
Mahkamah Agung mengirimkan laporan terkait penangkapan Tuan Besar Jinchuan dan pemilik Rumah Bordil Xiaoqin kepada Raja beberapa hari kemudian. Status Su Ren dan pemilik Rumah Bordil Xiaoqin diubah menjadi tersangka dan mereka sudah dijebloskan ke dalam penjara guna penyelidikan lebih lanjut.
Su Min telah jatuh ke dalam kondisi putus asa ketika Shen Lihua mengunjunginya. Wanita itu merenung sepanjang hari dan terus murung.
Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Raja sudah memutuskan tidak melepaskan ayahnya, maka segalanya jadi lebih rumit.
“Adik, tenanglah. Pasti ada jalan keluar untuk ayahmu. Yang Mulia Raja bukan orang yang tidak punya hati,” ucap Shen Lihua menenangkan. Sejujurnya, dia juga tidak tahu bagaimana cara membantu Su Min.
“Tapi terharap orang yang mengkhianatinya, dia tidak akan berbelas kasih. Kakak, apakah kamu punya cara?” Su Min menatap Shen Lihua penuh harap. Dia sungguh berharap Shen Lihua dapat membantunya. “Bisakah kakak membantuku? Ayahku, dia mungkin sangat serakah, tapi sungguh dia bukan seorang pembunuh.”
Shen Lihua terkejut. “Pembunuh? Apa maksudmu?”
“Yang Mulia menemukan bahwa mendiang Ratu Ling meninggal karena diracuni. Penyakit mendiang Ratu Ling, adalah penyakit disengaja yang dibuat untuk membunuhnya secara perlahan.”
“Lalu apa hubungannya dengan Tuan Besar Su?”
“Racun itu… racun itu ada di dalam dupa yang dikirimkan Rumah Bordil Xiaoqin. Mendiang Ratu Ling menyukai aromanya, dia meminta dupa yang sama dikirimkan ke istananya. Sungguh, ayahku tidak mungkin menjadi pembunuh.”
Untuk sesaat Shen Lihua kehilangan kata-katanya. Apa katanya? Raja menemukan kenyataan bahwa kematian dan penyakit mendiang Ratu Ling adalah sebuah kesengajaan yang direncanakan? Mengapa dia tidak tahu soal ini? Tuan Besar Jinchuan, Su Ren, melakukannya?
Shen Lihua kesulitan menyimpulkan. Menurut pengamatannya, Su Ren memang rakus akan harta, suka korupsi dan sering mengabaikan pajak orang-orang kaya demi keuntungannya.
Tapi, dia tidak pernah punya niat membunuh. Terhadap orang-orang istana, terutama keluarga kerajaan, Su Ren tidak akan bertindak gegabah.
Jika dupa beracun memang berasal dari Jinchuan, maka Su Ren seharusnya lebih tidak gegabah. Dia pasti sebisa mungkin menghindari kesalahan.
Untuk apa dia meninggalkan petunjuk yang begitu jelas? Apakah mungkin dia ingin membunuh dirinya sendiri dengan mengungkap kejahatannya?
“Aku tahu. Tuan Besar Su tidak akan membunuh Ratu Donghao.”
“Kakak, tolonglah. Bantu aku membujuk Yang Mulia,” mohon Su Min.
“Adik, bukan aku tidak mau, tapi aku tidak bisa. Kamu sangat tahu seperti apa sifat Yang Mulia. Dia paling membenci kebohongan dan pengkhianatan. Meski aku yang bicara, dia tidak akan mendengarkan.”
“Apa yang harus aku lakukan? Kakak, ayahku tidak membunuh mendiang Ratu Ling. Seseorang pasti menjebaknya!”
Pada saat ini, Shen Lihua terjepit di antara dua keadaan. Di satu sisi, keberadaan Su Min tidak berbahaya baginya, jadi tidak benar menyingkirkannya secepat ini.
Di sisi lain, bagaimanapun Su Min memiliki sandaran di Jinchuan dan jika Jinchuan dikembalikan kepada kerajaan, maka otoritas yang tersisa hanya tinggal Mochuan dan Zichuan.
Dua kekuatan itu akan menjadi dualisme kekuasaan yang sangat kentara di kerajaan. Itu tidak akan bagus untuknya. Tapi, dia juga kesulitan bergerak karena Shen Jinglang terus mengawasi pergerakannya. Shen Lihua hanya bisa melihat situasi tanpa bisa melakukan apapun untuk menolong.
“Bagaimana dengan Ibu Suri? Apakah kamu sudah bicara dengannya?” tanya Shen Lihua. Mungkin, Su Min bisa mencari bantuan Ibu Suri.
“Aku sudah memohon padanya, tapi Ibu Suri mengatakan kalau dia mengikuti kehendak Yang Mulia Raja,” Su Min berkata sedih. Air matanya terus mengalir. “Kakak, bisakah kamu meminta bantuan Tuan Besar Zichuan untuk membantu?”
“Entahlah. Kakakku tidak pernah ikut campur urusan antar wilayah. Adik, aku akan memikirkan cara lain.”
__ADS_1
Setelah itu, Shen Lihua menyuruh Su Min untuk tetap tinggal di istananya. Dia kembali ke kediamannya, kemudian menuliskan sebuah surat dan menyuruh pelayan mengantarkannya. Isi surat itu, bukanlah permintaan menolong Su Ren, melainkan sebuah pertanyaan.
Shen Lihua ingin bertanya apakah ini ada hubungannya dengan kakaknya. Dia tahu Shen Jinglang pergi ke Jinchuan beberapa waktu lalu.
Kemungkinan besar, tereksposnya kasus kejahatan Su Ren ada kaitannya dengan kedatangan Shen Jinglang ke Jinchuan. Shen Lihua jadi semakin bingung dengan jalan pikiran kakaknya.
Shen Jinglang menginginkan kekuasaan penuh, tapi dia malah menyingkirkan salah satu mitranya. Jika Jinchuan jatuh ke tangan Raja, maka kekuatan pengadilan menjadi lebih kuat lagi. Bukankah itu sangat merugikan?
“Yang Mulia, apakah perlu memberitahu Selir Su terkait siapa yang memulai penyelidikan dupa dan membuat kejahatan Tuan Besar Su menjadi bertambah?” pelayan Shen Lihua bertanya. Ini saatnya membalikkan keadaan dan membalas seseorang.
“Jika kita memberitahunya, Selir Su pasti akan mencari pelampiasan. Saat itu, Pemangku Pedang akan kesulitan melarikan diri,” pelayan berkata lagi.
Shen Lihua mengulum senyumnya. Su Min, meski bukan ancaman, tapi bisa menjadi bidak yang bagus. Shen Lihua selalu membenci Li Fengran.
Memberinya pelajaran menggunakan tangan orang lain sepertinya tidak apa-apa. Dengan sifat Su Min, ditambah dia yang sedang putus asa, maka pikirannya akan mudah dikendalikan.
Jika Selir Su mencari pembalasan kepada Pemangku Pedang, bukankah pertunjukkan akan semakin menarik? Terlepas dari apapun risikonya nanti, ini adalah kesempatan baik untuk membalas dendam kepada Pemangku Pedang.
“Beritahu, tapi jangan meninggalkan jejak.”
“Laksanakan, Yang Mulia.”
*
Su Ren dan pemilik Rumah Bordil Xiaoqin sedang diinterogasi di Mahkamah Agung. Orang yang menginterogasinya adalah Menteri Mahkamah Agung dan Menteri Penyelidikan yang berada di bawah pengawasan langsung Raja. Ruangan interogasi dibatasi sebuah tirai yang memisahkan tahanan dengan tempat duduk Raja.
Suara teriakan kesakitan dari Su Ren dan pemilik Rumah Bordil Xiaoqin bergema silih berganti. Di penjara yang pengap dan lembab ini, resonansi suara menjadi lebih besar.
Menteri Mahkamah Agung sampai geram dan sangat ingin langsung membunuhnya. Menurut pemikirannya, penguasa seperti Su Ren adalah belatung dalam daging yang bisa membuat daging membusuk.
Mahkamah Agung setia kepada Raja, sehingga saat menerima kabar penangkapan dan penyelidikan penguasa Jinchuan, mereka langsung berangkat tanpa menunggu waktu.
Li Fengran yang berdiri di samping Nangong Zirui di balik tirai merasakan kengerian yang luar biasa. Teriakan kesakitan itu menggema menusuk telinga dan hati. Itu pasti sangat menyakitkan. Ia akui, metode penyiksaan zaman kuno memang sangat kejam. Mereka menggunakan penyiksaan untuk mendapatkan pengakuan.
“Yang Mulia, menurutku menyiksanya seperti itu tidak akan membuatnya bicara,” ucap Li Fengran yang sudah tidak tahan.
“Oh? Lalu apakah kamu punya cara yang lebih baik?”
“Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. Biarkan aku mencobanya.”
“Pergilah.”
Li Fengran ada di balik tirai, dia melihat sosok Su Ren yang beberapa waktu lalu terlihat sehat dan bugar berubah menjadi seorang pesakitan yang sekujur tubuhnya dipenuhi luka dan darah. Baju tahanan berwarna putihnya sudah lusuh dan rambutnya berantakan.
Sudut mulut orang itu berdarah sementara tangan dan kakinya diikat di tiang. Mengerikan. Ini persis seperti yang Li Fengran lihat di dalam drama televisi.
“Tuan Su, apakah kamu masih ingin bungkam?” tanya Li Fengran. Su Ren mendecih dan meludah ke depan Li Fengran. Untung saja Li Fengran berhasil menghindar dengan mundur dua langkah.
__ADS_1
“Heh, mau bunuh ya bunuh saja. Untuk apa bertele-tele?” ucap Su Ren.
Seumur hidupnya, dia paling tidak bisa menerima penghinaan. Keluarga Su menjadi penguasa di Jinchuan setelah keluarga Ling pindah ke ibukota dan Su Ren telah menikmati banyak kemuliaan. Harta yang dikumpulkan susah payah, meski harus menempuh banyak cara yang tidak benar, adalah pencapaiannya selama bertahun-tahun.
Sungguh tidak disangka kedatangan Raja ke Jinchuan untuk memberi bantuan bencana ternyata membawa petaka untuknya. Kelicikan dan kejahatannya dalam hal keuangan tidak hanya terekspos, bahkan membuat Raja menyelidiki lebih jauh sampai menemukan kejanggalan pada kematian mendiang Ratu Ling.
Raja yang seperti ini jauh lebih mengerikan. Su Ren mengakui dia sudah meremehkan lawannya.
“Mati itu mudah. Kalau kamu mau mati, tidak apa-apa. Tapi, apakah kamu rela meninggalkan putrimu di istana yang besar ini?” tanya Li Fengran. Raut wajah kacau Su Ren tiba-tiba berubah.
“Kamu! Jangan pernah menyentuh putriku! Sampai jadi hantu pun aku tidak akan melepaskanmu jika kamu berani menyentuhnya!” seru Su Ren.
“Bicara soal hantu, apakah kamu tahu kalau mendiang Ratu Ling mendatangiku dalam mimpi? Coba kamu tebak apa yang dia sampaikan padaku dalam mimpi. Bisakah kamu menebaknya, Tuan?”
“Apa hubungannya denganku? Dia mendatangimu dalam mimpi, maka itu adalah kesalahanmu!”
Li Fengran menggelengkan kepalanya. “Salah. Kamu salah.”
Lalu, tatapannya berubah menjadi dingin. Ruang interogasi seketika jadi mencekam.
“Dia bilang kamu yang membunuhnya. Katakan, bagaimana caramu meracuni mendiang Ratu Ling lewat dupa?”
“Omong kosong! Dupa? Sejak kapan aku, Su Ren, memelihara dupa?”
“Rumah Bordil Xiaoqin ada dalam yurisdiksimu. Mudah bagimu untuk mengendalikan apapun yang dilakukan di sana, termasuk menukar dupa yang dipasok ke istana untuk mendiang Ratu Ling.”
Senyum dingin Li Fengran terukir, membuat Su Ren sedikit menggigil. Sialan, mengapa bisa begini? Bukankah dia sudah menyembunyikannya dengan baik? Mengapa masih menyisakan celah?
“Tuan Su, kamu menukar dupa pesanan mendiang Ratu Ling dengan dupa beracun yang membunuhnya secara perlahan. Selain korupsi, kamu juga bekerjasama dengan para pengusaha kaya yang kikir demi keuntunganmu. Jika kamu masih bersikeras, aku punya cara lain untuk membuatmu bicara.”
Li Fengran kemudian menyuruh seseorang menjemput pemilik Rumah Bordil Xiaoqin. Pemilik rumah bordil itu, bibi yang saat itu menerima Li Fengran, masuk dalam keadaan tak kalah mengerikannya. Wajahnya yang biasanya dipoles riasan tebal sangat lusuh dan tubuhnya dipenuhi darah.
“Mama, rekanmu tidak mau bicara. Jika kamu bisa bicara mewakilinya, Yang Mulia mungkin masih bisa mengampuni nyawamu.”
Di bali tirai, Nangong Zirui diam-diam tersenyum.
“Tuan Pemangku Pedang, kamu adalah pejabat yang baik. Kamu tidak akan mengingkari janji, kan?” tanya si bibi dengan nada memohon.
“Tentu saja.”
“Du-dupa beracun itu, awalnya hanya dupa biasa. Kamu juga tahu dupa itu digunakan di Rumah Bordil Xiaoqin. Setelah mendengar kabar kalau mendiang Ratu Ling menyukai aromanya dan ingin memasok dupa, Tuan Besar Su menyuruhku mengirimkan pasokan dupa ke kediamannya. Dia bilang dia sendiri yang akan mengatur pengiriman ke ibukota. Aku sungguh tidak tahu kalau dia menukarnya dengan dupa beracun. Pemangku Pedang, aku sungguh dimanfaatkan!”
Su Ren membelalak. “Kamu!”
“Tuan Besar, nyawaku hanya ada satu. Aku tidak akan melupakan jasamu yang telah membantu Rumah Bordil Xiaoqin. Aku akan membalasmu di kehidupan selanjutnya,” ucap si bibi.
Li Fengran menyeringai. Mulut wanita ternyata sangat berbahaya. Dalam keadaan terdesak, wanita bisa mengubah keadaan dan membalik situasi demi menyelamatkan diri.
__ADS_1
“Tuan Su, kamu bisa menganggap pengakuan Mama ini sebagai upaya menyelamatkan diri. Tapi kamu tidak perlu khawatir, aku sudah mendapat saksi lain yang tahu jelas kalau kamu yang menukar dupa beracunnya.”
“Jadi, Tuan Su, apakah kamu bisa memberitahuku, mengapa kamu membunuh mendiang Ratu Ling?”