
“Yang Mulia, berhenti minum! Sudah saatnya kita kembali ke istana!”
Li Fengran merebut segelas cangkir berisi anggur yang ada di tangan Nangong Zirui. Saat ini, mereka berada di restoran dan telah memesan tempat khusus, datang untuk menikmati makanan sembari melihat pemandangan danau yang ada di belakang restoran. Tapi, langit yang semula terang sekarang sudah menjadi gelap dan bintang muncul seperti serbuk sinar yang menebar di angkasa.
Sudah malam, mereka sudah sangat lama berada di luar istana. Jika tidak kembali, Ibu Suri pasti akan menyuruh pasukan pengawal mencarinya ke seluruh ibukota.
Tidak baik mengejutkan penduduk dengan pasukan pengawal. Akan lebih baik jika mereka kembali sendiri. Lagipula, Li Fengran tidak mau diomeli oleh Ibu Suri yang galak itu karena tidak memperingatkan Raja.
“Tidak mau. Aku masih ingin minum!”
Nangong Zirui merebut lagi cangkir anggurnya dan meminumnya. Dua botol anggur yang dipesan sudah habis, tapi pria itu tidak menunjukkan tanda akan berhenti.
Dia setengah sadar, tapi tidak benar-benar mabuk. Anggur seperti ini efeknya tidak sekuat anggur istana. Dia saja bahkan tidak mabuk saat minum sebotol anggur. Yang ini hanya sebuah siasat.
“Xiao Feng, apakah kamu masih ingin melarikan diri?” tanya Nangong Zirui tiba-tiba. Li Fengran seketika mengernyitkan dahinya.
“Mengapa Yang Mulia menanyakan itu?”
“Dulu kamu selalu berpikir untuk lari dariku. Tapi, Xiao Feng, kamu tidak bisa. Kamu tidak bisa lari. Aku tidak akan melepaskanmu.”
“Mengapa?”
“Tidak ada alasan. Xiao Feng, kamu harus ingat bahwa kamu adalah milikku!”
“Aku milik diriku sendiri.”
Nangong Zirui menggelengkan kepalanya. Dia pura-pura mabuk dan sedikit meracau. Wajahnya memerah. “Salah. Kamu adalah milikku.”
Li Fengran menghela napas. Hal yang paling sulit dihadapi adalah mengurus orang mabuk sepertinya. Terlebih, dia adalah raja.
“Xiao Feng, apakah rasanya manis?”
“Apa?”
Nangong Zirui menunjuk bibirnya sendiri dengan jari. Dia sedikit tertawa ketika dia ingat bahwa malam itu dia mencium Li Fengran karena pengaruh obat dupa. Kesejukan yang dialirkan tubuh Li Fengran, selalu membekas dan bersemayam di dalam hati dan pikirannya.
“Apa Yang Mulia pikir bibirmu adalah gula?” Li Fengran mencibir. Sungguh, Nangong Zirui semakin hari semakin suka mengacau dan semakin gemar menggodanya.
“Bagaimana jika kamu mencobanya lagi?” ucap Nangong Zirui.
__ADS_1
“Yang Mulia, kamu mabuk,” Li Fengran merebut cangkir dan kendi arak, kemudian memanggil pelayan dan menyuruhnya menyimpannya kembali.
Nangong Zirui menggelengkan kepalanya lagi. Kedua tangannya tiba-tiba menangkup pipi Li Fengran. Dengan tatapan sedikit sayu, dia menatap wajah itu lekat-lekat.
“Anggur tidak memabukkan. Manusia yang mabuk sendiri, Xiao Feng.”
“Wang Bi! Cepat bantu aku memapah Yang Mulia!”
Li Fengran tidak mau lagi berada di tempat itu. Nangong Zirui bisa saja mengatakan lebih banyak hal yang membuat jantungnya tidak aman. Bagaimanapun, Li Fengran adalah wanita dewasa. Dia bisa merasakan hatinya tergerak, terutama ketika Nangong Zirui berada di dekatnya dan terus menggodanya.
Wang Bi muncul dari balik pintu. Ia pikir memang sudah saatnya kembali ke istana. Restoran ini semakin malam maka semakin ramai dan itu tidak akan aman.
Wajah Nangong Zirui meskipun tidak banyak yang tahu, tapi dia sangat tampan dan bisa menarik banyak perhatian. Pemangku Pedang juga sama. Jika wanita cantik dan pria tampan muncul di restoran secara bersamaan, kemungkinan mereka akan sulit keluar.
“Yang Mulia, mari kembali ke istana,” ucap Wang Bi sembari memapah Nangong Zirui. Tapi, Nangong Zirui malah menjauhkannya dan mendorongnya.
“Tidak mau. Biarkan Xiao Feng yang membantuku!”
“Yang Mulia, tubuh Pemangku Pedang kecil. Dia tidak akan mampu memapah Yang Mulia.”
“Aku akan membesarkannya. Cepat, Xiao Feng, bantu aku!”
Li Fengran mengembuskan napasnya sebelum dia memapah Nangong Zirui. Nangong Zirui diam-diam tersenyum saat kepalanya tertunduk.
“Apakah festival puncak musim semi selalu semeriah ini?” tanya Li Fengran pada Wang Bi.
“Benar. Itu bahkan lebih meriah ketika keluarga kerajaan muncul di ibukota dan meresmikan perayaan.”
“Apakah tahun ini juga begitu?”
“Itu tergantung pada keputusan Yang Mulia. Jika Yang Mulia ingin, maka akan terjadi. Jika tidak, mungkin penduduk hanya akan merayakannya sendiri.”
Li Fengran menatap Nangong Zirui yang dipapah sebentar. Kepala pria itu kadangkala tertunduk dan kadang menengadah. Wajah dan pipinya memerah. Sebentar-sebentar matanya terbuka, lalu memejam lagi.
“Yang Mulia, apakah Yang Mulia akan ikut merayakan festival puncak musim semi tahun ini?” tanyanya.
“Lihat suasana hati saja,” jawab Nangong Zirui.
Sekarang, kepalanya jadi pusing. Nangong Zirui jadi kesulitan apakah dia pura-pura mabuk atau sudah mabuk. Efek anggur restoran, ternyata bisa lebih kuat dari anggur istana.
__ADS_1
Li Fengran pikir, Nangong Zirui akan langsung menjawab bahwa dia akan bersedia. Tampaknya, masih perlu waktu dan upaya agar pria ini mau merayakan festival di ibukota. Ini adalah tahun pertama baginya tinggal di tempat ini, dia tentu saja ingin menikmati kehidupan yang berbeda ini dengan senang hati.
Jika bisa, dia ingin melihat semua keindahan dan keramaian yang disuguhkan tempat ini setiap tahunnya. Lagipula dia mungkin sudah mati di dunia nyata dan sulit baginya untuk kembali. Lebih baik menikmati hidup dalam kesempatan yang ada daripada terus mengeluh.
“Kalau begitu, kamu harus menjaga suasana hatimu, Yang Mulia.”
“Tergantung pada kinerjamu.”
Li Fengran tiba-tiba menyuruh Wang Bi memapah pria itu. Pundaknya sudah pegal.
Tubuh Nangong Zirui yang kekar benar-benar sulit ditahan dengan tubuh wanita sekecil dirinya. Li Fengran tidak mau ikut ambruk saat tubuhnya sudah tidak sanggup menahan Nangong Zirui.
Dia berjalan lebih dulu dengan santai sambil melihat-lihat kios-kios yang menjajakan berbagai hidangan, mainan, lentera, dan banyak lagi.
Ada ratusan pasangan muda berjalan bersama dan berkencan. Ada yang malu-malu, ada pula yang terang-terangan. Di sebelah barat kota, keramaian memadat menjadi kerumunan karena pertunjukan akrobat.
Ah, benar-benar ramai.
Li Fengran terus berjalan mendahului Nangong Zirui dan Wang Bi.
Nangong Zirui melepaskan pegangan Wang Bi dan dia berjalan sendiri. Kali ini, kesadarannya perlahan pulih lagi. Dia bisa melihat dengan jelas sosok Li Fengran yang berjalan di depannya. Siluet wanita itu tampak menawan dari belakang.
“Berhenti!” serunya pada Li Fengran. Li Fengran yang terkejut seketika menoleh dan mengernyitkan dahinya.
“Ada apa, Yang Mulia?” tanya Li Fengran penasaran.
“Xiao Feng, jangan berjalan di depanku!”
“Kenapa?”
“Kamu terlalu menawan! Aku takut jatuh cinta padamu!”
Mata Li Fengran seketika membelalak dan bibirnya mau tak mau melontarkan sebuah umpatan kecil. Bisakah pria itu sadar? Bisa-bisanya dia berteriak dengan begitu keras! Apakah dia pikir orang-orang di sini tuli? Li Fengran bahkan bisa merasakan kalau tubuhnya sekarang seperti ditatap ratusan pasang mata.
Wang Bi juga terkejut dan memandang rajanya dengan dahi mengerut. Apakah rajanya ini betul-betul sudah mabuk? Dia melihat sekeliling dan mendapati mata orang-orang tertuju pada mereka. Gawat, perkataan rajanya barusan sudah menarik perhatian orang-orang!
Li Fengran bersikap tidak peduli. Dia membalik tubuhnya dan hendak berjalan lagi, tapi Nangong Zirui lagi-lagi berteriak. “Aku bilang jangan berjalan di depanku!”
Lalu, pria itu berjalan cepat mendahului Li Fengran. Li Fengran menatapnya dengan heran dan kesal. Apa-apaan itu?
__ADS_1
Mengapa dia tidak boleh berjalan di depannya sementara pria itu sendiri tidak mau bergerak sejak tadi? Sekarang, dia justru disalahkan. Apakah otak Nangong Zirui sudah rusak karena minum banyak anggur dan jadi bodoh?
“Hah, dasar orang mabuk yang gila!”