
Li Fengran tidak menyangka Nangong Zirui masih tetap berada di istananya dan tidak pergi meski hari sudah malam. Sebaliknya, pria itu malah masuk kembali ke dalam aula sambil membawa kantung air hangat dan obat pereda nyeri dari Balai Pengobatan Istana saat Li Fengran selesai membereskan urusannya.
Dengan lembut Nangong Zirui membantunya meminum obat. Setelah obatnya habis, dia memberikan kantung air hangat kepadanya. “Wang Bi bilang kantung air hangat bisa meredakan nyeri perut. Pakailah.”
“Terima kasih, Yang Mulia. Kamu seharusnya tidak melakukan ini, aku bisa meminta Xiang Wan membawakannya untukku.”
“Karena aku bisa, maka aku akan melakukannya. Apakah wanita memang selalu mengalami sakit perut setiap kali datang bulan?”
Li Fengran lalu menggelengkan kepalanya.
“Tidak juga. Beberapa wanita tidak mengalami sakit dan kram perut setiap kali datang bulan. Tapi, kebanyakan wanita memang mengalami sakit dan kram perut seperti yang aku alami.”
“Mengapa bisa terjadi? Bukankah normal bagi wanita untuk datang bulan?”
“Karena perbedaan kadar hormon dan kondisi tubuh. Terkadang, seorang wanita bahkan sampai sulit beraktivitas saat datang bulan jika nyeri perutnya sangat parah. Itu bisa saja membahayakan jika berlangsung terus menerus.”
“Urusan wanita seperti ini aku hanya memahaminya sedikit. Kelak jika kamu datang bulan lagi dan perutmu sakit, kamu boleh meminta izin padaku untuk tidak bekerja.”
“Menurutku tidak adil.”
“Tidak adil kenapa?”
“Jika aku, Pemangku Pedang, bisa mendapat izin cuti dari Raja karena sakit saat datang bulan, lalu bagaimana dengan para wanita termasuk para pelayan? Mereka tetap harus bekerja meskipun mereka sedang sakit. Itu tidak adil ketika aku mendapat perlakuan istimewa sementara yang lainnya masih menderita.”
Perkataan Li Fengran masuk akal. Kata-katanya seperti menyadarkan Nangong Zirui dari sesuatu. Selama ini, aturan istana mengatakan kalau pelayan wanita boleh meminta izin libur saat mendapat situasi mendesak. Selebihnya jika bukan pada jatah liburnya, mereka tidak diizinkan tidak bekerja.
Sakit dan kram perut tidak digolongkan dalam situasi mendesak sehingga para pelayan wanita harus tetap bekerja. Nangong Zirui menyadari kalau penderitaan itu tidak jauh berbeda dengan sakit ditusuk-tusuk sampai ke tulang.
Dia tidak mempertimbangkan kalau wanita memiliki suatu kondisi khusus setiap bulannya yang membuat mereka memiliki hari-hari mengeluarkan darah dari tubuhnya.
“Kamu benar. Tidak adil jika kamu mendapat perlakuan istimewa sementara mereka masih menderita walau kalian sama-sama orangku. Kalau begitu, aku akan menyuruh Biro Kepegawaian merevisi peraturan dan memberikan izin pada para pelayan wanita yang sedang datang bulan untuk libur sampai datang bulannya selesai atau tidak sakit lagi.”
“Yang Mulia serius?”
“Aku tidak pernah bermain-main dengan perkataanku. Lagipula, aku rasa sudah saatnya mereformasi peraturan lama. Seseorang perlu melakukan penyesuaian sesuai keadaan.”
__ADS_1
“Yang Mulia, kamu sangan reformatif. Kamu Raja yang bijaksana,” puji Li Fengran.
“Selain bijaksana, seorang Raja juga harus memperhatikan setiap aspek yang ada. Aku pikir aku sudah menjadi yang terbaik, tapi nyatanya tetap saja melupakan beberapa hal.”
“Tidak apa-apa. Normal bagi seseorang melupakan beberapa hal. Bagaimanapun, kamu masih manusia, Yang Mulia, bukan dewa yang serba bisa dan sakti mandraguna.”
Kata-katanya terdengar seperti candaan, tapi mampu menembus lubuk terdalam hati Nangong Zirui. Li Fengran seakan menyadarkannya bahwa dia juga manusia.
Sebaik apapun dia berusaha menjadi sempurna, dia tetap tidak akan sempurna. Li Fengran membuatnya sadar bahwa mengejar kesempurnaan terkadang akan membuat seseorang melupakan tujuan dan niat awalnya memulai sesuatu.
Nangong Zirui tersenyum. Dia sangat berterima kasih pada Li Fengran karena sudah membuatnya sadar dalam beberapa hal.
Nangong Zirui selama ini hanya fokus pada penyejahteraan rakyat dan pengambilan kembali otoritas negara bagian. Dia lupa kalau dirinya hanya manusia dan beberapa hal tidak akan dapat diubah dengan mudah.
“Kamu benar,” ucapnya.
“Yang Mulia, jangan berusaha menjadi sempurna. Tapi, jadilah yang terbaik.”
Nangong Zirui tersenyum. Dia meraih tangan Li Fengran dan memegangnya erat-erat. Rasanya hangat dan lembut. Hatinya ikut menghangat.
“Sudah larut. Xiao Feng, beristirahatlah.”
Li Fengran mengangguk. Dia hendak berdiri, namun tenaganya seperti sudah tersedot habis. Baru saja dia mengangkat tubuhnya, dia sudah duduk kembali.
Kram di perutnya masih menyisakan rasa sakit meski sudah dikompres dengan kantung air hangat. Memang menjengkelkan!
“Tidak bisa berdiri?” Nangong Zirui bertanya saat Li Fengran duduk lagi.
Lalu Li Fengran berteriak kaget saat Nangong Zirui tiba-tiba mengangkatnya dan menggendongnya. Kepala Li Fengran jadi pusing, tangannya seketika melingkar di leher pria itu untuk berjaga-jaga. Kemudian, Nangong Zirui membawanya menuju tempat tidur dan menidurkannya di sana.
Dia juga menarik selimut hingga menutupi tubuh Li Fengran sampai ke bagian dada. Nangong Zirui sangat lembut, dan jantung Li Fengran lagi-lagi berdetak tidak karuan.
Pria ini, selalu bertindak di luar prediksi. Li Fengran pikir dia akan segera pergi, tapi pria itu malah duduk di tepi ranjangnya dan terus memandanginya.
“Yang Mulia tidak pergi?” tanyanya.
__ADS_1
“Aku akan pergi setelah kamu tidur.”
Bagaimana bisa Li Fengran tidur sementara Nangong Zirui masih di sana?
Li Fengran justru tidak akan pernah tidur kalau seseorang terus memandanginya seperti ini. Wajahnya malah memanas. Agar Nangong Zirui segera pergi, Li Fengran buru-buru memejamkan matanya.
Seulas senyum terbit di bibir indah Nangong Zirui. Dia membetulkan selimutnya lagi, lalu merapikan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Li Fengran. Tangannya sampai pada bagian pipi, Nangong Zirui tidak tahan untuk tidak menyentuhnya. Dia membelai pipi Li Fengran dengan lembut.
Kemudian, dia sedikit membungkukkan tubuhnya dan mencium kening Li Fengran.
“Selamat beristirahat, Xiao Feng.”
Setelah Nangong Zirui pergi, Li Fengran membuka matanya dan dia menghirup banyak udara ke dalam paru-parunya. Dadanya sesak dan jantungnya berdebar kencang. Perlahan pipinya menjadi panas dan tangannya refleks memegang keningnya yang barusan dikecup oleh pria itu.
Astaga, mengapa perlakuan lembut yang diam-diam ini jauh lebih mendebarkan?
Pria itu jelas tahu kalau dia hanya pura-pura tidur untuk mengusirnya. Tapi dia malah senang dan dengan mudahnya mencium keningnya!
Hei, sebenarnya siapa Li Fengran di dalam hatinya itu? Mengapa rasanya semakin hari semakin aneh saja?
Tapi, bukankah dirinya juga sama? Setiap hari berada di sisi Nangong Zirui juga telah membuat Li Fengran memiliki semacam perasaan padanya.
Rasa nyaman, terbiasa, dan rasa ingin mengandalkan sudah tumbuh seperti pohon yang meninggi. Nangong Zirui memberinya rasa aman dan nyaman yang sebelumnya sempat hilang ketika Li Fengran pertama kali datang ke dunia ini.
Hatinya juga bermasalah. Apakah itu rasa suka? Entahlah, Li Fengran tidak berani menyimpulkan sama halnya seperti Nangong Zirui.
Bagaimanapun, menyukai dan jatuh cinta pada seorang pria yang berkedudukan sebagai Raja bisa sangat menyengsarakan. Selain harus berbagi hati, juga harus berbagi emosi dan banyak menahan diri.
Nangong Zirui adalah Raja yang sedang memperkuat kekuasaan pengadilan dan menyatukan semua wilayah. Terikat padanya dengan hubungan yang melibatkan perasaan mungkin akan mengganggunya. Tapi, siapa yang bisa menahan dan mengendalikan perasaannya?
Jelas-jelas Li Fengran tahu semua risiko berada di dekat seorang Raja, tapi dia tetap memilih tinggal di sisinya. Semua keinginannya untuk kabur sudah menghilang karena dia mendapatkan kenyaataan bahwa Raja tidaklah seburuk yang dia pikirkan. Sebaliknya, Raja Donghao, Nangong Zirui yang digambarkan sangat egois ternyata sangat lembut dan perhatian.
“Mungkin lebih baik menjalaninya seperti air yang mengalir,” gumam Li Fengran ketika dia memikirkan semuanya.
Ya, sepertinya bagus mengikuti arus.
__ADS_1