
“Yang Mulia, akhirnya saya menemukanmu! Yang Mulia, di mana Nona?”
Xiang Wan menghampiri Nangong Zirui di sebuah kedai. Dia sudah lama terpisah dari Li Fengran dan sudah lama mencarinya, namun tidak berhasil menemukannya. Dia hanya bisa mencari Nangong Zirui untuk menanyakannya, atau dia bisa meminta bantuannya untuk mencari majikannya.
Mendapat pertanyaan itu, Nangong Zirui mengernyit. Terakhir kali saat dia mengikuti Li Fengran, wanita itu menghilang di antara kerumunan dan dia pikir Li Fengran pergi mencari Xiang Wan.
“Bukankah dia pergi mencarimu?”
Xiang Wan menggelengkan kepalanya.
“Kami sudah lama berpisah. Saya pikir Nona pergi bersama Yang Mulia.”
“Dia memang bersamaku tadi. Aku justru berpikir dia pergi mencarimu.”
Wajah Xiang Wan berubah jadi khawatir. Di lautan manusia ini, bagaimana jika nonanya hilang atau terjadi sesuatu yang buruk padanya? Nonanya buruk mengenali arah saat malam tiba, bagaimana jika dia tersesat, diculik, dimanfaatkan orang, ditipu dan dijual oleh orang jahat?
Nangong Zirui juga mulai khawatir. Seandainya tadi dia terus mengikutinya, mungkin Li Fengran tidak akan hilang. Tidak ingin masalah bertambah runyam, dia menyuruh Mo Wei memimpin sekelompok pasukan untuk mencari Li Fengran. Dia juga ikut mencari bersama Xiang Wan.
Tapi di lautan manusia yang penuh sesak ini, mencari Li Fengran seperti mencari jarum di tumpukan Jerami. Sudah dua jam berlalu, tapi mereka belum menemukan tanda-tanda keberadaan Li Fengran. Wanita itu tidak mungkin kembali ke istana sendirian tanpa memberitahu Nangong Zirui. Lalu ke mana dia pergi?
Setiap kedai, setiap toko, bahkan hampir setiap gedung yang ada di pinggir jalan dikunjungi. Tidak peduli seberapa sesak manusia di tempat itu, Nangong Zirui menerobosnya demi mencari Li Fengran. Ketika kesal karena orang-orang tidak menyingkir, Nangong Zirui terpaksa menggunakan kuasanya untuk membuat mereka memberikan celah.
Sayangnya, Li Fengran masih belum ditemukan. Pasukan pimpinan Mo Wei bergerak ke segala penjuru ibukota, namun mereka kembali dengan tangan kosong. Bahkan satu petunjuk pun tidak ditemukan. Ke mana sebenarnya Pemangku Pedang pergi?
Mo Wei yang biasanya paling menghindari Li Fengran juga ikutan panik. Tanpa ada wanita itu, bagaimana Raja di masa depan?
Rajanya jelas sangat menyukainya dan sangat memanjakannya. Kalau sampai tidak ditemukan, bahkan jika harus mengobrak-abrik seluruh negeri, Raja pasti tidak akan berhenti mencarinya!
Sampai tengah malam, seorang pengawal datang melapor pada Mo Wei. Dia bilang seseorang pernah melihat Pemangku Pedang berjalan ke arah barat daya ibukota mengikuti seorang anak kecil dan tidak kembali. Dengan petunjuk tersebut, semua pasukan bergerak dan mengarah ke barat daya ibukota.
Di tengah jalan, Xiang Wan menemukan sebuah pita yang sering dipakai Li Fengran di kepalanya. Dia sangat jelas akan hal itu dan segera melaporkannya kepada Nangong Zirui.
Pencarian dilanjutkan, namun karena sudah sangat larut dan jalan di barat daya tidak seterang di pusat ibukota, pasukan pencari agak terkendala.
“Yang Mulia, sebaiknya Yang Mulia kembali ke istana. Biarkan kami yang mencari Pemangku Pedang,” ucap Mo Wei. Dia takut Raja mengalami bahaya. Siapapun bisa menyerang mereka saat ini.
“Jika aku bahkan tidak mampu menemukan dan melindungi Pemangku Pedang-ku sendiri, bagaimana bisa aku pantas menjadi Raja kalian?”
Dia melupakan ucapan Li Fengran yang menyuruhnya agar tidak menuntut menjadi sempurna sebagai seorang Raja. Nangong Zirui kalut karena Li Fengran hilang. Saat ini, dia menyalahkan diri sendiri karena telah mengabaikan Li Fengran dan berpikirwanita itu pergi mencari pelayannya.
Mo Wei tetap ingin Nangong Zirui kembali ke istana. Dia kembali mengatakan, “Yang Mulia, di sini sangat berbahaya. Mohon Yang Mulia kembali ke istana.”
__ADS_1
“Aku tidak akan pergi sebelum menemukannya.”
“Yang Mulia, mohon Yang Mulia kembali ke istana,” ulang Mo Wei.
“Mo Wei, kamu?”
Para pasukan merasakan hal yang sama. Berbahaya bagi Raja berada di luar istana semalam ini.
Mengabaikan kemungkinan kemarahan Raja dan konsekuensi yang akan mereka tanggung kemudian, para pasukan kemudian serentak berkata sembari berlutut mengikuti Mo Wei, “Mohon Yang Mulia kembali ke istana.”
Nangong Zirui marah, dia meraih pedang salah satu pengawal dan mengarahkannya kepada Mo Wei.
“Kamu tahu konsekuensi melawanku?”
Mo Wei dengan berani menengadahkan kepalanya, “Jika Mo Wei harus mati di bawah pedang Yang Mulia demi melindungi Yang Mulia, Mo Wei rela! Mohon Yang Mulia kembali ke istana!”
Melihat kegigihan Mo Wei, Nangong Zirui memejamkan matanya. Dia ingin segera menemukan Li Fengran, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan permohonan para pengawal yang menyuruhnya pulang ke istana.
Jika tidak segera kembali, Ibu Suri akan mengirimkan lebih banyak pasukan mencarinya dan itu akan mengacaukan keramaian festival. Dampaknya buruk pada penduduk yang tengah merayakan festival dan sukacita akan berubah menjadi ketegangan dan ketakutan.
Xiang Wan melihat kegigihan Mo Wei dan kemarahan Raja seketika ikut berlutut. Dia ingin nonanya segera ditemukan, tapi bukan berarti dia harus mengambil risiko membuat Raja dalam bahaya. Dia yakin nonanya pasti baik-baik saja. Jika tahu Raja mencarinya sampai seperti ini, nonanya juga tidak akan senang.
“Yang Mulia, mohon Yang Mulia kembali ke istana. Saya akan pergi bersama Pengawal Mo mencari Nona. Mohon Yang Mulia kembali ke istana,” ucap Xiang Wan sambil berkowtow.
“Tidak peduli bagaimanapun caranya, temukan Pemangku Pedang dan bawa kembali untukku.”
Mo Wei akhirnya bernapas lega. Dia memimpin pasukan untuk berucap, “Kami melaksanakan perintah Yang Mulia.”
Nangong Zirui memutuskan pergi dengan tidak tenang. Hatinya gelisah sepanjang waktu. Bahkan keramaian festival tidak mampu mengobati kekhawatirannya.
Selama belum menemukan Li Fengran, dia tidak akan pernah tenang. Hatinya melantukan doa-doa agar wanita itu segera ditemukan dan kembali kepadanya dalam keadaan selamat.
*
Di sebuah rumah bobrok yang terpencil di barat daya ibukota, beberapa orang berjalan mondar-mandir mengawasi tempat tersebut.
Mereka bersenjata lengkap, mirip sebuah pasukan pribadi yang bertugas mengawal seseorang. Pintu rumah bobrok itu dikunci dari luar, sementara di dalamnya ada sebuah lilin yang menjadi satu-satunya pencahayaan.
Li Fengran batuk beberapa kali sebelum dia membuka matanya. Hidungnya terasa sesak sementara dia merasakan tangan dan kakinya diikat dengan tali yang sangat kuat. Mulutnya disumpal sebuah saputangan. Kepalanya agak pusing.
Sial, dia telah masuk ke dalam jebakan orang!
__ADS_1
Tadi setelah dia melarikan diri dari Nangong Zirui, seorang anak kecil menghampirinya dan mengatakan ingin meminta tolong padanya untuk membantunya membawa ibunya ke tabib karena sakit.
Li Fengran yang pada dasarnya suka menolong orang tanpa curiga mengikuti anak kecil tersebut. Semakin lama, mereka semakin menjauhi keramaian.
Li Fengran sudah mulai curiga dan bertanya di mana rumah anak kecil tersebut. Anak kecil itu selalu mengatakan mereka akan segera sampai. Namun setelah sekian lama dan sudah berjalan cukup jauh, Li Fengran tidak melihat tanda-tanda anak kecil itu akan berhenti.
Dia hendak pergi, namun seseorang tiba-tiba membiusnya dari belakang dan Li Fengran kehilangan kesadaran. Dia terbangun di tempat bobrok ini tanpa tahu dirinya ada di mana sekarang. Li Fengran menyesal telah mempercayai seseorang yang sangat asing, menyesal menghilangkan kewaspadaannya terhadap anak kecil.
Suara langkah kaki kemudian terdengar. Li Fengran pura-pura masih pingsan saat pintu itu dibuka dan dua orang pria masuk. Salah seorang di antaranya memakai jubah hitam dan menutup wajahnya dengan topeng.
Suaranya menjadi samar ketika dia berkata dengan marah, “Apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu menculiknya?”
Orang yang satunya lagi kemudian menjawab, “Bukankah Tuan Muda menginginkannya? Aku pikir ini saat yang tepat untuk membawanya.”
Tuan Muda? Penculiknya seorang Tuan Muda? Siapa? Li Fengran tidak ingat dia memiliki kisah romantis dengan seorang pria sebelumnya. Siapa Tuan Muda ini dan mengapa orang itu mengatakan alasan penculikannya?
“Kamu menyakitinya!”
Orang berjubah itu menendang bawahannya dengan marah. Suara seraknya menyamarkan ekspresi yang ada di balik topeng. Tendangan itu pasti sangat keras karena orang yang ditendang itu sepertinya sudah berbaring kesakitan.
“Tuan Muda, bukankah kamu menginginkannya?”
“Aku tidak akan menggunakan cara kotor dengan menculiknya. Lepaskan dia!”
“Ah?”
“Lepaskan dia atau kamu yang akan mati!”
“Baiklah, aku akan melepaskannya.”
Kemudian, kedua orang itu pergi. Orang yang menjadi bawahan kembali masuk, kemudian berjongkok di depan Li Fengran. Dia melepaskan saputangan penyumpal mulut dan hendak membuka ikatan tangan dan kaki Li Fengran, dia terkejut saat tiba-tiba saja Li Fengran membuka matanya.
“Chen Pang?” Li Fengran berucap tak percaya. “Jadi kamu pelakunya! Katakan, apa Tuan Muda yang kamu sebut barusan adalah Tuan Besar Zichuan, Shen Jinglang?”
Chen Pang tentu tidak akan membongkarnya dengan mudah sekalipun dia mati. Sialan, ternyata wanita ini pura-pura pingsan dan sengaja menguping pembicaraan mereka!
“Apa yang kamu katakan? Tuan Besar tidak akan jatuh cinta pada perempuan sepertimu! Kalian bahkan tidak saling mengenal!”
Masuk akal, pikir Li Fengran. Shen Jinglang tidak mungkin orang berjubah itu. Lalu siapa orang berjubah itu? Mengapa Chen Pang memanggilnya Tuan Muda? Apakah Chen Pang memiliki dua majikan?
“Chen Pang, beraninya kamu menculikku!” seru Li Fengran marah.
__ADS_1
Chen Pang takut Li Fengran menimbulkan masalah. Dia memukul Li Fengran dan membuatnya pingsan lagi. Chen Pang kemudian menyuruh sekelompok orang masuk ke dalam dan berkata, “Kalian urus wanita ini! Pastikan tidak meninggalkan jejak!”