The Billionaire'S Daughter

The Billionaire'S Daughter
Bab 30


__ADS_3

Sudah lima hari Sarah berada di Melbourne menemani Andrew, dan hampir setiap hari pula ia mengekorinya. Luke sudah kembali ke Manhattan dua hari lalu, jadi jika Andrew sibuk tidak ada pelampiasan rasa bosannya. Hari ini Sarah hanya duduk manis di dalam penthouse kekasihnya, mengerjakan beberapa draft project yang dikirimkan Rose via email. Walau saat ini ia berada di belahan bumi lain, namun Sarah tidak pernah meninggalkan pekerjaannya di London.


Hari ini adalah hari terakhirnya di Melbourne, karena besok pagi mereka sudah kembali ke London. Sarah sedang memikirkan bagaimana cara memberitahu Andrew mengenai kondisinya, terlebih saat ini dia telah mengingat siapa David Schneider. Dia takut jika Andrew akan meninggalkannya, bukan karena Sarah meragukan perasaan Andrew padanya. Melainkan karena khawatir Andrew menarik kesimpulan bahwa ia menginginkan untuk kembali pada David. Setelah ingatannya kembali, Sarah mulai paham arti mimpinya waktu itu, “D” nama yang ia sebut dalam mimpi, ternyata adalah panggilan sayangnya untuk David. Bahkan dulu pun alam bawah sadarnya merindukan lelaki itu, walau sekarang ia tidak menginginkan untuk kembali padanya.


Siang berganti malam, bulan dan bintang menyingsing matahari yang kembali ke peraduannya. Membuat titik-titik cemerlang penuh kehangatan bagi Sarah yang menyukai bintang. Wanita itu mengingat saat Andrew menyatakan cintanya di bawah ribuan bintang di langit Kota London. Persahabatan yang terjalin sejak kecil cukup mempengaruhi perasaan masing-masing. Awalnya Sarah takut jika Andrew tidak memiliki ketertarikan padanya sebagai seorang gadis, tapi pikirannya salah. Andrew menyukainya sejak pertemuan pertama, itu yang Luke katakan padaya.


Clek...


Sarah melihat kearah pintu masuk untuk melihat siapa yang datang, walau dia tahu siapa yang memasuki penthouse. Andrew datang dengan wajah lelah yang tidak dapat disembunyikan namun senyumnya terbit saat melihat Sarah menyambutnya. Wanita itu mengambil tas kerjanya dan melepaskan dasi yang mencekat lehernya seharian ini. Bahkan Sarah tidak sungkan memberikan kecupan singkat pada bibirnya, setidaknya perasaan hangat itu bisa menghapuskan sedikit lelahnya.


“Bagaimana meeting hari ini, Darling?” tanya Sarah membuka pembicaraan.


“Berjalan lancar, hanya butuh perhatian khusus. Aku meminta CEO di sini fokus mengurus project tambang baru, karena aku tidak ingin meninggalkanmu terlalu lama,” Andrew merengkuh pinggang Sarah dan mengecup puncak kepala wanitanya. Andrew tidak melepas rengkuhannya dari pinggang Sarah sepanjang perjalanan memasuki kamar tidur.


“Aku siapkan air hangat, kau istirahatlah setelah itu bersihkan diri,” ucap Sarah seraya berjalan ke kamar mandi setelah meletakkan tas serta dasi yang dibawanya.


Andrew duduk di sofa menghadap layar TV yang tidak menyala di kamar mereka, menarik nafas panjang sebelum memejamkan matanya. Walau hanya sejenak, setidaknya ia dapat istirahat setelah rasa lelah mengurus project baru selama seminggu penuh. Belum lagi setiap malam ia terus begadang dengan kekasihnya. Membuat waktu istirahatnya berkurang, belum lagi pikirannya tentang ingatan Sarah yang telah kembali. Apalagi ia memberi kesempatan pada David untuk mendekati Sarah, membuatnya semakin tidak tenang. Beruntung Andrew bukan tipe orang yang mudah terpengaruh, jadi semua itu tidak mempengaruhi kinerjanya selama ini.


“Darling, wakeup. Aku sudah siapkan air hangat, baik untuk relaksasi,” ucap Sarah setelah mengecup pipi Andrew. Karena lelaki itu tertidur di sofa dengan kepala bersandar pada sandaran sofa dengan sebelah lengan menutup matanya dengan sempurna.


Kecupan di pipi membuatnya menggeliat pelan dan tangannya meraih pinggang Sarah. Mendudukan gadis itu tepat di pangkuannya, membenamkan kepala di leher jenjang Sarah. Menghirup aroma mawar dari tubuh yang sudah menjadi candunya sejak 21 tahun lalu.


“Aku masih mengantuk, Sweetheart,” Andrew semakin membenamkan wajahnya di leher Sarah yang tertutup rambut.


“Setelah kau membersihkan diri baru istirahat lagi. Selagi kau membersihkan diri, akan ku siapkan makan malam,” Sarah merangkul tubuh Andrew yang lebih tinggi darinya kedalam kamar mandi. Menyiapkan bathrobe bersih, sabun, sampo dan pakaian yang akan Andrew gunakan sudah menjadi kebiasaan selama 5 hari terakhir. Sebenarnya ini kebiasaannya sejak dulu ketika mereka pergi berlibur bersama.


Sementara Andrew membersihkan diri, Sarah tengah sibuk memasak pasta untuk makan malam mereka. Sepertinya hal itu menjadi kebiasan baru baginya, sembari membiasakan diri sebelum menikah. Walau Sarah sangat yakin setelah menikah dan tinggal di mansion mereka sendiri, Andrew akan memperkerjakan selusin pelayan untuknya. Tidak berbeda dengan sepupu tertuanya, semua diuruh oleh pelayan. Sarah tersenyum senang saat mecicipi pasta buatannya, rasanya pas walau ini pertama kalinya memasak pasta yang katanya mudah.


Andrew telah selesai membersihkan diri, ia keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe yang disediakan oleh Sarah. Matanya menatap sekeliling kamar, wanita itu sungguh menyiapkan makan malam untuk mereka rupanya. Hidung mancungnya mencium aroma nikmat dari balik pintu kamar. Andrew segera mengenakan pakaian yang telah disiapkan di pinggir ranjang. Kaos putih dengan jeans belel pendek sebatas lutut, pakaian santai yang memang sangat cocok untuk suasana hatinya saat ini.


Setelah menyisir rambut coklatnya, menyemprot parfume beraroma mint, ia berjalan keluar dari kamar. Menghampiri Sarah yang tengah sibuk memasak dan terdengar sedang bersenandung kecil. Suaranya tidak semerdu penyanyi terkenal, tapi masih enak didengar. Setidaknya Sarah tidak merasa kesepian saat ia mandi, karena ia paham jika Sarah bukan tipe wanita yang tahan akan kesepian. Tangannya memeluk tubuh Sarah yang masih memasak, mengecup tengkuknya dengan lembut. Sesekali meniup telinga Sarah untuk menggodanya dan benar saja, setelahnya Sarah bergelinjang menahan sensasi geli dari apa yang ia lakukan.


“Darling stop, I'm cooking for our dinner,” protes Sarah yang tidak diidahkan Andrew, justru ia semakin melancarkan aksinya mengecupi leher, tengkuk, telinga dan punggung Sarah yang terekspos. Sarah mengenakan gaun pendek yang mengekspos punggung seksinya, sesuatu yang selalu diinginkan lelaki ketika melihatnya. Itulah sebabnya Andrew melarang Sarah mengenakan pakaian sexy terutama memperlihatkan punggungnya.


“Baiklah, kita makan dulu,” Andrew mengalah dan menghentikan kegiatannya menggoda Sarah, memilih untuk duduk di kursi mini bar sembari mengecek email masuk di tabletnya.


“Jadi besok kita berangkat pagi?” tanya Sarah disela aktifitas memasaknya.


“Hmmmm...” Andrew hanya bergumam, karena ia tengah fokus mengetik sesuatu pada layar tabletnya.


Tak lama Sarah menghampiri dengan membawa 2 piring berisi pasta yang sudah ditata secantik mungkin. Andrew tersenyum melihat pasta yang diletakkan tepat didepannya, membuat perutnya ingin segera dipuaskan.


“Aku coba ya, Sweetheart,” Andrew memasukkan satu suapan pasta kedalam mulutnya.


Sarah berdebar menantikan reaksi Andrew setelah menyantap pasta buatannya, lelaki itu masih mengunyah dengan mata tertutup. Sesaat kemudian ia membuka mata dan tersenyum padanya yang menunggu dengan harap-harap cemas.


“How?” tanya Sarah penasaran.


“Taste delicious. Thank you, Sweetheart,” Andrew mencubit hidung mancung Sarah, membuat senyum terbit di wajah cantiknya sebelum akhirnya ikut menyantap pastanya.


Suasana makan malam begitu tenang, tak banyak obrolan yang terjadi seperti hari-hari sebelumnya. Sepertinya mereka ingin menikmati kebersamaan yang sudah lama tidak terjadi, attau lebih tepatnya sedang hanyut pada pikiran masing-masing. Setelahnya Andrew membantu Sarah membereskan sisa memasak dan makan malam mereka.


“Terima kasih.”


“Untuk apa?” Andrew bingung dengan ucapan Sarah.


“Semuanya.”


“Mean what?”


“For anything you gave to me. For stay, loving, caring, and please don’t leave if something happen to me like before,” pinta Sarah yang sembari membelai rahang Andrew yang ditumbuhi rambut halus.


“Wanna talk?” tanya Andrew menarik tangan Sarah menuju kamar, mendudukkan Sarah di ranjang dengan tubuhnya sebagai sandaran.


Sarah menyandarkan kepala pada dada bidang Andrew, memainkan jari jemarinya di sana. Kebiasannya jika sedang merasa tidak tenang atau gugup. Dia sedang menimbangnimbang perasaannya, apakah siap untuk mengatakan pada Andrew mengenai ingatannya yang telah kembali.


“Drew...” lirih Sarah yang dijawab gumaman.


“May I tell you something?”


“Something important or not?”


“Important for our relationship, I just wanna be honest to you,” ucap Sarah tanpa menghentikan permainan jarinya di dada Andrew. Lelaki itu mengecup puncak kepala Sarah lama, menyalurkan rasa frustasinya. Merelakan perasaannya lepas seiringan dengan kejujuran yang akan diutarakan kekasihnya. Sedangkan Sarah semakin membenamkan wajah di dada bidang Andrew. Seakan-akan takut jika setelah ini ada perpisahan.

__ADS_1


“I remember anything that happen on my past.”


“Then?”


“I also remember him.”


“Who?” Andrew berpura-pura tidak tahu, memberi kesempatan Sarah untuk menceritakannya.


“David Schneider,” bisiknya lirih namun masih dapat terdengar jelas oleh Andrew yang memang memasang telinganya baik-baik.


Sarah mengangkat kepala, menatap Andrew yang tengah menatapnya dalam. Mata hijaunya memancarkan kesedihan yang sulit diartikan oleh Andrew, karena ia tiidak suka bermain teak-teki seperti yang Sarah lakukan saat ini.


Berbeda dengan Luke yang dengan mudahnya membaca perasaan dan pikiran orang lain.


“Are you upset?” tanya Sarah dengan wajah memelas, dan dijawab dengan gelengan oleh Andrew. Lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Sarah, memberi kehangatan dan ketulusannya agar tidak berpikiran buruk tentangnya. Termasuk menerka seperti apa perasaannya setelah kejujuran Sarah.


“Be honest, I already knew about it and Luke told me,” kata Andrew menyadarkan Sarah dari kebingungan.


“Tapi aku tidak ingin kembali padanya, I just want you in my life,” Sarah membelai mesra rahang Andrew.


“Tapi setidaknya beri dia kesempatan.”


“Untuk apa?”


“Mengetahui letak kesalahannya, sejujurnya aku juga perlu tahu kesalahanku, Sweetheart,” Andrew mengecup singkat bibir Sarah yang terlihat ingin protes.


“Let we see. But, about your fault. Sure you don’t know?” Sarah melepaskan diri dari pelukan Andrew, duduk menghadapnya yang memasang wajah bingung.


“I don’t know.” Sarah menarik nafas kasar, rupanya lelaki ini masih kurang peka. Tidak berubah dan masih sama seperti dulu, bahkan untuk kesalahannya pun dia tidak tahu.


“Kau mengabaikanku.”


“Huh?”


“Ya. Sewaktu kuliah di New York dan memiliki bisnis baru di Hawaii,” ucap Sarah ketus.


“Aku tidak pernah mengabaikanmu, Sweetheart. Bahkan selalu menghubungimu,” tukasnya.


“Tapi setelahnya kau malah memiliki kekasih baru,” protes Andrew membela diri. Sarah hanya diam karena memang benar apa yang dikatakan oleh Andrew. Tak lama setelahnya ia menjalin hubungan dengan David Schneider.


“Kau pernah bertanya kenapa aku tidak menghubungimu?” Sarah hanya menggeleng.


“Pernah cek email?” tanya Andrew lagi yang masih dibalas gelengan kepala. Namun setelahnya Sarah mengatakan sesuatu yang membuat Andrew kesal.


“Sejujurnya aku lupa password, tapi tidak terpikirkan kalau kau mengirimi email.”


Andrew berdecak kesal sembari menepuk keras keningnya. Bagaimana bisa wanita ini memiliki pikiran bahwa dia mengabaikannya, sedangkan fakta sebenarnya tidak pernah sekalipun. Luke serta The Jacob lainnya percaya dengan pemikiran Sarah.


“Masih ingat alamat emailmu itu?” tanya Andrew yang hanya mendapat anggukan pelan dari Sarah.


Andrew bangkit dari duduknya, berjalan menuju meja kerja untuk mengambil laptop. Dia kembali duduk di sisi Sarah yang menatap herab. Ia menyalakan laptop dan meletakkannya di atas ranjang. Andrew duduk di belakang tubuh ramping Sarah, mengurung tubuh itu diantara kedua lengan kekarnya. Dagunya bertopang pada pundak Sarah yang terkespos.


“Ketik emailnya,” Andrew mengarahkan tangan Sarah mengetik alamat emailnya. Sebenarnya Andrew masih ingat alamat email Sarah, hanya saja ia tidak ingin melalui batas privasi wanitanya. Andrew adalah seorang ahli informatika, jadi sangat mudah baginya untuk meretas email Sarah. Hanya saja selama ini dia tidak ingin melakukannya, sampai Sarah sendiri yang ingin meluruskan kesalahpahaman mereka. Dan saat ini adalah waktu yang tepat untuk mereka mengakhiri kesalahpahaman itu.


Andrew nampak sibuk mengutak-atik layar laptopnya, memecahkan kode-kode untuk meretas akun email Sarah. Sedangkan Sarah memilih diam dan memperhatikan apa yang sedang dikerjakan kekasihnya. Tangan kanannya membelai lembut rambut Andrew yang belum bergeser dari pundaknya. Hingga Andrew berbisik tepat ditelinganya, untuk melihat layar laptop yang menampilkan halaman emailnya.


“Seriously?” Sarah tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya melihat ribuan email masuk sejak beberapa tahun lalu. Bahkan sebelum hubungannya dengan Andrew berakhir, karena sebenarnya hanya Sarah yang menganggap hubungan mereka berakhir.


“Kau lihat sendiri, Sweetheart. When I am not take care of you? When I am forget you? Am I?” rentetan pertanyaan itu sukses membuat Sarah merasa bersalah.


Sarah membuka satu persatu email masuknya sejak hampir 6 tahun lalu, dan email dari Andrew mendominasi dari email yang diterimanya. Sarah tidak mampu untuk membendung air mata ketika melihat email pertama yang dikirimkan Andrew.


*Dear My Sweetheart,


I hope anything well and I always pray for your health. Maaf akhir - akhir ini aku sangat sibuk, karena sedang mengerjakan project baru . Hari ini aku kembali ke New York karena libur season in i telah berakhir. Berkat doamu Sweetheart, project ku berjalan lancar.


Tapi maaf pagi ini tidak bisa menghubungi, karena ponselku tertinggal di Hawaii. Sesampainya di New York aku akan membeli ponsel baru untuk menghubungimu. Aku sangat merindukanmu, rasanya ingin segera membawamu kemari. Mungkin kita bisa tinggal di Manhattan, kau pasti akan menyukainya Tidak akan sepi di sini, karena ada aku, Luke dan Anthony. Bersabarlah Sweetheart, aku akan segera menjemputmu setelah semuanya berjalan lancar. Aku akan selalu menghubungi lewat email selama belum memiliki ponsel, karena laptop lebih sering bersamaku daripada ponsel.


I love you Sarah.


You ' re apple of my eyes.


Your lover,

__ADS_1


Andrew Xo - Xo*


“Jadi?” tanya Sarah disela tangisnya.


“Kau sudah baca emailku kan?” Sarah hanya mengangguk pelan, memalingkan wajahnya menghadap Andrew. Melepaskan diri dari kurungan tangan Andrew, membuat tubuh mereka kini berhadapan. Menangkup wajah Andrew dan ibu jarinya membelai lembut pipi yang ditumbuhi rambut halus itu. Andrew hanya memejamkan mata menikmati belaian lembut dari Sarah. Hingga ia merasakan nafas hangat menerpa wajahnya, ia memutuskan untuk tetap menutup mata dan berdoa semoga ini bukanlah mimpi.


Satu kecupan di keningnya. Satu kecupan di mata kirinya. Satu kecupan di mata kanannya. Satu kecupan di hidung mancungnya. Satu kecupan di pipi kanan yang sudah bebas dari tangan hangat wanitanya, begitupun dengan pipi kirinya. Sarah terus mengecupi wajah Andrew dengan lembut, sepanjang garis rahang yang ditumbuhi rambut halus. Bahkan wanita itu mengigit gemas dagu Andrew yang terlihat menggoda.


Andrew tidak menolak semua perlakuan yang diberikan Sarah pada wajahnya. Matanya terus terpejam menikmati sensasi lembut dan geli yang diberikan bibir sensual itu. Hingga ia mengerang tertahan ketika Sarah menggigit gemas dagunya.


Tak tahan dengan perlakuan Sarah membuatnya frustasi, ia menyingkirkan laptop yang masih bertengger diranjang dan meletakkannya di atas nakas. Ia meraih pinggang Sarah, mendudukkannya di pangkuannya. Tatapan mereka beradu, kini tangan Andrew membelai lembut punggung Sarah yang terekspos. Membuat gelayar hangat menjalar diseluruh tubuh Sarah. Hingga satu desahan lolos dari mulutnya yang langsung dibungkam dengan ciuman panas Andrew.


Andrew memperdalam ciuman mereka dan Sarah sudah menjambak rambutnya karena gairah tertahan. Lidah mereka saling membelit dan sesekali saling menghisap, mengeksplor setiap inci bagian mulut mereka. Menikmati rasa manis yang menjadi candu bagi masing-masing.


Sarah melucuti baju dan celana jeans belel yang dikenakan Andrew, menyisakan boxer abu menutupi bukti gairahnya. Ia mendorong tubuh Andrew hingga terjatuh di atas ranjang dengan posisi terlentang. Bibirnya terus mengecupi wajah Andrew dengan lembut, menimbulkan gairah yang lebih dari sebelumnya. Ciuman Sarah mulai turun ke leher Andrew membuat lelaki itu menggelinjang.


“Swe---sweetheart...” panggil Andrew dengan suara serak tertahannya.


Seolah tidak mendengar panggilan Andrew, ia terus melancarkan aksinya. Menciumi dada bidang lelaki itu dengan lembut dan sesekali bermain basah di sana. Dipuncak dada kekasihnya itulah Sarah bermain saat ini, menjilatnya seperti sedang menjilat permen dan sesekali menggigitnya. Membuat Andrew mengerang frustasi mendapat perlakuan seperti itu darinya. Karena selama 5 hari tinggal bersama, Sarah lebih banyak pasif tanpa membuat pemanasan seperti sekarang ini.


Andrew makin mengerang ketika tangan Sarah membelai lembut bukti gairahnya dari luar boxer. Benar-benar nikmat sentuhan pada bagian tubuhnya yang mengeras. Ia tidak menyangka Sarah akan menggoda dan mennyiksanya seperti ini. Sarah menghentikan gerakan tangannya pada bukti gairah Andrew, membuat lelaki itu bernafas lega. Namun apa yang dipikirkannya ternyata salah, justru sekarang ia dibuat semakin terkejut melihat tingkah Sarah.


Ia sedang mengecup bukti gairah kekasihnya yang nampak mengeras dari balik boxer. Tangan kanannya mengusap rambut halus di sekitar perut berotot Andrew. Sedangkan tangan kirinya sebagai tumpuan diantara paha lelakinya. Tidak hanya sebagai tumpuan, tapi ia sedang memainkan benda diantara paha Andrew. Membuat lelaki itu frustasi dengan erangan tertahan.


Andrew tidak tahan lagi dengan perlakuan Sarah pada bukti gairahnya, diraihnya tengkuk Sarah. Melumat bibir ranumnya kasar dan penuh hasrat, menyalurkan rasa frustasinya. Lidah keduanya saling belit ketika Andrew berhasil melesakkan lidahnya kedalam mulut kekasihnya dengan cara mengigit bibir bawah Sarah. Membuat Sarah mendesah disela ciuman panas mereka, karena tangan Andrew terus menjelajah sisi tubuhnya. Dengan tidak sabar Sarah menurunkan boxer kekasihnya hingga sebatas paha, memposisikan dirinya di atas tubuh setengah telanjang Andrew.


Sarah melirik bukti gairah Andrew sekilas, menekan bokong telanjangnya, karena Saat ini ia hanya mengenakan thong. Andrew dibuat penasaran dengan apa yang dipikirkan wanitanya, walau ia bisa merasakan kulit hangat Sarah pada puncak bukti gairahnya. Hingga keduanya memekik bersamaan saat Sarah menyatukan milik mereka. Milik Andrew melesak dalam inti tubuh kekasihnya, merasakan belaian hangat dan lembut di dalam sana. Sarah belum menggerakkan pinggulnya, menikmati kenikmatan penyatuan mereka.


Sarah mulai menggerakkan pinggulnya perlahan, menumpukkan tangannya di perut berotot Andrew. Mata sebiru laut itu kini telah menggelap, apalagi Sarah membuat penyatuan mereka terasa sangat nikmat. Apalagi Sarah masih mengenakan pakaian lengkap, tanpa menanggalkan sehelai benangpun dari tubuh indahnya. Pemandangan yang sangat menggairahkan baginya, desahan dan erangan saling bersahutan mengisi seluruh penjuru kamar.


Sedari tadi Andrew memejamkan matanya untuk menikmati semua perlakuan Sarah dan cengkraman di bawah sana. Inti tubuh Sarah mencengkram miliknya kuat dan ketat, membuatnya tidak bisa menahan satu desahan saja. Dan Sarah berhasil membuat matanya membola, bukan karena gerakan pinggul yang menggoda. Tapi permainan tangan indah dan lentik Sarah pada bola kembarnya. Dengan tubuh melengkung ke belakang, Sarah merayu bola kembarnya dengan sedikit gemas tapi lembut. Membuat Andrew tidak tahan dengan perlakuan Sarah padanya, merengkuh pinggang Sarah, menghujam miliknya di bawah sana. Hujaman keras dan dalam diterima Sarah, sampai suaranya serak karena gairah telah memuncah.


Sarah mencium gemas dan ganas bibir Andrew selagi masih mengujamnya di bawah sana. Sarah tidak sanggup untuk terus menerus mendesah, terlebih karena ia merasa haus saat ini. Sarah melepas ciumannya dan kembali pada posisi tangan bertumpu di perut berotot Andrew. Lelaki itu terus menghujami Sarah dengan kenikmatan, tangan kirinya menahan pinggul Sarah agar tetap pada posisinya, tangan kanan meremas payudara Sarah dari balik dressnya.


Nafas mereka semakin tersengal dan keringat sudah memenuhi tubuh serta wajah. Hingga akhirnya Sarah mengucapkan satu kalimat yang membuat Andrew semakin menggila.


“Harder, Drew... Ple--ase...” Sarah membuatnya semakin menggila seperti kuda liar. Hujamannya semakin menjadi setiap kali Sarah meracau tidak karuan.


“If you wanna come, let's come together, Sweetheart...” ucap Andrew disela desahan mereka. Hingga Sarah menggerakkan pinggulnya semakin tidak beraturan dan Andrew merasakan miliknya semakin dicengkram erat di dalam sana.


“I....”


“Call my name, Sweetheart...”


“Oh, yes...”


“I wanna see you come...” Andrew mendesah tertahan dengan dirinya masih menghujam Sarah.


“I love you so much...” ucap Sarah disela desahan dan Andrew segera membalikkan tubuhnya. Melepaskan semua pakaian yang dikenakan Sarah, termasuk merobek thong berbahan lace yang dikenakannya. Kini tubuh mereka sama-sama polos.


“I love you too, Sweetheart. Let's make you cum…” tatapan Andrew terkunci pada wajah berpeluh Sarah dengan sebagian rambut basah tidak beraturan. Ia meraih tubuh telanjang Sarah, hanya beberapa kali hentakkan keras keduanya mengerang hebat yang Memecah keheningan penthouse mereka.


“F*ck yes...” teriak Sarah disela erangannya.


“Mine...” teriak Andrew bersamaan dengan erangan Sarah. “You're mine, Sarah. Always be mine,” ucap Andrew yang telah jatuh menindih tubuh Sarah.


Sarah membelai lembut rambut Andrew yang menutupi lehernya, membisikkan kalimat yang membuat rasa percaya diri Andrew hidup lagi. “I am always your...”


Mereka tertidur karena kelelahan dengan posisi Andrew menindih tubuh Sarah. Sebenarnya Andrew sudah ingin berguling beberapa menit setelah pelepasan mereka. Hanya saja Sarah menahannya, katanya ingin lebih lama menikmati Andrew didalamnya. Bahkan hingga matahari menyingsing gelapnya malam, posisi mereka belum berubah. Hanya saja tubuh Andrew sudah tidak menindih tubuh Sarah sepenuhnya.


Pagi ini mereka bangun dengan suasana hati yang lebih cerah. Terutama Sarah, karena ia berhenti dari pikiran buruknya tentang Andrew selama ini. Mungkin benar apa yang pernah dikatakan ayahnya dulu. Ada baiknya bertanya dan mendengarkan penjelasan orang lain. Agar tidak ada salah paham dikemudian hari, seperti dirinya dan Andrew dulu. Dan mungkin benar apa yang dikatakan Andrew semalam. Tentang memberikan David kesempatan, setidaknya untuk menjelaskan. Karena sudah tidak ada lagi harapan baginya kembali pada lelaki ktu. Terlalu menyakitkan baginya, terlebih ia sudah memiliki Andrew yang selalu ara di sisinya.


Sarah ingat saat ia koma 5 tahun lalu, matanya memang tidak bisa terbuka dan tubuhnya juga sulit untuk digerakkan. Tapi pendengarannya berfungsi dengan baik. Ia dapat dengan jelas mendengarkan apa yang orang-orang katakan padanya. Tangisan mereka yang mencintainya dan berharap untuk kesembuhannya. Diantara banyak doa dan permohonan yang ia dengar, ada satu permohonan yang masih diingatnya sampai saat ini. Permohonan yang membuatnya bertahan walau sakit.


“Aku selalu berdoa pada Tuhan untuk menjagamu, namun nyatanya kau celaka. Tapi kali ini aku meminta permohonan lagi pada Tuhan untuk mengembalikanmu pada kami. Jika aku tidak bisa berada di sisimu, setidaknya aku bisa melihatmu bahagia.”


“Sweetheart, kita sudah mau berangkat. Jadi tolong jangan melamun,” ucap Andrew memecah lamunan Sarah. Gadis itu tersenyum manis kearahnya, seakan mengucapkan terimakasih.


“Please don’t be have misunderstanding betwen us anymore,” pinta Sarah yang hanya diangguki Andrew.


“Berilah penjelasan walau tanpa diminta,” sekali lagi Andrew mengangguk paham.


Keesokan harinya mereka kembali ke London menggunakan pesawat milik McCraven. Sepanjang perjalanan mereka hanya membahas kesalah pahaman yang terjadi selama ini. Tentang kebiasaan buruk Sarah yang tidak pernah mencari tahu dan menarik kesimpulan sendiri, termasuk pada hubungannya dengan Andrew. Semoga saja hubungannya dengan David juga bukan karena kesalah pahamannya saja.

__ADS_1


__ADS_2