
“Xiao Feng, aku tidak akan menahanmu mencari pembalasan. Tapi, kamu tidak boleh melanggar batas-batas yang sudah kutentukan,” ucap Nangong Zirui pada Li Fengran.
“Sebagai Pemangku Pedang, kamu boleh mencari pembelaan atas dirimu sendiri. Kamu tidak boleh dan tidak bisa ditindas orang lain. Tapi sebagai wanita dan rakyatku, kamu harus tahu batasanmu dalam pembelaan itu. Bagaimanapun, dia adalah Ratu yang dipilih secara resmi.”
Tanpa dikatakan pun, Li Fengran tentu sangat mengerti. Nangong Zirui adalah Raja, dia terjepit pada banyak situasi yang membuatnya harus memiliki banyak pilihan. Bahkan jika itu untuk orang yang dicintai, dia bisa melindunginya, namun tidak selamanya dapat bertahan tanpa memperhatikan keadaan.
Seorang Raja terlibat dalam banyak hubungan, dan untuk masalah hatinya sendiri, dia hanya bisa mengatakannya tanpa terus terang.
Nangong Zirui ketakutan, dia takut suatu hari dia tidak bisa melindungi Li Fengran. Dia takut keberadaannya akan membuat Li Fengran terjerumus ke dalam bahaya, tapi dia juga tidak mampu mengusir jauh Li Fengran dari sisinya. Setiap kali berpisah dan setiap malam, dia selalu berpikir bagaimana caranya melindungi Li Fengran tanpa menyakiti orang lain.
“Aku tahu. Aku bisa mengalah jika itu membuatmu kesulitan, Yang Mulia,” ucap Li Fengran.
Dia tahu Nangong Zirui ingin dirinya berdiri di atas kakinya sendiri, berdiri tegak tanpa rasa takut meski dia berdiri di sisi Raja. Namun, Li Fengran melihat bahwa Nangong Zirui itu terjebak dalam banyak dilema.
Negara, juga perasaannya sendiri. Dia tidak ingin melepas keduanya, dan menyeimbangkannya adalah hal yang cukup sulit.
Li Fengran bisa mengalah karena dia juga tidak ingin Nangong Zirui kesulitan dan kebingungan ketika dia dipaksa memilih. Soal provokasi Shen Lihua yang membuat Su Min hampir membunuhnya, Li Fengran memang sangat marah. Tapi, dia memikirkannya dari sudut pandang Nangong Zirui.
Meski Raja tidak suka pada Ratu, tapi dia juga tidak bisa membiarkannya ditindas oleh seorang bawahan. Biarpun Nangong Zirui tidak memikirkannya, bagaimana dengan Ibu Suri dan para menteri?
Nangong Zirui menggeleng. “Aku sudah berkata kamu boleh mencari pembelaan atas dirimu sendiri. Pemangku Pedangku adalah manusia kuat dan tidak mudah ditindas. Hanya saja, ada beberapa batasan yang aku terapkan padamu.”
“Yang Mulia, apakah keberadaanku menyulitkanmu?”
“Tidak. Sama sekali tidak.”
“Tapi, aku merasa begitu. Kita mungkin bisa menerapkan beberapa batasan untuk diri kita sendiri.”
“Kamu ingin menjaga jarak denganku?”
Li Fengran terdiam. Dia tidak ingin menyulitkan Nangong Zirui, tapi dia juga tidak rela jika harus menjauh darinya. Ling Sui benar, mereka tidak bisa memilih ketika berkaitan dengan masalah hati.
Awalnya Li Fengran sudah bertekad untuk melarikan diri, tapi dia justru malah terjebak dalam pesona dan kebaikan Nangong Zirui sehingga sekarang, dia kesulitan mengendalikan diri.
Jika bisa, dia ingin melarikan diri lagi. Tapi, ke mana ia bisa pergi? Satu-satunya tempat yang membuatnya merasa aman adalah di sisi Nangong Zirui. Yang terpenting, bisakah dia melakukannya?
“Tidak peduli apapun yang terjadi, jangan pernah berpikir untuk menjauh dariku, Xiao Feng,” Nangong Zirui menjelaskan keinginannya dengan tegas. Tidak, dia tidak akan membiarkan Li Fengran pergi dari sisinya.
“Lalu bagaimana jika Ratu Shen melakukan yang lebih dari sekadar memprovokasi? Saat itu, Yang Mulia akan sulit menemukan keputusan karena kamu terjepit pada dua situasi,” ucap Li Fengran. Dia kembali memikirkan kemungkinan tindakan Shen Lihua yang mungkin saja akan lebih parah dari sekadar memprovokasi orang untuk mencelakainya.
Nangong Zirui menggelengkan kepalanya. “Dia tidak akan bisa melakukan itu.”
“Mengapa Yang Mulia begitu yakin?”
Haruskah Nangong Zirui memberitahu bahwa selain dia, ada orang lain yang diam-diam memikirkan Li Fengran dan membantunya membalas dendam?
__ADS_1
Awalnya Nangong Zirui juga tidak yakin, tapi setelah dia mengetahui petunjuk kata ‘jing’ yang ditinggalkan Su Min, pikirannya mengarah pada seseorang, dan orang itulah yang bisa mengendalikan Shen Lihua.
Orang itu adalah salah satu alasan mengapa Shen Lihua tidak bertindak langsung pada Li Fengran dan hanya bisa meminjam tangan orang lain untuk menyakitinya. Jika dia memberitahunya, dia khawatir Li Fengran akan ketakutan. Belum saatnya bagi wanita itu mengetahuinya, dan Nangong Zirui juga perlu bukti yang kuat untuk meyakinkan dugaannya.
“Kamu akan tahu alasannya nanti.”
“Cih, bersikap sok misterius. Karena Yang Mulia tidak mengatakannya, maka aku hanya bisa menebak kalau seseorang mengendalikan Ratu dan dia tidak akan bisa bertindak langsung padaku menggunakan tangannya sendiri.”
“Cukup pintar. Kalau begitu, siapa yang kamu pikirkan?”
“Aku tidak akan memberitahu Yang Mulia.”
“Jadi, sekarang kamu sudah berani bermain rahasia denganku?”
“Yang Mulia yang memulai duluan.”
Nangong Zirui menyunggingkan senyumnya sembari menyentil dahi Li Fengran. Dia kemudian tertawa. Dia kesulitan menahan diri dan menjaga sikap jika berhadapan dengan Li Fengran.
Seolah-olah, dia bisa menjadi dirinya sendiri dan menjadi yang ia inginkan, mengekspresikan segalanya dengan bebas, tidak seperti saat dia bersikap di depan para menteri, ibu, dan Ratu serta selirnya.
“Gunakan pedang korset itu dengan baik dan jika kamu sudah selesai dengan tamu bulananmu, mulailah bekerja lagi,” ucapnya.
“Aku tahu kedatanganmu pasti mengabarkan kabar buruk juga. Ah, hari-hari santaiku sudah hampir berakhir rupanya.”
“Kamu bilang pada Wang Bi kalau dia makan gaji buta, lalu apa bedanya denganmu?”
Li Fengran mengerucutkan bibirnya, dia menatap Nangong Zirui sebentar dan berkata, “Baiklah, aku mengerti, Yang Muliaku. Aku akan bekerja sepenuh hati.”
“Tidak sepenuh hati juga tidak apa-apa. Yang terpenting kamu senang dan tidak tertekan.”
Li Fengran beralih menatap Wang Bi. Dia bertanya, “Kasim Wang, siapa yang mengajari Yang Mulia bicara begitu manis pada seseorang?”
“Pemangku Pedang, Yang Mulia sangat pintar. Dia tidak perlu diajari.”
“Karena Yang Mulia begitu pintar dan baik hati, maka Yang Mulia seharusnya tahu kalau aku tidak mau hari liburku diganggu, bukan?”
Lihatlah, dia mengusir Nangong Zirui lagi! Nangong Zirui menggelengkan kepalanya dan berbalik untuk pergi. Tapi sebelum itu, dia berkata terlebih dahulu, “Ah, karena kamu bersikap tidak sopan dengan memeluk pengawalku, tunjangan akhir bulanmu tidak akan diberikan. Wang Bi, minta Kementerian Administrasi mencatatnya.”
“Baik, Yang Mulia.”
Di kursinya, Li Fengran mendecih.
“Emosinya bahkan lebih buruk dari wanita yang sedang datang bulan.”
*
__ADS_1
Istana Linghua tampak sepi, namun aura yang suram dan mencekam dapat dirasakan oleh para pelayan yang kebetulan melintasi tempat itu. Sesekali mereka menoleh untuk melihat bahwa bangunan istana itu hanya diterangi oleh cahaya lilin yang sedikit.
“Bukankah sudah kukatakan, jangan menyentuh Pemangku Pedang? Shen Lihua, tampaknya kamu benar-benar sudah lupa.”
Shen Jinglang membuka tudung kepalanya, kemudian dia berbalik untuk melihat Shen Lihua yang sedang duduk dengan ekspresi terkejut. Cangkir teh panas di tangannya seketika tumpah. Dia sangat terkejut karena Shen Jinglang ternyata datang secepat ini!
“Kakak, apa maksudmu?” Shen Lihua bertanya gugup, pura-pura tidak tahu maksud Shen Jinglang.
Shen Jinglang menyeringai. Dia melompat dan meraih leher Shen Lihua, setengah mencekiknya. Shen Lihua tidak sempat menghindar, dia batuk dan berusaha melepaskan diri meski upayanya sia-sia.
Shen Jinglang menatapnya seperti seekor mangsa, tapi juga disertai perasaan jijik dan benci.
“Jangan berpikir aku tidak tahu bahwa kamulah yang sudah memprovokasi Su Min sampai dia bertindak dan hampir membunuh Pemangku Pedang!”
“Itu kamu! Kakak, kamu yang membunuh Su Min, kan? Kamu juga yang sudah memberi Su Ren ide membunuh Ratu Ling, kan? Semuanya kamu! Selalu kamu!”
“Otakmu ini pintar, tapi sayang sekali tidak digunakan dengan baik.”
Shen Jinglang melepaskan cengkramannya, memberikan ruang untuk Shen Lihua agar bernapas dengan bebas. Tidak, dia tidak akan membunuhnya karena Shen Lihua masih berguna untuknya. Perihal hal yang dilakukannya dan membuatnya tidak suka, dia bisa menghitungnya pelan-pelan.
“Aku awalnya berpikir itu hanya ilusiku. Tapi melihatmu melakukan itu, aku benar-benar yakin kalau kamu menyukainya, Kak.”
“Benarkah? Otakmu sepertinya tidak sebodoh yang kukira, Adik.”
Shen Lihua mengepalkan tangannya. Dia menahan kemarahan dan kebencian. Di hadapan Shen Jinglang, Shen Lihua seringkali tidak berdaya.
Orang yang menjadi kakak seayahnya itu memiliki kelemahannya dan dia adalah bidak catur terbaiknya. Setiap gerak-geriknya selalu tidak lepas dari pandangannya.
Shen Lihua harus menahan tekanan yang begitu besar. Shen Jinglang menyukai Li Fengran, dan dia datang karena marah. Shen Jinglang sudah tahu kalau Shen Lihua menggunakan Su Min untuk menyakiti Li Fengran. Ini membuat Shen Lihua semakin membenci wanita itu. Mengapa pria begitu menyukai Li Fengran?
Dia akan kesulitan bertindak karen kakaknya akan sekuat tenaga membantunya mencari pembalasan. Dia yakin jika bukan karena dia masih berguna, kakaknya itu pasti akan membunuhnya dengan cara yang sama seperti yang dia lakukan pada Su Min.
Shen Lihua menyembunyikan rasa takutnya. Dia bertanya dengan keberanian yang susah payah dikumpulkan, “Apakah itu sepadan? Kakak, apakah sepadan membantunya membalas dendam?”
“Sepadan atau tidak, bukan urusanmu.”
Shen Lihua tertawa.
“Kamu dan aku tidak berbeda. Kamu menyukainya, membantunya membalas dendam tanpa dia tahu. Tapi apakah kamu tahu bahwa hatinya telah menjadi milik orang lain? Kakak, aku dan kamu sama-sama menyedihkan.”
Shen Jinglang kali ini menahan dirinya. Meski dia terpancing emosi oleh kata-kata Shen Lihua, tapi dia tahu melampiaskannya di sini hanya akan menjadi bencana untuknya. Ya, dia menyukai Li Fengran, tapi wanita itu sama sekali tidak mengetahuinya.
Menyedihkan? Memang menyedihkan, tapi dia rela melakukannya. Li Fengran dan kekuasaan Donghao, dia menginginkan keduanya.
Jika dia harus bersaing, maka dia dengan senang hati melakukannya. Bahkan jika dia harus merebutnya secara paksa, dia juga akan melakukannya.
__ADS_1
“Festival puncak musim semi akan segera tiba. Lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan. Jika kamu mengusiknya lagi, bukan kamu yang akan menanggung akibatnya, tapi keluargamu.”
Setelah itu, Shen Jinglang pergi tanpa jejak. Shen Lihua mengeratkan tangannya lagi. Shen Jinglang benar-benar kejam! Pria itu akan membuatnya tunduk dengan cara apapun!