
Saat Mo Wei mengawasi pemeriksaan pembukuan, Nangong Zirui membawa Li Fengran ke utara, ke kawasan yang dilanda banjir bandang musim semi. Setelah sekitar dua jam, mereka sampai. Pemandangan pertama yang ia jumpai adalah sisa-sisa bangunan yang sudah bercampur dengan lumpur dan roboh di mana-mana.
Padahal ini sudah musim semi, tapi sisa-sisa bencana banjir karena mencairnya es di sungai masih belum kering. Selain noda cokelat, Li Fengran tidak menemukan warna apapun yang bisa membuat seseorang merasa hidup. Tempat ini kental dengan bau kematian, tapi juga kental dengan napas kehidupan.
Bencana banjir musim semi melanda beberapa desa. Pemerintah Jinchuan telah membangun beberapa pos bantuan sebelumnya. Para korban bencana ditampung sementara di sebuah bangunan, lalu ada beberapa tenda darurat yang didirikan sebagai dapur umum.
Hati Li Fengran merasa sakit. Mereka yang ada di sini, sungguh berbanding terbalik dengan yang ada di pusat kota dan ibukota.
Tidak hanya kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian, mereka juga kehilangan keluarga dan kerabat. Tanpa terasa air matanya sedikit mengembang di pelupuk matanya.
“Ayo,” Nangong Zirui membantunya turun dari kereta.
Saat itu, dapur umum baru selesai membuat bubur. Para penduduk mengantri dengan patuh sambil membawa mangkuk dan gelas. Beberapa orang yang sadar diri mendahulukan orang tua dan anak-anak.
Para petugas pembagi bubur masih sibuk memindahkan bubur cair ke dalam mangkuk, sementara petugas lain berkeliling untuk memastikan tidak ada korban bencana yang terlewat. Nangong Zirui membawa Li Fengran berkeliling, melihat-lihat pengungsian yang sangat sederhana tersebut.
“Yang Mulia, apakah mereka tidur dengan nyenyak di tenda-tenda ini?” tanya Li Fengran. Dia sulit membayangkan ketika malam dingin tiba, mereka harus berdesak-desakan di dalam tenda dan menahan suhu dingin sampai pagi.
“Nyenyak atau tidak, bukan hal penting bagi mereka. Yang terpenting adalah mereka masih mendapat tempat untuk tidur. Terkadang, seperti ini lebih baik daripada tidur di alam terbuka.”
Keadaan memaksa mereka menerima segala sesuatu. Banjir musim semi adalah bencana tahunan yang kerap melanda daerah-daerah di sekitar aliran sungai.
Nangong Zirui pernah bercerita kalau pembangunan benteng pembatas sedang dilakukan dan hampir rampung. Ia berharap setelah benteng dibangun, aliran sungai yang menderas setelah musim dingin berlalu tidak dapat meluber ke pemukiman warga lagi.
Selain membangung benteng pembatas, Nangong Zirui juga memerintahkan seluruh bawahannya untuk memperbaiki rumah-rumah warga yang rusak.
Ketika Li Fengran melihatnya, rumah-rumah yang sudah rusak itu hampir dipulihkan sebanyak lima puluh persen. Mungkin setelah dua minggu atau satu bulan, para penduduk akan kembali mendapatkan tempat tinggal.
Dalam hal ini, Li Fengran mengagumi kecepatan kerja dan ketepatan tindakan Nangong Zirui. Sebagai Raja, dia benar-benar ingin menolong rakyatnya. Padahal pekerjaan semacam ini seharusnya bisa diperintahkan kepada kementrian tanpa harus terjun secara langsung.
“Petugas Kementrian Sosial dan pemerintah Jinchuan bekerjasama untuk membangun kembali wilayah bencana. Mungkin tidak lama lagi, tempat ini akan pulih,” ucap Nangong Zirui.
“Yang Mulia, kamu hebat dalam perencanaan dan pemulihan. Karena kamu sudah menanganinya dengan baik, mengapa kamu repot-repot mengutusku kemari?”
__ADS_1
“Xiao Feng, kamu adalah Pemangku Pedang Raja. Ada banyak tanggungjawab yang harus dipikul di pundakmu. Aku mengutusmu kemari karena ingin kamu belajar bagaimana cara menangangi situasi.”
Tentu saja itu hanya salah satu alasan. Masih ada alasan lain mengapa Nangong Zirui mengutus Li Fengran, yang tidak akan dia sebutkan atau dia beritahu.
Li Fengran menatapnya penuh curiga. Nangong Zirui di matanya bukan orang yang punya satu rencana. Dia pasti sedang ingin memanfaatkannya.
“Alasan yang bagus. Tapi, Yang Mulia, memberikan bantuan pangan dengan membagikan bubur bukan solusi jangka panjang.”
“Aku tahu. Ikutlah denganku dan lihat apakah perencanaanku ini sempurna atau tidak.”
Kemudian, Nangong Zirui membawa Li Fengran ke bagian paling barat dari kamp pengungsian. Di sana, tanahnya subur dan tidak terdampak banjir. Karena agak tinggi, perlu beberapa usaha untuk sampai. Hal pertama yang dilihat Li Fengran adalah sekumpulan orang yang sedang membersihkan rumput liar.
“Yang Mulia, ini?” Li Fengran meminta penjelasan.
“Lahan di sini subur dan tidak terdampak. Aku ingin para penduduk yang kehilangan ladang kembali menemukan mata pencaharian. Jadi, aku menyuruh para pengawal untuk membuka lahan baru.”
“Beberapa hari lagi, petugas akan datang membawa benih dan bibit baru. Selagi menunggu tempat tinggal diperbaiki, para penduduk yang sehat sudah bisa bekerja kembali.”
Sungguh Raja yang sangat perhatian!
Li Fengran merasa dialah yang tidak berguna. Dia hanya berpikir praktis dari sudut pandangnya sendiri. Orang-orang kaya di Jinchuan itu pelit, jadi dia hanya berpikir memberi pelajaran pada mereka tanpa memikirkan apa yang seharusnya dia lakukan untuk memberi manfaat. Ya ampun, mengapa dia sebodoh ini?
“Kenapa? Merasa malu?” tanya Nangong Zirui seakan tahu pemikiran Li Fengran. Li Fengran mendelik dan terdiam. Nangong Zirui kemudian menyeringai.
Nangong Zirui mengambil cangkul dan memberikannya pada Li Fengran. “Karena kamu adalah Pemangku Pedang, kamu adalah kaki tanganku. Jadi, wakili aku untuk membantu bawahanku menggali tanah.”
“Yang Mulia menyuruhku mencangkul?”
Nangong Zirui mengangguk sembari menampilkan senyum liciknya.
“Tapi, aku tidak bisa mencangkul!”
“Kamu bisa.”
__ADS_1
“Tidak bisa, Yang Mulia. Bagaimana jika aku malah mencangkul kakiku sendiri?”
“Tidak akan.”
“Yang Mulia,” Li Fengran memelas.
Nangong Zirui menggelengkan kepalanya, menolak Li Fengran yang memelas.
“Xiao Feng, ayo bantu aku meringankan bebanku.”
Li Fengran mengembuskan napas. Dengan ragu, dia turun ke lahan yang sudah dicangkul sebagian bersama bawahan Nangong Zirui dan para penduduk yang sehat, lalu dengan perlahan mengayunkan cangkulnya. Sayangnya, dia tidak mengerahkan tenaganya hingga cangkulnya memantul dan tangan Li Fengran bergetar seperti tersengat listrik.
“Xiao Feng, kerahkan tenagamu yang besar itu dan coba lagi!” teriak Nangong Zirui dari dekat tenda peristirahatan. Li Fengran mendelik kesal, lalu mencoba lagi. Lagi-lagi cangkulnya terpental karena ayunannya tidak bertenaga.
“Mengapa tanah ini keras sekali?” gerutunya. Seorang warga yang mencangkul tidak jauh darinya kemudian berkata, “Tuan, bukan tanahnya yang keras, tapi tenaga Tuan yang tidak disalurkan dengan benar.”
Di tenda, Nangong Zirui menahan tawanya. “Kamu dengar itu, kan? Xiao Feng, sudah kubilang kerahkan tenagamu!”
Li Fengran sangat ingin menyumpal mulut Nangong Zirui dengan kain. Dia tiba-tiba menyesal telah ikut berkeliling bersama Nangong Zirui. Kalau tahu pria itu akan menyuruhnya mencangkul, lebih baik tadi dia bergabung dengan yang lain dan membagikan bubur.
Seumur hidupnya, Li Fengran tidak pernah mencangkul atau turun ke ladang. Tangannya digunakan untuk mengetika rentetan huruf di komputer atau menuliskan hal-hal penting di kantor. Kakinya digunakan untuk mengunjungi berbagai tempat proyek dan gedung. Mencangkul seperti ini, dia benar-benar tidak berpengalaman.
“Xiao Feng, ayo jangan menyerah! Ayunkan lagi cangkulnya dan buat tanah ini bisa ditanami!”
Li Fengran mengambil cangkulnya lagi. Sembari cemberut, dia mengayunkannya dengan tenaga yang besar. Berhasil! Cangkulnya menembus tanah! Tapi, mengapa sangat dalam? Cangkulnya sudah tertanam, tapi Li Fengran kesulitan mengambilnya dan membalikkan tanahnya!
Li Fengran menariknya sekuat tenaga, namun cangkulnya tidak bisa ditarik. Dia mengepalkan tangan, mengeluarkan tenaga maksimal untuk menariknya keluar. Tanpa diduga, tanahnya terbalik dan cangkulnya terlepas! Tidak mampu mengontrol tenaga, dia kehilangan keseimbangan dan jatuh telentang.
Pemandangan langit yang cerah menyambangi matanya. Telinganya mendengar suara gelak tawa yang renyah dari sekitar dan dari arah tenda. Orang-orang menertawainya yang jatuh terjengkang ke belakang sementara cangkulnya entah mendarat di mana.
“Xiao Feng, aku menyuruhmu mencangkul, bukan tiduran di atas tanah!” Nangong Zirui berteriak puas.
Baru kemudian Li Fengran menyadari kalau dia baru saja dikerjai!
__ADS_1