
Li Fengran melihat seorang pembunuh hendak menyerang Nangong Zirui dari arah berlawanan, dari celah yang diciptakan saat pria itu sibuk meladeni pembunuh yang lain. Insting penyelamatnya berbunyi dan dia tiba-tiba melompat.
Li Fengran memejamkan mata, membayangkan segala kemungkinan terburuk jika pembunuh itu tidak menahan pedangnya dan menusuk tubuhnya.
Apakah, apakah ini saatnya untuk mati lagi?
Tepat ketika pedang pembunuh hampir menusuk Li Fengran, Nangong Zirui menarik tangannya dan mendorongnya menjauh. Dengan gerakan kilat, pria itu menyayat pembuluh darah di leher si pembunuh.
Saat Li Fengran membuka matanya lagi, darah tiba-tiba terciprat di wajahnya dan si pembunuh itu terkapar sambil memegangi lehernya yang berdarah.
“Xiao Feng apa kamu gila? Kamu pikir kamu punya sembilan nyawa?”
Nangong Zirui tanpa sadar menaikkan suaranya. Wajah yang tadinya tenang saat menangani pembunuh sekarang berubah marah, keningnya bahkan berkerut dan matanya berkilat tajam.
Dia benar-benar tidak menyangka Li Fengran akan nekat melemparkan dirinya untuk memblokir serangan. Jika terlambat sedikit saja, nyawanya bisa melayang!
Li Fengran malah bergeming. Tatapan matanya jadi kosong. Dia juga tidak tahu mengapa dia seberani itu, padahal nyawanya ini hanya satu.
Sebelum dapat menjawab, kepala Li Fengran tiba-tiba pusing dan dia langsung pingsan. Nangong Zirui menangkapnya, lalu menggendongnya.
“Selesaikan kekacauan ini. Beri pemilik penginapan kompensasi dan jangan biarkan dia merugi,” ujar Nangong Zirui pada para pengawal. Pembunuh sudah berhasil dilumpuhkan, sekarang yang tersisa adalah sisa-sisa kekacauan.
“Baik, Yang Mulia.”
Nangong Zirui menaiki kuda, lalu melesat meninggalkan penginapan bersama Li Fengran. Kaki kuda berlari seperti kilat, menyusuri jalan berbatu dan terjal. Noda darah perlahan mengering, namun baunya tetap menyengat. Penampilan kedua orang itu begitu kacau.
Kuda pria itu melesat menuju kawasan gunung yang ditinggali oleh Chen Ping dan penduduk desa. Selain desa di atas gunung, kawasan pemukiman lain masih sangat jauh. Ketika Nangong Zirui sampai di gerbang, dia langsung turun dari kuda dan menggendong Li Fengran kemudian berlari menuju pedesaan.
Salah seorang penduduk yang mengenali langsung menghampirinya.
“Yang Mulia Raja? Apa yang terjadi?”
“Siapkan tempat dan cari seseorang yang mengerti pengobatan!”
Kemudian, dalam seketika desa menjadi riuh. Chen Ping yang baru pulang berburu segera menghampiri tempat Nangong Zirui dan Li Fengran.
Dia terkejut melihat penampilan Raja yang kacau dengan bercak-bercak darah di baju dan wajahnya. Sementara itu, Li Fengran dibaringkan di sebuah tempat tidur.
“Bagaimana?” tanya Nangong Zirui pada penduduk yang memeriksa Li Fengran.
“Yang Mulia, Nona hanya terkejut. Beberapa waktu lagi akan sadar.”
“Baiklah. Kamu boleh pergi,” ucap Nangong Zirui.
Penduduk tersebut pergi. Chen Ping langsung merangsek mendekati kedua orang itu. Baru saja dua hari lalu mereka berpisah baik-baik di gerbang desa, sekarang Raja dan Pemangku Pedang kembali dalam keadaan kacau. Melihat bercak darah di pakaian dan wajah Raja, Chen Ping menebak telah terjadi pertarungan pada perjalanan.
“Yang Mulia, apa kalian diserang pembunuh?” tanyanya.
__ADS_1
“Bukan diserang, lebih tepatnya disergap.”
“Apakah Yang Mulia terluka?”
“Tidak. Pasukanku berhasil melumpuhkan mereka.”
“Lalu apa yang terjadi pada Pemangku Pedang?”
“Dia memblokir pedang menggunakan tubuhnya. Untungnya aku segera mendorongnya menjauh.”
“Pemangku Pedang selalu seberani itu.”
“Itu namanya bukan berani, tapi cari mati.”
Chen Ping tersenyum sesaat. Yah, Pemangku Pedang memang begitu. Tindakannya selalu di luar nalar dan tidak bisa ditebak. Tidak heran jika Raja sampai sebegitu khawatirnya, karena Pemangku Pedang ini selalu melemparkan dirinya ke dalam bahaya.
“Yang Mulia, apakah Yang Mulia ingin mengganti pakaian? Saya akan meminta beberapa wanita untuk mengganti pakaian Pemangku Pedang dan menjaganya di sini,” tawar Chen Ping. Tidak nyaman rasanya melihat Raja yang agung berpenampilan kacau seperti ini.
“Baiklah.”
Chen Ping kemudian memberikan satu set pakaian baru untuk Nangong Zirui. Penampilannya sekarang jauh lebih baik dan lebih enak dipandang. Dia kembali ke tempat Li Fengran yang juga sudah diganti pakaiannya, dan penduduk desa wanita secara sadar mundur teratur.
Nangong Zirui menggenggam tangan Li Fengran dan menyentuh dahinya. Suhu tubuh Li Fengran agak panas, mungkin wanita ini demam. Seseorang lalu datang memberikan sebaskom air dingin dan lap basah, tapi ketika dia hendak mengompres Li Fengran, Nangong Zirui menyelanya.
“Biar aku saja.”
“Wanita ini pingsan karena menyelamatkanku. Aku bukan Raja yang tidak tahu terima kasih,” Nangong Zirui menyelanya lagi.
Takut akan kemarahan Raja, orang itu hanya bisa pasrah dan membiarkan Raja merawat Pemangku Pedang seorang diri. Nangong Zirui dengan telaten merawat Li Fengran, mengompresnya dan membersihkan tetesan air yang menetes di sekitar wajahnya. Terkadang, dia menatapnya untuk waktu yang lama.
Wanita ini, dengan kemampuan kecilnya yang tidak seberapa itu malah berusaha melindunginya tanpa mempedulikan nyawanya sendiri. Tapi dengan kemampuan itulah ketulusannya merambat ke dalam hati Nangong Zirui. Saat orang lain hanya berpikir tentang mengambil keuntungan darinya, wanita ini malah tega memberikan nyawanya sendiri.
Saat melihatnya berdiri menghadang pedang dengan tubuhnya, emosi Nangong Zirui langsung memuncak. Ini pertama kalinya dia merasa khawatir sekaligus marah kepada seorang wanita. Dia tidak bisa membayangkan jika dia terlambat sedikit saja dan pedang itu berhasil menusuk tubuh Li Fengran.
Nangong Zirui tersadar dari pemikirannya ketika lenguhan kecil terdengar. Kelopak mata Li Fengran bergerak perlahan, kemudian terbuka.
Dia beberapa kali mengerutkan dahi, kepalanya terasa pusing, tapi ada benda dingin yang menempel di atas dahinya. Saat melihat Nangong Zirui duduk di sampingnya, Li Fengran segera bergerak bangkit.
“Tidak perlu bangun, tetaplah di posisimu,” ucap Nangong Zirui.
“Yang Mulia, kita di mana?”
“Desa.”
“Desa? Lalu bagaimana dengan para pembunuh itu?” tanyanya.
“Sudah ditangani.”
__ADS_1
Li Fengran menghela napas lega. Syukurlah jika para pembunuh itu ditangani. Dia terlalu kaget karena menyaksikan pembunuhan secara langsung, dan karena itu momen pertama baginya, dia tidak bisa menahan ketakutan dan kengerian yang muncul di hatinya.
Li Fengran juga tidak mengerti kenapa saat pembunuh ingin menusuk Nangong Zirui dari belakang, tubuhnya secara otomatis bergerak memblokirnya. Li Fengran tidak bisa melihat pria itu dalam bahaya, dan secara refleks hatinya mendorong raganya untuk maju.
Tapi, ada yang aneh. Dia bisa melihat kemarahan di matanya dan juga kekhawatirannya, tapi mengapa pria itu bicara sangat singkat padanya saat ini?
Li Fengran menatapnya, dia menangkap ekspresi yang sulit diartikan di wajahnya. Nangong Zirui ini seperti sedang marah, tapi tidak ingin menunjukkannya.
“Yang Mulia, apakah Yang Mulia marah?”
“Tidak.”
“Bohong. Wajahmu tidak bisa membohongiku.”
“Konyol. Kelak jika ada penyergapan lagi, kamu bisa menyerahkan nyawamu lagi dan aku tidak akan menolongmu.”
“Masih bilang tidak marah.”
Nangong Zirui menghindari tatapan Li Fengran dan memunggunginya. Dia cemberut. Li Fengran mengintipnya, lalu tersenyum kecil. Raja seperti anak kecil yang dilarang makan permen oleh ibunya karena khawatir merusak gigi. Tapi Raja yang seperti ini terlihat sangat imut.
“Baiklah, aku salah. Tidak seharusnya aku memblokir pedang tanpa perhitungan. Aku hanya tidak tahan melihat Yang Mulia diserang diam-diam.”
“Apakah kamu bodoh? Bahkan jika tanpa dilindungi pun, aku tetap bisa mengalahkan mereka. Aku tetap bisa menyadari pergerakan di belakangku, tidak perlu sampai menggunakan orang lain memblokirnya untukku.”
Pria itu menjeda sejenak, menarik napas untuk menenangkan hatinya. Tidak boleh marah, tidak boleh marah, ucapnya berulang kali dalam hati. “Mereka bukan pembunuh biasa. Itu sebabnya aku mengatakan itu bukan situasi yang bisa dimenangkan olehmu.”
“Xiao Feng, aku tahu ini pertama kalinya kamu menyaksikan pertarungan. Tapi meski mereka ditangkap hidup-hidup pun, mereka tetap akan mati. Pembunuh tidak pernah mengatakan siapa yang menyuruh mereka dan akan memilih bungkam sampai mati. Belas kasihan terkadang tidak berguna untuk orang seperti mereka.”
Tentu saja Li Fengran tahu. Dia hanya belum terbiasa dan butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan semua tragedi. Di dunia modern dan nyata, pembunuhan dan penyergapan adalah kasus serius dan ditangani oleh kepolisian sebelum ditindak secara hukum.
Tapi di sini, hukum rimba masih berlaku. Li Fengran masih harus menyesuaikan dirinya untuk menerima segalanya. Itu saja.
“Aku tahu, Yang Mulia. Tapi meskipun aku mengorbankan nyawaku, bukankah itu sepadang jika Yang Mulia selamat? Setidaknya, pengorbananku tidak sia-sia dan posisi Pemangku Pedang ini pantas untukku,” ucapnya.
“Siapa yang menyuruhmu berkorban? Aku menjadikanmu Pemangku Pedang untuk membantuku dan mendampingiku, bukan menjadikanmu tameng yang melindungi nyawaku. Kamu paham?”
Li Fengran mengangguk ringan. Heh, Nangong Zirui benar-benar marah dan khawatir padanya. Raja arogan yang suka memerintah dan sangat perhitungan ini ternyata bisa bersikap kekanakan. Mengapa dia tidak sekalian bilang kalau dia tidak mau kehilangan?
“Dan juga, ingat untuk selalu mengutamakan keselamatan sendiri sebelum orang lain,” lanjut Nangong Zirui.
“Baiklah, aku sudah tahu, Yang Mulia. Kalau begitu, apakah kamu masih marah?”
“Tidak.”
“Apakah kita bisa kembali ke ibukota sekarang? Kamu sudah pergi terlalu lama. Para menteri itu mungkin tidak dapat ditahan lagi oleh Ibu Suri.”
“Besok saja. Aku lelah.”
__ADS_1