
“Karena aku membenci Keluarga Ling.”
Su Ren tiba-tiba membuka mulutnya. Masa bodoh, mau mengaku atau tidak, dia akan tetap mati. Memberitahu kebenaran mengenai alasan mengapa dia meracuni Ling Sui sampai mati tidak akan berpengaruh apapun padanya. Toh akhirnya dia tetap mati dan keluarga Su tetap akan jatuh juga.
“Keluarga Ling sudah meninggalkan Jinchuan selama puluhan tahun. Aku rasa tidak ada alasan bagimu untuk membencinya.”
“Heh, apa yang kamu tahu? Meskipun Keluarga Ling sudah hengkang dari Jinchuan, reputasi leluhur mereka tetap tidak musnah meskipun Keluarga Su sudah mengambil alih kekuasaan dan memimpin Jinchuan.”
“Keluarga Ling di ibukota menggunakan banyak upaya untuk membuat Ling Sui masuk ke istana dan menjadi Ratu Donghao. Kamu tahu? Ling Sui adalah wanita idealis yang ingin terjun ke dalam politik. Dia punya sudut pandang berbeda mengenai kepengurusan negara. Jika semua orang tahu betapa pintarnya dia, bukankah nama Keluarga Ling tetap akan harum di ingatan orang-orang? Bagaimana Keluarga Su bisa berdiri tegap di balik bayang-bayang Keluarga Ling?”
“Tapi kamu tidak harus membunuhnya! Mendiang Ratu Ling tidak bersalah!”
“Dosa orang tua dibayar anaknya. Kamu harus mengerti itu, Li Fengran. Hahahaha!”
“Dasar gila!”
“Itu gara-gara kamu! Keluarga Su sudah bisa terlepas dari bayang-bayang Keluarga Ling setelah Ling Sui mati. Tapi kamu, kamu! Kamu mengacaukan segalanya! Ayahmu mengacaukan segalanya!”
“Merasa benar dan menyalahkan orang lain. Kamu sengaja merusak reputasi dan nama baik Keluarga Ling dengan membunuh Ratu. Orang sepertimu tidak pantas menjadi manusia!”
Li Fengran tidak tahan lagi dan dia mendaratkan tinjunya di pipi kiri Su Ren. Su Ren seketika pingsan. Sipir penjara, Menteri Mahkamah Agung dan si bibi membelalak sambil menelan ludahnya. Pukulan Pemangku Pedang itu, pasti sangat keras, kan?
“Kamu bilang kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. Lalu mengapa kamu memukulnya?” suara Nangong Zirui terdengar. Sosoknya berjalan keluar dari balik tirai dan sampai di samping Li Fengran.
“Pukul ya pukul. Memukulnya sekali tidak akan membuatnya mati,” Li Fengran mendengus. Nangong Zirui menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil. Dia kemudian beralih menatap Menteri Mahkamah Agung.
“Serahkan dokumen kasusnya padaku. Jangan biarkan siapapun menemuinya,” ucap Nangong Zirui pada Menteri Mahkamah Agung. Menteri Mahkamah Agung mengangguk hormat.
“Xiao Feng, kamu beristirahatlah. Sisanya kita bicarakan besok saja,” ujar Nangong Zirui saat mereka sudah tiba di pelataran Istana Qihua. Hari ini cukup melelahkan, membicarakan masalah lainnya sebaiknya besok saja.
“Baiklah. Yang Mulia, selamat beristirahat.”
“Ya. Xiao Feng, sampai jumpa besok.”
“Oke. Good night, my king!”
Kemudian Li Fengran berlari meninggalkan Istana Qihua sambil tertawa kecil. Nangong Zirui terpaku di tempatnya. Dia menatap Wang Bi, “Good night my king, artinya apa?”
Wang Bi menggelengkan kepalanya tidak tahu.
*
Ketika Li Fengran sampai di Istana Changsun, dia mendapati tempat itu gelap. Hanya lampu di taman yang menyala menerangi jalan.
“Apa Xiang Wan lupa menyalakan lilin?” gumamnya.
__ADS_1
Mungkin, Xiang Wan ketiduran sampai lupa menyalakan lilin. Li Fengran tidak berpikiran lain, dia memasuki istana dengan langkah ringan. Saat dia membuka pintu, seisi ruangan gelap gulita. Li Fengran sedikit kesulitan mencari pemantik, tangannya meraba-raba sekitar.
“Xiang Wan? Apakah kamu tidur?” teriaknya memanggil Xiang Wan. Namun, pelayannya tidak menjawab. “Apa dia sedang keluar?”
Setelah meraba-raba, dia menemukan bambu pemantik. Li Fengran segera menyalakan lilin di ruangan utama dan beberapa objek mulai terlihat. Ketika dia hendak menyalakan kembali lilin yang lain, udara tiba-tiba berubah menjadi dingin.
Rasa mencekam seketika melanda dan perasaan Li Fengran tidak enak. Rasanya ada seseorang di belakang baru melintas barusan. Li Fengran berbalik, namun tidak ada siapapun.
“Apakah hanya perasaanku saja?” Li Fengran bergumam. Jangan-jangan, ada hantu? Ya ampun, Li Fengran takut jika itu benar-benar hantu.
Li Fengran buru-buru menyalakan lilin, namun perasaannya tetap tidak tenang. Tepat saat dia menyalakan lilin di dekat guci, sebuah gerakan yang sangat cepat tiba-tiba mendorongnya ke depan.
Seseorang telah menubruknya dengan sengaja dan membuatnya terjatuh. Kepala Li Fengran terbentur ujung meja dan berdarah.
Li Fengran meringis sebentar, lalu menatap sesosok manusia dalam kegelapan yang sepertinya sedang berdiri menatapnya. Ada sebuah benda berkilau tampak akibat pantulan cahaya.
Benda itu sedikit panjang, sepertinya sebuah pisau. Li Fengran menahan sakit di dahinya, dia hendak berdiri namun orang itu tiba-tiba menerjangnya sambil menodongkan belati yang sangat tajam.
“Su Min?”
Li Fengran membelalak tak percaya. Sosok itu, yang berdiri di kegelapan dan menerjangnya adalah Su Min! Raut wajah Su Min tampak menyeramkan, matanya memerah dan urat-urat di wajahnya seperti sedang mengeras. Mata wanita itu dipenuhi tatapan membunuh, membuat sekujur tubuh Li Fengran merinding.
Apakah wanita ini ingin membunuhnya?
Li Fengran sekuat tenaga menahannya, dia mencengkram pergelangan tangan Su Min dan menahan agar belati itu tidak menusuk semakin rendah. Jika dia kehilangan tenaganya, belati tajam itu akan langsung menusuk lehernya dan memotong arterinya. Li Fengran bisa mati.
“Apakah kamu gila? Kamu ingin membunuhku?”
“Wanita sepertimu pantas mati! Jika bukan karena kamu, ayahku tidak akan ditangkap dan hidupku tidak akan hancur!”
Su Min sudah gelap mata. Dia seperti dirasuki iblis pembunuh paling mengerikan. Semakin lama dia melihat Li Fengran, amarah dan kebencian di hatinya semakin membesar dan pecah menjadi luapan kemarahan sampai ia ingin membunuhnya. Kebenciannya yang dipendam selama ini memuncak dan Su Min sudah kehilangan akal sehatnya.
Dia lupa kalau dia adalah seorang selir Raja, yang seharusnya tidak ikut campur pada urusan Pemangku Pedang. Namun, dia sungguh tidak bisa mengendalikan kemarahan dan kebenciannya. Jika bukan karena Li Fengran, ayahnya tidak akan dihukum dan kematian Ratu tidak akan terungkap!
“Dasar gila! Su Min, sadarlah!”
“Aku sangat sadar!”
“Apa gunanya membunuhku? Ayahmu tetap tidak akan bebas karena Yang Mulia sudah mendapatkan pengakuannya! Dia yang membunuh Ratu Ling! Su Min, sadarlah!”
“Memangnya kenapa kalau dia membunuh Ling Sui? Keluarga Ling sudah membayangi Keluarga Su selama puluhan tahun! Jika Ling Sui mati, maka Keluarga Ling akan berakhir!”
“Benar-benar gila!”
Li Fengran berjuang sendirian. Belati yang mengarah ke lehernya semakin merendah dan hampir menyentuh kulitnya. Tenaga Su Min naik berkali lipat akibat kemarahan dan kebencian. Tubuh Li Fengran terlalu lelah, dia tidak bisa menahannya lebih lama.
__ADS_1
Li Fengran ingin berteriak, namun letak istana ini terpencil. Tidak ada seorang pun yang dapat mendengar teriakannya.
Tangan kiri Li Fengran terulur mencari sesuatu di atas meja. Saat ini, dia harus membuat Su Min menjauhkan belatinya terlebih dulu. Dia meraba-raba, lalu menemukan segulung buku yang terikat tali. Li Fengran meraihnya, kemudian memukulkannya ke kepala Su Min sekuat tenaga.
Berhasil! Su Min berhasil limbung karena kepalanya dipukul. Dia refleks melepaskan pegangan dan terbaring di samping Li Fengran. Li Fengran buru-buru berdiri, lalu berlari menjauh.
Namun karena ruangan belum diterangi semua, dia kesulitan mengenali arah. Sekeliling masih gelap, dia hendak pergi ke pintu namun tangan Su Min tiba-tiba menariknya lagi.
Li Fengran menepisnya tepat saat belati itu hampir mengenai tubuhnya. Li Fengran mendorong Su Min, namun belati di tangan wanita itu berhasil menggores lengan bagian atasnya.
Lengan atas Li Fengran sobek dan berdarah. Su Min menerjangnya lagi, Li Fengran menghindar lagi. Keduanya kemudian bertarung di ruang utama.
Stamina Li Fengran perlahan menurun dan dia hampir tidak sanggup melawan lagi. Li Fengran terdesak hingga ke tempat yang sama di dekat meja, dia kembali terjatuh dan Su Min bergerak ingin menerjangnya. Li Fengran mengelak dengan berguling-guling di lantai sementara Su Min terus mengejarnya.
“Li Fengran, matilah!”
Su Min bersiap menusukkan belatinya ke tubuh Li Fengran. Namun, sekelebat bayangan hitam tiba-tiba melintas. Suara ‘prang’ yang timbul dari sesuatu beradu dengan belati terdengar.
Kemudian, bayangan sebuah tangan yang memegang pedang muncul. Tangan itu memutar pedang dan memukul Su Min dengan gagangnya. Su Min seketika ambruk dan hampir kehilangan kesadaran.
Perlahan, sesosok manusia berjubah muncul bersama beberapa sosok lainnya. Cahaya redup dari lilin membuat bayangannya sedikit menjadi jelas. Napas Li Fengran memburu dan dadanya naik turun. Saat wajah sosok itu semakin jelas, Li Fengran menghela napas dan emosinya meledak.
“Xiao Feng, kamu baik-baik saja?”
Nangong Zirui berjongkok dan memapahnya. Wang Bi membantu menyalakan semua lilin dan seketika ruangan menjadi terang. Sekarang, Li Fengran bisa melihat semua objek dengan jelas, termasuk sosok yang sedang memapahnya. Ada kelegaan menyebar ke dalam hatinya saat tahu Nangong Zirui ada di sini.
Li Fengran dan Nangong Zirui bersitatap. Mata Li Fengran memanas dan berkaca-kaca, lalu tumpah menjadi sebuah tangisan yang panjang. Li Fengran menangis karena lega, juga menangis karena takut. Dia takut kalau Nangong Zirui tidak datang, dia akan mati tanpa mengucapkan salam perpisahan padanya.
Nangong Zirui sangat khawatir. Saat dia tiba di Istana Qihua, seorang pelayan melapor kalau Selir Su tidak ada di kediamannya. Firasatnya tidak enak dan dia bergegas menuju Istana Changsun.
Saat melihat lampu lilin istana menyala sebagain, dia langsung menyuruh Wang Bi memanggil beberapa pengawal. Benar saja, dia mendengar keributan dari dalam dan seketika menerobos masuk.
Nangong Zirui mengusap air mata di pipi Li Fengran dan memeluknya. Wang Bi dan yang lainnya pura-pura tidak melihat. Tangan pria itu terulur membelai rambut Li Fengran yang berantakan. Dia mencoba memberikan ketenangan padanya dan berharap Li Fengran berhenti menangis.
“Tidak apa-apa, semuanya baik-baik saja. Jangan takut,” ucapnya lembut.
Li Fengran sesenggukan. Tidak disangka, dia yang tampak sangat galak dan tegas ternyata dapat menangis karena ketakutan setengah mati.
Li Fengran merasakan kehangatan yang menenangkan tersalurkan kepadanya, seketika hatinya merasa tenang. Dia memejamkan matanya sesaat sambil berusaha mengendalikan emosinya.
“Dia… dia hampir membunuhku. Aku hampir mati,” ucap Li Fengran pelan.
“Tidak apa-apa, dia tidak akan bisa menyentuhmu lagi.”
Nangong Zirui melerai pelukannya, kemudian berbalik untuk menatap Su Min yang kedua tangannya sudah ditahan oleh dua pengawal.
__ADS_1