
Saat malam sudah larut, Nangong Zirui dan Li Fengran baru kembali ke kediaman Tuan Besar Jinchuan. Su Ren dan kepala pengurus kediamannya tampak menunggunya di gerbang dengan harap-harap cemas. Begitu melihat sosok Nangong Zirui, ekspresi mereka berubah tenang dan mereka bergegas menghampirinya.
“Yang Mulia, mengapa Yang Mulia baru kembali? Saya khawatir dan baru saja hendak mengirim seseorang untuk mencari Yang Mulia.”
Ucapan Su Ren dibalas delikan mata oleh Li Fengran. Su Ren ini pasti hanya membual dan menjilat. Jika dia betul-betul berniat mencari Nangong Zirui, seharusnya sejak sore dia mengirimkan orang-orangnya. Ini hanya sekadar formalitas agar Su Ren terlihat sangat mengkhawatirkan Raja.
Bagaimanapun, jika Raja hilang di daerah kekuasaannya, dia sendiri yang akan menanggung akibat dan ini bukan saat yang tepat memulai kekacauan.
Nangong Zirui tidak menanggapi dengan serius, dia hanya menatap sebentar kemudian berkata, “Aku teringat bahwa Jinchuan adalah tanah leluhur keluarga Ling.”
Su Ren sedikit terkejut. Pasalnya jauh dua generasi sebelumnya, kekuasaan Jinchuan berada di tangan keluarga Ling. Hanya saja suksesi tiba-tiba berubah setelah keluarga Ling mengalami suatu peristiwa dan memutuskan pindah ke ibukota, membangun reputasi baru sebagai keluarga bangsawan besar.
Itu adalah sedikit sejarah yang menjadi duri dalam daging Su Ren. Zichuan, Mochuan, dan Danchuan selalu dikuasai oleh keluarga yang sama sejak generasi pertama dinasti, berbeda dengan Jinchuan yang mengalami peralihan ke keluarga Su. Mengingat Raja mengungkitnya, hati Su Ren agak tidak nyaman tapi dia tidak bisa mengekspresikannya.
“Yang Mulia masih sangat menghormati keluarga Ling, itu adalah kehormatan yang besar. Yang Mulia pasti lelah, mari, saya akan mengantarkan Yang Mulia ke tempat peristirahatan.”
Yah, Su Ren memilih mengakhiri pembicaraan lebih cepat daripada menunggu topik menyebar ke yang lain. Nangong Zirui juga tidak mempermasalahkan, dia mengikuti Su Ren sembari melihat-lihat sekeliling. Kediaman Penguasa Jinchuan ini megah dan luas, sangat kontras dengan rumah-rumah penduduk di pinggiran kota yang jauh dari keramaian.
Awalnya, semuanya terlihat normal. Namun setelah tiba di sebuah halaman, Li Fengran mulai merasa aneh. Kediaman ini tidak berbeda dengan kediaman lain, hanya saja terdapat beberapa tanda yang menunjukkan sesuatu.
Li Fengran membaca tulisan di papan yang berbunyi “Taman Plum” dan menganalisisnya selama beberapa saat sebelum berkata, “Tuan Besar Su, kamu membawa Yang Mulia ke kediaman wanita?”
Su Ren sedikit tersentak. Dengan senyum liciknya dia menjawab, “Pemangku Pedang, ini adalah kediaman putriku, Su Min yang sekarang menjadi selir Yang Mulia. Saya pikir lebih baik Yang Mulia tinggal di sini.”
Rubah tua sialan! Dia ingin memanfaatkan Raja untuk menyokong reputasi putrinya!
“Tuan Besar Su, aku mengerti kamu sangat mencintai putrimu. Tetapi, Yang Mulia datang dengan identitas Raja, bukan sebagai menantumu.”
Li Fengran tidak akan membiarkan Su Ren memanfaatkan kehadiran Nangong Zirui sebagai batu loncatan untuk Selir Su di harem! Jika ingin naik ke puncak tertinggi, harus mengandalkan diri sendiri. Su Ren jadi canggung, ia lupa mempertimbangkan keberadaan Pemangku Pedang yang sangat cermat dan pemikirannya sulit ditebak ini.
“Ini… Yang Mulia, bagaimana menurut Yang Mulia?”
“Pemangku Pedang benar. Tidak adil bagiku jika menginap di kediaman wanita. Beri aku kediaman yang tenang.”
__ADS_1
Su Ren akhirnya mengalah dan membawa mereka ke kediaman lain. Kali ini, tempatnya cukup luas dan sangat tenang. Bangunan utamanya megah namun tidak terlalu mencolok. Halamannya luas dan banyak dihiasi lentera serta tanaman-tanaman yang dirawat dengan sempurna.
Nangong Zirui mengangguk puas, kemudian menyuruh Su Ren agar kembali. Dia dan Li Fengran duduk di kursi taman yang terbuat dari batu yang dipahat, seorang pelayan kediaman kemudian datang membawa nampan berisi teh dan camilan. Setelah itu, dia pergi meninggalkan mereka.
“Xiao Feng, kenapa kamu menekuk wajahmu di depanku?” tanya Nangong Zirui yang melihat ekspresi Li Fengran tak kunjung membaik setelah tiba di sini.
“Si rubah tua licik itu ingin menaikkan reputasi putrinya. Sebagai Raja, Yang Mulia, kamu sangat tidak peka!”
“Benarkah?”
“Kamu tahu kalau kamu hampir saja dijadikan batu loncatan? Lebih bagus jika Selir Su juga di sini sekalian!”
Nangong Zirui terkekeh. Kekehannya berubah menjadi seringaian jahat. Dia berdiri, berjalan ke sisi Li Fengran dan membungkukkan tubuhnya. Li Fengran refleks menghindar, tubuhnya agak ke belakang. Nangong Zirui berada terlalu dekat dengannya, dia kesulitan bernapas!
“Kenapa? Kamu tidak rela?” tanya Nangong Zirui.
“Tidak rela apanya? Aku hanya tidak ingin Yang Mulia dimanfaatkan.”
“Itu… itu tidak sama.”
“Lalu katakan di mana letak perbedaannya.”
Nangong Zirui semakin mencondongkan tubuhnya dan wajahnya sudah sangat dekat dengan wajah Li Fengran.
“Aku hanya tidak ingin menteri-menterimu berkomentar kalau aku tidak bisa melindungi Yang Mulia sebagai Pemangku Pedang. Jadi, ketika seseorang ingin memanfaatkanmu untuk keuntungan dirinya sendiri, aku akan mencegahnya.”
“Kalau begitu, aku harus berterima kasih pada Pemangku Pedang yang telah melindungiku dengan segala usaha.”
Selepas itu, Nangong Zirui mengembalikan posisi tubuhnya dan berdiri tegap. Rasanya sangat menyenangkan menggoda Li Fengran seperti tadi.
Dia suka melihat Li Fengran gugup dan ketakutan saat didekati, dia suka saat wanita itu kesal karena orang lain ingin memanfaatkannya. Nangong Zirui sedikit mencium bau asam, tapi tidak berani memastikannya.
Li Fengran menarik napas lega. Astaga, semakin hari Nangong Zirui semakin sering menggodanya! Jika terus begini, lama-lama jantung Li Fengran akan terserang penyakit dan hatinya jadi gelisah. Tidak, tidak, ini tidak benar. Lebih baik memikirkan yang lain!
__ADS_1
“Yang Mulia, kamu bilang kalau Jinchuan sangat kaya dan taat pajak, tapi mereka tidak bermoral dalam sosial dan tidak berempati?” tanya Li Fengran.
Nangong Zirui tahu wanita itu mengalihkan topik dan situasi. Dia mengikutinya, ingin tahu apa yang ingin dilakukan oleh Li Fengran. “Ya.”
“Bahkan jika Raja sendiri yang meminta mereka menyumbangkan dana dan memberi bantuan?”
“Mereka akan berdalih dan menyumbang dengan jumlah yang sedikit,” ucap Nangong Zirui.
Para pengusaha dan orang kaya di Jinchuan pelit. Mereka hanya taat membayar pajak, tapi bukan berarti punya hati yang baik.
Terhadap kesulitan dan kesusahan penduduk lain, mereka selalu enggan membantu dan menutup mata. Tidak peduli sehancur apapun reputasinya, mereka masih akan menggenggam erat harta di tangan mereka.
Nangong Zirui sudah sangat geram dan beberapa kali meminta mereka untuk datang membantu. Tapi, hasil akhirnya hanyalah sebuah kesepakatan yang merugikan. Lama-lama, Nangong Zirui muak dan berangsur-angsur mengabaikan para orang kaya pelit itu.
Apakah Li Fengran mencoba mencari cara baru untuk mengatasi mereka?
“Mereka lebih suka menghabiskan uang di rumah bordil daripada menyumbang dana bantuan.”
Li Fengran berdecak dan mengepalkan tangannya. Para hidung belang itu benar-benar membuat geram dan sakit kepala! Di saat orang lain kesulitan untuk hidup karena tidak bisa makan akibat bencana, mereka malah bersenang-senang dan dengan mudah menghabiskan uang. Benar-benar keparat!
“Rumah bordil? Yang Mulia, sepertinya aku menemukan cara untuk mendapatkan uang mereka dengan cuma-cuma.”
Nangong Zirui menatap curiga.
“Xiao Feng, apa yang ingin kamu lakukan?”
“Yang Mulia akan tahu. Besok jika Yang Mulia bertemu dengan Mo Wei, tolong sampaikan padanya untuk datang kepadaku. Dia harus meminta maaf dan menebus kesalahannya.”
“Kesalahan apa yang telah dia buat padamu?”
“Membuat Yang Mulia meninggalkan istana.”
Nangong Zirui seketika mendelik. Wanita ini benar-benar perhitungan.
__ADS_1