
Entah mengapa bandit bermata satu yang menjadi pimpinan para bandit itu menyetujui perkataan Li Fengran. Bahan pangan dibagi dua, setengahnya masih akan dikirim ke Jinchuan untuk membantu korban bencana.
Li Fengran menyuruh Menteri Sosial agar dia melanjutkan perjalanan dan memintanya untuk membuat alasan yang bagus mengenai hilangnya setengah jumlah bantuan. Sementara itu, Mo Wei diminta kembali ke ibukota dan melaporkan situasinya pada Raja, sehingga jika Raja marah, Mo Wei tidak akan terkena imbas karena Li Fengran yang akan menanggungnya.
Mo Wei awalnya bersikeras menolak pergi karena bagaimanapun ini adalah tugasnya, namun Li Fengran tetap memaksanya dan tidak memberinya pilihan lain. Setelah berunding, para bandit kemudian membawa Li Fengran dan setengah jumlah bantuan pangan, sementara Mo Wei dan Menteri Sosial menuruti permintaan Li Fengran.
“Kakak bandit, pelan-pelan! Aku tidak punya kaki yang panjang yang bisa menyusul langkah besar kalian!” seru Li Fengran.
Untuk mengamankannya, bandit bermata satu itu mengikat tangan Li Fengran dengan tali dari potongan kain. Li Fengran secara otomatis seperti seorang sandera yang menawarkan dirinya sendiri. Begitu mendengar seruan yang berupa keluhan tersebut, bandit bermata satu kemudian menginstruksikan agar para saudaranya tidak berjalan terlalu cepat.
“Nah, begitu bagus. Aku jadi tidak terlalu kesusahan.”
“Dasar wanita bodoh. Mengapa kamu ingin menjadi sandera?”
“Karena aku lebih berharga dari setengah bahan pangan yang kalian ambil.”
Bandit bermata satu tidak menanggapi. Dia sendiri bingung mengapa dirinya setuju dengan perkataan konyol Li Fengran. Sepanjang karirnya sebagai bandit yang suka menjarah dan merampok milik orang, dia tidak pernah menemui seseorang yang begitu berani dan berpemikiran tidak masuk akal seperti itu.
Seumur hidupnya, kebanyakan korbannya langsung pergi menyelamatkan nyawa, tapi wanita ini malah menawarkan dirinya menjadi sandera. Mungkin karena Li Fengran mengatakan bahwa ‘ini adalah kesalahan rajamu’ kepada Mo Wei, dia merasa sedikit tersentuh.
Jalan yang menanjak kemudian mulai menjadi landai. Beberapa meter di depan, terlihat sebuah gapura yang terbuat dari kayu, persis seperti pintu masuk ke sebuah perkampungan. Bandit-bandit tersebut menggiringnya masuk dan pemandangan di depan mata Li Fengran telah mengejutkannya.
Tempat ini… adalah sebuah desa yang sarat akan penduduk. Beberapa anak kecil berlarian memeluk kaki bandit bermata satu begitu melihat rombongan tiba, wajah mereka sarat akan kebahagiaan. Mereka menggelayuti kaki bandit bermata satu seperti siluman kecil yang menempel pada kulit pohon, imut dan menggemaskan.
“Paman Chen, mengapa kamu membawa seorang kakak cantik kemari?” salah seorang anak itu bertanya pada si bandit. “Apakah dia akan juga terlantar dan ditemukan olehmu?”
“Xiao Shi, pergilah dulu temui Bibi Xu. Paman punya urusan dengan kakak cantik ini.”
Setelah itu, anak-anak tersebut membubarkan diri. Li Fengran tersadar akan situasinya, kemudian dia menyadari sesuatu. Desa ini, adalah desa para bandit tersebut. Itu sangat jauh berbeda dengan gambaran desa para penjahat yang kumuh dan gelap.
__ADS_1
Di sini, dia bisa melihat sebuah kehidupan nyata yang ceria. Anak-anak bermain di halaman yang luas, sementara para wanita menjadi ibu rumah tangga. Li Fengran menduga kalau para bandit ini adalah suami-suami dan warga dari desa tidak dikenal ini, yang menggantungkan hidup dengan merampok barang orang lain.
“Anak bernama Xiao Shi itu memanggilmu Paman Chen. Tampaknya, kamu adalah orang yang dihormati dan disegani di sini,” ucap Li Fengran. Dia dibawa ke sebuah rumah kayu yang cukup besar, paling besar di antara rumah-rumah yang lain yang dilihatnya.
Bandit bermata satu itu tidak menanggapi. Dia melepas ikatan di tangan Li Fengran dan membuatnya bebas. “Kalau kamu tertarik, pergi saja.”
“Kakak bandit, siapa namamu?”
“Chen Ping.”
“Chen Ping? Apa hubunganmu dengan Chen Pang dari Zichuan itu?”
Chen Ping tertegun. Dia terdiam beberapa saat sebelum ekspresi wajahnya perlahan berubah menjadi jelek. Li Fengran juga tidak tahu mengapa dirinya tiba-tiba menanyakan itu. Mendengar seseorang menyebutkan marga Chen, dia jadi teringat Chen Pang si gendut kurang ajar dari Zichuan itu.
“Apa dia saudaramu?” tanya Li Fengran lagi setelah pertanyaan sebelumnya tidak terjawab.
“Ah, jadi kalian saudara tiri. Dia menjadi pengawal penguasa Zichuan, kamu menjadi bandit gunung. Biar kutebak, apakah dia menindasmu dan mengusirmu?”
Chen Ping kelihatan tidak nyaman. Tidak disangka wanita ini tahu Chen Pang. Chen Ping dan Chen Pang memang saudara seayah, tapi itu bertahun-tahun yang lalu. Ibunya Chen Ping hanya seorang wanita penghibur dari rumah bordil yang tidak sengaja hamil anak dari ayah mereka, sementara ibu Chen Pang adalah istri sah ayahnya.
Karena merasa malu suaminya menghamili penghibur, Chen Ping hanya bisa menjadi anak tidak sah setelah ibunya meninggal. Dia selalu ditindas oleh Chen Pang yang usianya dua tahun lebih tua darinya.
Penindasan Chen Pang-lah yang membuatnya kehilangan sebelah matanya. Sakit hati dan tidak terima, Chen Ping kemudian pergi dari rumah keluarga Chen dan memilih berkelana di dunia luar dan menjadi bandit seperti sekarang.
“Kamu seorang sandera, hak apa yang kamu miliki untuk bicara soal keluargaku?”
“Apakah kamu tahu, saudaramu itu pernah hampir melecehkanku? Untung saja aku berhasil menghajarnya sampai babak belur!” ucap Li Fengran begitu ingat pertarungan menyebalkan hari itu. “Aku tidak menyangka kalau bajingan brengsek yang mesum itu ternyata punya saudara seorang bandit gunung.”
“Sudah kubilang dia bukan saudaraku!”
__ADS_1
“Baiklah, baiklah, aku tidak akan membicarakannya lagi. Ngomong-ngomong, apakah kamu adalah pemimpin desa ini?”
Chen Ping tidak menjawab. Li Fengran menatapnya lekat-lekat, menelisik perubahan ekspresi dan emosi di wajahnya. Walau hanya bermata satu, Chen Ping ini sebetulnya terbilang tampan. Jika saja wajahnya tidak tertutup debu dan tidak terpapar cahaya radiasi matahari, dia bisa menjadi salah satu pemuda yang disukai banyak wanita.
“Aku melihat mereka menghormatimu. Katakan, apakah kalian merampok orang untuk menghidupi desa?” tanya Li Fengran.
“Gunung ini terlihat subur, tapi tanaman tidak selalu bertumbuh dengan baik. Kebanyakan penghuni desa adalah penjahat yang sudah bertobat dan para gelandangan yang tidak punya tempat tinggal. Sejak didirikan, desa ini sudah menampung banyak orang miskin dan yatim piatu,” Chen Pang berkata lirih.
“Raja tentu tidak akan memperhatikan rakyat kecil seperti kami. Kami hanya mengambil sebagian yang seharusnya menjadi hak kami tanpa berniat membunuh seorang pun.”
“Siapa bilang dia tidak peduli? Raja hanya tidak mengetahuinya saja.”
Chen Ping terkekeh. Semua orang tahu kalau Raja Nangong juga sedang terdesak oleh tiga kekuasaan negara bagian. Dia mana ada waktu memperhatikan rakyat sepertinya, yang hidup dengan makan sekali dan harus memikirkan untuk esok hari. Chen Ping dan warga desanya hanya bisa mengandalkan diri sendiri agar tidak mati.
“Kamu hidup nyaman sejak lahir, mana mungkin merasakan kekhawatiran tidak dapat makan di hari esok.”
Li Fengran kemudian mencabut giok pemberian Nangong Zirui yang tersampir di pinggangnya dan memberikannya kepada Chen Ping. “Ambillah, giok ini setidaknya berharga sampai tiga ribu tael. Tetapi jika kamu menyimpannya, itu akan lebih berguna dan nilainya jadi tidak ternilai.”
Chen Ping memperhatikan sekilas giok di tangannya. Pola ukirnya unik dan sangat halus. Perkataan Li Fengran ini sepertinya jujur. Dengan sedikit kecurigaan di muka, dia menyusupkan giok tersebut ke dalam bajunya lalu menghela napas. Baru kali ini dia melihat wanita yang aneh seperti Li Fengran.
“Karena kamu memilih menjadi sandera, maka berpuas-puaslah berkeliling sampai Raja datang menjemputmu.”
“Apakah kamu tidak tahu kalau dia datang mencariku, desamu akan hancur dan kamu bisa mati?”
“Bukankah kamu menyuruhku untuk percaya padanya sekali?” ucap Chen Ping. Giok itu, sudah jelas merupakan giok pemberian Raja. Chen Ping tahu kalau Li Fengran bermaksud memintanya mempercayai dia dan Raja kali ini saja.
“Hehe. Apakah sejelas itu?”
Chen Ping tidak menjawabnya.
__ADS_1