The Choice Queen

The Choice Queen
TCQ 52: Tidak Beruntung


__ADS_3

Teriakan Li Fengran yang menggema membuat para pelayan panik. Mereka ingin masuk, namun ragu. Tidak lama kemudian, Fei Jia dan Wang Bi tiba dari arah gerbang.


Tadi, keduanya bertemu di persimpangan dan memutuskan pergi bersama. Ketika melihat pelayan saling pandang, Wang Bi tidak bisa menahan pertanyaan di dalam mulutnya.


“Mengapa kalian begitu panik? Apakah kalian tidak tahu sopan santun? Ini adalah istana Raja!” dia berseru dengan nada suara yang tinggi.


Seorang pelayan kemudian dengan ragu dan ketakutan menjawab, “Kasim Wang, beberapa saat yang lalu Yang Mulia meminta kami menyiapkan air dingin. Kemudian…”


“Kemudian apa?”


“Kemudian Pemangku Pedang datang ingin membicarakan sesuatu. Kami tidak berani menghalangi dan barusan kami mendengar Pemangku Pedang berteriak minta tolong.”


“Mengapa kalian tidak memberitahuku?”


Wang Bi marah, namun Fei Jia mengingatkannya bahwa hal penting yang harus dilakukan sekarang adalah mencari Raja.


Keduanya kemudian pergi ke dalam istana, menyusul ke tempat pemandian Nangong Zirui di ruangan samping. Saat tiba, keduanya membelalak dan sangat terkejut.


Li Fengran berada di dalam bak mandi dalam keadaan basah kuyup. Sementara itu, Nangong Zirui pingsan di bak mandi, namun wajahnya tampak sangat senang.


Fei Jia melihat bibirnya berdarah, lalu pikirannya melayang tak karuan. Dia secara otomatis memandangi Li Fengran dan menemukan luka yang sama di bibir.


Apakah…. Apakah dia sudah kehilangan kesempatan itu?


Dia datang untuk mencoba keberuntungan, tapi yang dia kejar sepertinya sudah menjadi milik orang lain. Naga emas yang terbang di angkasa yang ia kejar dari bawah, sepertinya sudah mendarat di tempat milik orang lain. Mengapa… mengapa harus wanita itu?


“Kasim Wang, cepat bantu Yang Mulia!” seru Li Fengran.


Dia kesal karena Wang Bi tidak segera membantunya. Wang Bi tersadar, kemudian berusaha mengangkat tubuh Nangong Zirui dari bak mandi.


“Tuan Pemangku Pedang, apa yang terjadi?” tanya Wang Bi.


Li Fengran yang pakaiannya basah kuyup kemudian menjawab, “Yang Mulia sepertinya terkena afrodisiak.”


Wang Bi terkejut dan membelalak. Dia berkata, “Siapa yang begitu berani?”


“Mana aku tahu,” ucap Li Fengran sembari mengedikkan bahu.


Nangong Zirui dibaringkan di tempat tidurnya. Untunglah, Wang Bi sudah membantunya memakai baju. Li Fengran keluar dari bak mandi, tetesan air menetes di lantai dan membuat lantainya licin. Dia hampir terpeleset, tapi berhasil menjaga keseimbangan.


Li Fengran menghampiri Nangong Zirui yang masih pingsan. Pria itu berwajah tenang, seolah sebuah beban baru saja diangkat dari pundaknya. Seandainya saja Li Fengran menurut dan pergi saat dia berteriak mengusirnya, kejadiannya mungkin tidak akan seperti ini. Tapi jika saat itu dia pergi, mungkin juga Nangong Zirui dalam bahaya.

__ADS_1


“Tuan Pemangku Pedang, sebaiknya kamu bergegas mengganti pakaianmu. Biar aku yang merawat Yang Mulia,” Fei Jia berkata.


Dia tidak ingin membiarkan wanita seperti Li Fengran merawat Raja. Dia sudah kehilangan kesempatan sekali, maka tidak untuk yang kedua kali.


Li Fengran menatap Fei Jia dengan penuh selidik. Afrodisiak ini, jika bukan ulahnya, maka ulah siapa? Di istana ini selain para selir dan Ibu Suri, siapa yang begitu berani memberikan afrodisiak dalam berbagai bentuk kepada Raja?


Selain itu, kedatangan Fei Jia juga sangat tepat seolah telah diperhitungkan. Mengingat ini, Li Fengran tentu tidak akan memberikan kesempatan kepadanya.


“Tidak apa-apa. Aku saja yang merawatnya,” tolaknya dengan halus.


“Bagaimana bisa? Itu tidak pantas. Aku adalah selir Yang Mulia, sementara kamu hanya Pemangku Pedang. Bicara soal siapa yang pantas, maka aku lebih pantas. Tidak mungkin Pemangku Pedang melarang seorang istri merawat suaminya, kan?”


“Ucapanmu benar tapi juga salah. Siapa yang tahu pelaku yang menaruh obat itu ada di antara kamu dan yang lain. Aku sebagai Pemangku Pedang tentu tidak bisa membiarkan orang licik mengambil keuntungan dalam kesempitan.”


Fei Jia marah dan menunjuk Li Fengran dengan jarinya.


“Kamu! Sebagai Pemangku Pedang Raja, kamu sangat tidak sopan! Beraninya kamu memfitnahku!”


“Memangnya kenapa? Justru karena aku adalah Pemangku Pedang Raja, keselamatannya adalah tugas utama yang dibebankan untukku. Sebaliknya kamu, kamu seperti sedang mencari kesempatan dalam kesempitan.”


Keduanya hampir bertengkar jika saja Wang Bi tidak segera menyela. Kasim itu tidak mau ada keributan di Istana Qihua. Dia pikir, ucapan Pemangku Pedang ada benarnya.


Siapa yang tahu orang yang telah memberikan obat itu ada di antara ketiga istri Raja. Raja sebelumnya sudah berpesan tidak boleh membiarkan siapapun mendapatkan kesempatan untuk memanfaatkannya.


“Kalian! Beraninya kalian bersekongkol!”


“Hei, perhatikan ucapanmu!” gertak Li Fengran. “Jika kamu ingin disalahkan karena menjebak Yang Mulia, maka kamu boleh tinggal.”


Fei Jia kehilangan kata-kata. Tadi dia mencoba keberuntungan, tapi keberuntungan itu tidak dia dapatkan. Jika dia masih di sini, kemungkinan Raja akan mencurigainya setelah sadar nanti. Amarah Raja, siapapun tidak mampu membendungnya. Dia takut berakhir seperti Ratu yang dikurung di dalam istananya dan disuruh belajar peraturan dari Ibu Suri.


Fei Jia keluar dan pergi dari Istana Qihua dengan amarah tertahan di dadanya. Kakinya menghentak tanah dan para pelayan yang melihatnya hanya menunduk takut. Sepertinya, malam ini bukan malam yang damai.


“Tuan Pemangku Pedang, pakaianmu basah. Aku akan menyuruh pelayan untuk memberitahu Nona Xiang agar dia membawakan pakaian kering untukmu,” ucap Wang Bi. “Tolong jaga Yang Mulia sebentar.”


“Kalau begitu hanya bisa merepotkan Kasim Wang.”


Saat Wang Bi sedang keluar untuk mengutus pelayan, Li Fengran mengambil sutera kering dan mengelap wajah dan bibirnya.


Bekas noda darah milik Nangong Zirui segera ia hapus. Tapi, sepertinya bibirnya sudah bengkak. Sudut mulutnya sedikit sakit.


Ah, mengapa pria ini tidak bisa menahan diri?

__ADS_1


Dulu saat Shen Lihua memberinya anggur yang dicampur ramuan, Nangong Zirui bisa menahannya sepanjang malam dan berhasil menghilangkan efeknya dengan berendam air dingin dan es.


Mengapa sekarang dia tidak bisa menahannya? Apakah efek obat yang diberikan dalam bentuk dupa yang dibakar lebih besar dan lebih berbahaya?


Entahlah, dia sendiri tidak tahu. Li Fengran mengerti bahwa di zaman ini, cara tercepat untuk mendapatkan keuntungan dari seseorang adalah menjadikan beras menjadi bubur.


Afrodisiak yang dikenal sebagai ramuan musim semi adalah obat umum yang sering dipakai. Tapi, dia tidak menyangka dirinya sendiri yang akan menjadi korban.


Benar-benar menakutkan.


“Berani sekali! Siapapun itu, aku tidak akan membiarkannya hidup bebas! Beraninya menjebak Yang Mulia Raja!”


Wang Bi kembali masuk sambil menggerutu. Li Fengran mengalihkan tatapannya sejenak untuk melihat wajah kasim itu.


“Tuan Pemangku Pedang, apakah kamu tahu dalam bentuk apa obatnya diberikan? Setahuku, kue bulan dan camilan yang dibawa Selir Fei dan Selir Su tidak mengandung obat itu,” tanya Wang Bi.


Dia yakin kalau kue bulan yang dibawa oleh Su Min dan Fei Jia tadi sore tidak mengandung ramuan musim semi.


“Dupa. Kamu bisa memeriksa pembakar dupa yang dilemparkan Yang Mulia di lantai aulanya,” jawab Li Fengran.


“Dupa?”


Li Fengran mengangguk. Wang Bi berpikir dalam waktu yang lama. Ia sepertinya ingat sesuatu. Pembakar dupa di aula adalah pembakar dupa yang biasa digunakan oleh Raja. Dupa yang dibakar juga merupakan dupa beraroma kayu gaharu yang paling disukai oleh Raja.


“Kasim Wang, apakah kamu ingat sesuatu?”


“Sepertinya memang sumbernya dari dupa.”


“Mengapa bisa terjadi? Bukankah kamu yang sering mengganti dan membakar dupa untuk Yang Mulia?”


“Itu benar, tapi tidak dengan hari ini. Seorang pelayan membantuku membakar dupanya.”


“Pelayan yang mana?”


Wang Bi berpikir dan mencoba mengingat lagi.


“Ah! Pelayan yang barusan datang bersama Selir Fei!”


Li Fengran langsung mengepalkan tangan dan menggebrak tepi ranjang. Dia tanpa sadar telah memukul tangan Nangong Zirui yang ada di bawahnya dan ketika dia sadar, dia langsung membelalak. Wang Bi juga sama, tapi dia memilih pura-pura tidak melihat.


“Ka-kalau begitu, Pemangku Pedang, mohon jaga Yang Mulia sebentar. Aku akan menangkap pelayan itu dan menyelidiki kebenarannya.”

__ADS_1


Li Fengran mengangguk. Tidak lama kemudian, Xiang Wan datang membawakan pakaian kering untuknya.


__ADS_2