The Choice Queen

The Choice Queen
TCQ 49: Menahan Diri


__ADS_3

Di istana, Ibu Suri baru berhasil menenangkan para menteri setelah beberapa jam berdebat. Para menteri yang tidak sabaran itu sebelumnya memaksa masuk ke kawasan Istana Belakang, hanya saja berhasil dihentikan ketika Ibu Suri sendiri yang keluar untuk menenangkan situasi.


Putranya pergi tanpa bilang-bilang, dia tentu sangat terkejut dan khawatir. Terlebih, dia pergi untuk menyusul rombongan pengirim bantuan.


Bagaimana jika dia dalam bahaya atau terkena penyakit setelah pergi ke daerah bencana? Tidak mustahil bencana membawa wabah setelah terjadi. Memikirkan ini, kepala Ibu Suri jadi sakit dan dia menyuruh pelayannya untuk memijatnya.


“Ibu Suri, Yang Mulia Ratu datang untuk berkunjung,” seorang pelayan masuk untuk melapor kalau Shen Lihua datang ke istananya.


“Bukankah dia sedang dikurung oleh Raja? Mengapa dia keluar?”


“Menjawab, Ibu Suri. Yang Mulia Ratu khawatir akan kesehatan Ibu Suri. Selain itu, aturan dan hukuman wanita yang diberikan Ibu Suri untuk dipelajari juga sudah selesai dibaca dan dipahami.”


“Baiklah. Biarkan dia masuk.”


Pelayan kembali kepada Shen Lihua, lalu mempersilakan dia masuk.


“Saya memberi hormat kepada Ibu Suri.”


Ibu Suri menatapnya tanpa minat, lalu mengangguk kecil.


“Ratu, kamu datang. Bangunlah.”


“Terima kasih Ibu Suri.”


Shen Lihua dipersilakan duduk. Setelah malam dia memberikan anggur kepada Nangong Zirui, dia langsung dikurung dengan dalil belajar dengan Ibu Suri.


Shen Lihua baru bisa keluar dari istananya hari ini, dan dia tahu bahwa dia tidak memiliki banyak kesempatan untuk memulihkan dirinya. Dia harus bergegas mendapatkan kembali kepercayaan Ibu Suri jika ingin berdiri kukuh di harem.


Kepergian Raja dari istana tanpa diketahui itu membuatnya marah dan kesal. Shen Lihua adalah Ratu dari Nangong Zirui, tapi dia bahkan tidak diberitahu apapun.


Shen Lihua hanya bisa melampiaskannya di istananya sendiri. Di hadapan Ibu Suri, dia tetap harus menahan emosinya.


“Ibu Suri, apakah Anda tahu kapan Yang Mulia akan kembali?” tanyanya. Ibu Suri membuka matanya sedikit, lalu memejamkan matanya lagi.


“Jika aku tahu, aku tidak akan bekerja keras menenangkan para menteri seperti ini.”


“Raja memilih mengunjungi kawasan bencana sendiri, dia adalah Raja yang penuh kasih.”

__ADS_1


“Penuh kasih terkadang bisa membunuhnya. Hati manusia, adalah hal yang sangat sulit dipahami,” Ibu Suri berujar.


“Raja memiliki kasih terhadap rakyatnya. Tapi terhadap istri-istrinya, sepertinya kurang berlaku,” ucap Shen Lihua. Suaranya tidak keras, tapi berhasil membuat Ibu Suri membuka matanya dan menatapnya.


“Dia bukan tidak peduli, hanya saja hatinya belum tergerak. Ratu, jangan mengomentari putraku di depanku.”


“Aku tidak berani. Hanya saja, Ibu Suri, Anda juga tahu kalau Raja tidak bisa tanpa keturunan,” ucap Shen Lihua, pura-pura takut.


Ibu Suri menghela napasnya. Dia juga tahu kalau putranya tidak tertarik pada istri-istrinya. Ratu Ling yang sudah meninggal itu, yang bahkan sangat hebat dan berbakat tetap tidak bisa menyentuh sisi terdalam dari hati putranya. Meskipun sekarang memiliki tiga istri, putranya tetap bilang tidak terburu-buru memiliki putra.


Tapi, Raja mana yang bisa bertahan tanpa penerus? Cepat atau lambat, para menteri dan pejabat pasti akan menuntutnya lagi agar segera memiliki putra.


Usia Ibu Suri juga sudah tidak muda, dia tidak akan bisa banyak membantunya jika para menteri mempersulitnya lagi. Tapi, dia juga sangat tahu kalau putranya tidak bisa dipaksa.


“Aku tahu, tapi Raja tidak bisa dipaksa. Jangan berpikir aku tidak tahu apa yang kamu inginkan. Hal yang kamu lakukan terakhir kali sudah membuatku marah, hanya saja Raja memiliki caranya sendiri untuk menghukummu. Ratu, terkadang menahan diri lebih menguntungkan untukmu daripada terburu-buru,” ucap Ibu Suri.


Sejak perjamuan itu, Ibu Suri kehilangan separuh kepercayaannya pada Shen Lihua. Shen Jinglang yang dilucuti kekuatan militer resminya adalah ulah Shen Lihua.


Bisa dilihat, wanita ini memiliki cara licik untuk menyelamatkan diri dengan cepat meski harus mengorbankan kakaknya sendiri. Wanita seperti ini, walau cerdas, tapi sulit ditebak. Ibu Suri harus berhati-hati terhadapnya.


“Beritahu Selir Su dan Selir Fei juga, jangan gunakan afrodisiak sebagai jalan pintas untuk mendapatkan putraku. Suruh mereka untuk menahan diri. Aku benci cara-cara kotor seperti itu,” sambung Ibu Suri.


Mendapatkan kembali kepercayaan Ibu Suri jauh lebih sulit dari yang bisa dibayangkan olehnya. Ia pikir, Ibu Suri akan membantunya mendapatkan Raja, karena bagaimanapun, Ibu Suri adalah seorang ibu yang menginginkan putranya memiliki keturunan. Usia Raja sudah sangat matang dan dewasa, sangat wajar baginya memiliki dua atau tiga orang putra.


Jika Raja masih tidak ingin tidur dengannya dan belum memiliki keturunan, bagaimana bisa Shen Lihua tetap berdiri kukuh?


Dia bukan Ling Sui yang memiliki keluarga nomor satu yang mendukungnya. Dia masih sebuah bidak milik orang lain, yang menanggung banyak nyawa di keluarganya. Shen Jinglang pasti akan terus menggunakannya untuk meraih kesuksesan.


Dia juga benci menjadi bidak. Dia ingin berjalan dengan kakinya sendiri, kukuh di harem tanpa ancaman Shen Jinglang. Jika Shen Lihua hamil dan melahirkan anak Raja, dia bisa mendapatkan dukungan penuh dari istana, menggunakannya untuk melepaskan diri dan Shen Jinglang tidak akan bisa mengancamnya lagi.


Tapi, kapan itu akan terjadi?


Shen Lihua hanya bisa berangan-angan. Seandainya dia bisa lebih pintar dan menahan Raja di istananya malam itu, dia mungkin sudah bisa mendapatkan keinginannya.


Sayangnya, setiap kali melihat Raja dan matanya, Shen Lihua seakan lupa diri. Apakah dia benar-benar telah jatuh cinta pada Raja?


Ibu Suri menatapnya lagi. Jika dipikir, wanita-wanita yang masuk ke harem, kecuali Ling Sui, adalah wanita yang malang. Kedudukan tinggi yang didapat dibayar dengan harga yang sangat mahal: separuh hidup dihabiskan dalam sangkar emas dan kesepian.

__ADS_1


Dulu dia juga begitu, tapi setelah melahirkan putranya, dia mengubah pandangannya dan terbang tinggi. Hanya dengan mendapat kasih sayang Raja, mereka baru bisa mempertahankan kedudukan dan hidup. Shen Lihua mungkin juga begitu.


“Ratu, bersabarlah. Kamu adalah kandidat terbaik yang dipilih mendiang Ling Sui untuk meneruskan kedudukan. Aku harap kamu tidak melakukan hal-hal bodoh yang merugikan dirimu sendiri,” ucap Ibu Suri. Cara dia menatap Shen Lihua tidak lagi seperti tadi.


Shen Lihua juga terkejut akan perubahan mendadak ini. Dia menatap Ibu Suri, kata-katanya sedikit tertahan di tenggorokan dan hanya bisa berucap, “Terima kasih atas ajaran Ibu Suri.”


*


Su Min dan Fei Jia sedang duduk di taman istana. Musim semi tahun ini sudah memekarkan ratusan jenis bunga di taman kerajaan, memanjakan mata bagi para penikmat keindahan. Jika itu sebuah perjamuan, maka bunga-bunga sudah menjadi topik paling menarik untuk sebuah kontes puisi.


“Kali ini, Raja benar-benar pergi tanpa memberitahu siapapun. Bahkan aku, selirnya yang berasal dari Jinchuan sendiri juga tidak diberi tahu,” Su Min mengeluh, mengambil tehnya dan meminumnya tanpa minat.


Ia pikir Raja akan terbuka dan mengajaknya. Setidaknya, Su Min bisa pulang ke tanah airnya. Sudah berbulan-bulan dia meninggalkan Jinchuan, rasanya dia rindu pulang ke rumah. Siapa sangka Raja justru pergi diam-diam dan Su Min tidak bisa memohon ikut bersamanya.


“Raja punya pertimbangan sendiri. Tapi, aku yakin Tuan Besar Su pasti membantumu menaikkan reputasimu,” ucap Fei Jia.


“Siapa yang tahu? Ketika Pemangku Pedang ada di sisinya, rencana yang disusun matang pun bisa dimentahkan kembali.”


“Pemangku Pedang, huh, dia seperti duri dalam daging.”


“Tidak mungkin Raja jatuh cinta padanya, kan?”


Fei Jia seketika menatapnya dan mencibir, “Raja bukan pria hidung belang yang takluk pada kecantikan. Ratunya saja tidak dipedulikan, dan kita selirnya juga kesulitan mendekatinya. Apa yang bisa dilakukan wanita itu?”


“Kamu benar. Mungkin, Raja memang tidak suka pada wanita saja.”


“Tapi kita juga tidak bisa duduk diam seperti ini. Aku pikir, tidak apa-apa menggunakan sedikit trik.”


Fei Jia meliriknya, memberi sinyal. Su Min menggeleng. “Tidak, tidak. Terakhir kali Ratu mendapatkan titah hukuman kurungan dengan dalih belajar karena menggunakan cara itu.”


“Jika kita menciptakan situasi yang berbeda, maka hasil akhirnya mungkin akan berbeda,” ucap Fei Jia.


“Maksudmu?”


“Saat itu, Raja pergi ke Istana Changsun dan menenangkan diri. Jika kita bisa menjauhkan Pemangku Pedang dari Raja, aku tidak percaya Raja tetap bisa menahannya.”


“Selir Fei, pikiranmu ini sungguh sulit. Aku tidak mau mengambil risiko.”

__ADS_1


Dibandingkan menjebak Raja, Su Min lebih memilih diam di istana dan merencanakan lagi. Raja bisa saja menahan diri dari Ratu, tapi jika selir seperti mereka melakukan hal yang sama, akibatnya tidak bisa dibayangkan. Terlebih, ayah mereka sedang memiliki rencana sendiri dalam perebutan kekuasaan.


“Jika tidak mencoba, kita tidak akan tahu hasilnya,” Fei Jia dengan tenang berkata. Su Min hanya menatapnya tak percaya, menggelengkan kepalanya dan menjauhkan pikirannya dari pengaruh Fei Jia. Tidak, dia harus menahan diri.


__ADS_2