengah cemburu.
“Harusnya denganmu, tapi karena kau tidak di sini jadilah aku pergi dengan Jonathan,” Andrew melihat raut wajah lega milik Sarah.
“Baiklah. Aku istirahat dulu dan kau juga. Jangan macam-macam selama jauh dariku.”
“Siap my Queen. Bye…” ucapnya dengan senyum manis diwajahnya dengan manik biru bercahaya.
“Bye, Darling...” senyumnya merekah ketika mengakhiri sambungan. Setelah itu hatinya menjadi tenang dan siap untuk melabuhkan diri ke pulau mimpi, dengan Andrew di dalamnya.
__ADS_1
Di tempat yang berbeda ada seorang lelaki yang tengah duduk di kursi kebesarannya dengan gusar. Jarinya tak henti mengetuk-ngetuk meja kayu berlapis kaca di depannya. Entah apa yang ia pikirkan, hanya saja raut wajahnya penuh kekhawatiran.
Tok... Tok...
Suara ketukan di pintu menginterupsi kegiatannya barusan. Ia mempersilahkan masuk seseorang yang mengetuk pintu ruangannya. Nampaklah seorang gadis cantik dari balik pintu dengan membawa tumpukan beberapa file ditangannya.
“Ada apa, Berta?” suara yang lembut itu bertanya pada gadis dengan ikatan rambut membentuk ponitail, yang kini telah berdiri tepat di depannya.
“Begini, Prof. Saya ingin membahas mengenai riset yang telah dilakukan tentang sejarah warga Polandia di Jerman,” gadis bernama Berta itu kini duduk setelah mendapat isyarat darinya.
“Jadi bagaimana risetmu?” tanyanya to the point.
“Ini, Professor Schneider. Bisa tolong dicek dulu,” Berta menyerahkan file yang ia bawa.
David hanya menatap gadis itu sekilas kemudian berpaling kearah tumpukan file yang diberikan padanya. Meneliti sejarah adalah sesuatu yang paling disukainya, dan memeriksa hasil riset mahasiswanya adalah hal yang paling menyenangkan menurutnya. Karena kadang ia menemukan kata-kata weird yang tertulis di sana.
“Baiklah, saya akan periksa ini nanti. Ada lagi, Berta?” David menautkan jari-jarinya dan membuatnya sebagai tumpuan dagu indahnya itu.
“Tidak, Prof. Kalau begitu saya permisi, terima kasih,” ucapnya sembari berdiri kemudian meninggalkan David yang kembali gusar.
Hingga getaran ponselnya menghentikan gerakan tangannya, dengan cepat meraih ponsel yang sedari tadi berada di atas mejanya. Melihat nama pemanggil yang muncul membuatnya semakin tidak sabar.
“Apa yang kau temukan?” tanyanya tidak sabar.
“Kami mendapatkan bukti jika Nona Sarah menerima kiriman foto mesra Tuan dengan seorang wanita sebelum kecelakaan 5 tahun lalu.”
Seketika itu juga David merasa lemas dan ia tahu benar apa yang dimaksud orang suruhannya. Ia sedang memutar memorinya akan kejadian 5 tahun lalu, terbangun disebuah kamar hotel tanpa sehelai benangpun. Dan bahkan ia tidak ingat apa yang terjadi sebelumnya, selain ia yang berada di sebuah club dan meminum vodka seperti biasa.
“Dan hampir seluruh keluarga Jacob tahu, bahkan tunangan Nona Sarah saat ini pun mengetahui perihal foto tersebut.”
Apa tadi katanya? Tunangan Sarah? Telinganya tidak salah dengar?
“Apa maksud ucapanmu barusan?” suaranya meninggi dan penuh auramintimidasi. David hanya membutuhkan sebuah penjelasan tanpa berbelit-belit.
“Ya. Tunangan Nona Sarah, Andrew McCraven mengetahuinya lebih dulu., kemudian The Jacob.”
Perkataan orang tersebut sontak saja membuat David terkejut, jadi akhirnya keluarga itu meresmikan pertunangan Sarah dengan Andrew. Dan apa tadi dia bilang? Andrew yang mengetahui perihal foto itu lebih dulu? Jadi sekarang ia paham mengapa dulu Andrew dan juga Luke selalu menghalanginya untuk bertemu Sarah yang masih terbaring koma di rumah sakit.
“Baiklah. Kau cari tahu siapa dalang dari foto itu, secepatnya. Jika kau tidak bisa menemukannya, maka nyawamu yang jadi taruhannya,” ancam David.
__ADS_1
“Siap, Tuan.” Sambungan mereka terputus, David menghempas punggungnya kasar ke sandaran kursi. Meraup wajahnya kasarkarena sangat frustasi dengan kenyataan yang baru diketahuinya setelah sekian lama.
Salah paham ada apa ini sebenarnya???