
Di Istana Dingin, Su Min mendapatkan hari-hari yang lebih buruk daripada di penjara. Saat malam hari tiba, suara-suara menakutkan di belakang istana selalu terdengar, seperti suara hantu yang memanggilnya untuk memaksanya bergabung bersama mereka.
Terpencil, sunyi, dijaga ketat dan tidak ada akses menjadikan Istana Dingin sangat menakutkan. Tempat ini lebih mengerikan daripada penjara. Meskipun penghuninya bisa melihat cahaya matahari, namun hidupnya tidak lebih dari seorang tahanan rumah. Dia akan disiksa dengan kesendirian dan rasa tertekan sepanjang hidupnya.
Su Min beruntung karena Raja tidak menguncinya di dalam bangunan istana. Beberapa selir yang dibuang ke Istana Dingin pada beberapa puluh tahun ke belakang biasanya dikurung di dalam bangunan istana.
Semua jendela yang meneruskan cahaya ditutup dan dikunci. Pintu juga dikunci sehingga ruangan itu menjadi gelap, tidak ada bedanya antara siang dan malam.
Orang yang mendapat akses hanyalah pengantar makanan. Lama kelamaan, mata selir yang dikurung di dalam bangunan Istana Dingin akan buta karena terus berada dalam kegelapan.
Tidak dapat bergerak bebas dan tidak melihat cahaya, itu sudah cukup untuk membuat seseorang sangat menderita. Pada akhirnya, kebanyakan selir yang dikurung lebih memilih bunuh diri karena tidak tahan pada tekanan dan kesengsaraan yang datang pada mereka.
Katanya, roh-roh para selir yang dikurung sejak Donghao didirikan berubah menjadi roh gentayangan. Beberapa orang sering berkata mereka kerap mendengar suara wanita menangis dan meraung di malam hari. Suara itu seperti sedang memberitahu betapa sengsaranya mereka sebelum mati.
Su Min berkali-kali terjaga setiap kali suara-suara aneh tersebut terdengar. Itu membuatnya sering kali tidak bisa tidur dan perlahan kesehatan mentalnya mulai terganggu.
Setelah berita eksekusi ayahnya sampai ke telinganya, Su Min menggila dan menghancurkan semua benda di Istana Dingin.
Dia juga hampir membunuh satu-satunya pelayan yang diberikan kepadanya. Pelayan tersebut ketakutan dan berlari mencari bantuan.
Namun sampai malam tiba, pelayan tersebut tidak kembali. Hanya ada Su Min di dalam istana, dia menatap bulan yang meredup dengan tatapan kosong.
Su Min menoleh saat dia mendengar sebuah suara seperti sepasang kaki yang sedang melangkah ke arahnya. Di bawah cahaya redup bulan yang masuk melalui jendela, dia melihat secara samar sosok seorang pria, berjubah hitam, tampak misterius sedang berjalan kepadanya.
“Siapa kamu?” tanya Su Min. “Siapa yang mengizinkamu masuk kemari?”
Pria itu berhenti tepat di depannya. Kepalanya ditutupi penutup yang menyatu dengan jubah hitamnya.
Penampilannya ini, jika Li Fengran ada, dia pasti akan menyebutnya sebagai malaikat maut. Pria itu kemudian membuka tudung kepalanya, mendongak dan tersenyum kepada Su Min.
“Aku adalah malaikat mautmu,” ucap pria itu.
Perasaan Su Min tiba-tiba memburuk. Dia menatap lekat wajah itu, lalu matanya membelalak. “Kamu! Mengapa itu kamu?”
__ADS_1
Pria itu menyeringai. “Jika bukan aku, lantas siapa lagi? Apakah kamu pikir Raja yang akan datang?”
Su Min mundur saat pria itu mendekat. Dia merasakan bahaya menghampirinya.
“Aku tidak punya urusan denganmu. Mau apa kamu kemari?” tanya Su Min lagi. “Zichuan dan Jinchuan tidak memiliki dendam. Keluarga Su juga sudah hancur.”
“Urusanku denganmu bukan terkait wilayah,” pria itu menyeringai lagi. “Su Min, kamu telah membuatku marah. Siapa yang mengizinkanmu bertindak padanya?”
Su Min kebingungan tentang kepada siapa orang ini merujuk. Dia berpikir sejenak, kemudian tiba-tiba tertawa remeh. Pria ini datang karena Su Min telah mengganggu wanita itu!
“Heh, jadi, kamu menyukai Pemangku Pedang? Seorang Tuan Besar Zichuan, Shen Jinglang yang terhormat, ternyata menyukai perempuan rendahan bernama Li Fengran?”
Shen Jinglang tersulut emosi. Dia ingin memotong lidah Su Min yang kurang ajar, tapi dia berpikir bahwa itu akan sangat merepotkan ketika dia memalsukan kematiannya.
Shen Jinglang yang tidak senang karena Su Min berani menyakiti Li Fengran langsung mencekik lehernya dan menyeringai.
“Meskipun kamu tahu, kamu tidak akan bisa memberitahukannya kepada orang-orang,” bisik Shen Jinglang.
“Ap-apa yang-yang ingin kamu lakukan?” Su Min mulai sesak napas karena leherya dicekik.
Kemudian, tangannya yang bebas menyentuh dahi Su Min yang mulus. Tatapan matanya dipenuhi dengan aura membunuh yang suram, jauh lebih suram daripada Istana Dingin di malam hari ini. Shen Jinglang membelainya sesaat, dia mencium dahi Su Min dengan bibir dinginnya.
“Di sinikah kamu melukainya?” tanyanya sambil menyentuh dahi Su Min. Su Min bergidik, dia berusaha melepaskan dirinya namun tenaganya tidak sebanding dengan tenaga seorang pria seperti Shen Jinglang.
“Bagaimana? Apakah kamu suka dengan hadiahku barusan, Nona Su? Ah, ayahmu juga menyukai hadiah yang kuberikan kepadanya terakhir kali. Ups, tapi seseorang ternyata mengacaukannya.”
Su Min lalu membelalak.
“Itu kamu! Kamu yang membuat Raja dan Pemangku Pedang menangkap kesalahan ayahku! Kamu serigala!”
“Salah. Aku hanya melemparkan umpan dari Rumah Bordil Xiaoqin. Sayangnya, Raja dan Pemangku Pedang terlalu cerdas sampai bisa mengetahui rahasia di balik kematian Ratu Ling.”
Sekarang Su Min mengerti siapa yang telah membuat ayahnya memiliki keberanian meracuni Ratu Ling sampai mati.
__ADS_1
Itu Shen Jinglang! Shen Jinglang yang memberikan ide meracuni Ratu Ling dan membuat ayahnya mennaggung kesalahannya sendirian!
“Kamu biadab!”
“Ssstttt…. Perempuan tidak boleh mengatakan kata-kata kotor.”
Su Min lalu meludahi Shen Jinglang karena marah dan kebenciannya. Ternyata semua hal yang menimpa dirinya dan keluarganya adalah skema yang dimulai oleh Shen Jinglang! Dia tidak pernah menyangka kalau Tuan Besar Zichuan akan sekejam itu!
“Aku tanya sekali lagi. Di sinikah kamu melukainya?”
Shen Jinglang kembali menyentuh dahi Su Min. Ekspresinya berubah menjadi dingin dan menyeramkan.
Shen Jinglang tiba-tiba menyeret Su Min ke dekat meja, lalu dia membenturkan kepala Su Min ke meja tersebut. Su Min meringis saat darah mengalir dari dahinya.
“Karena Raja tidak bisa memberikan kematian padamu, maka aku akan menggantikannya. Aku akan membuatmu lebih menderita dibandingkan eksekusi hukuman mati.”
Shen Jinglang meraih sebotol racun dari dalam jubahnya, kemudian dia memaksa Su Min untuk meminumnya. Su Min memuntahkannya, tapi Shen Jinglang kembali meminumkan racun tersebut sampai melewati tenggorokannya. Tenggorokan Su Min terasa panas dan gatal dan juga sakit.
Saat Shen Jinglang melepaskannya, Su Min berteriak memakinya, namun suaranya tidak keluar. Dia mangap-mangap dan menjadi panik.
Su Min menunjuk Shen Jinglang yang sedang menyeringai sembari menatapnya dengan lekat. Sekarang Shen Jinglang meraih tangan Su Min dan memberikan serpihan botol porselen yang pecah.
“Sayang sekali tidak ada yang bisa mendengar suara indahmu lagi. Ah, selain merusak pita suara, racun yang kamu minum barusan juga akan menyerang jantung dan hatimu. Kamu bisa memilih mengakhirinya lebih cepat atau tersiksa selama beberapa waktu.”
Shen Jinglang di mata Su Min adalah pembunuh bertangan dingin. Dia mampu menyembunyikan segalanya dengan baik dan sangat pandai mencari perhitungan.
Su Min memendam banyak kebencian, itu membuat racun di dalam tubuhnya lebih cepat bereaksi dan sebelum Shen Jinglang pergi, dia sudah ambruk karena dadanya terasa sesak.
Shen Jinglang jongkok di hadapannya sambil terus tersenyum.
“Cepatlah berinkarnasi, Nona Su.”
Kemudian, Shen Jinglang menutup kembali kepalanya dengan tudung dan pergi dari Istana Dingin. Su Min semakin menderita, sekarang jantungnya berdetak lebih kencang dan sendi-sendinya seperti dipaksa terlepas dari tulang belulangnya. Su Min berteriak tanpa suara. Darah di kepalanya terus menetes ke lantai dan memenuhi wajah.
__ADS_1
Su Min memandangi pecahan porselen di tangannya dan berpikir. Haruskah dia mengakhirinya lebih cepat?