The Choice Queen

The Choice Queen
TCQ 68: Mempertanyakan Kesetiaan


__ADS_3

“Yang Mulia, orang yang sering berkomunikasi dengan Tuan Besar Zichuan akhir-akhir ini adalah Menteri Administrasi, Gu Jinshan. Mereka mengatakan kalau keduanya juga sering bertemu di rumah bordil akhir-akhir ini,” lapor Mo We sembari menghadap Nangong Zirui.


Nangong Zirui mengikuti petunjuk yang ditinggalkan Su Min dan sampai pada kesimpulan bahwa Shen Jinglang adalah orang yang membunuhnya diam-diam. Dia menyuruh Mo Wei dan Mahkamah Agung melakukan penyelidikan rahasia, dan hari ini Mo Wei  datang untuk melapor.


Untung saja Li Fengran tidak ada di sini. Nangong Zirui sengaja menyuruhnya melakukan inspeksi ke beberapa kementerian untuk menjauhkannya.


Dia tidak ingin Li Fengran tahu kalau Su Min dibunuh dengan kejam oleh Shen Jinglang. Cukup Nangong Zirui yang tahu dan Li Fengran hanya perlu menunggu sampai keputusan hukumannya dijatuhkan.


“Heh, orang tua itu sudah tidak sabar rupanya. Panggil dia kemari untuk menemuiku!”


“Baik, Yang Mulia.”


Mo Wei kemudian pergi untuk melaksanakan perintah. Nangong Zirui memandangi kolam ikan kesukaannya, yang sekarang tepiannya ditumbuhi banyak bunga-bunga. Dia paling membenci pengkhianatan.


Para menterinya telah disumpah untuk setia kepadanya dan tidak boleh memihak kepada salah satu wilayah. Tapi, sepertinya Menteri Administrasi sangat tidak sabar dan memilih mengkhianatinya.


Sejak dulu, Raja paling waspada terhadap pejabatnya sendiri. Kesetiaan yang diinginkan harus tetap ada sampai dia mati. Jika pejabatnya tidak setia, maka Raja-Raja Donghao akan menggunakan caranya sendiri untuk menyingkirkan para pengkhianat itu.


Sebelum menghukum orang lain yang menjadi tuan barunya, maka Nangong Zirui akan membereskan terlebih dahulu orang yang menjadi bawahannya. Tidak masalah menyingkirkan satu benalu untuk menyelamatkan tumbuhan lain. Lagipula, dia juga sudah lama mencurigai Menteri Administrasi.


Satu jam kemudian, Menteri Administrasi – Gu Jinshan, datang bersama Mo Wei. Ketika Mo Wei datang menjemputnya, Gu Jinshan ternyata sedang bermain-main dengan selir barunya.


Seperti Shen Jinglang, Gu Jinshan juga sangat suka bermain dengan para wanita. Bahkan di usianya yang sudah menginjak kepala lima, dia masih begitu bersemangat.


Gu Jinshan membungkuk memberi salam. Nangong Zirui menanggapinya ringan dengan duduk kembali di kursinya. Dia mengambil kuas, kemudian menggoreskan tinta di atas kertas. Dia menulis sebuah karakter dalam ukuran besar.


“Gu Jinshan, apakah kamu tahu alasanku memanggilmu kemari?”


“Hamba bodoh, Yang Mulia. Harap Yang Mulia memberitahu.”


“Kamu yang bodoh atau aku yang sudah pikun?”


Gu Jinshan seketika berlutut. Dia sungguh tidak tahu maksud dari Raja, tapi mendengar kata-katanya, dia perlahan mulai mengerti. Raja memanggilnya pasti karena ada sesuatu.


Nangong Zirui mengambil kertasnya, kemudian menunjukkannya kepada Gu Jinshan. Dia berkata, “Kamu tahu arti kata ini?”

__ADS_1


“Ke-kesetiaan, Yang Mulia.”


“Lidahmu begitu fasih mengucapkannya. Lalu apakah kamu tahu apa arti kesetiaan itu?”


“Mengabdi pada rakyat, tunduk pada perintah, menaati dan setia kepada Raja sampai tujuh generasi,” Gu Jinshan menjawab dengan suara bergetar.


“Tujuh generasi, jika tidak setia, maka tujuh generasi itu juga akan hilang, bukan?”


“Be-benar, Yang Mulia.”


Nangong Zirui menaruh kembali kertasnya di meja. Dia memusatkan emosinya pada pandangan mata, yang tertuju pada sosok Menteri Administrasi yang sudah menjabat selama puluhan tahun.


Gu Jinshan adalah menteri senior, dia adalah orang yang disiapkan oleh ayah Nangong Zirui untuknya. Tapi, sepertinya Gu Jinshan sudah melupakan amanah yang diberikan kepadanya.


“Ayahku berkata bahwa kamu berasal dari Zichuan dan keluargamu adalah keluarga pejabat yang sudah mengabdi pada dinasti selama beberapa generasi,” ucap Nangong Zirui.


“Aku ingat ketika aku masih menjadi Putra Mahkota, kamu adalah salah satu menteri yang mengajariku cara mengelola negara. Kamu mengajariku cara menjadi Raja bersama beberapa menteri lain.”


Gu Jinshan berkeringat dingin. Jantungnya bedegup kencang. Raja pasti sudah tahu kalau dia belakangan berkomunikasi dengan Shen Jinglang dan Raja tidak senang.


“Sudah merupakan kewajibanku mengajari Putra Mahkota Negara, Yang Mulia.”


“Kamu sungguh sangat bertanggungjawab. Aku menghargai kerja kerasmu. Kudengar, kamu menambah selir baru ke kediamanmu?”


“Su-sungguh memalukan karena Yang Mulia mengetahui urusan ini, hamba sangat malu.”


Dia takut melihat Nangong Zirui. Kali ini ketika dia melihatnya, dia seperti melihat mendiang Raja Nangong dari generasi sebelumnya. Matanya sama tajam, perkataannya sama mendalam. Tidak ada yang tahu arah pemikirannya, sehingga Gu Jinshan hanya bisa menebak dalam hatinya sendiri.


“Wang Bi, Menteri Administrasi terburu-buru datang kemari. Dia pasti haus. Ambilkan secangkir teh untuknya.”


Gu Jinshan semakin bergetar takut saat Nangong Zirui mengatakan itu. Seketika dia bersujud dan berkowtow. Gu Jinshan bahkan memukul-mukulkan dahinya ke lantai sampai berbunyi ‘tuk-tuk-tuk’.


“Yang Mulia, mohon ampun. Hamba mengaku bersalah, Yang Mulia.”


Nangong Zirui tersenyum, kemudian dia pura-pura tidak mengerti.

__ADS_1


“Menteriku, apa yang kamu lakukan? Apakah kamu salah paham padaku? Aku menyuruh Wang Bi memberimu teh, bukan racun.”


“Hamba tahu hamba bersalah, Yang Mulia. Mohon ampuni hamba.”


“Apa kesalahanmu?”


Gu Jinshan memberanikan diri menengadahkan kepala. Dia menatap Nangong Zirui dengan penuh rasa bersalah. “Yang Mulia baru saja mengingatkan hamba dan mempertanyakan arti kesetiaan kepada hamba. Hamba adalah menteri Yang Mulia, abdi negara yang hidup untuk melayani negara. Tapi, hamba bersalah karena sudah mengkhianati Yang Mulia.”


“Pengkhianatan apa yang kamu maksud? Aku hanya bertanya padamu apa arti kesetiaan, dan kamu masih mengingatnya. Apakah kamu ingat berapa usiaku tahun ini? Sepertinya jika kamu ingat, kamu akan berpikir kalau aku juga sudah tidak terlalu muda. Bagaimana jika kamu mencarikanku seorang istri yang bisa melahirkan keturunan kerajaan dan meneruskan takhta?”


“Ah, itu tidak akan berhasil. Bagaimana jika kamu mencarikan penerus dan memilih dari salah satu tuan wilayah, lalu jadikan dia sebagai Raja Donghao yang baru? Mereka pasti akan senang hati mendukungmu.”


Jantung Gu Jinshan seperti ditarik dari rongga dada sampai semua pembuluh darahnya putus. Tubuhnya bergetar hebat, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnnya. Kepalanya menunduk lagi menyentuh lantai dan dia membenturkannya berkali-kali.


“Yang Mulia mohon ampuni hamba yang berdosa ini. Hamba tahu kesalahan hamba, hamba akan menanggungnya sendiri. Mohon Yang Mulia berbelas kasih dan ampuni keluarga hamba,” Gu Jinshan berkowtow lagi dan membenturkan kepalanya berkali-kali sampai dahinya membiru.


Nangong Zirui menanggapinya tanpa menunjukkan emosi aslinya. Jika itu orang lain, dia sudah pasti menghukum mati bersama seluruh keluarganya. Tapi, Gu Jinshan adalah menteri senior dan juga orang yang diatur ayahnya untuk membantunya.


Kesalahannya mengkhianati Raja tidak termaafkan, tapi Nangong Zirui punya pemikiran lain. Manusia nyatanya tidak bisa benar-benar tidak berperasaan.


“Menteriku, berapa tahun usiamu sekarang? Apakah kamu tertarik untuk pulang ke kampung halamanmu?” tanya Nangong Zirui.


Tahu apa yang diinginkan oleh Raja, Gu Jinshan seketika mengangguk dan berkata, “Yang Mulia, hamba berterima kasih atas kemurahan hati dan belas kasih Yang Mulia.”


Nangong Zirui bangkit, mengambil kertas berisikan karakter ‘kesetiaan’ miliknya dan berjalan menghampiri Gu Jinshan.  “Bagaimanapun, kita termasuk teman lama. Aku tidak akan membunuhmu dan seluruh keluargamu.”


Nangong Zirui menyelipkan kertas tersebut ke topi pejabat yang dipakai oleh Gu Jinshan, kemudian dia berjalan kembali ke kursinya. Gu Jinshan menengadahkan kepala, menatap Rajanya yang baru saja berkata tidak akan membunuhnya. Hatinya bisa lega, tapi pikirannya mengatakan hal lain.


Dia sudah mengkhianati Raja, dan belas kasihan Raja tidak akan membuatnya hidup dengan tenang. Gu Jinshan selamanya akan dihantui rasa bersalah.


Dia pamit dengan hormat. Di pintu gerbang istana, dia melepas topi pejabatnya dan meletakkannya di sana sebagai simbol pengunduran dirinya.


Gu Jinshan tiba-tiba merebut pedang salah satu prajurit yang sedang berjaga dan menggorok lehernya sendiri. Para prajurit penjaga terkejut, mereka berteriak meminta tolong. Namun pada saat itu, nyawa Gu Jinshan sudah tidak tertolong. Dia mati dengan mata terbuka dan tubuhnya bersimbah darah.


Nangong Zirui yang mendengar kabar Gu Jinshan bunuh diri setelah meninggalkan istananya hanya memejamkan mata sesaat dan menghela napasnya. Orang tua itu, memang keras kepala. Jalan hidup yang diberikan olehnya pun tidak dipergunakan dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2