
Dua hari kemudian, pemilihan selir diadakan. Dua puluh gadis dari keluarga pejabat yang namanya tertera di dalam daftar berbaris rapi di pelataran istana, kemudian berjalan teratur memasuki aula. Langkah mereka anggun dan lembut, membuat orang-orang yang melihatnya terpana.
Para gadis itu kemudian dipersilakan duduk di tempat yang sudah diatur. Mata mereka bersinar seperti bintang.
Semuanya terpaku pada sesosok pria agung yang duduk di singgasana, meski ekspresinya tampak biasa dan tidak tertarik. Seolah-olah, para wanita ini hanyalah sebuah pemandangan biasa.
Li Fengran menekuk wajahnya sembari berdiri di samping singgasana Nangong Zirui. Sial, para wanita ini sangat cantik dan segar.
Ibu Suri punya mata yang bagus dan memilihkan bunga-bunga segar yang baru mekar. Dari wajah sampai kakinya, para wanita ini bisa dibilang nyaris sempurna.
Mereka tidak hanya cantik, tapi sangat lembut dan menawan. Ini jauh berbeda dengan deskripsi selir yang sering ada di dalam drama yang centil dan manja.
Para wanita ini punya pesona yang unik. Meskipun mungkin hati mereka tidak serupa dengan wajah mereka.
Yah, siapa yang tahu. Bunga yang indah kerap memiliki racun dan duri.
Shen Lihua memamerkan senyum indahnya di depan semua orang setelah Ibu Suri memberikan instruksi perjamuan kepadanya. Ekspresinya tenang sekali, tidak seperti saat wanita itu bicara padanya. Ada wibawa dan aura seorang Ratu menguar saat dia berdiri di depan semua orang dengan pakaian resminya.
Dalam hatinya, Li Fengran tersenyum mengejek. Shen Lihua ini sangat murah hati dan toleran pada wanita lain yang mungkin menjadi pesaingnya di harem. Tapi, Shen Lihua justru jadi sangat pencemburu terhadap Li Fengran. Li Fengran jadi berpikir kalau Shen Lihua itu sangat bodoh dan tidak mengerti mana yang lebih penting untuknya.
Apa gunanya mencemburui seseorang yang bahkan tidak bisa disebut sebagai ancaman?
Jelas-jelas Shen Lihua tahu kalau Li Fengran hanya Pemangku Pedang dan meski Raja menyukainya, akan sulit bagi mereka untuk bersama. Tindakan Shen Lihua yang selalu menyulitkan Li Fengran itu sungguh tidak masuk akal.
“Cih, dia sangat toleran pada wanita lain, tapi tidak melepaskanku. Itu jelas sangat tidak sepadan,” gumam Li Fengran.
“Xiao Feng, apa yang kamu gumamkan?”
“Tidak ada. Yang Mulia sebaiknya fokus dan lihat baik-baik wanita mana yang menarik untuk dijadikan istri.”
“Aku lebih tertarik padamu. Xiao Feng, bagaimana kalau kamu bergabung bersama mereka dan ikut pemilihan?”
“Mimpi saja!”
Nangong Zirui tertawa kecil. Dia senang menggoda Li Fengran, namun ucapannya bukan sebuah candaan. Akan lebih baik jika dua puluh wanita itu tidak ada.
Mereka meskipun cantik dan sangat anggun mempesona, mereka tidak bisa mengalahkan satu sosok Li Fengran. Mereka tidak sepadan dengan wanita yang saat ini berdiri di sampingnya itu.
Perjamuan pun dimulai. Di sini, Shen Lihua memberikan instruksi terkait teknis pemilihan selir yang menurut Li Fengran sangat sederhana, jauh berbeda dengan pemilihan ratu yang diadakan dulu.
__ADS_1
Mungkin karena ini hanyalah pemilihan selir biasa, sehingga prosesnya tidak terlalu panjang. Para gadis tersebut hanya akan menjalani pemeriksaan fisik dan tes bakat serta sastra.
Membosankan, pikir Li Fengran. Bunga-bunga segar dan indah itu sebentar lagi akan berubah menjadi burung dalam sangkar emas, menetap selama sisa hidup mereka di istana yang akan memberikan sensasi kesepian sepanjang masa.
Apa itu kejayaan, apa itu kemuliaan, semuanya hanya sebuah klip untuk menutupi kemalangan yang sesungguhnya.
Mungkin karena pemikiran Li Fengran terlalu jauh berbeda dengan pemikiran wanita di masa ini. Dia heran mengapa orang-orang memberikan standarisasi dari kecantikan dan bakat untuk memilih istri. Mereka tidak menilai dari hati dan karakter.
“Xiao Feng, apakah kamu bosan?” tanya Nangong Zirui sesekali melirik Li Fengran. Li Fengran tentu saja mengangguk. “Aku seperti patung tanpa fungsi.”
“Kalau begitu, kamu boleh keluar.”
Nangong Zirui berpikir wanita itu akan bicara lagi, tapi kemudian Li Fengran benar-benar pergi tanpa sepatah kata pun.
Setelah dia pergi, Nangong Zirui memikirkannya lagi dan lagi. Wanita itu kemarin pulang sangat malam dan selalu menyibukkan dirinya, menghindarinya dan bicara sedikit dengannya.
Setiap hari, wajahnya selalu ditekuk dan suasana hatinya tidak menentu. Li Fengran lebih sering menghabiskan waktu di Mahkamah Agung dan bersenang-senang dengan menginterogasi para penculiknya sendiri, ketimbang membantu Nangong Zirui di sisinya. Wanita itu sepertinya masih marah padanya.
“Yang Mulia?”
“Ah?”
“Pemilihannya sudah dimulai. Apakah Yang Mulia ingin tetap tinggal untuk menyaksikan?”
“Hentikan saja.”
Sontak saja Shen Lihua terkejut. Ibu Suri bahkan sampai berdiri. Suara dan perkataan Nangong Zirui mengejutkan semua orang, seperti sebuah guntur yang menyambar di siang hari yang cerah. Bahkan para gadis peserta pemilihan selir langsung menunduk dan hampir kehilangan harapan.
“Putraku, apa maksudmu?” tanya Ibu Suri. Dia tidak percaya putranya akan mengatakan itu dengan mudah.
“Ibunda, aku tidak akan memilih selir lagi.”
“Bagaimana bisa? Putraku, kamu jangan bercanda.”
“Ibunda, aku tidak pernah bermain-main dengan perkataanku. Pemilihan selir ini, sebaiknya dibatalkan saja.”
Tidak ingin mendengarkan protes Ibu Suri dan beragam pertanyaan, Nangong Zirui kemudian meninggalkan aula tanpa menoleh lagi. Dia tidak peduli seberapa besar rasa malu yang diterima ibunya akibat ulahnya ini.
Pemilihan selir ini hanya sebuah alasan untuk membentuk aliansi dan kekuasaan. Tapi, Nangong Zirui bukan Raja yang akan mengandalkan wanita untuk mempertahankan takhta. Dia punya cara dan rencana sendiri untuk memperkuat pertahannya.
__ADS_1
Di aula, Ibu Suri merasakan sesak napas dan akhirnya pingsan. Dia diboyong kembali ke istananya oleh para pelayan dan mereka segera memanggil tabib. Shen Lihua tetap di aula, dia bertanggungjawab membereskan masalah dan menenangkan situasi yang mulai kacau akibat perbuatan Raja.
“Ratu, apakah Raja mencoba mempermalukan kami?” tanya salah seorang gadis. “Kami gadis baik-baik dari keluarga pejabat dan termasuk bangsawan. Orang tua kami mengirim kami kemari hari ini untuk pemilihan selir, bukan untuk ditolak mentah-mentah. Yang Mulia Ratu, bukankah kamu seharusnya memberi kami penjelasan?”
Wajah Shen Lihua menegang. Dia mengumpat dalam hatinya karena bisa-bisanya semua orang meninggalkannya di sini.
Ibu Suri sebagai penyelenggara perjamuan dan pemilihan malah pingsan sementara Raja dengan tidak tahu malunya pergi, menyisakan masalah yang harus diatasinya sendiri.
Dia menatap wajah para gadis kandidat satu persatu dan berusaha tenang. Pada saat seperti ini, dia tidak boleh lari atau kehilangan ketenangan. Jika tidak, citranya sebagai Ratu Donghao yang anggun dan berbakat akan ternoda. Shen Lihua menarik napas pelan.
“Nona-Nona, aku tahu kalian adalah putri-putri dari keluarga terhormat. Kami sama sekali tidak bermaksud mempermalukan kalian.”
“Lalu apa maksud perkataan Raja barusan? Mengapa dia berkata tidak akan memilih selir dan menyuruh membatalkan pemilihannya? Bukankah itu sudah menjelaskan kehendak Raja bahwa dia tidak akan memilih?”
“Benar. Yang Mulia Ratu, bagaimana kami bisa menghadapi orang tua dan keluarga kami ketika kembali karena Raja membatalkan pemilihan tanpa alasan yang jelas?”
Reputasi para gadis ini dipertaruhkan. Keanggunan dan kelembutan mereka seketika hilang dan berubah menjadi kepanikan yang berbaur dengan rasa kehilangan harapan.
Mereka ingin menikmati kemuliaan dan kejayaan, mereka rela menukarkan kebebasan separuh hidup. Tapi, mengapa Raja tiba-tiba berkata demikian?
Shen Lihua agak kewalahan menghadapi para gadis yang meminta penjelasan padanya. Sebagai Ratu, dia juga punya kewajiban memberikan penjelasan itu.
Jika dia tidak bisa mengatasi ini, dia akan ragu akan kemampuan menduduki posisinya sendiri. Tidak bisa, dia harus bisa karena dia mempertaruhkan segalanya.
“Yang Mulia Ratu, jika Yang Mulia Ratu tidak memberikan penjelasan, maka kami dan orang tua kami akan kehilangan kepercayaan.”
Ucapan bernada ancaman itu membuat hati Shen Lihua memanas. Dia benci diancam. Di dunia ini, hanya Shen Jinglang yang bisa mengancamnya. Mereka mencoba memrovokasi Shen Lihua, membuatnya hampir kehilangan kesabaran. Dia pikir para gadis ini sangat kurang ajar.
“Kalian mengancamku?” tanya Shen Lihua sambil menatap dingin gadis-gadis. Seketika, para gadis itu langsung menunduk takut.
“Ini adalah istana dan kalian berani ribut? Kalian berkata kalian berasal dari keluarga terhormat, tapi apakah kalian menunjukkan perilaku hormat kalian kepadaku?”
Semua gadis masih terdiam. Mereka takut melihat kemarahan Ratu Shen.
“Batal atau tidak, semuanya masih harus didiskusikan. Istana akan memberikan penjelasan kepada keluarga kalian!”
Kemudian, dia pergi begitu saja, meninggalkan para gadis yang masih menunduk takut bercampur bingung. Ratu Shen sudah marah sehingga dia mengabaikan mereka. Kelanjutan pemilihan selir tidak jelas, perjamuan kacau dan tuan-tuan istana malah pergi.
Ya ampun, apa dosa mereka di kehidupan lalu, hingga mendapatkan hal seperti ini?
__ADS_1