The Choice Queen

The Choice Queen
TCQ 36: Perjalanan Dinas


__ADS_3

Mo Wei dan Menteri Sosial menunggu di Gerbang Xuanwu, gerbang timur istana kerajaan bersama rombongan pengantar bantuan. Peti-peti kayu berisi bahan pangan dan sandang yang diangkut dalam gerobak dan kereta dan ditarik dengan kuda sudah berjejer di belakang, seperti untaian semut yang berjalan menyusuri jalan sempit di tanah.


Mereka menyambut kedatangan Raja beserta Pemangku Pedang dengan sebuah salam penghormatan yang biasa. Nangong Zirui mempersilakan untuk kembali bangkit, sementara matanya menatap jajaran kereta pengangkut yang sudah diisi penuh dengan bahan pangan.


“Yang Mulia, semuanya sudah siap,” ucap Menteri Sosial.


“Em.”


Nangong Zirui lalu menatap Li Fengran. Dia mengeluarkan sesuatu dari jubahnya, memindahkannya ke tangan Li Fengran. Itu adalah sebuah giok berbentuk ukiran naga berwarna biru muda, bercahaya dan sangat halus.


“Pakailah. Ini tidak akan menyulitkan perjalananmu.”


“Giok ini, apakah harganya mahal?” tanya Li Fengran.


“Semahal apapun, jangan pernah berpikir untuk menjual atau menggadaikannya, mengerti?”


“Oh. Baiklah.”


“Berhati-hatilah. Pastikan bantuan ini sampai ke tangan korban bencana secara langsung.”


“Ya. Yang Mulia, selagi aku bertugas, kamu tidak boleh sembarangan menghukum orang,” ucap Li Fengran seakan tahu pemikiran Nangong Zirui yang hendak menghukum para pelayan di Istana Linghua.


“Tidak,” sergah Nangong Zirui dengan cepat. “Raja ini tidak mudah menghukum orang.”


Li Fengran pura-pura percaya. Setelah bergabung dengan Mo Wei, dia kemudian naik ke dalam kereta kuda. Menteri Sosial menaiki kereta yang satunya lagi, sementara Mo Wei duduk di atas punggung kudanya sendiri. Dengan satu komando, rombongan pengantar bantuan meninggalkan Gerbang Xuanwu menuju arah gerbang ibukota, meninggalkan istana dan berangkat menuju Jinchuan.


Tengah hari, rombongan tersebut sudah berada jauh dari ibukota. Li Fengran tidak lagi melihat puncak menara kota yang megah, dia tidak lagi melihat banyak orang berkeliaran.


Dari celah jendela keretanya, dia hanya melihat bangunan-bangunan kecil yang jarang, bentuknya seperti paviliun-paviliun tempat bersantai dan mengobrol. Selebihnya, hanya ilalang dan jalan berbatu membentang sejauh puluhan mil.


Ini adalah perjalanan dinas luar pertamanya sejak datang ke dunia ini. Rasanya seperti semua kotoran di matanya menjadi bersih seketika begitu melihat pemandangan di luar tembok kota. Dunia ini, nyatanya begitu luas dan alami. Bau rumput yang khas membuatnya tak henti-henti membayangkan betapa bersihnya udara di tempat ini.


“Apakah kita akan beristirahat?” tanya Li Fengran pada Mo Wei. Mo Wei di luar kereta terdiam sejenak, kemudian berkata, “Apakah kamu lelah?”


Raja berpesan padanya sebelum pergi, bahwa Mo Wei harus menjaga Li Fengran untuknya. Raja sangat menghargai wanita itu, semenyebalkan apapun dia, Mo Wei sepertinya tidak akan menang darinya. Selain itu, Li Fengran sama-sama bawahan Raja, mereka memiliki atasan yang sama. Mo Wei sudah kapok mencari masalah dengannya hari itu.

__ADS_1


“Tidak, hanya saja perutku sedikit mual,” Li Fengran berkata. Menaiki kereta kuda ternyata dapat membuat perutnya seperti dikocok. Kalau seperti ini terus, sebelum sampai ke Jinchuan, Li Fengran bisa-bisa sakit.


“Setengah mil ke depan adalah sebuah penginapan. Bisakah kamu menahannya sebentar?” tanya Mo Wei. Dia tipe pekerja keras dan tidak suka menunda urusan, tapi karena diamanati oleh Raja, dia terpaksa melonggarkan aturannya.


“Akan kucoba.”


Namun belum sampai seratus meter, Li Fengran kembali berteriak sampai rombongan harus berhenti. Mo Wei menahan emosinya di perutnya, mencoba bersabar dengan wanita ini. “Pemangku Pedang, kali ini apa lagi?”


Alih-alih menjawab, Li Fengran tiba-tiba keluar dari kereta dan melompat turun. Dia menghampiri salah satu pasukan pengawal yang menaiki kuda, menyuruhnya turun dan dia sendiri naik. Perjalanan di dalam kereta terlalu membosankan dan meskipun kemampuan berkudanya tidak sebaik para atlet berkuda, Li Fengran masih bisa mengendalikannya.


“Jalan ini, hanya ada satu, kan?” tanya Li Fengran.


“Jalan utama hanya ada satu. Tetapi selain jalan resmi, masih ada jalan lain namun harus memutari gunung dan lebih jauh.”


Li Fengran mengangguk. Dia lantas menatap Mo Wei. “Apa Raja memberimu sebuah perintah?”


Mo Wei sedikit terkejut. Bagaimana bisa wanita ini tahu kalau Raja sudah memberinya sebuah perintah rahasia?


“Apa dia menyuruhmu untuk melakukan pencegahan?”


“Bagaimana kamu tahu?”


“Jalan ini diapit oleh gunung dan jauh dari kawasan perkotaan. Meskipun ini adalah jalan resmi, tapi tidak menjamin tetap aman dilewati semua orang,” Li Fengran menggantung ucapannya, kemudian menolehkan kepala ke peti-peti pengangkut bahan pangan dan sandang.


“Terlebih lagi, untuk orang-orang yang membawa barang sebanyak ini.”


“Kamu memang benar. Raja memintaku untuk waspada, karena beberapa bandit seringkali muncul dan menjarah barang. Alasan dia memintamu ikut kali ini pun, karena Raja mengharapkan kamu memikirkan ide untuk mengamankan barang-barang itu tanpa harus berhadapan dengan mereka.”


Dari perintah tersebut, Li Fengran setidaknya dapat menangkap sebuah kesimpulan yang berarti bahwa Nangong Zirui ingin dirinya mengamankan barang tanpa harus bertarung. Ini aneh, pasukan pengawal bahan bantuan adalah pasukan terpilih yang tidak mudah dikalahkah meski oleh bandit gunung yang ganas. Sepertinya, Nangong Zirui memiliki pilihan lain.


“Apakah mereka membunuh orang?” tanya Li Fengran lagi.


“Tidak. Mereka hanya menjarah dan mencuri.”


“Ini aneh. Bahkan jika mereka bandit, mereka bisa membunuh jika orang yang dijarahnya melawan.”

__ADS_1


Tiba-tiba angin berdesir kencang. Dari atas gunung kecil yang mengapit jalan, muncul sekelompok orang bersenjata menyerang rombongan pembawa bantuan. Menteri Sosial, yang berada di kereta kedua seketika meringkuk di dalam kereta. Ternyata, benar-benar ada serangan bandit!


Bandit-bandit itu kebanyakan adalah pria berusia sekitar dua puluh lima hingga empat puluh tahun. Senjata yang digunakan oleh mereka beragam, termasuk pedang, belati, pisau, dan busur kecil. Ketika para bandit itu merangsek mendekat ke arah rombongan, mereka mengangkat senjatanya.


“Tinggalkan barangnya di sini!” seru bandit bermata satu.


Mo Wei sudah akan mengangkat tangannya sebagai komando untuk melawan para bandit sebelum Li Fengran tiba-tiba mencegahnya. Pasukan tetap siaga, sementara para bandit memasang muka garang. Li Fengran memindai penampilan sekilas, menggunakan sedikit ilmu psikologi yang ia pelajari untuk mengetahui seperti apa mereka secara sekilas.


“Barang-barang ini adalah bahan pangan dan sandang untuk korban bencana. Jika kalian mengambilnya, maka orang lain akan mati,” ucap Li Fengran.


Bandit bermata satu tertawa keras dan wajahnya yang menghitam karena debuh dan semak-semak sedikit mengeras. Bandit tersebut menggertakkan giginya, menatap Li Fengran dengan remeh.


“Hahahaha! Saudara, lihat! Dia bilang orang lain akan mati! Tapi jika kita tidak mengambilnya, maka kita yang akan mati!”


Suaranya menggema di tengah hutan, membaur bersama suara burung-burung dan hewan liar yang berbunyi. Li Fengran mengernyit, ia sadar bahwa bandit-bandit ini menjarah orang dengan suatu alasan. Terlebih, mereka sepertinya benar-benar tidak berniat untuk membunuh.


“Raja bodoh itu apakah sudah tidak berfungsi otaknya? Dia sekarang bahkan menyuruh seorang wanita untuk pergi mengawal! Hahahaha!” bandit bermata satu kembali bersuara.


“Lancang! Beraninya kalian menghina Raja?” Mo Wei tersulut emosi, matanya memerah dan pedang di tangannya hampir saja kehilangan kendali jika Li Fengran tidak segera mencegatnya.


“Pengawal Mo, diamlah. Ini adalah kesalahan Rajamu.”


“Ah?”


“Kalian menginginkan barang kami, tapi kami tidak bisa memberi kalian sepenuhnya. Bagaimanapun, orang-orang di luar gunung ini juga perlu makan. Aku bisa membaginya setengah dengan kalian,” ucap Li Fengran tanpa ragu.


“Setengah? Hahahaha! Apa kamu, gadis kecil, mencoba berunding denganku?”


“Ya atau tidak? Jika kamu setuju, aku akan ikut denganmu sebagai pengganti yang setengahnya lagi.”


Ucapan Li Fengran yang tiba-tiba dan di luar dugaan sangat mengejutkan semua orang. Tidak hanya ingin menyerahkan setengah bahan pangan, Pemangku Pedang juga ingin menyerahkan dirinya sebagai pengganti? Bagaimana bisa! Jika Raja sampai tahu, kepala mereka akan menjadi gantinya!


“Tuan, kamu tidak bisa melakukannya. Raja sudah memintaku melindungimu, dan kamu tidak boleh pergi ke manapun!” sergah Mo Wei.


Lagi-lagi Li Fengran mengangkat tangannya, menyuruh Mo Wei diam.

__ADS_1


“Ikuti saja perkataanku.”


__ADS_2