The Choice Queen

The Choice Queen
TCQ 38: Api Unggun


__ADS_3

“Yang Mulia! Yang Mulia! Gawat! Pemangku Pedang pergi merampok bersama bandit gunung!”


Teriakan Mo Wei seketika menggema memenuhi aula yang sunyi pada malam itu. Nangong Zirui yang sedang menulis dan memberi cap pada dokumen seketika berhenti dan terdiam, lalu menatap lekat-lekat Mo Wei yang baru tiba. Dia melihat pengawalnya itu bernapas seperti ikan di daratan, seperti hampir mati dan paru-parunya dijejali banyak udara.


“Bicara yang jelas! Bukankah aku menyuruhmu pergi ke Jinchuan? Mengapa kamu kembali?” Nangong Zirui bertanya dengan nada kesal.


“Yang Mulia, awalnya memang begitu. Kami sudah setengah perjalanan, tapi tiba-tiba dicegat bandit di Gunung Shanxi. Pemangku Pedang menyuruh kami membagi dua bahan bantuan, dia sendiri malah ikut bersama para bandit sebagai ganti dan jaminan!”


Nangong Zirui menahan keterkejutannya dalam hati. Dia memperhatikan semua ucapan itu dan mencernanya baik-baik. “Pemangku Pedang menyuruh Menteri Sosial tetap pergi ke Jinchuan dengan setengah jumlah bahan pangan, sementara aku disuruh kembali ke ibukota dan melaporkan situasi pada Yang Mulia.”


“Apa dia mengatakan sesuatu padamu sebelum pergi?”


“Pemangku Pedang bilang, ini adalah kesalahan Raja. Itu saja.”


Setelah berpikir sejenak, Nangong Zirui akhirnya mengerti. Gadis itu tidak akan berbuat tanpa ada alasan pasti. Seharusnya dia menyadari sesuatu sehingga dirinya berani mengatakan itu dan pergi sendirian. Gadis ini benar-benar pandai membuatnya khawatir dan menambah pekerjaannya!


“Wang Bi, siapkan kuda. Suruh orang untuk membuka gudang harta dan kirimkan ke Gunung Shanxi!”


“Yang Mulia, tidak boleh, ini sudah malam. Sebaiknya Yang Mulia menunggu hari yang terang jika ingin pergi!” Wang Bi melarang karena khawatir jika pergi malam-malam begini tanpa perencanaan. Apa kata para menteri besok jika tahu Raja tiba-tiba tidak menghadiri rapat pengadilan dan tidak ada di istana?


Tapi, seruannya tidak mempan. Sekali Nangong Zirui memberi perintah, akan sulit membuatnya mundur. “Apakah rakyatku masih bisa menunggu sampai besok?”


Wang Bi tidak bicara lagi dan bergegas menjalankan perintah.


Sementara itu, Li Fengran menghabiskan harinya dengan mengelilingi desa. Orang-orang di desa tersebut awalnya merasa asing, namun kemudian beberapa bandit yang sebelumnya bertemu mengatakan kalau Li Fengran adalah tamu dan perlahan mereka mengubah sikapnya. Li Fengran dapat dengan leluasa berkeliaran, memperhatikan semua kegiatan yang dilakukan oleh penduduk desa.


Chen Ping sudah lama pergi dan tidak kembali sampai sore. Mungkin, bandit bermata satu itu kembali turun gunung untuk merampok atau pergi ke tempat lain untuk mengerjakan sesuatu. Li Fengran tidak peduli lagi, lagipula dia di sini bukan untuk berekreasi. Sesekali dia membantu penduduk yang kesusahan atau menjadi teman bercerita para wanita yang kurang kerjaan.


Dari mereka, dia tahu latar belakang desa ini. Persis seperti yang dikatakan oleh Chen Ping, desa kecil ini adalah desa yang menampung orang-orang terlantar. Karena musim dingin baru berlalu, tumbuhan dan kebun di gunung masih belum bisa ditanami sehingga persediaan pangan mulai berkurang.


Biasanya pada saat seperti ini, para pria akan turun gunung untuk mencari dengan merampok atau menjarah barang yang dibawa oleh orang-orang yang melintas di bawah gunung.


Tangan Li Fengran tiba-tiba ditarik seorang anak kecil ketika dia berjalan-jalan.

__ADS_1


“Kakak cantik, apakah kamu ingin bermain dengan kami?”


Li Fengran membungkukkan badannya untuk melihat anak kecil tersebut dan mendapati dia adalah Xiao Shi. Li Fengran menyunggingkan senyumnya setelah melihat wajah anak kecil tersebut dipenuhi dengan gula-gula yang lengket. Anak ini cukup menggemaskan.


“Xiao Shi, permainan apa yang ingin kalian mainkan?”


“Ayo, kakak cantik!”


Xiao Shi menarik tangan Li Fengran dan memaksanya pergi bersamanya. Anak-anak desa berkumpul di tepi sebuah danau kecil yang menampung air untuk kehidupan penduduk desa. Seberang danau itu berbatasan langsung dengan hutan yang rimbun, yang mengalirkan udara sejuk untuk dihirup semua orang.


Xiao Shi dan teman-temannya mengambil beberapa batu kerikil di tangan, wajah mereka menunjukkan minat yang tinggi. “Kakak, ayo bermain lempar batu. Siapa yang lemparannya paling jauh, dia yang menang.”


Kemudian, satu persatu anak-anak itu melemparkan batu dan menghitung berapa kali batu lemparan mereka memantul di atas permukaan danau sebelum tenggelam. Ketika ada yang lebih dari tiga kali memantul, mereka akan bersorak seolah baru mendapat angpau di tahun baru. Jika ada yang pantulannya sedikit, maka mereka akan melemparnya lagi setelah sedikit mengejek.


“Kakak canti, sekarang giliran kamu!” Xiao Shi memberi Li Fengran satu buah kerikil dan menyimpannya di telapak tangannya.


“Aku juga harus melempar?”


“Tentu saja.”


“Kakak cantik, kamu bahkan lebih bodoh dari Xiao Shu. Bukan begitu cara melemparnya!” Xiao Shi tertawa mengejek. Li Fengran sedikit malu karena kemampuannya ternyata payah.


“Kakak cantik, kamu harus melemparkannya rendah, sampai batunya memantul. Bukan melemparnya seperti melempar senjata!”


“Ah, aku payah dalam lemparan. Bagaimana jika kalian bermain yang lain?”


Anak-anak serempak menggelengkan kepala.


“Mengapa?” tanya Li Fengran penasaran. Xiao Shi kemudian menjawab, “Hari ini tidak bisa bermain lagi. Hari sudah sore, para orang tua kami sedang menyiapkan api unggun dan kami tidak boleh berkeliaran lagi.”


“Api unggun?”


“Hari ini adalah hari jadi desa. Jadi, orang dewasa biasanya mengadakan api unggun dan bernyanyi bersama pada malam hari.”

__ADS_1


“Begitukah?”


“Ya. Akan ada banyak makanan dan nyanyian. Kakak cantik, ayo kembali!”


Xiao Shi dan anak-anak lain membawanya kembali ke desa. Di tengah sebuah lahan yang luas, setumpuk kayu bakar sudah disusun menjadi bulat dan tinggi. Beberapa pria terlihat masih berusaha menumpuk kayu dan merapikannya. Sementara itu, kepulan asap dari arah dapur rumah Chen Ping membumbung tinggi ke udara, bercampur dengan aroma lezat yang lumayan menggugah selera.


Rupanya, beberapa wanita tengah memasak dan menyiapkan hidangan untuk api unggun malam nanti. Semuanya menggulung lengan baju sampai ke sikut, lalu tangan-tangan kasarnya memotong sayuran dan daging serta menumbuk bumbu, sebagian lagi berkutat di depan tungku dan wajan penggorengan.


Li Fengran seperti ada di dunia lain lagi. Tahu bahwa Li Fengran berdiri di sana, salah seorang wanita kemudian menarik tangannya dan membawanya bergabung. Mereka mengajarinya cara memotong sayuran dan daging, kemudian menumisnya menggunakan wajan dan tungku.


Sebelumnya di istana, Li Fengran tidak pernah memasak dan makanan dibawakan oleh Xiang Wan. Hari ini, dia senang karena melihat proses pembuatan hidangan yang langsung dimasak di atas tungku tanah liat dan kayu bakar.


Walau berasap, itu memuaskan.


“Nona, kamu adalah tamu kami. Kakak Tua Chen mengatakan harus menjamu dengan baik. Kami tidak menyangka Nona memiliki keterampilan memasak yang bagus,” ucap salah seorang wanita.


“Aku sebetulnya tidak pandai memasak. Hanya saja ini cukup menyenangkan,” ucap Li Fengran. Wanita yang lain pun tertawa.


Ketika hari sudah larut dan matahari sudah terbenam di balik gunung, para pria yang belum pernah dilihat Li Fengran telah kembali ke desa bersama Chen Ping. Mereka membawa beberapa jenis umbi-umbian dan beberapa bahan obat yang didapat setelah seharian menyusuri gunung.


Saat semuanya sudah siap dan para penduduk sudah berkumpul, Chen Ping menyalakan api unggun dan kayu-kayu itu seketika terbakar. Sensasi panas dari api menghangatkan desa, memberikan cahaya yang menerangi kegelapgulitaan malam. Tepuk tangan riuh serta sorakan gembira terdengar, menjalarkan kehangatan ke dalam hati Li Fengran.


Warga desa yang tidak dikenal ini, semuanya tampak berbeda malam ini. Wajah mereka sarat akan kegembiraan dan kebahagiaan. Di beberapa sudut, para pria beradu gelas anggur sampai mabuk. Ada yang makan, ada pula yang hanya duduk menunggu malam.


Beberapa penduduk kemudian berdiri melingkar di dekat api unggun, saling berpegangan tangan dan mulai bernyanyi sembari berputar. Lagu yang dinyanyikan terdengar asing di telinga, tapi itu membuat Li Fengran terharu. Dinyanyikan bersama-sama, Li Fengran hanyut di dalamnya.


“Hidup adalah perjalanan, reinkarnasi adalah siklus yang berjalan tanpa suara. Kami hidup hari ini, hidup untuk hari esok. Tidak ada penyesalan, kebersamaan menghasilkan resonansi suara yang menghangatkan hati,” mereka terus bernyanyi.


Li Fengran tersenyum. Liriknya sederhana, namun sungguh sangat sarat makna. Dia tidak menyesal memutuskan diri menjadi sandera, karena dengan beginilah dia melihat kehidupan para bandit beserta keluarganya yang sebenarnya. Mereka dicap menyeramkan dan kejam, namun sangat hangat ketika kembali ke rumah.


Chen Ping tiba-tiba menghampirinya dan menyerahkan sekendi anggur. Pria bermata satu tersebut wajahnya sudah tidak segarang tadi siang. Sebaliknya, dia justru tampak sangat ramah. “Apakah kamu terbiasa menjadi sandera di sini?” candanya.


“Kupikir begitu. Saudara Chen, aku tidak bermaksud menolak kebaikanmu, tapi aku sungguh tidak bisa minum anggur,” ucap Li Fengran setelah dia menerima kendi anggur. Chen Ping tertawa.

__ADS_1


“Sepertinya kali ini Raja benar-benar menemukan harta karun. Nona, aku tidak akan memaksamu minum. Kamu bisa menyimpannya sebagai hadiah untuk rajamu.”


Setelahnya, Chen Ping pergi lagi. Li Fengran hanya menatapnya, sebelum akhirnya menyimpan kendi anggur tersebut di sisinya.


__ADS_2