The Choice Queen

The Choice Queen
TCQ 46: Maaf, Tidak Sengaja


__ADS_3

Seluruh tubuh Li Fengran terasa pegal. Misi mencangkul yang diberikan oleh Nangong Zirui untuk menghukumnya membuatnya merasa dongkol. Bisa-bisanya dia jatuh dalam perangkap dan membiarkan Nangong Zirui mengerjainya untuk menghukumnya!


Sudah ia duga, hukuman darinya tidak mungkin hanya potong gaji. Saat ini, Li Fengran ingin membersihkan dirinya. Para pelayan Kediaman Su sudah mengantarkan air hangat dan menuangnya ke dalam bak mandi. Li Fengran menyuruh mereka keluar dan membiarkannya mandi.


Tubuhnya sudah masuk ke dalam bak mandi. Air hangat itu seketika membuat ototnya terasa hangat dan tubuhnya rileks.


Setelah kelelahan mencangkul seharian, memanjakan diri dengan berendam di air hangat memang pilihan terbaik. Li Fengran asyik berendam hingga dia mengabaikan hal-hal di sekitarnya.


Saat itu, Nangong Zirui masuk untuk membicarakan rencana kepulangan mereka ke ibukota. Karena Li Fengran tidak ada dan dipanggil pun tidak menjawab, Nangong Zirui mencarinya di seluruh ruangan. Karena langkahnya sangat ringan, tidak ada suara yang ditimbulkan.


Nangong Zirui sampai di ruangan samping yang dihalangi tirai kertas memanjang. Dia ragu, tapi kemudian membulatkan tekad. Barangkali Li Fengran ada di sana dan ketiduran. Nangong Zirui melangkah perlahan.


“Xiao Feng, ada yang ingin aku….”


Nangong Zirui tidak mampu meneruskan perkataannya. Dia seketika membatu saat matanya bertemu pandang dengan mata Li Fengran.


Kemudian, tatapannya turun ke bagian bawah, pada kulit putih mulus yang tidak tertutup kain. Di bawah cahaya lilin, Nangong Zirui bisa melihat tulang selangka Li Fengran dan dua benda yang menyembul.


Li Fengran juga terkejut, dia kehilangan kata-kata untuk sesaat. Namun kemudian, dia menenggelamkan dirinya hingga setengah wajahnya tenggelam di dalam air. Dia ingin berteriak, namun itu hanya akan menjadi berbahaya. Para pelayan di sini pasti ribut.


“Aku-aku tidak sengaja!”


Nangong Zirui seketika membalikkan tubuhnya. Wajahnya memerah dan benjolan di tenggorokannya bergerak naik turun. Apa yang baru saja dia lihat? Tulang selangka yang lembut, kulit yang putih, leher yang jenjang dan rambut yang basah… ya ampun, apa yang dia pikirkan?


“Aku-aku akan menunggumu di luar,” suara Nangong Zirui tercekat. Tiba-tiba tenggorokannya terasa kering.


Dia bergegas keluar dengan jantung berdegup kencang. Keringatnya bercucuran. Orang yang salah paham mungkin akan berpikir kalau Raja baru saja bertemu hantu dan ketakutan. Untungnya, para pelayan tidak memperhatikan karena kepala mereka menunduk dan tidak berani menatap Raja secara langsung.


Li Fengran segera keluar dari dalam bak mandi, meraih handuk dan mengeringkan tubuhnya. Hampir saja terjadi masalah besar. Seandainya dia tidak mengontrol diri dan berteriak, para pelayan pasti akan menerobos masuk.


Saat orang-orang tahu seorang pria mengintip seorang wanita mandi, maka pria itu harus bertanggungjawab atas hidupnya. Hampir saja status Li Fengran berubah dari Pemangku Pedang menjadi selir.


Nangong Zirui menunggunya di taman. Setelah pelayan menyajikan air dan teh, Nangong Zirui tak henti-hentinya minum. Tenggorokannya terasa panas.

__ADS_1


Bayangan mengenai tubuh bagian atas Li Fengran yang terbuka dan perilakunya yang langsung menenggelamkan diri hingga setengah wajah terendam membuat Nangong Zirui kesulitan bernapas.


“Yang Mulia, mengapa wajahmu memerah? Apakah Yang Mulia kepanasan?” Mo Wei datang dan langsung bertanya padanya. Aneh, mengapa Raja terus minum dan wajahnya memerah? Apakah dia kepanasan? Tapi, udara di sini lumayan dingin.


“Memang sedikit panas,” ucap Nangong Zirui.


“Perlukah aku meminta pelayan membawakan es?”


“Tidak perlu. Bagaimana hasilnya?”


Mo Wei ditugaskan mengawasi pemeriksaan buku akun. Jadi, seharian ini dia mondar-mandir di ruang kerja pemerintah Jinchuan dan mengawasi para akuntan menghitung catatan pemasukan dan pengeluaran setiap kediaman yang dikumpulkan malam itu. Hasilnya memang cukup mengejutkan.


“Yang paling bermasalah adalah Rumah Bordil Xiaoqin. Beberapa tahun ini, jumlah pajak yang dibayarkan tidak sesuai dengan yang dilaporkan. Sedangkan buku akun para pengusaha dan orang kaya itu, hanya terdapat beberapa ketidakcocokan. Itu masih bisa diatasi dengan mencari tahu lewat para pencatat di kediamannya masing-masing,” Mo Wei menerangkan. Aneh, dia pengawal, tapi masih harus memeriksa keuangan. Tugas yang diberikan Raja ini benar-benar sering menyimpang.


“Apa Su Ren ikut terlibat?” tanya Nangong Zirui.


“Kemungkinan besar. Rumah Bordil Xiaoqin tidak akan berani mengurangi jumlah pajak yang dibayarkan dan melaporkan sesuai ketentuan jika tidak ada yang melindunginya.”


Nangong Zirui mencibir dan terkekeh. “Heh, dasar tikus pencuri!”


“Baik, Yang Mulia.”


Padahal dalam hatinya, Mo Wei meratap. Untuk yang ke sekian kalinya, dia dibuang lagi. Setelah menjemput Ibu Suri di kuil, dia disuruh pergi ke Danchuan. Setelah kembali, dia dikirim ke Jinchuan dan disuruh menangkap para tikus pengerat yang mencuri dan mencuci uang. Mo Wei merasa nasibnya benar-benar malang.


“Oh, bagaimana dengan Shen Jinglang?”


“Tuan Shen hanya berkeliaran selama sehari ini. Terkadang dia mengunjungi restoran, kemudian toko buku, toko perhiasan, toko pakaian, toko perabotan, dan banyak lagi. Bawahan tidak tahu apa yang sebetulnya ingin dilakukan oleh orang itu.”


“Terus awasi dia.”


“Ya, Yang Mulia.”


Sepuluh menit kemudian, Li Fengran keluar dari kamar dengan pakaian biasa. Rambutnya masih basah hingga dia membiarkannya tetap tergerai.

__ADS_1


Saat bertemu dengan Nangong Zirui, Li Fengran merasa sedikit kesal dan malu. Tapi, di sini ada Mo Wei sehingga dia tidak mungkin mencari perhitungan sekarang.


“Aku dengar kamu mencangkul ladang selama seharian ini?” tanya Mo Wei. Topik ini mengesalkan bagi Li Fengran, tapi dia tidak berani tidak menjawab.


“Berkat kebaikan Yang Mulia, seluruh tubuhku pegal-pegal. Kenapa? Apa kamu juga ingin membantu mencangkul?”


Mo Wei tidak bisa menahan tawa dan dia terbahak-bahak. Akhirnya, Pemangku Pedang ikut merasakan penderitaan! Membayangkan ketika tangan kecil Pemangku Pedang mengayunkan cangkul dan menariknya dari tanah membuat Mo Wei tidak bisa berhenti tertawa.


“Yang Mulia memang bijaksana dan adil,” ucap Mo Wei. “Pemangku Pedang, apa kamu baru saja mandi?”


Melihat rambut basah Li Fengran, Mo Wei tiba-tiba saja bertanya. Li Fengran mengangguk, “Untuk memperbaiki tubuhku, aku perlu berendam di air hangat.”


Mo Wei lalu menatap Nangong Zirui yang diam kemudian menatap Li Fengran dan bergantian sebanyak dua kali. Wajah Raja memerah dan mengaku kepanasan, sementara rambut Pemangku Pedang basah karena habis mandi. Apakah ini sebuah kebetulan?


Kecuali, kecuali jika sesuatu terjadi tanpa sepengetahuannya.


“Ah, jadi begitu,” ujarnya sembari melirik keduanya. Mo Wei pura-pura terkejut.


“Apanya yang begitu?” tanya Li Fengran.


“Pemangku Pedang, apakah Yang Mulia baru saja melihatmu mandi?”


Nangong Zirui membelalak dan menyemburkan teh yang sedang diminumnya, sementara Li Fengran melongo seperti orang bodoh. Mulut Mo Wei ini, perlukan disumpal dengan seteko teh panas?


Mo Wei berlari kencang saat Nangong Zirui hendak melemparkan teko tehnya. Pria itu kabur, tidak ingin menjadi sasaran Nangong Zirui. Lebih baik meninggalkan mereka lebih cepat daripada terkena amukan.


Sekarang, hanya tinggal Nangong Zirui dan Li Fengran yang saling menatap dalam diam. Situasi benar-benar canggung. Masing-masing tidak ingin membicarakan perihal kejadian mandi barusan.


"Aku akan menghukumnya nanti. Mulutnya memang perlu diberi saringan," ujar Nangong Zirui canggung. Li Fengran mengangguk kecil.


"Oh."


"Kita-kita akan kembali ke ibukota. Berkemaslah," Nangong Zirui menyambung ucapannya. Lagi-lagi Li Fengran hanya mengangguk.

__ADS_1


"Ya."


__ADS_2