The Choice Queen

The Choice Queen
TCQ 50: Mencoba Keberuntungan


__ADS_3

Sekembalinya Nangong Zirui ke istana, dia langsung dihadapkan pada setumpuk dokumen kenegaraan yang sengaja ditulis para menteri untuknya.


Wang Bi begitu khawatir ketika Rajanya datang dengan ekspresi tidak senang. Tapi, dia juga lega karena pada akhirnya Raja pulang juga.


Dia heran karena Mo Wei tidak ikut pulang, namun dia tahu Raja pasti menugaskannya kembali. Nangong Zirui membersihkan dirinya, kemudian duduk di kursi kerjanya sembari melihat laporan apa yang ingin disampaikan pada menterinya yang baik itu.


Tiba-tiba saja pelayan melapor kalau Selir Su dan Selir Fei datang berkunjung. Meskipun enggan bertemu, Nangong Zirui juga tidak bisa mengabaikan mereka terus-terusan.


Terlebih, dia baru kembali, maka sangat wajar bagi para selirnya datang. Su Min dan Fei Jia dipersilakan masuk setelah dia meletakkan dokumennya.


“Salam kepada Yang Mulia,” ucap keduanya.


“Bangunlah. Ada apa?”


“Yang Mulia baru kembali dari Jinchuan. Kami khawatir Yang Mulia tidak makan dengan baik, jadi kami membawakan kue untuk Yang Mulia,” ucap Su Min. Di tangannya ada keranjang berisi kue bulan dan beberapa camilan lainnya.


“Ayahmu memang menjamuku dengan buruk,” ucap Nangong Zirui. Dia sengaja merujuk pada kejadian penyergapan di penginapan tempat peristirahatan. Ia pikir, pasti di antara tiga tuan besar yang melakukannya.


Su Min terkejut dan langsung berlutut.


“Yang Mulia mohon ampun. Aku meminta maaf atas nama ayahku karena tidak menjamu Yang Mulia dengan baik.”


“Sudahlah, aku malas berdebat. Simpan saja kuenya di sana,” ucapnya sambil menunjuk sebuah meja kecil.


Fei Jia langsung berkata, “Kami tahu Yang Mulia tidak akan memakannya. Tapi, ini adalah kue bulan yang kami buat sendiri. Mohon Yang Mulia mencicipinya.”


Fei Jia menunduk, memohon agar pria itu mencicipi kue bulan buatan mereka. Dia dan Su Min telah sepenuh hati membuatnya, bahkan sampai hampir membakar dapur demi bisa menjamu suami mereka.


Nangong Zirui menatap kue di keranjang, dia tidak punya minat makan kue sekarang. Tapi, kedua selirnya tidak akan mau pergi sebelum dia mencicipinya.


“Bawa kuenya kemari,” putus Nangong Zirui.


Raut wajah Fei Jia dan Su Min berubah senang. Nangong Zirui mengambil sepotong kue, kemudian menggigitnya. Rasanya lumayan enak, meski ada bau gosong yang tercium ketika mulutnya mengunyahnya.


Rasa senang di mata Fei Jia dan Su Min tidak bisa disembunyikan. Akhirnya Raja mau menerima makanan mereka setelah ditolak saat beberapa waktu lalu.

__ADS_1


“Yang Mulia, bagaimana rasanya?” tanya Su Min.


“Lumayan,” jawab Nangong Zirui. “Aku masih sibuk. Kalian bisa pergi.”


“Baik, Yang Mulia.”


Walau sedikit kecewa karena Nangong Zirui tidak menahan mereka lebih lama, tapi setidaknya dia sudah menerima niat baik mereka. Su Min dan Fei Jia senang. Mereka tulus membuat kue tersebut.


Tidak ada ramuan musim semi yang ditambahkan dalam kue, karena ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan keturunan. Bisa-bisa mereka berakhir seperti Ratu Shen yang akhirnya dikurung dan kehilangan kepercayaan.


Setelah kedua selirnya pergi, Nangong Zirui menyuruh Wang Bi membawakan pil. Dia khawatir kedua selirnya bertingkah licik dan melakukan trik seperti yang dilakukan Shen Lihua terakhir kali.


Wanita tidak bisa ditebak. Dia harus berhati-hati, jika tidak, orang akan bisa memanfaatkannya.


“Yang Mulia, sepertinya Selir Su dan Selir Fei sangat menyukai Yang Mulia. Apakah Yang Mulia mau memanggil salah satu dari mereka untuk melayani malam ini?” tanya Wang Bi setelah pil obat dimakan Nangong Zirui.


“Apa kamu bodoh? Aku tidak punya waktu bersenang-senang dengan wanita,” Nangong Zirui langsung menyatakan penolakannya.


Wang Bi menutup mulutnya. Ia tahu ini adalah topik sensitif bagi Raja, tapi Raja juga tidak bisa terus menghindari istri-istrinya. Beberapa pelayan sudah bergosip kembali, mengatakan kalau Raja sebenarnya tidak bisa melakukan ‘itu’ dengan istri-istrinya sehingga terus menolak tidur bersama mereka.


Padahal, para pelayan ini adalah bawahan lama, mereka seharusnya tahu bahwa pada Ratu Ling pun Raja bertindak sama pada ketiga istrinya.


Dia lebih tidak ingin Ibu Suri turun tangan secara langsung, karena saat ibu raja bertindak, Raja sendiri akan sulit menghadapinya.


“Lalu apakah Yang Mulia ingin memanggil Pemangku Pedang?”


“Apa otakmu rusak? Pemangku Pedang adalah pejabatku, bukan selirku. Jika kamu bicara lagi, aku akan mengirimmu ke Biro Kedisiplinan.”


Pada akhirnya, Wang Bi benar-benar menutup mulutnya. Setelah tugasnya selesai, dia keluar dari Istana Qihua dan memerintahkan para pelayan untuk bersiaga.


Sementara itu, dia sendiri pergi ke tempat tinggalnya untuk mengganti baju. Saat itu, malam sudah mulai menjelang.


Nangong Zirui masih duduk di kursinya, membaca kembali beberapa dokumen laporan. Namun, kepalanya tiba-tiba pusing dan tubuhnya mulai merasakan panas lagi. Sesuatu yang teredam mendorong untuk keluar, membuatnya bergerak tidak nyaman.


Apa lagi ini? Apakah dia dijebak lagi? Tapi, dia sudah memakan pil obat penahan hasrat. Mengapa tubuhnya bereaksi lagi?

__ADS_1


Jelas-jelas kuenya juga tidak mengandung afrodisiak. Dari mana dia dirangsang?


Matanya kemudian menatap pembakar dupa yang masih mengepul, kemudian dia melemparkan dupa tersebut. Sial, ternyata ada orang yang menjebaknya dengan cara lain!


Pembakar dupa itu hancur, isinya bertebaran. Nangong Zirui memanggil Wang Bi, tapi kasimnya tidak menyahut.


“Pelayan! Siapkan air dingin untukku!” dia berteriak sangat keras sampai pelayan yang sedang mengobrol terkejut. Tanpa menunggu perintah kedua, mereka segera berlarian mengambil air.


Seorang pelayan berlari menuju Istana Belakang, memberitahu Su Min dan Fei Jia tentang Raja yang sedang menyiapkan air dan ingin berendam.


Pelayan itu adalah mata-mata yang diutus oleh mereka untuk mengawasi Raja. Su Min dan Fei Jia saling pandang, kemudian menatap pelayan tersebut penuh tanya.


Sungguh, keduanya tidak menambahkan afrodisiak pada kue bulan yang diberikan kepada Raja. Lantas, siapakah yang telah menyiapkannya?


Apakah mungkin orang itu ingin menjebak Raja dan membuatnya menuduh mereka? Tapi, siapa yang begitu berani?


Ini adalah jebakan, dan sangat berbahaya, namun bisa menjadi kesempatan jika dimanfaatkan dengan baik.


Su Min mundur, dia menatap Fei Jia yang juga menatapnya dengan dahi berkerut. “Selir Su, apa maksudmu?” tanyanya.


“Selir Fei, kamu saja yang maju. Aku tidak mau mengambil risiko,” jawabnya.


Fei Jia menimbang-nimbang. Jika dia beruntung, maka malam ini akan menjadi kesempatan bagus. Tapi, yang dikatakan Su Min juga benar.


Jika tidak berhasil, maka dia akan disalahkan dan dihukum. Tapi daripada bimbang, lebih baik dia bertaruh saja. Siapa tahu Raja benar-benar membutuhkannya.


“Kalau begitu, aku akan mencobanya,” ucap Fei Jia.


“Semoga kamu beruntung.”


Fei Jia dan pelayan tersebut keluar dari Istana Belakang, bergegas menuju Istana Qihua. Sepanjang jalan, Fei Jia tidak pernah berhenti berpikir tentang siapa yang telah menaruh afrodisiak di kamar Raja.


Selain itu, obatnya pasti sangat kuat. Raja selalu berhati-hati dan punya banyak persiapan. Jika obatnya masih bekerja, artinya obat tersebut sangat kuat.


Di dalam Istana Qihua, setelah bak mandi penuh, Nangong Zirui mengusir semua pelayan. Dia sendiri langsung menanggalkan pakaiannya dan merendam tubuhnya di air dingin.

__ADS_1


Kali ini, tidak ada es yang dicampurkan karena Nangong Zirui sedang menunggu pil penahan hasratnya berfungsi. Rasa panas yang terus mendesak dan mendorong sesuatu di bawah tubuhnya semakin menjalar.


Dia mengatur tenaga dalamnya, menahannya sekuat tenaga.


__ADS_2