
“Kakak, daripada melepasnya dan menimbulkan masalah, bagaimana kalau kita menjualnya saja? Dia berwajah cantik, bawa dia keluar kota dan pasang harga mahal untuknya. Raja tidak akan mencarinya sampai ke seluruh penjuru Donghao, bukan?”
Chen Pang menyerahkan Li Fengran pada sekelompok penjahat untuk ditangani. Melihat kecantikan wajah Li Fengran, pikiran bisnis kotor mereka seketika mengendalikan mereka. Jika dijual, Li Fengran pasti akan laku dengan harga mahal dan itu akan sangat menguntungkan!
“Masuk akal. Bawa dia bersama gadis-gadis lainnya!”
Para penjahat itu lantas memasukkan Li Fengran ke dalam sebuah kereta kuda yang sudah diisi oleh lima orang gadis. Saat Li Fengran dimasukkan, para gadis yang sudah disekap lebih dulu membelalakkan mata.
Sudahlah jika para penjahat itu menculik mereka, tapi seorang pejabat pun bahkan tidak dilepaskan?
Hari sudah pagi ketika kereta itu bergerak keluar dari ibukota. Li Fengran tersadarkan setelah merasakan guncangan yang besar. Perutnya jadi mual. Saat dia membuka mata, dia terkejut melihat banyak gadis diikat dan mulutnya disumpal dengan kain saputangan seperti dirinya.
Li Fengran memberikan isyarat pada salah satu gadis agar mengangkat tangan mereka dan menggunakannya untuk membuka sumpalan kain di mulutnya. Setelah berjuang keras, sumpalan saputangan di mulut Li Fengran akhirnya terlepas. Mereka juga saling membantu melepaskan sumpalan di mulut mereka.
“Kalian juga diculik?” tanya Li Fengran. Para gadis mengangguk.
“Para penjahat itu menggunakan kesempatan pada perayaan festival untuk menculik kami. Nona, melihat pakaianmu, apakah kamu adalah seorang pejabat?”
“Ya. Ke mana mereka membawa kita pergi?”
“Sepertinya kita dibawa keluar dari ibukota. Mungkin, sekarang sudah sampai jalan pos, Nona.”
Li Fengran berdecak kesal. Dia mengumpat.
“Chen Pang sialan! Bukan hanya tidak melepaskanku, dia malah ingin menjualku juga?”
Li Fengran benar-benar ingin menghajar habis Chen Pang si kurang ajar itu! Beraninya dia menjualnya! Li Fengran akan menangkapnya dan membuat Chen Pang menerima hukuman atas penculikan dan perdagangan manusia!
“Baiklah, gadis-gadis, sekarang bukan saatnya untuk marah. Mari lepaskan ikatan tali ini terlebih dahulu.”
Mereka bekerja sama melepaskan ikatan tali di tangan dan kaki mereka dengan susah payah. Kereta bergoyang setiap kali mereka bergerak. Namun, si kusir tidak menyadari bahwa gerakan itu adalah upaya pelepasan diri para gadis. Kereta terus melaju melewati padang rumput dan danau.
Ikatan di tangan dan kaki mereka sudah terlepas. Li Fengran memimpin diskusi, memikirkan cara melarikan diri tanpa membiarkan para penjahat ini kabur.
Para gadis menangguk-ngangguk mengerti. Mereka juga ingin pulang, orang tua mereka pasti khawatir dan mencari mereka ke mana-mana.
“Ketika berhasil, aku akan melawan para penjahat itu. Kalian bisa lari sejauh mungkin,” ucap Li Fengran. Dia berencana menghajar para penjahat dan mengikat mereka, lalu membawa mereka ke Mahkamah Agung untuk diadili.
Tapi, para gadis itu menggeleng.
“Kami tidak akan pergi. Kami akan membantumu. Nona tidak akan bisa menghadapi para penjahat itu sendirian.”
“Tapi, bagaimana jika kalian celaka?”
__ADS_1
“Nona, percayalah, kita bisa pulang ke ibukota bersama-sama.”
Keyakinan yang diberikan oleh para gadis membesarkan hati Li Fengran. Dia mengangguk.
Ketika kereta memasuki kawasan hutan, mereka memulai aksi penyelamatan diri dengan berteriak kesakitan. Para penjahat perdagangan manusia langsung meminta kusir menghentikan kereta.
Para penjahat itu bodoh, mereka tidak sadar bahwa para gadis yang berteriak itu sebelumnya sudah disumpal mulutnya. Kusir menghentikan kereta, salah seorang pimpinan penjahat berjalan menghampiri kereta untuk melihat apa yang terjadi.
Saat dia membuka tirai kereta, serbuk tepung langsung terbang ke udara, membuat matanya kelilipan. Pada saat itulah Li Fengran melompat keluar bersama gadis-gadis lainnya.
“Sial! Kita ditipu! Tangkap mereka!”
“Gadis-gadis, let's go, saatnya beraksi!”
Li Fengran mengeluarkan pedang korsetnya dari pinggang dan memukuli sekumpulan penjahat perdagangan manusia. Sementara itu, para gadis mengambil batu dan pasir untuk membantu Li Fengran.
Percikan darah dari anggota tubuh yang sobek karena luka sabetan pedang mengenai pakaian Li Fengran dan para gadis, namun tidak menyurutkan semangat dan kegigihan mereka untuk bertarung.
Li Fengran sangat gesit dalam menyerang. Dia mengincar kaki dan tangan para penjahat, melukai mereka dengan pedang korsetnya.
Li Fengran menuruti ajaran Nangong Zirui untuk melumpuhkan mereka terlebih dahulu. Dia juga menerapkan teknik pedang yang diajarkan oleh pria itu untuk melawan orang dalam jumlah banyak.
Nangong Zirui benar, pedang korset lebih mudah digunakan dalam kondisi darurat. Jika dia masih membawa Pedang Xingyu, para penjahat ini pasti sudah merampasnya. Perhitungan matang dari Nangong Zirui telah membantu Li Fengran menyelamatkan diri.
Dari sepuluh penjahat, tinggal lima orang lagi yang belum ditangani. Para gadis juga sudah kelelahan, tangan mereka berdarah dan beberapa bagian tubuh memar terkena pukulan.
Penampilan Li Fengran sudah acak-acakan. Rambutnya tidak tersanggul rapi, sebagian kain di pakaiannya robek dengan noda darah di mana-mana.
Wajahnya lumayan pucat dan keringatnya mengucur di dahinya. Napas Li Fengran cepat dan detak jantungnya tidak beraturan.
“Yo, wanita pejabat yang diculik ini cukup berkemampuan juga. Kakak-kakak, mengapa kita tidak bermain dengannya lebih dulu?” ucap salah satu penjahat.
“Chen Pang benar-benar berselera. Dia memilihkan mangsa yang bagus untuk kita!”
Li Fengran meludah karena jijik. Dia jijik mendengar nama Chen Pang, juga jijik pada para penjahat yang terlibat perdagangan manusia ini. Meski dia harus bertarung sampai mati, Li Fengran menolak menyerah dan akan terus melawan.
Dia mengumpulkan tenaganya yang masih tersisa. Sesekali Li Fengran melirik para gadis yang sudah tidak berdaya.
Dia harus segera menyudahi perkelahian dan menyelamatkan mereka!
“Hentikan omong kosongmu! Aku, Li Fengran, tidak mudah dikalahkan!”
Li Fengran kembali menyerang. Satu melawan lima memang meninggalkan gap yang terlalu besar.
__ADS_1
Li Fengran kewalahan, dia beberapa kali terkena pukulan dan jatuh tersungkur di tanah berdebu. Pegangannya pada pedang mengerat, kemarahan yang bercampur ketidakberdayaan membludak seperti sebuah bendungan yang tanggulnya jebol.
Li Fengran menggila. Dia mengumpulkan tenaganya lagi, memusatkan pikiran pada ilmu sukma yang pernah diajarkan Nangong Zirui di waktu-waktu senggangnya.
Li Fengran menutup matanya, memutar pedangnya, lalu dengan gerakan kilat menggunakan teknik pedang terakhir untuk melawan lima penjahat yang tersisa.
Seperti angin yang berhembus, dia bergerak sangat cepat dan saat terasa, tubuh kelima penjahat yang tersisa rubuh ke tanah dengan darah mengalir dari perut dan tangan mereka. Li Fengran berhasil melumpuhkan mereka dengan satu gerakan terakhir sebelum dirinya ambruk.
Saat sadar kembali, Li Fengran sudah berada di dalam kemah sederhana yang dibangun oleh para gadis. Dia keluar untuk menyaksikan para gadis duduk melingkari api yang sedang menyala.
Tidak jauh dari sana, Li Fengran melihat sekumpulan penjahat diikat dengan erat di batang pohon dalam kondisi babak belur.
“Nona, kamu sudah sadar. Mari, duduklah bersama kami,” ucap salah seorang gadis setelah melihat Li Fengran berdiri di depan kemah sederhana yang mereka buat. Li Fengran kemudian bergabung bersama mereka.
“Kalian tidak apa-apa? Apa kalian terluka?”
Para gadis menggelengkan kepalanya.
“Berkat Nona, luka di tubuh kami tidak parah.”
“Syukurlah. Setelah kembali, segera obati luka kalian. Tidak baik bagi gadis memiliki bekas luka di tubuh mereka.”
“Nona, kamu bertugas di kementrian mana? Kemampuan beladirimu begitu bagus. Kamu juga punya sebilah pedang lentur yang bisa disembunyikan di pinggang.”
“Itu adalah pedang korset,” ucap Li Fengran. “Aku tidak bertugas di kementrian apapun.”
“Ah? Tidak di kementrian apapun? Lalu jabatan apa yang kamu duduki? Nona, siapa kamu sebenarnya?”
Karena para gadis begitu penasaran, Li Fengran akhirnya memberitahu mereka dengan terpaksa. “Aku adalah Pemangku Pedang.”
Para gadis seketika membelalakkan mata dan saling memandang.
“Pemangku Pedang?”
“Ya.”
“Ya ampun, kami tidak menyangka akan bertemu Pemangku Pedang! Nona, kamu benar-benar Pemangku Pedang? Tidak heran kamu begitu terampil dan cekatan.”
Mereka sama sekali tidak menyangka kalau nona pejabat yang disekap dan hampir dijual bersama mereka adalah Pemangku Pedang, seorang pejabat wanita yang bertugas menjadi pendamping Raja Donghao. Seharusnya sejak awal mereka sadar bahwa hanya ada satu pejabat wanita di Kerajaan Donghao saat ini. Karena kalut, mereka tidak memikirkannya.
“Lalu apakah Raja akan segera datang menyelamatkan kita?” tanya seorang gadis.
Li Fengran mengangguk sambil tersenyum. Dia yakin. Dia yakin Nangong Zirui akan segera datang mencarinya dan menyelamatkannya.
__ADS_1
“Pasti. Raja pasti akan datang menyelamatkan kita.”