
ini Andrew tampak sangat tampan dalam balutan tuxedo hitam lengkap dengan dasi kupu-kupu. Arabela dan Aeleen pun tak kalah memukau dari kakak mereka. Ketiganya menjadi pusat perhatian ditengah ballroom hotel berbintang di Kota London. Keluarga McCraven mengadakan pesta ulang tahun Ailbert James McCraven, ayah mereka. Biasanya Ailbert tidak terlalu senang dengan pesta besar dan meriah seperti yang berlangsung saat ini. Dacota dan ketiga anaknya lah yang merencanakannya, mengundang kerabat dan rekanan bisnis mereka.
“Kenapa harus semeriah ini?” protes Ailbert pada istri dan ketiga anaknya yang di meja perjamuan.
“Sekali saja, Dad,” rengek Aeleen dengan manja.
“Baiklah,” Ailbert pasrah dengan keinginan istri dan anak-anaknya.
Andrew menjadi pusat perhatian karena wajah dan penampilannya. Namun senyum hangat yang biasa menghias wajah tampannya tak tampak lagi sejak 2 tahun ini. Kalaupun ia tersenyum itu hanyalah senyum tipis untuk beramah tamah. Lelaki itu benar-benar tidak pernah sama lagi sejak kepergian tunangannya. Karena ia terlalu pengecut sehingga menurut saja dengan apa yang diinginkan oleh Sarah.
“Selamat malam, Mr. McCraven,” sapa suara lembut dibelakang Andrew.
“Selamat malam,” jawab Andrew singkat dengan senyum tipis dan tatapan dinginnya.
“Ayana Spencer,” gadis itu mengulurkan tangan di depan Andrew.
“Senang bertemu dengan anda, Miss Spencer,” Andrew menjabat tangan mulus gadis itu.
Ayana adalah gadis cantik dan sexy, dan siapa yang tidak mengenalnya? Putri salah satu Menteri di Inggris dan ia adalah seorang pengacara terkenal. Hanya saja Andrew tidak tertarik dengan gadis yang ada di depannya saat ini. Gadis yang bersikap baik dan manis di depan tapi tidak lebih dari seorang yang memuakkan. Mengelola perusahaan media terbesar di Inggris membuatnya tahu kejadian yang terjadi pada kehidupan beberapa orang penting, termasuk seorang Ayana Spencer. Skandal demi skandal yang diciptakannya hilir mudik di media bahkan channel TV miliknya.
“Kak...” teriak Aeleen yang berjalan kearahnya.
“Adikmu?” tanya Ayana sambil tersenyum pada Aeleen, dan Andrew hanya menjawab dengan anggukan.
“Maaf, saya pinjam Andrew ya,” Aeleen segera bergelayut manja di lengan Andrew dan membawanya berlalu meninggalkan Ayana dengan wajah kesal.
“Ada apa?” Andrew bertanya ketika mereka sudah berjalan cukup jauh meninggalkan gadis itu.
“Menyelamatkan Kakak,” jawabnya singkat.
__ADS_1
“Huh?”
“Iya, agar Kakak tidak menyakiti hati seorang perempuan,” ucapnya penuh keyakinan.
Andrew tidak heran dengan kelakuan Aeleen saat ini, karena sikap dinginnya hanya akan menyakiti hati mereka yang mendekatinya. Selama 2 tahun ini ia selalu melakukan hal itu, mengabaikan mereka yang berusaha mendekatinya. Memasuki hati dan hidupnya, untuk menyelamatkan dunianya yang telah runtuh. Dunia tempatnya berpijak telah pergi, meinggalkan segala penyesalan dalam dirinya. Andai saja dulu ia tidak mengatakan hal itu pada Sarah, mungkin akhirnya akan berbeda. Cincin tunangan mereka pun masih melingkar dengan baik di jari manisnya.
“Malam ini keluarga Jacob hadir, mungkin dia datang, Kak,” ucap Arabela yang baru bergabung dengan kedua kakaknya.
“Mustahil,” Andrew tidak yakin dengan ucapan Arabela.
“Bisa saja, Kak,” Aeleen ikut meyakinkan.
“Buktinya beberapa pesta yang kita adakan tidak sekalipun dia hadir ditengah keluarga Jacob,” Andrew terdengar putus asa di hadapan kedua adiknya.
Ketiganya sibuk berbincang dan larut dalam pikiran masing-masing. Tidak jauh berbeda dengan seseorang yang sangat ia rindukan. Di tempat berbeda Sarah tengah sibuk dengan gaun hitam yang akan ia kenakan. Ia mengenakan gaun hitam panjang berlengan yang mengekspos punggung indahnya. Mengingat pesta siapa yang akan ia hadiri malam ini, membuat kepalanya berdenyut nyeri. Jika Andrew melihatnya berpenampilan seperti ini, apa yang akan lelaki itu lakukan? Sudah pasti ia akan marah besar seperti yang dulu sering terjadi.
“Sudahlah, Kak. Kau terlihat sudah cantik, tidak perlu bercermin selama ini,” protes Halsey yang sedang menggendong Niall yang sibuk memainkan mainannya.
“Kalau dia lihat, kalau tidak kan tidak masalah,” ucap Halsey sembari mengoyagkan tubuhnya ke kanan dan kiri untuk memainkan keponakannya.
“Mungkin dia sudah melupakanku,” Sarah sedih tiap kali membayangkan betapa hancur Andrew saat ia pergi dan meninggalkan kisah cinta mereka.
"Niall..."
Bayi gempil itu menoleh kearah suara yang memanggilnya, Marina berdiri di ambang pintu kamar tidur Sarah. Dia mengulurkan kedua tangannya kearah cucu tampannya, yang disambut dengan suka cita oleh Niall. Mengabaikan Halsey yang menciuminya gemas. Niall telah berpindah ke pelukan sang Nenek, Mariana Dimitrov.
“Kenapa Aunty mengambil Niall? Halsey masih rindu ingin menciumi pipi gempilnya,” protes Halsey.
“Sudah, Halsey. Kalau terlalu banyak kau cium dia bisa menangis,” protes Mariana.
__ADS_1
“Buktinya tadi Niall tidak menangis,” Halsey kembali mencium pipi bulat Niall. Mata bulat bayi itu bekerjapkerjap, memperlihatkan manik biru yang dalam dan polos. Niall pun tertawa mendapat ciuman bertubi-tubi dari Halsey.
“Baju apa yang kau kenakan? Andrew akan marah jika melihatnya,” protes Mariana dengan tatapan tajamnya pada Sarah.
“Kata Halsey biarkan saja.”
“Halsey...” ucap Mariana geram.
“Sudahlah, Bibi. Biarkan Kak Sarah jadi perhatian, agar Andrew menyadari kehadirannya,” Halsey membela diri dari tatapan tajam Mariana.
“Niall ikut Nenek, biarkan Mummy dan Bibimu bersiap-siap,” Marian mencium pipi gempil Niall yang sedikit kemerahan karena lipstick Halsey.
“Mum tunggu di bawah,” lanjut Mariana sembari turun membawa Niall meninggalkan Sarah dan Halsey.
Halsey berusaha menenangkan perasaan Sarah yang tidak karuan, syukurnya sindrom paniknya telah sembuh. Jadi Sarah tidak akan bertingkah seperti dulu, menangis tanpa alasan atau karena alasan yang di ada-adakan oleh perasaannya sendiri. Keduanya menemui Mariana dan Edward yang sedang bermain dengan Niall yang sedang aktif-aktifnya berjalan. Bayi itu baru belajar berjalan sebulan lalu dan langkahnya masih sulit namun dia tidak menyerah untuk berjalan kearah Edward yang sedang memegang mainannya. Usianya sudah 1 tahun dan saat ini Niall sungguh menggemaskan.
“Lihat Mummy-mu cantik sekali, Niall,” ucap Edward membawa Niall ke dalam gendongannya setelah berhasil berjalan ke arahnya walau sesekali terjatuh. Namun dasarnya Niall, walau terjatuh pun ia masih bisa tertawa dan tidak menangis.
“Niall...”
“Mum... Mum...” Niall mengajukan kedua tangan meminta untuk diambil oleh sang Ibu.
“Senang ya bermain dengan Kakek?” tanyanya ketika menggambil Niall dari gendongan Edward.
“Pa... Mum... Mum...” manik birunya berbinar dengan senyum hangat menghiasi wajah gempilnya. Gigi susunya baru tumbuh beberapa, membuat senyumnya terlihat lebih menggemaskan.
“Niall ingin bertemu Daddy?” tanya Halsey yang dihadiahi pelototan oleh Mariana dan Edward. Paman dan Bibinya itu selalu seperti itu ketika ia membahas tentang ayah Niall.
“Dadda... Dadda...” ucap Niall sembari menepuk-nepuk wajah Sarah.
__ADS_1
Niall sudah bisa berbicara walau belum jelas, tapi untuk menyebutkan Mummy atau Daddy ia sudah cukup bisa. Sarah tidak pernah menutupi siapa ayah Niall, ia selalu menunjukkan wajah dengan senyuman hangat itu pada putranya. Andrew Niall McCraven, yang nama tengahnya diambil Sarah sebagai nama putra mereka. Kehadirannya yang tidak diketahui Andrew karena Sarah pun tidak tahu jika ia sedang mengandung ketika pergi.
“Nanti Niall bertemu Daddy,” ucap Sarah mencubit gemas pipi Niall.