The Billionaire'S Daughter

The Billionaire'S Daughter
Bab 39


__ADS_3

Siang ini keadaan Philips Jacob’s Hospital Manhattan tidak seperti biasa, penjagaan ketat dilakukan di lantai paling atas gedung. Ruang rawat VVIP dan lantai khusus milik The Jacob berada. Beberapa anggota keluarga Jacob memasang wajah cemas di depan ruang bersalin, menunggu Sarah yang tengah berjuang melahirkan. Kedua orang tuanya pernah meminta untuk mengabari Andrew perihal kehamilannya, namun Sarah menolak. Ia tetap pada pendiriannya sampai hatinya benar-benar siap untuk kembali.


Sudah hampir setengah jam The Jacob cemas menunggu Sarah berjuang sendiri di dalam sana. Ia menolak Mariana yang ingin menemaninya melewati proses persalinannya. Sarah begitu keras kepala, namun ia begitu disayang oleh kakek dan neneknya. Hanya Karl dan Istrinya yang tidak ikut, semua demi menghindari kecurigaan keluarga McCraven yang mulai menanyakan keberadaan Sarah.


“Bagaimana keadaan cucuku?” tanya Philips Jacob ketika seorang dokter keluar dari ruang bersalin.


“Kondisi Nona Sarah dan bayinya stabil, Sir,” ucap Dokter Kloss yang selama ini menangani kehamilan Sarah.


“Thanks God…” ucap mereka bersamaan.


“Kami bisa melihatnya sekarang?” tanya Mariana tidak sabar ingin melihat cucu pertamanya.


“Maaf Nyonya, Nona Sarah dan bayinya sedang dibersihkan. Kami akan segera memindahkannya ke ruang rawat, jadi silahkan menunggu di sana,” ucap Dokter Kloss sebelum berpamitan untuk meninggalkan keluarga Jacob yang sebagian telah pergi menuju kamar rawat Sarah.


Sudah dua hari ini Sarah menetap di rumah sakit, karena tidak ada yang tahu kapan ia akan melahirkan. Bahkan Belle, tunangan Luke yang selama ini membantu merawatnya pun belum bisa memastikan kapan Sarah akan melahirkan. Walau Belle hanya seorang mahasiswi kedokteran, tapi ia cukup mengerti akan hal seperti itu.

__ADS_1


Sarah dan bayinya yang berjenis kelamin laki-laki telah memasuki kamar rawat VVIP miliknya. Di sana The Jacob menyambut kehadiran anggota baru dalam keluarga mereka dengan suka cita. Bahkan Katherine dan Philips berebut ingin menggendong putra pertama cucu mereka. Semuanya penasaran dengan wajah bayi Sarah, karena baru berusia sejam. Begitu kecil dan merah dengan rambut pirang yang naris tidak terlihat. Tubuhnya gemuk seperti cukup asupan selama berada di dalam kandungan sang Ibu.


Sedari tadi bayi laki-laki Sarah tertidur pulas di dalam box bayinya, sehingga mereka semakin penasaran dengan warna matanya. Apakah ia memiliki mata hijau seperti Sarah atau biru sebiru lautan seperti Andrew. Membuat mereka harus bersabar menunggu bayi mungil itu membuka mata.


Luke tercenung melihat wajah keponakannya, ia merasa seperti melihat wajah sahabatnya. Dan ia sedikit menyesalkan keputusan adiknya menutupi kelahiran cucu pertama keluarga McCraven. Tapi ia tidak bisa berbuat lebih karena Sarah tahu yang terbaik untuknya dan bayinya. Luke membelai lembut pipi merah bayi laki-laki tanpa nama itu, sungguh ia penasaran dengan warna mata dan nama yang akan diberikan untuk putra Sarah dan Andrew.


Merasa ada yang mengganggu tidurnya, bayi mungil Sarah menangis kencang. Mereka tertawa melihat ekspresi panik Luke. Mariana membawa tubuh cucunya ke dalam pelukan, memberikan rasa nyaman yang menenangkan. Tapi bibir mungilnya terus bergerak, ia terlihat haus walau baru beberapa menit lalu disusui sang Ibu.


“Ya Tuhan… Niall you’re milk monster,” kekeh Sarah memberi asupan makanan putranya, mengabaikan wajah heran keluarganya.


“Niall Jacob,” jawab Sarah penuh senyuman.


“Bukankan itu nama tengah Andrew?” Edward menghampiri Sarah yang tengah menyusui cucunya.


“Benar, Dad.”

__ADS_1


“Kau merindukannnya?” tanya Edward sendu yang sudah tidak bisa ditahan lagi, karena ia tahu betapa kacaunya Andrew sepeninggal Sarah. Sejak kepergian Sarah semuanya berubah, tidak ada lagi senyum ramah darinya. Yang ada hanya wajah datar dan senyum tipis namun kosong tiada arti.


“Sangat, Dad. Apalagi setelah melihat wajah putra kami yang sangat mirip dengannya,” lirihnya melirik Niall yang nampak tenang menikmati makanannya.


“Kau sudah bisa kembali ke London setelah ini, Sarah,” ucap Katherine yang sedari tadi duduk di sisi cucu perempuannya.


“Belum bisa, Grandma.”


“Kenapa? Rumahmu, keluargamu dan ayah Niall juga di sana,” ucap Katherine sembari menyelipkan rambut Sarah ke belakang telinga.


“Setelah Niall dapat berjalan baru Sarah pulang.”


“APA?” teriak mereka bersamaan, membuat tangis Niall pecah memenuhi ruangan.


Sarah susah payah berusaha menenangkan Niall dari tangisnya, karena bayinya masih terus menangis. Ia menyadari betapa miripnya wajah Niall dengan sang ayah, ia hanya berharap bahwa warna mata bayinya tidak sama seperti Andrew. Setidaknya ada yang ia wariskan pada tubuh dan wajah putrnya. Namun semuanya hanya keinginan semu, Niall membuka mata menatap Sarah.

__ADS_1


“Biru… Matanya biru seperti Andrew Niall McCraven,” teriak Halsey heboh setelah melihat warna mata keponakannya.


__ADS_2