The Choice Queen

The Choice Queen
TCQ 63: Singa Betina


__ADS_3

Suasana hati Li Fengran sedang buruk. Nangong Zirui menambahkan beberapa pelayan dan kasim ke Istana Changsun untuk menjaga dan melayaninya, namun itu justru membuat hari-hari tenang Li Fengran terganggu. Istana yang biasanya sepi itu sekarang dipenuhi banyak orang.


Tapi, Li Fengran tidak berani memarahi mereka karena mereka datang atas perintah Raja. Li Fengran lebih suka hidup dalam ketenangan dan melakukan segalanya sendiri. Dilayani banyak orang seperti ini malah membuatnya merasa kalau dia akan mendapat kesialan. Mengapa rasanya dia akan mendapat nasib buruk?


Bagaimanapun, seorang Pemangku Pedang sepertinya sebenarnya tidak pantas menerima pelayanan layaknya wanita istana. Li Fengran termasuk menteri Raja, keberadaannya di Istana Changsun pun sudah membuat banyak masalah untuknya. Karena dia tidak seperti Pemangku Pedang pertama yang merangkap Ratu Donghao, seharusnya dia tinggal di luar dan punya kediaman sendiri.


Setidaknya itu yang masuk akal dari pikirannya, namun kenyataannya Nangong Zirui justru menginginkan agar dia selalu berada dekat dengannya. Li Fengran tidak peduli apa kata orang, tapi jika dia menerima banyak perlakuan khusus, maka masalah yang datang padanya akan jauh lebih banyak.


Dia mendengus sembari memecahkan kastanye dengan tangannya. Di taman Istana Changsun, dia berbaring di atas kursi malas sambil berjemur cahaya matahari pagi. Li Fengran baru bisa bersantai setelah dia mengusir para pelayan dan kasim baru ke bagian belakang istana dan menyuruh mereka berkebun.


Kram di perutnya sudah tidak datang dan dia bisa lebih bersantai walau emosinya sedang labil. Tamu bulanan memang selalu membuat emosinya naik turun.


Jika ada yang membuatnya tidak senang, dia bisa marah seperti singa betina. Kalau dia sedih, maka dia akan sedih lebih dari seorang istri yang kehilangan suaminya.


Di pintu gerbang, Xiang Wan yang hendak mengambil beberapa bahan obat berpapasan dengan Nangong Zirui yang hendak memasuki Istana Changsun.


Setelah memberi hormat, Xiang Wan kemudian bertanya pada Nangong Zirui, “Yang Mulia akan mengunjungi Nona?”


Nangong Zirui mengangguk.


“Apa dia sedang senggang?”


Li Fengran agak ragu, tapi tidak menjawabnya justru akan membuat Raja marah.


“Yah, Nona memang sedang senggang. Hanya saja emosinya tidak baik. Yang Mulia, berhati-hatilah, Nona sangat sensitif hari ini.”


“Baiklah, aku mengerti.”


“Kalau begitu, silakan, Yang Mulia.”


Setelah Xiang Wan memberinya jalan, dia langsung melangkahkan kakinya. Dia melihat sosok Li Fengran sedang berbaring di kursi malas di bawah cahaya matahari, tangan wanita itu memegang biji kastanye dan memecahkannya lalu memakan isinya. Dia tidak menyadari kehadiran Nangong Zirui karena sangat fokus berjemur sambil mengemil.


Nangong Zirui menghentikan langkahnya pada jarak sepuluh meter dari tempat Li Fengran berada. Wanita itu menghentikan aktivitas memecahkan kastanyenya, menaruhnya kembali di meja.


Dia sendiri malah meletakkan kedua tangannya di perut dan mulai memejamkan mata. Nangong Zirui memperhatikannya selama beberapa saat.


Apakah wanita itu mencoba tidur di bawah cahaya matahari?


Nangong Zirui lantas menyambung langkahnya dan menghampirinya. Nangong Zirui berdiri di dekat kepala Li Fengran, lalu mencondongkan tubuhnya untuk melihat wajah wanita itu.


Merasa seseorang telah menghalangi cahaya matahari dan mengganggunya, Li Fengran jadi kesal.

__ADS_1


“Bukankah aku menyuruh kalian pergi berkebun? Mengapa kalian malah menghalangiku berjemur?”


Tidak ada jawaban. Li Fengran masih memejamkan mata dan enggan membukanya karena malas. Dia berkata lagi, “Aku hitung, jika tidak segera menyingkir, jangan salahkan aku karena bersikap tidak sungkan!”


“Apa yang mau kamu lakukan?”


Mendengar suara itu, Li Fengran sontak membuka matanya. Dia melihat wajah Nangong Zirui ada di atas wajahnya dalam arah terbalik.


Mata mereka berkedip menandakan bug sementara yang datang pada otak mereka. Saat kedipan ketiga, Li Fengran seolah tersadar.


“Astaga! Yang Mulia!”


Dia buru-buru bangkit. Nangong Zirui belum sempat menghindar sementara gerakan Li Fengran sangat cepat. Alhasil, kedua kening manusia itu beradu. Sontak saja mereka memegangi dahi mereka yang baru saja berbenturan. Tidak keras, tapi cukup sakit.


“Aduh! Yang Mulia, mengapa kamu tidak menghindar?”


“Kamu bergerak terlalu cepat. Aku mana sempat menghindar,” Nangong Zirui membela diri sambil memegangi keningnya.


“Kenapa Yang Mulia menyalahkanku?”


“Kapan aku menyalahkanmu?”


“Barusan, kamu menyalahkanku barusan, mengatakan kalau aku bergerak terlalu cepat!”


“Siapa suruh Yang Mulia menghalangi cahaya mataharinya dan mengejutkanku!”


“Aku takut wajahmu gosong. Aku berbaik hati menghalaunya untukmu, tapi kamu malah begini.”


“Matahari pagi tidak akan membakar kulit. Yang Mulia, kamu menghalangiku mendapatkan vitamin D secara gratis! Aku merugi satu hari!”


“Bicara apa kamu ini?”


“Maksud Yang Mulia, aku meracau?”


“Menurutmu?”


Kemudian terjadi cekcok antara Nangong Zirui dan Li Fengran. Keduanya sama-sama mendebatkan siapa yang salah di sini. Nangong Zirui bersikeras pada pendiriannya dan terus mengatakan Li Fengran yang salah, sementara Li Fengran sebaliknya dan tidak mau kalah.


Wang Bi jadi bingung bagaimana cara menghentikan mereka. Raja sepertinya telah melupakan pesan Xiang Wan tentang emosi Li Fengran yang buruk hari ini.


Pemangku Pedang benar-benar sulit dihadapi ketika suasana hatinya sedang tidak baik. Dia bahkan berani berdebat dengan Raja tanpa memperhatikan sekitar.

__ADS_1


Sesekali Wang Bi memperingatkan mereka, namun dia justru malah mendapat omelan dan disuruh diam. Nangong Zirui dan Li Fengran terus berdebat, arah pembicaraan mereka sudah merembet ke mana-mana.


Singa betina itu tidak pernah mau kalah pada seseorang. Sebelum Nangong Zirui berhenti bicara, Li Fengran pasti tidak akan pernah berhenti.


“Xiao Feng, pikiranmu kacau. Sebaiknya kamu minum obat.”


“Pikiran siapa yang kacau? Yang Mulia, aku jelas sangat waras.”


“Kalau kamu waras, kamu tidak akan mendebatku seperti ini,” gumam Nangong Zirui.


Pada kondisi normal, Li Fengran tidak akan terlalu berani berdebat dengannya karena dia memiliki rasa takut. Ah, apakah wanita yang sedang datang bulan memang sangat sensitif?


Li Fengran sendiri tidak sadar kalau mereka telah mendebatkan hal yang sepele. Pada kondisi seperti ini, hal sepele juga bisa menjadi besar. Dia mengambil kembali kastanye dan mengupas kulitnya, kemudian memakannya tanpa memedulikan Nangong Zirui.


“Yang Mulia, ini hari liburku. Yang Mulia tidak boleh menganggunya.”


“Aku tidak mengganggumu.”


“Tapi barusan, kamu mengganggu ketenanganku.”


“Kamu mengusirku?”


“Aku mana berani.”


Nangong Zirui menghela napas. Xiang Wan benar, emosi wanita ini sungguh buruk hari ini. Dia seperti remaja labil, yang sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit tenang. Ini jauh lebih sulit dibandingkan menghadapi sekumpulan menteri yang terus mendebatnya di pengadilan.


Li Fengran kembali mengabaikannya. Kali ini, wanita itu benar-benar memejamkan matanya. Bahkan kastanye di tangannya saja tidak dikupas dan tetap dalam posisinya. Nangong Zirui menatapnya lagi, dia mengibas-ngibaskan tangannya di dekat wajah Li Fengran.


Tidak ada reaksi. Wanita itu juga tidak menyahuti panggilannya.


“Apa dia benar-benar tidur?” ucapnya. Wang Bi kemudian berkata, “Yang Mulia, Pemangku Pedang mungkin ingin beristirahat.”


“Baiklah. Kamu bebas hari ini.”


Nangong Zirui lantas pergi. Setelah pria itu tidak ada, Li Fengran langsung membuka matanya dan tertawa lepas. Dia mengupas kembali kastanye dan memakannya. Dia tidak tidur. Li Fengran hanya tidak ingin melihat Nangong Zirui lebih lama.


Rasanya pria itu seperti hantu yang membuat jantungnya terus berdetak tidak karuan. Sudah ia bilang, dia butuh ketenangan. Karena para pelayan dan kasim baru tidak bisa diusir, maka Li Fengran hanya bisa mengusir tuan mereka yang menjadi biang keroknya.


Sementara itu, Nangong Zirui dan Wang Bi belum pergi jauh. Mereka baru tiba di depan gerbang, sedikit lagi tinggal menjejaki tanah di luar Istana Changsun.


Nangong Zirui tiba-tiba berbalik, dia menoleh ke tempat Li Fengran berada dan mendapati wanita itu sedang tertawa lepas sambil memakan kastanye.

__ADS_1


Nangong Zirui mendengus.


“Dasar singa betina! Beraninya dia menipuku!”


__ADS_2