The Choice Queen

The Choice Queen
TCQ 40: Tanah Jinchuan dan Kenangannya


__ADS_3

“Yang Mulia, aku bisa mengerti kamu mengkhawatirkanku. Tapi, mengapa Yang Mulia harus ikut denganku saat ini?”


Nangong Zirui seketika mengernyitkan dahi, “Siapa yang mengkhawatirkanmu? Aku hanya takut mereka memperlakukanmu dengan buruk. Jika sampai Pemangku Pedangku bernasib sial, bukankah aku juga yang merugi?”


Masalahnya adalah, Nangong Zirui sekarang malah ikut bersama Li Fengran pergi ke Jinchuan. Li Fengran hendak menyelesaikan perjalanan dinasnya, tapi dia sungguh tidak berharap Raja akan ikut melibatkan diri. Bisa-bisanya Nangong Zirui meninggalkan istana!


“Maksudku, kenapa Yang Mulia harus ikut pergi ke Jinchuan bersamaku?”


“Aku ingin mengunjungi rakyatku, apa yang salah dengan itu?”


“Tidak ada yang salah, tapi kedatanganmu akan membuat mereka terkejut. Selain itu, jika para menteri tahu kamu meninggalkan istana, bukankah mereka akan ribut?”


“Tenang saja, Ibu Suri tidak akan membiarkan mereka mengacau.”


“Bukankah Yang Mulia bilang Ibu Suri tidak lagi mencampuri urusan politik?”


Nangong Zirui lama-lama kesal juga karena Li Fengran terus menerus menjawab perkataannya. “Ck… Memangnya kenapa? Aku sedang merindukan suasana Jinchuan. Rasanya sudah lama sekali sejak kunjungan terakhirku.”


Sebenarnya, Nangong Zirui punya alasan lain. Selain menyelamatkan Li Fengran, alasan lain mengapa ia bersikeras meninggalkan istana dan ikut pergi ke Jinchuan adalah karena ia menerima informasi rahasia dari mata-matanya.


Shen Jinglang diketahui sedang pergi ke Jinchuan, dan Nangong Zirui curiga akan tindak-tanduknya. Shen Jinglang baru kehilangan kuasa militer, tidak mungkin punya suasana hati bepergian ke negara bagian lain yang kekuasaanya masih utuh.


Yah, kecuali jika Shen Jinglang berniat mempermalukan dirinya sendiri.


Li Fengran tidak menanggapi lagi. Sebenarnya tidak apa-apa Nangong Zirui ikut, karena dia adalah Raja dan pemilik Donghao. Hanya saja, hal yang membuat Li Fengran kesal setengah mati adalah pria itu memaksanya duduk di dalam kereta kuda sepanjang perjalanan.


Dia saja kemarin hampir muntah dan terpaksa menunggang kuda. Sekarang, Nangong Zirui menariknya dan membuatnya duduk berlama-lama di dalam kereta yang berguncang. Perut Li Fengran mulai mual dan ingin muntah, tapi dia mencoba menahannya dengan menggigit bibirnya.


Nangong Zirui menangkap perubahan ekspresi di wajahnya. Dia berhenti bersandar dan tidak lagi melipat kedua tangannya di dada. Tubuhnya condong ke depan, tangannya memegangi bahu Li Fengran dan dahinya berkerut. Matanya terus memperhatikan wanita itu.


“Ada apa denganmu?” tanyanya.


“Hentikan keretanya,” jawab Li Fengran dengan suara tertahan karena ia menggigit bibirnya.

__ADS_1


“Apa katamu?” tanya Nangong Zirui lagi yang tidak mendengar perkataannya dengan jelas.


“Hentikan keretanya,” Li Fengran mendesis lagi.


“Keraskan suaramu dan bicara yang jelas,” ucap Nangong Zirui.


Li Fengran tidak tahan lagi. Dia berteriak.


“Hentikan keretanya!”


Bahkan Nangong Zirui sampai terhempas dan harus bersandar di dinding kereta akibat teriakannya. Matanya melongo sesaat, seperti sedang mengumpulkan nyawa. Kereta tiba-tiba berhenti, namun karena tadinya melaju dengan cepat, maka ketika berhenti, hukum Newton berlaku dan tubuh Li Fengran seketika kehilangan keseimbangan.


Dia terdorong sampai menimpa tubuh Nangong Zirui. Wajah keduanya berdekatan dan kulit tangan hampir menempel. Posisi mereka sangat ambigu. Li Fengran menatap wajah dan mata Nangong Zirui yang sangat dekat dengannya. Getaran di dada pria itu memberitahu bahwa pria itu memiliki detak jantung yang cukup kencang saat ini.


Nangong Zirui yang seperti kehilangan nyawa, hanya menatap mata Li Fengran dalam diam. Ini pertama kalinya dia berada sedekat itu dengan seorang wanita selain ibunya. Jantungnya tidak bisa diajak kompromi, dadanya seperti sesak karena tubuh Li Fengran menimpanya. Belum lagi wajahnya yang sangat dekat ini, membuatnya seolah-olah ingin menariknya dan memakannya saat itu juga.


Tiba-tiba, mual di perut Li Fengran kembali dan Nangong Zirui segera mendorongnya menjauh. Setelah lepas dari posisi canggung barusan, Li Fengran melompat keluar dari kereta dan langsung muntah. Pasukan khusus yang mengiringi mereka semuanya pura-pura tidak melihat dan memasang ekspresi tenang.


Para pengawal ingin bereaksi mendengar perkataan Pemangku Pedang, tapi ditahan. Sejauh ini, Pemangku Pedang adalah orang pertama yang berani hampir muntah di baju Raja. Ini prestasi besar, pikir mereka. Tampaknya, hubungan Raja dan Pemangku Pedang sudah lebih dari sekadar atasan dan bawahan.


Nangong Zirui hanya menjawab ‘oh’ tanpa memberikan tanggapan lain. Jadi selama perjalanan, mereka tidak bicara dan hanya diam sembari menyusuri jalan. Li Fengran asyik duduk di atas punggung kuda, sementara Nangong Zirui tenggelam dalam pemikiran panjangnya dan tertidur sendirian.


Sore harinya, rombongan kereta mereka sudah sampai di gerbang utama Jinchuan. Pasukan penjaga gerbang kota tidak berani menghalangi setelah melihat Pedang Xingyu di tangan Li Fengran, sehingga mereka dapat dengan mudah memasuki kota. Seakan memiliki hubungan yang dalam, Nangong Zirui segera terjaga.


“Apakah kita sudah sampai?” tanyanya dari dalam kereta.


“Ya, Yang Mulia. Mungkin, beberapa ratus meter lagi adalah pusat kota,” Li Fengran menjawab.


Nangong Zirui tiba-tiba keluar dari kereta dan menghampiri Li Fengran. Wanita itu disuruh turun dan meski masih bingung, dia tetap menurut. “Temani aku berjalan-jalan sebentar.”


“Ah? Mengapa? Apa Yang Mulia tidak ingin menunggu sampai Tuan Su datang menyambut?”


“Aku tidak suka berbasa-basi dengan pria tua itu.”

__ADS_1


Tanpa menunggu tanggapan, Nangong Zirui menariknya ke dalam keramaian dan hingar binger penduduk Jinchuan. Tempat ini adalah pusat kota pemerintahan Jinchuan, seperti sebuah ibukota negara bagian. Gedung pusat pemerintahan Jinchuan terletak di sebelah timur, sekitar dua kilometer dari tempat mereka berdiri.


Tempat ini tidak kalah ramainya dengan ibukota. Saat lentera-lentera dinyalakan, semakin banyak penduduk berkeliaran. Di beberapa gedung, suara musik terdengar seperti alunan nada malam yang sepi, yang menemani perjalanan orang-orang ini. Aneh, Li Fengran justru malah merasakan ketidaknyamanan di hatinya.


Dia teringat akan desa di atas gunung. Di sana, penduduk hanya bisa bersembunyi dan bertahan hidup dengan merampok, tentu sebelum Nangong Zirui menemukan mereka dan membebaskannya.


Sepanjang hidupnya, mungkin, mereka tidak pernah menginjakkan kaki di tempat seramai dan seroyal ini. Di sini, uang dihamburkan, sementara jauh di daerah lain, uang adalah sumber kehidupan yang menentukan kehidupan dan kematian.


“Jinchuan kaya akan sumber daya alam. Dari Empat Negara Bagian, selian Zichuan, Jinchuan menempati posisi kedua sebagai negara bagian paling makmur dan kaya. Tidak mengherankan jika kamu dapat melihat seseorang membuang uangnya di tengah jalan,” ujar Nangong Zirui seakan tahu pemikiran Li Fengran.


“Meskipun begitu, mereka taat membayar pajak. Setiap tahunnya, Su Ren akan mengirimkan laporan jumlah pendapatan yang didapat dari pembayaran pajak setiap kediaman,” lanjutnya. “Hanya saja mereka sedikit tidak bermoral dalam kehidupan sosial dan tidak punya empati yang besar terhadap kesulitan orang lain,” Nangong Zirui melengkapi ucapannya.


“Mereka bahkan sepertinya tidak peduli bahwa di wilayah ini, banyak saudara-saudara mereka yang hampir mati karena bencana banjir musim semi,” Li Fengran angkat suara, kemudian menghela napas. Ia tiba-tiba terpikirkan hal lain.


“Yang Mulia, apa yang membuatmu memiliki kenangan yang kuat di tempat ini?”


Saat itu, mereka tengah duduk di sebuah kedai di pinggir jalan dan memesan dua mangkuk mi beserta teh. Nangong Zirui tersenyum ringan sambil berkata, “Tempat ini adalah asal dari keluarga Ling.”


Li Fengran hampir tersedak. Keluarga Ling?


“Meskipun keluarga Ling ada di ibukota, leluhur mereka berasal dari Jinchuan. Aku dan Ling Sui beberapa kali datang kemari beberapa tahun setelah kami menikah.”


Setiap kali mengingat Ling Sui yang sudah tiada, hati Nangong Zirui merasakan kehilangan. Dia seperti kehilangan sahabat sekaligus teman hidupnya. Tanpa rasa cinta, namun cukup untuk menggambarkan perasaan senasib sepenanggungan di antara keduanya. Raut wajahnya sedikit muram.


Li Fengran belum berani bersuara. Bisa dilihat bahwa hubungan Raja Nangong dan mendiang Ratu Ling sebenarnya sangat baik. Hanya saja beberapa intrik mungkin telah menciptakan kesalahpahaman yang tidak dapat diselesaikan dan hanya bisa didiamkan tanpa akhir yang pasti.


Raja Nangong dan mendiang Ratu Ling, sepertinya telah sepakat memilih jalan sunyi tanpa ujung yang dapat terlihat dan tetap menjadi abu-abu dan gelap.


Hati Li Fengran ikut merasakan sakit. Tapi dia tidak tahu alasannya. Entah karena mengasihani nasib mereka yang sengaja saling melewatkan, atau karena Nangong Zirui memikirkan seseorang di dalam hatinya, Li Fengran tidak tahu pasti. Yang jelas, keadaan itu telah mendorong situasi canggung yang sulit didefinisikan. Seharusnya tidak begitu, tapi nyatanya Li Fengran telah terbawa suasana.


Nostalgia ini seharusnya menjadi salah satu alasan mengapa pria itu bersikeras ikut kemari. Li Fengran membenahi emosi dan hatinya, menarik napas dengan tenang dan mengusir jauh pemikiran buruk yang tidak masuk akalnya.


“Yang Mulia, bukankah kamu ingin berjalan-jalan?”

__ADS_1


__ADS_2