
Malam semakin larut dan pesta pun telah usai dengan kejadian yang menjadi sorotan media. Di sinilah mereka, merasakan dinginnya udara malam dari balkon hotel yang menghadap langsung ke pusat kota. Lelaki itu tidak melepaskan kaitan tangannya dari tubuh gadis yang sedang menitikkan air mata.
Bukan rahasia jika Sarah akan menangis ketika melihat salju mulai turun. Entah sekarang ini air mata kesedihan dan kepedihan seperti biasa atau air mata kebahagiaan. Hanya dia yang tahu, bahkan lelaki yang sedang bertopang dagu pada punggung indahnya pun tidak sepenuhnya paham.
Dengan tangan yang masih melingkar di perut Sarah, ia terus menndaratkan kecupan-kecupan kecil di sepanjang bahu dan punggung terbuka Sarah. Memberi sengatan- sengatan kecil pada hati dan aliran darah gadis berambut pirang itu. Sungguh ini adalah kebahagiaan yang telah lama ia nantikan. Sarah membalikkan tubuhhnya sehingga tubuh mereka kini saling berhadapan, melingkarkan tangannya di leher kokoh lelaki tampan di depannya. Hingga manik mata keduanya bertemu dan saling bicara dengan bahasa hati. Sarah membelai lembut rambut halus di sepanjang rahang yang terpahat indah di depan matanya. Membelai lembut pipi berambut itu dengan ibu jadi, melepaskan segala rasa rindu yang selama ini meembelenggu.
Wajah mereka saling mendekat, sampai deru nafas masing-masing bis terdengar dengan jelas. Keduanya memejamkan mata ketika bibir mereka telah bertemu dan saling pagut. Ia mengeratkan pelukan pada pinggang Sarah, mengecap manis bibir gadis tercintanya. Ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi lumatan, menyalurkan semua sedih, marah, rindu dan frustasi. Gadis itu mendesah tak tertahan disela ciuman mereka ketika bibir bawahnya digigit gemas.
Matanya masih terpejam dan kini siap untuk menikmati serangan berikutnya. Lidah lelaki itu mencari celah untuk masuk kedalam mulutnya. Lidah mereka saling belit, bahkan saling menghisap lidah masing-masing, membuat decakan suara bibir dan saliva mereka memecah keheningan malam ini.
Keduanya diam sesaat untuck mengatur nafas yang tersengal, menghirup oksigen sebanyak mungkin. Tangan Sarah masih melingkar di leher kokoh lelaki itu begitupun sebaliknya. Tangan kokohnya masih membelit pinggang Sarah dan terus merapatkan tubuh mereka. Ia meletakkan kening tepat pada kening Sarah, memandang wajah cantik gadis yang masih tersengal.
“Do you remember me?”
“Yes...” suara Sarah terdengar lirih ditelinga lelaki itu, mungkin lebih tepatnya tercekat karena gairah yang sudah memuncah sejak pesta dansa berlangsung. Gadis mana yng tahan jika leher dan telinganya diberi kecupan-kecupan kecil oleh seorang lelaki? Terlebih lagi lelaki tampan dan seksi seperti yang sedang berdiri didepannya ini. Membuat kakinya lemah dan terasa lemas, serta denyutan-denyutan itu makin terasa saat ciuman yang sedikit liar tadi.
Lelaki itu meraih tangan Sarah yang masih melingkar dilehernya, membawanya masuk ke kamar hotel yang telah dipersiapkan bahkan saat pesta masih berlangsung. Ia mendudukkan Sarah di pinggir ranjang berukuran king size, matanya tak berhenti memandang wajah gadis cantiknya.
“Lain kali jangan gunakan gaun seperti ini, jujur aku tidak nyaman saat lelaki lain menatapmu nyalang. Mereka seperti akan menerkammu.”
__ADS_1
Sarah hanya bergumam sebagai tanda setuju, karena sedari tadi matanya tidak lepas pada sesuatu yang menyembul diantara paha. Ada perasaan menggebu yang membuatnya ingin menyentuh benda diatara paha itu. Diraihnya belt yang belingkar di pinggang, secara cekatan melepaskan kaitan celana bahan berwarna hitam yang dikenakannya. Secara terampil membuka zipper dan meloloskan celana itu jatuh ke lantai. Membebaskan sesuatu yang terkungkung di dalam sana, namun ia berhenti saat melihat sesuatu mencuat dari balik boxer abu-abu itu. Kepalanya menengadah dan menatap wajah lelaki yang merona merah. Entah karena apa? Mungkin malu atau menahan gairah yang sudah diubun-ubun.
Sarah bangkit dari duduknya, meletakkan tangan di dada bidang lelaki yang terlihat seksi saat menahan gairahnya. Tangannya membuat gerakan memutar di atas dada dan perut yang masih tertutup oleh kemeja putih. Namun tangannya berhenti bergerak ketika sampai pada bagian bawah perut, dirasakan sesuatu bergerak di bawah sana. Matanya menatap lelaki yang sedang terpejam didepannya, mengagumi keseksiannya.
Jari-jari lentiknya membuka kancing kemeja yang mengekang tubuh indah dengan otot perut menggairahkan. Menatap penuh minat dada bidang yang ditumbuhi sedikit bulu-bulu halus hingga di bawah otot perut. Tatapan mereka bertemu dan menampakkan gejolak yang telah menguasai mereka. Lelaki itu merengkuh tubuh sintal Sarah, menciumnya liar dan menuntut. Menekan tengkuk masing-masing untuk memperdalam ciuman mereka. Lidah keduanya saling belit dengan suara kecapan semakin intens terdengar keseluruh penjuru kamar. Tanpa Sarah sadari bahwa gaun yang ia kenakan telah luruh ke lantai, dan dada telanjang mereka saling menempel. Detak jantung berpacu dengan cepat saling.
Lelaki itu melepaskan tautan bibir mereka yang berpagutan sedari tadi, bahkan sampai berulang kali mengigit bibir bawah Sarah karena gairah telah memuncah. Mata biru berkabutnya tengah menatap takjub pada tubuh telanjang Sarah, bak Dewi Aprodite baginya. Hanya dirinya masih mengenakan boxer yang menutupi miliknya di bawah sana. Setelah puas memandangi tubuh indah Sarah, ia membenamkan kepala di curuk leher jenjang gadisnya. Menghirup dalam aroma tubuh gadis tercintanya, memberikan kecupan kecil di sepanjang leher, rahang dan telinga. Membuat Sarah menggelinjang sembari memeluk tubuh atletisnya. Kecupan kecil yang ia berikan berubah jadi isapan dan gigitan kecil, bahkan lidahnya kini menyapu leher hingga telinga Sarah. Satu erangan lolos dari bibir tipis gadis berkulit pucat itu, walau sedari tadi mencoba untuk menahannya. Namun pertahanannya runtuh ketika lidah panas dan kasar itu menyapu leher dan telinganya.
Tangan Sarah tidak tinggal diam ketika lelaki itu bergerilya dengan lidah pada leher dan telinganya. Secara mengejutkan gadis pemalu seperti Sarah meraih sesuatu yang sejak tadi tersembunyi di balik boxer abu-abu itu. Dengan senyuman puas terukir di wajah cantiknya ia menatap tepat ke manik biru berkabut lelaki di depannnya. Membuat lelaki itu menghentikan sesaat kegiatan menghisap kulit Sarah dan mengerang tertahan karena miliknya disentuh taangan hangat gadisnya. Desahan mereka kini berganti dengan eranganerangan yang memenuhi seluruh ruangan, bahkan mungkin terdengar hingga keluar kamar.
Keduanya mengatur deru nafas yang kembali tidak beraturan usai melakukan permainan tangan dan bibir tadi. Sarah merebahkan tubuh setengah telanjangnya di atas ranjang berukuran king size itu. Karena ia lelah melakukannya dalam posisi berdiri. Walau masih ada celana dalam yang menututupi antara paha padatnya. Hal itu tidak mengurangi keseksian Sarah dan bahkan membuat lelaki itu semakin dipenuhi kabut gairah. Dengan tatapan elangnya pada Sarah, ia menaiki ranjang dan mengukung Sarah diantara kedua tangannya.
Sarah membelai rambut pria itu dan memberikan kecupan kecil di bibir yang sedikit tebal akibat ciuman mereka tadi. Sarah meruntuhkan semua tembok es yang selama ini mengukung dirinya, karena saat ini ia sudah terbakar oleh api gairah. Ia menekuk kedua kakinya sembari tangannya dengan terampil menurunkan boxer yang dikenakan lelaki itu. Mendapat perlakuan seperti itu membuat lelaki ini merasa di atas angin, gadis itu memperlakukannya dengan sangat baik.
“S-stop it, Darling. I don't want to cum inside your mouth.”
Suaranya sedikit tercekat karena gairah sudah memuncah akibat perbuatan Sarah pada miliknya. Dan kini ia membalaskan dendam pada gadis yang sedari tadi tersenyum menggoda kearahnya. Kembali mengecup leher dan telinga secara lembut membuat tubuh Sarah sedikit menegang. Matanya membola ketika meihat bukit indah milik Sarah, tidak terlalu besar dan juga tidak kecil namun pas baginya. Puas memandangi akhirnya ia mengecup seluruh dada Sarah tanpa menyentuh puncaknya. Membuat gadis itu menggeram tertahan karena puncaknya belum disentuh. Tak sanggup melihat Sarah memohon akhirnya membuat bibir tipisnya mengecap puncak bukit berwarna merah muda itu. Awalnya kecupan kecil dan berubah menjadi isapan penuh nafsu. Sudah seperti bayi yang kehausan untuk menyusu pada ibunya.
“Bite me there, Darling...” Sarah meminta penuh lirih dan tentu saja semakin membangkitkan gairahnya.
__ADS_1
Kembali lagi tangannya bergerilya pada bukit kembar tersebut, meremas, memilin dan membelainya secara bergantian dengan mulutnya. Tangan Sarah yang sedari tadi sibuk meraih selimut dan bantal karena gairah akhirnya menyerah. Beralih pada milik pria yang sedang sibuk menyusu padanya, membuat pria itu menggigit puncaknya saat tangannya bergerah tidak tentu arah.
Kegiatan keduanya berhenti sesaat ketika lelaki itu mencium Sarah dengan liar, merapatkan dada bidanng keduanya. Tangannya menelusup masuk kedalam lace navy yang menutupi inti tubuh Sarah. Membuat gadis itu terkesiap ketika merasakan inti tubuhnya disentuh, hingga ia menggigit bibir bawahnya menahan gairah dan desahan.
Lelaki itu tersenyum puas menatapa wajah Sarah yang memerah karena gairah. Dengan satu kali sentakkan ia berhasil meloloskan lace navy itu, membuat tubuh Sarah sepenuhnya telanjang tanpa sehelai benangpun.
“You're so awesome, Darling.”
Kekaguman terpanjar jelas dari wajah tampannya saat menatap Sarah tanpa henti. Sedangkan yang ditatap justru memalingkan wajahnya kearah lain karena malu. Tubuhnya benar-benar telanjang dan telah siap untuk hal yang lebih dari sebelumnya. Tangan kekar lelaki itu sudah membuka lebar paha sintal Sarah, memposisikan dirinya tepat diantara kedua paha yang terbuka. Sarah sempat mendengar decakan kekaguman dari bibir seksi lelakinya. Lelakinya? Sejak kapan ia menyebutkan itu? Bolehkah? Tentu boleh, karena nyatanya lelaki tampan ini adalah miliknya. Ia terkesiap ketika wajah tampan lelaki itu menghilang diantara kedua pahanya yang terbuka, membelai lembut inti tubuhnya dengan lidah hangat dan kasar. Terkadang ia merasakan inti tubuhnya digigit kecil disela jilatan yang memabukkan itu.
“Let cum, Darling... For me...” seringai kemenangan nampak dari wajah tampannya.
Sarah sudah tidak tahan dengan perlakuan pada inti dirinya, membuatnya melengkungkan tubuh dengan dada membusung keatas. Meremas rambut lelaki yang kepalanya masih terbenam diantara keedua pahanya. Mengerang nikmat tak tertahan membuat wajah pria itu semakin menghilang diantara jepitan pahanya.
“A-aah... Darling I... I cummmmm...”
Pelepasan pertama berhasil ia raih dengan permainan lidah hangat dan panas itu. Rasanya ia nyaris pingsan merasakan puncak kenikmatan itu begitu memabukkan. Lelaki itu telah merebahkan diri tepat di sisinya, mengecup keningnya penuh sayang.
“Thank you, Darling....” ucapnya walaau tidak dibalas oleh Sarah yang masih mengatur nafas. Gadis itu hanya menoleh kerahnya dan memberikan senyum termanisnya pada lelaki yang tengah memeluknya mesra.
__ADS_1
Tak berapa lama gairah Sarah bangkit kembali ketika meenerima ciuman dan lumatan dari lelaki itu. Benar-benar ciuman dan bibir yang telah jadi candunya. Membuatnya menggesekkan paha sintalnya pada milik lelaki itu yang masih mengeras sempurna. Sampai tatapan keduanya bertemu, bicara tentang apa yang akan mereka lakukan setelahnya. Dan dengan penuh keyakinan Sarah menarik tangan lelaki itu untuk menyentuh inti tubuhnya.
“Touch me here, Darling. Please....”