
Song Jin’er menghela napasnya setiap kali dia menatap Li Fengran yang lagi-lagi meminum tehnya. Wanita itu sudah menghabiskan dua teko penuh seduhan teh dan duduk di sana lebih dari tiga jam. Matanya menyiratkan adanya perasaan tak berdaya yang sungguh menyiksa.
“Nona, mengapa kamu tidak terus terang saja kepada Raja?” tanyanya. Dia tahu kalau akan diadakan pemilihan selir lagi untuk Raja. Kakaknya yang ada di kediaman juga ikut serta dan namanya ada di dalam daftar.
“Bagaimana? Dia seorang Raja, beban yang dipikulnya lebih besar dan lebih berat. Aku tidak mau menghancurkannya karena perasaan pribadi. Mendiang Ratu Ling pernah memberitahuku kalau Raja seringkali berada di posisi sulit ketika dia dihadapkan pada berbagai pilihan yang tidak manusiawi.”
Li Fengran bersendawa. Perutnya sudah kembung, tapi hatinya terasa kosong. Mau bagaimanapun, pemilihan selir yang dikatakan oleh Shen Lihua mempengaruhi suasana hatinya.
Dia ingin menghindari Raja, tapi bagaimana bisa? Dia sendiri harus selalu berada di sisinya sebagai pendamping.
Hidupnya sekarang jauh lebih sulit. Li Fengran tidak pernah berpikir dirinya akan terjebak dalam dilema yang disebabkan oleh kehadiran Nangong Zirui dalam hidupnya. Sejak datang, dia bertekad untuk kabur, tapi gagal karena ternyata hatinya malah tertawan.
Dia bukan seorang protagonis wanita yang bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan cintanya. Li Fengran orang yang cenderung memendam perasaan meskipun dia kerap bersikap lugas. Di sini, dia jadi sering menahan dirinya, terutama di depan Nangong Zirui.
“Kebanyakan orang menganggap masuk ke istana dan menjadi selir adalah sebuah berkah dalam hidup. Tapi, mereka tidak tahu bahwa harga yang harus dibayar atas kejayaan itu adalah kebebasan dan kesepian sepanjang sisa hidup. Nona, bagaimana jika kamu membuka jalan lain untuk dirimu sendiri?”
“Jalan seperti apa?”
“Kamu lihat, Donghao bukan negara yang tabu terhadap kemajuan wanita. Meski sebagian besar berpikir kolot, tapi tidak ada aturan yang benar-benar melarang wanita hidup bebas sesuai keinginannya. Nona adalah sosok wanita berjiwa bebas yang pemikirannya luar biasa. Raja bersedia mendengarkanmu, dia bahkan memberikan apa yang kamu inginkan. Saya berani bertaruh dia juga tidak akan keberatan jika Nona ingin bebas.”
Li Fengran terdiam. Kebebasan? Benar, selama ini dia juga terkurung di istana dan terjebak di sisi Nangong Zirui. Hari-harinya memang tidak selalu indah, tapi pria itu memperlakukannya dengan sangat baik. Inilah yang membuat Li Fengran seringkali bimbang dan pada akhirnya menunda keputusan penting dalam hidupnya.
“Haruskah aku mengundurkan diri?” tanya Li Fengran.
“Jika Nona ingin hidup Nona bebas tanpa tersiksa oleh ketidakberdayaan, Nona bisa mencobanya. Saya hanya memberi saran yang mungkin bisa Nona pertimbangkan.”
Li Fengran perlu waktu untuk mempertimbangkannya. Jika dia membuat keputusan dengan gegabah, dia mungkin akan menyesalinya seumur hidup. Kehidupannya di dunia Donghao diberikan oleh keberadaan Nangong Zirui dan Ling Sui. Dia mungkin harus berpikir matang.
__ADS_1
“Huhuhu…. Nona Song, mengapa aku sangat sial? Aku menyukai seseorang, tapi orang itu sebentar lagi akan punya banyak istri baru. Haish, seharusnya aku mendarat di dunia persilatan saja!”
Sebagian kata-katanya, terutama yang terakhir, Song Jin’er tidak mengerti. Tapi, dia paham kalau hubungan Li Fengran dan Raja lebih dari sekadar atasan dan bawahan. Dia mengerti betapa sulitnya memperjuangkan seseorang yang takdirnya terlahir di keluarga kerajaan.
“Nona, mungkin kesialan Nona bisa berubah menjadi berkah. Nona hanya perlu memutuskan langkah apa yang akan diambil oleh Nona. Apakah itu tetap berada di sisi Raja dan bertahan bersamanya, atau pergi dan membiarkannya bertahan sendirian.”
Li Fengran meneguk tehnya lagi. Kali ini, dia tidak mau minum lagi. Li Fengran berdiri, dia berpamitan sebentar kepada Song Jin’er dan keluar dari restoran tanpa minat.
Tugas mengantarkan dekret sudah dilaksanakan, dia juga mencoba menghilangkan kegundahan hatinya dengan mengobrol bersama Song Jin’er. Dia tahu sudah saatnya kembali ke istana.
*
Petang baru saja membayang saat Nangong Zirui menerima kabar kalau Pemangku Pedang belum kembali ke istana setelah pergi menyampaikan dekret untuk kelima gadis korban penculikan yang pulang bersamanya. Hatinya yang gelisah tiba-tiba merasakan kekhawatiran, dan sepanjang waktu ini Nangong Zirui terus berjalan mondar-mandir di istananya.
“Yang Mulia, perlukah mengutus orang untuk mencarinya?” tanya Wang Bi.
“Enam jam lebih, Yang Mulia.”
“Ada apa dengannya? Apakah dia marah padaku karena aku mabuk semalam?”
Wang Bi tentu tidak berani menebak jawaban. Dia menggelengkan kepala disertai perasaan bersalah. Andai dia adalah cenayang, dia pasti memberikan jawaban. Nangong Zirui tidak mempermasalahkan, pemikirannya terbang pada berbagai kemungkinan.
Apakah Li Fengran marah? Atau jangan-jangan dia sakit hati?
“Yang Mulia, ada yang melapor kalau Pemangku Pedang bertemu dengan Ratu Shen di taman istana tadi pagi,” ucap Wang Bi.
Seketika Nangong Zirui terdiam. Dia mungkin tahu jawabannya sekarang. Li Fengran pasti sudah tahu perihal pemilihan selir baru yang dilakukan oleh Ibu Suri untuknya. Semalam dia baru saja membuat wanita itu hampir ternoda, hari ini mereka belum bicara sama sekali dan Shen Lihua malah bertemu dengannya.
__ADS_1
“Maka satu-satunya jawaban pasti hanya itu.”
“Maksud Yang Mulia, Pemangku Pedang sudah tahu perihal pemilihan selir?”
Nangong Zirui mengangguk. Dia sudah mengeksekusi Chen Pang karena marah dan cemburu pada Shen Jinglang, tapi dia sendiri malah membuat Li Fengran terjun ke dalam kebimbangan dan menempatkannya di posisi yang sulit. Dia merutuki diri sendiri yang tidak bisa bersikap tegas dan terus terang kepada wanita itu.
Bagaimana jika dia benar-benar pergi? Li Fengran adalah orang yang bertekad dan sangat keras kepala. Jika dia sudah memutuskan, tidak peduli berapa banyak orang menentangnya, dia akan melakukannya. Tidak, Nangong Zirui belum siap jika wanita itu pergi dari sisinya.
Wang Bi ikut kebingungan. Sebagai kepala kasim yang melayani di sisi Raja, dia turut merasa khawatir. Dia sangat tahu jelas kalau Raja dan Pemangku Pedang saling suka, mereka hanya berperilaku tanpa menyatakan cinta.
Raja menyukainya, tapi tidak ingin menempatkannya di dalam harem yang akan membuatnya terkurung. Tapi, jika tidak ditegaskan, maka wanita itu mungkin akan lepas darinya cepat atau lambat.
Sangat sulit bagi Raja menemukan wanita yang disukainya. Sejak naik takhta, dia masih bersikap dingin pada setiap wanita yang mengejarnya, bahkan terhadap mendiang Ratu Ling juga sama. Tapi, hanya Li Fengran yang diperlakukan berbeda. Selain hangat, Raja juga sangat melindunginya.
“Pemilihan selirnya dua hari lagi, bukan?” tanya Nangong Zirui tiba-tiba.
“Benar, Yang Mulia.”
“Berapa banyak gadis yang ikut serta?”
“Dua puluh orang, Yang Mulia.”
Nangong Zirui menghela napas. Lebih dari selusin ternyata. Ibunya benar-benar hebat. “Wanita tua itu sungguh semakin menyebalkan.”
Wang Bi menahan keterkejutannya akan ucapan Rajanya yang bicara buruk terhadap ibunya sendiri. “Ibu Suri akan mengadakan perjamuan pembuka dan Ratu Shen akan memimpin pemilihannya sendiri, Yang Mulia.”
“Baiklah. Pastikan Xiao Feng hadir pada hari itu.”
__ADS_1