
Otaknya terus saja memutar kejadian di club tadi, bahkan saat ia telah masuk kedalam selimut tidurnya. Wajah takut Sarah meengisi setengah otaknya saat ini, dan ia sangat khawatir jika ha itu akan menimbulkan trauma baru bagi gadisnya. Luka dan trauma lama saja belum sembuh, bagaimana jika ada luka dan trauma baru? Dengan susah payah David berusaha untuk memejamkan matanya, berharap ia bisa terlelap mala mini. Ia sungguh ingin istirahat, walau hanya untuk sesaat.
”Touch her whole body!” kata-kata Halsey terdengar di telinga ketika baru saja ia hendak terlelap.
David menyandarkan kepalanya pada tumpukkan bantal di kepala ranjang dengan ornament modern. Ranjang berukuran king size itu menjadi saksi bisu peergumulan panasnya dengan sang kekash, walau belum sejauh apa yang pernah ia lakukan dengan mantan-mantan kekasihnya dulu. Seketika itu juga pikirannya melayang, mengingat apa yang pernah terjadi di kamar ini 6 tahun lalu. Saat Sarah masih amat sangat mengingat dan mencintanya.
“Sarah,” bisiknya ditelinga gadis berambut pirang yang dikepang menjulur kesisi kanan kepalanya.
“Hmmmm…” hanya itu jawaban yang dapat Sarah berikan, karena saat ini David tengah sibuk mencium tengkuk dan telinganya.
David belingkarkan tangannya pada pinggang Sarah yang sedang memunggunginya, mengecup setiap sisi tengkuk, leher dan telinga Sarah. Ia menghembuskan nafas hangat setiap kali mendaratkan ciuman ditelinga Sarah. Keruan saja membuat Sarah menggeliat karena rasa geli yang ditimbulkannya. Dengan tidak sabar diraihnya kepala David dengan tangan kirinya, menatap wajah lelaki itu sebelum akhirnya bibir mereka berpangutan. Saling menghisab bibir dan lidah, dan ciuman itu menjadi semakin tidak terkendali ketika Sarah membalikkan tubuhnya menghadap David. Melekatkan tubuh mereka hingga rasanya tidak ada yang bisa melepas permainan mulut mereka yang mulai memanas.
David memeluk tubuh Sarah agar semakin dekat, menyusuri punggung indah Sarah dengan tangannya. Tanpa Sarah sadari David telah berhasil meloloskan bra dari tubuhnya, karena saat ini ia tidak mengenakan bra bertali. Tangan David semakin liar menelusuri punggung telanjang Sarah, walaupun masih dari balik blous merah mudanya. Kali ini giliran Sarah yang memainkan tangannya dengan liar di bokong padat David. Meremas bokong David dengan gemas, lalu menekankannya agar lebih dekat dengannya. Bahkan sekarang Sarah bisa merasakan benda keras di balik blue jeans yang dikenakan David. Segera ia melepaskan ciuman panas mereka dan menatap lelaki yang memeluknya itu. Dengan wajah tidak puas David menarik tubuh Sarah keatas ranjang berukuran king size di dalam kamar apartemennya. Tatapan tajam David membuat tubuh Sarah seperti terserang sengatan listrik bertekanan tinggi. Bahkan ia bisa melihat dengan jelas kabut gairah telah menutupi mata indah lelaki itu. Begitu gelap seakan menarik dirinya untuk masuk begitu dalam. Keduanya merasakan hasrat dan gairah itu sudah tidak dapat dibendung lagi. Dan entah siapa yang memulai, kini keduanya telah bergumul di tempat tidur. Saling hisap dan jilat pun telah mereka lakukan.
__ADS_1
Bahkan tautan bibir mereka pun hanya lepas sesekali saat mulai menanggalkan pakaian masing-masing dan mengambil nafas. Dengan perlahan David menyentuh bagian terintim milik Sarah yang telah lembab, memainkan jari telunjuk dan jari tengahnya pada titik kecil yang telah mengeras diantara lipatan kulit lembab Sarah. Membuat gadis itu memejamkan mata dengan menggigit bibir bawahnya, bahkan sesekala terdengar erangan nikmat darinya. Tentu saja mendengar erangan Sarah membuat David semakin menggila, melebarkan kedua kakai sarah dan menelusupkan kepalanya di bawah sana. Menjilati titik kecil itu dengan rakus, terkadang memberi gigitan kecil di sana, dengan kedua jari yang masih bermain di bawah sana.
Sarah yang tidak tahan dengan perlakuan David pada inti tubuhnnya terus menjambak rambut lelaki itu, bahkan sesekali ia menekan kepala itu untuk lebih memperdalam jilatan lidah liarnya. Sarah mengerang nikmat ketika ledakan pelepasannya berhasil direngkuh, dengan tubuhnya setengah melengkung kebelakang dan kepala David di bawah sana.
“Darling…” suara Sarah terengah-engah saat ia menarik tangan David agar merebahkan tubuh di sisinya.
“Yes,” David memberikan kecupan lembut di kening Sarah, memandang wajah cantiknya setelah pelepasan tadi. Begitu cantik dan mempesona, batinnya sebelum akhirnya menuruti keingan Sarah untuk merebahkan diri di sisinya.
“Touch my whole body please…” pinta Sarah dengan nada memelas dan tangan memainkan kejantanan David yang sudah mulai melemas.
Tidak berapa lama kejantanan David kembali mengeras, sebelum akhirnya terbenam di dalam mulut Sarah. Ia bisa merasakan hangat mulut dan lidah Sarah sedang memanjakan miliknya di bawah sana, dan ia hanya bisa menikmatinya dengan mendesah tertahan. Karena tidak tahan membuatnya menarik kepala gadisnya untuk lebih memperdalam miliknya di dalam mulut Sarah.
Erangan penuh kenikmatan lolos dari mulut David memenuhi seisi kamar ketika puncak pelepasan berhasil ia lepaskan. Matanya melihat Sarah yang tersenyum bahagia sembari membersihkan sisa pelepasannya dengan lidah di bawah sana. Setelahnya David segera menarik tubuh Sarah untuk duduk di atas perutnya dan mengecup bibir mungilnya.
__ADS_1
David menarik nafas dalam sembari memandang sisi kanan tempat tidurnya dengan mata berkaca-kaca. Kosong! Sudah tidak ada lagi sosok gadis cantik berambut pirang yang akan menemaninya tidur ketika berkunjung ke London. Sebelum terlelap ia berharap akan bertemu dengan Sarah dalam mimpinya, namun hal itu tak terjadi.
Keesokan harinya David terbangun saat mencium aroma pekat kopi menusuk hidung. Latte! Kopi kesukaannya dipagi hari? Sarah? Apakah gadis itu berada di sini pagi ini? Segera ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar untuk mencari asalnya aroma kopi ini. Tidak ada Sarah! Ia tertunduk dengan wajah kecewa, sampai akhirnya tersadar ketika mendengar suara keluar dari rest room di sudut apartemennya.
“Kau pikir aku Sarah?”
“Shit! What are you doing here, James?” David bertanya heran sembari menghempaskan tubuh ke sofa kulit yang menghadap balkon.
“Ayahmu memintaku untuk kemari, mendampingimu. Kalau saja kau membuat kekacauan dan lagi aku ada project yang harus diurus.”
James berjalan menuju balkon dan duduk disalah satu kursi malas di sana. Sedangkan David memilih kembali ke kamar untuk menghangatkan diri, dengan secangkir latte ditangan. Menghirup dinginnya udara Kota London pagi ini dapat membekukan tubuh dan juga kenangannya tentang Sarah. Ia menatap kosong keluar jendela yang menghadap Times River. Memutar kenangan tentang kekasih yang meelupakannya, karena hanya ia yang dilupakan oleh Sarah setelah kecelakaan di Skotlandia. Membuatnya harus berpikir tentang apa yang telah dialami Sarah dan kesalah apa yang ia lakukan.
“Kenapa kau tidak mengingatku? Apa kesalahanku?” lirihnya sebelum menghabiskan secangkir latte miliknya.
__ADS_1
Kring….
Segera David mengambil ponsel yang ia letakkan di atas nakas. Setelah itu wajahnya berubah serius dengan kening berkerut, apa yang sebenarnya mereka bicarakan?