
Sudah satu hari berlalu sejak Li Fengran dan para gadis melumpuhkan penjahat. Demi menjaga perut dan stamina sembari menunggu pasukan pencari datang menemukan mereka, mereka secara alami bergantian mencari makan dan berjaga.
Li Fengran tidak tega membiarkan gadis-gadis cantik yang biasanya diam di rumah dengan sulaman dan berlatih kaligrafi menjadi terlantar. Terkadang saat mereka benar-benar lelah, Li Fengran yang akan menjaga mereka sendirian.
Malam ini, dia berjaga sendirian. Penjahat yang diikat di pohon menemaninya dalam mata tertutup. Dia menatap langit, menatap angkasa yang bermandikan cahaya bulan pertengahan musim semi.
Beberapa kali dia terlihat menghela napas. Pikirannya melayang memikirkan keadaan yang akan datang. Jika sampai besok Nangong Zirui tidak menemukan mereka, maka bertambahlah satu hari mereka terlantar. Seharusnya itu cukup untuk membuat ibukota gempar.
"Nona, mengapa kamu duduk di sini sendirian?" seorang gadis keluar dari tenda sederhana dan duduk di samping Li Fengran.
"Aku tidak bisa tidur."
Padahal, gadis itu tahu kalau Li Fengran sebetulnya sedang berjaga. Pemangku Pedang ini mengabaikan dirinya sendiri dan melewatkan jam tidurnya demi menjaga mereka agar tetap aman.
Selama dua hari ini, mereka sudah tahu seperti apa temperamen Pemangku Pedang yang sangat terkenal. Dia terlihat tegas dan sembrono, namun hatinya begitu hangat dan sangat peduli.
Seandainya dia yang jadi Ratu Donghao, mereka pasti akan sangat senang dan tidak akan berangan-angan menjadi pendamping raja. Sayangnya, wanita ini ditempatkan pada posisi Pemangku Pedang.
"Sudah dua hari kita di sini. Jika Raja tidak datang, apa yang akan Nona lakukan?" tanya gadis itu.
"Apa boleh buat, tidak ada pilihan selain mencari jalan pulang sendiri."
"Saya yakin Raja akan datang. Nona adalah pejabat wanitanya, satu-satunya, dia pasti datang."
"Aku harap juga begitu. Ngomong-ngomong, siapa namamu? Kita sudah melalui kesulitan bersama, tapi belum tahu nama masing-masing," ucap Li Fengran diselingi tawa.
Gadis itu juga tertawa.
"Namaku Song Jin'er."
"Kamu putri Menteri Keuangan, Song Jiaren?"
"Nona tahu?"
"Yah, aku beberapa kali melihat Menteri Song berdiskusi dengan Yang Mulia."
__ADS_1
"Meskipun aku putri Menteri Keuangan, itu tidak menjamin apapun."
Sorot mata Song Jin'er sedikit meredup.
"Mengapa?"
"Nona, aku terlahir dari seorang selir. Ibuku awalnya seorang pelayan cuci kaki. Jika bukan karena ayahku sedang mabuk, aku mungkin tidak akan terlahir ke dunia."
Song Jin'er meratap. Dia mengingat kembali hari-hari pahit ketika dia dan ibunya ditindas di kediaman, tidak diberi makan dan sering dipukul oleh istri ayahnya.
Song Jin'er sehari-hari seperti pembantu. Dia dikekang dan diperlakukan tidak adil. Jika bukan karena sedang ada perayaan, Song Jin'er tidak bisa keluar bermain. Siapa sangka dia malah diculik dan hampir dijual.
Li Fengran menghela napas. Lagi-lagi seperti ini. Apakah penting terlahir dari selir atau bukan? Jelas-jelas di dalam diri mereka mengalir darah dan daging orang tua mereka. Mana ada istilah anak haram! Hanya ada anak beruntung dan kurang beruntung saja!
"Lalu apakah mereka juga sama?" Li Fengran bertanya sembari menunjuk empat gadis lain yang sedang tidur. Song Jin'er mengangguk.
"Yang berbaju biru adalah Lin Jiarui, putri keempat Kepala Departemen Hukum. Sedangkan yang berbaju merah muda, namanya Lu Mengshao, putri kedua Asisten Menteri Ritus. Kalau yang berbaju kuning muda adalah Ding Yuan'er, putri kelima Menteri Pekerjaan. Yang terakhir, Gu Wanwan, putri Menteri Administrasi yang beberapa hari lalu bunuh diri. Mereka sama seperti saya, putri dari selir dan tidak disukai di kediaman."
Li Fengran mengangguk paham. Mungkin itulah alasan mengapa para penjahat ini berani menculik mereka. Hanya karena mereka tidak disukai, maka tidak akan ada orang yang peduli apakah mereka ada atau tidak ada.
"Hidup dalam keluarga seperti itu sangat sulit, kan?"
"Memang sulit. Tapi dibanding hidup di jalanan tanpa arah tujuan, sedikit menderita lebih baik."
"Aku tidak bisa membantu karena itu bukan kewenanganku. Tapi jika setiap keluhan terjadi tanpa dilaporkan, maka kapan wanita di dinasti ini bisa hidup nyaman?"
"Nona, apakah kamu berpikir bahwa wanita tidak hanya harus menjadi ibu rumah tangga?"
"Tentu saja. Jika pejabat sepertiku saja ada, maka ada lebih banyak kemungkinan untuk yang lain."
"Tapi, bagaimana dengan keluarga?"
"Tidak perlu mempedulikan pandangan orang lain. Hiduplah untuk diri sendiri."
Song Jin'er tersenyum cerah. Dia senang bertemu dengan wanita yang pemikirannya tidak komvensional dan memandang kesetaraan sebagai sebuah norma yang normal. Menjadi setara di zaman ini sulit, harus benar-benar berhasil jika ingin terlepas dari pembicaraan orang.
__ADS_1
Li Fengran memberinya keyakinan yang besar untuk maju. Pemangku Pedang benar, tidak perlu memedulikan pandangan orang lain. Mereka selama ini terbelenggu oleh aturan lama keluarga sehingga mereka tidak punya keyakinan, membuat mereka hidup untuk orang lain. Sudah saatnya hidup untuk diri sendiri.
"Setelah kita selamat dari bahaya hari ini, mulailah hidup untuk diri sendiri. Cari aku di istana kapan saja jika kamu butuh bantuan, Nona Song."
"Pemangku Pedang sungguh baik dan cerdas. Tidak heran Yang Mulia Raja menempatkanmu di sisinya. Kelak, Nona pasti sukses besar."
"Aku tidak berharap sukses. Aku hanya ingin hidup aman dan kaya seumur hidupku."
"Keinginan Nona ini siapa yang tidak mau?"
Li Fengran terkekeh.
"Apa terlalu muluk-muluk?" tanyanya.
"Tidak juga. Lalu bagaimana dengan cinta?"
"Cinta? Hm, aku tidak tahu harus menjawab apa."
Li Fengran bingung dengan kata cinta. Ada cinta di hatinya, tapi dia takut. Nangong Zirui bisa saja ia gapai, tapi bisakah dia benar-benar mengabaikan yang lainnya?
Entahlah, hanya waktu yang bisa membuktikannya.
"Aku yakin banyak orang yang menyukai Nona. Nona adalah bakat satu dari ribuan orang."
"Kamu akan menjumpai lebih banyak orang sepertiku jika berkunjung ke kampung halamanku."
"Apakah para wanita Danchuan memang selalu berbakat?"
"Em, bukan Danchuan. Kampung halamanku sangat jauh."
"Maka Nona pasti merindukan kampung halaman Nona."
Li Fengran menatap angkasa. Bintang-bintang berkelip bersama cahaya bulan.
"Ya, aku memang sedikit rindu kampung halaman."
__ADS_1