
Para pengunjung kaya raya yang mencari hiburan di rumah bordil Xiaoqin benar-benar tergila-gila pada wanita. Saat bibi pengurus mengumumkan penampilan dari seorang penari baru, mereka bersorak dan tanpa ragu meletakkan kepingan perak di dalam kotak besar sampai penuh.
Tahu bahwa penampilan Mo Wei memukau, si bibi semakin bersemangat memperkenalkannya. Para lelaki yang mendambakan kecantikan itu berbondong-bondong ingin berkenalan, namun Mo Wei dengan cepat menghilang di dalam kamar dan mengunci pintunya.
Dia melempar semua aksesoris yang dipakaikan padanya, lalu mengganti kembali bajunya dengan baju biasa. Riasan di wajahnya agak sulit dihapus. Dia tidak peduli lagi, dengan tampil menari dengan busana dan riasan wanita sudah sangat melukai harga dirinya sebagai pengawal Raja.
“Sialan Pemangku Pedang! Aku akan menuntut ganti rugi pada Raja!” Mo Wei menggerutu sambil terus mengusap wajahnya dengan lap basah.
Sementara itu, si bibi yang kehilangan adonan uangnya mendekati Li Fengran dan menyuruhnya untuk membujuk Mo Wei agar tampil sekali lagi. Kali ini, si bibi berjanji akan memberikan bayaran yang sangat tinggi jika Mo Wei mau tampil kembali. Li Fengran menyeringai tajam, ini saatnya mengambil kesempatan.
“Seberapa besar?” tanyanya.
“Berapapun yang kamu inginkan, selama saudarimu mau tampil, aku akan membayarnya!” si bibi menjawab dengan yakin.
Karena otaknya hanya dipenuhi dengan uang, dia jadi bodoh. Li Fengran jelas ingin memanfaatkannya. Menurutnya, Mo Wei hanya sebagian kecil aksi yang dapat memberikan si bibi keuntungan.
Rumah bordil sebesar ini, seharusnya dapat menghasilkan puluhan ribu tael setiap bulannya. Hanya saja si bibi ini tidak pernah puas dan selalu mendambakan keuntungan lebih.
“Kalau begitu, bibi harus mengikuti aturanku,” ucap Li Fengran.
“Baik, selama dia bisa tampil, kamu dapat melakukan apapun yang kamu inginkan.”
Li Fengran meminta sebuah cadar putih tipis, kemudian turun ke lantai bawah. Aksinya persis seperti yang dilakukan Mo Wei, hanya saja lebih halus dan lebih lentur.
Semua pria yang melihatnya seketika merangsek mengelilingi panggung berbentuk bulat, menatap penuh harap pada sosok gadis di depan mereka.
“Para kakak yang baik, penari baru yang beberapa saat lalu adalah saudariku. Aku tahu kalian menyukai tariannya dan rela membayar mahal. Tapi, ada satu hal yang tidak kalian tahu,” Li Fengran menggantung ucapannya, memancing rasa penasaran semua orang.
__ADS_1
“Apa? Cepat beritahu kami!” teriak salah seorang pria.
“Ya! Benar! Cepat beritahu kami!”
“Jangan memancing kami! Suruh dia tampil lagi!”
Li Fengran menyeringai di balik cadarnya. Ternyata benar, demi kesenangan dan wanita, para hidung belang ini sangat tidak sungkan. Mungkin, mereka juga telah menyimpan belasan selir di kediaman mereka, mengoleksiknya sebagai objek bersenang-senang.
“Kami bersaudara berasal dari wilayah utara Jinchuan. Beberapa waktu lalu, kampung halaman kami terkena bencana banjir dan orang tua kami telah tiada. Aku dan saudariku merantau ke kota, mencoba mencari penghidupan. Saudariku memiliki bakat, jadi dia mencoba menggunakannya. Tapi, begitu tarian diselesaikan, hatinya menjadi sedih dan teringat akan orang tua dan saudara-saudara kami yang masih menderita. Tuan-tuan dan kakak-kakak, jika kalian bisa mengurangi kesedihannya, mungkin dia akan bersedia menghibur kalian satu kali lagi.”
Di dalam kamar atas, Mo Wei meludah. “Menghibur pantatmu! Seumur hidup ini aku tidak akan menari lagi!”
Baginya sangat menjijikan melihat puluhan pasang mata pria menatapnya seperti serigala lapar. Memang benar kata pepatah, wanita adalah makhluk yang berbahaya. Hanya dengan kecantikan yang palsu, mereka terpesona dan begitu mendamba. Mo Wei berkali-kali bergidik ngeri.
Di lantai bawah, lonceng tanda keberuntungan berbunyi. Puluhan pria yang biasanya pelit dan tidak mau menyumbang ini tiba-tiba berinisiatif menyerahkan semua uang di kantung mereka pada Li Fengran. Saking banyak dan beratnya, Li Fengran sampai harus menyimpannya sebagian di lantai.
“Nona, apa yang sebenarnya kamu lakukan?” tanya si bibi dengan nada menyelidik. Li Fengran menjawab ringan, “Mengumpulkan uang.”
Para pria yang sudah memberikan uang lalu berteriak, menuntut agar Li Fengran menyuruh Mo Wei turun dan tampil sekali lagi. Alih-alih menuruti keinginan mereka, Li Fengran justru tertawa. Para pria itu berteriak, tapi lagi-lagi tidak ditanggapi serius oleh Li Fengran.
“Kakak-kakak dan tuan-tuan, kalian begitu mencintai kecantikan dan pandai bersenang-senang. Sayangnya, saudariku sangat pemalu dan tidak akan pernah tampil lagi. Aku sangat berterima kasih karena kalian bersedia memberikan uang kalian pada kami.”
“Gadis! Kamu menipu kami?” beberapa pria berteriak marah. Li Fengran menggelengkan kepala.
“Aku tidak menipu kalian. Uang-uang ini, memang untuk membantu para korban bencana banjir. Siapa suruh kalian begitu pelit dan kikir. Jika kalian bermurah hati, aku tidak akan menggunakan cara seperti ini,” Li Fengran bicara terus terang.
Cara bicara Li Fengran yang tegas dan berani, membuat si bibi pemilik rumah bordil tercengang. “Nona, siapa kamu sebenarnya?” tanyanya.
__ADS_1
“Aku?”
“Ya, siapa kamu sebenarnya dan mengapa kamu memanfaatkan kami?” tanya si bibi lagi.
“Bibi, kamu penasaran?”
“Cepat katakan!”
Li Fengran meletakkan semua kantung uang di lantai. Ia berlagak seperti merogoh jubah bajunya dan mengambil sesuatu, tapi tidak ada apapun di tangannya. “Aiya! Aku lupa membawa kartu namaku!”
Si bibi mulai marah. “Nona, sebaiknya kamu jangan bermain-main dengan kami!”
Beberapa penjaga rumah bordil yang kekar datang dengan tatapan penuh ancaman. Satu kata perintah keluar dari mulut si bibi, maka para penjaga itu akan langsung menangkap Li Fengran. “Aku memang suka bermain-main. Tapi, rekanku tidak pernah bermain-main! Mo Wei!”
Saat itulah, Mo Wei yang sudah kembali ke setelan semula melompat turun ke lantai bawah, berdiri tepat di samping Li Fengran. Tangannya memegang sebuah pedang panjang. Sisa wajah cantiknya masih membekas, tapi itu tidak mengurangi keganasan dan auranya.
“Ah, perkenalkan, ini adalah saudariku,” ucap Li Fengran. Semua mata membelalak dan tidak ada seorang pun kecuali mereka yang tidak terkejut.
“Penari itu… ternyata seorang pria? Puih, puih, puih! Aku bahkan mendambakannya!” salah seorang pria yang memberi uang paling banyak berlagak ingin muntah. Ternyata mereka semua sudah tertipu!
“Mata kalian yang buta. Apa kalian tidak bisa membedakan mana seorang gadis tulen dan samara? Hahaha!” Li Fengran tertawa sangat puas. Ia akhirnya bisa memberi pelajaran pada para bangsawan dan pengusaha pelit ini.
“Melihat gadis cantik dan mempesona, mata kalian hampir keluar dari tempatnya. Tapi saat hidup orang lain terancam karena kelaparan dan penyakit, mata kalian justru menjadi buta dan telinga kalian menjadi tuli. Kalian juga menjadi sangat fasih membuat alasan!”
Si bibi marah dan tanpa pikir panjang langsung bertindak. “Tangkap mereka! Beraninya mengacau di tempatku!”
Mo Wei hendak mengeluarkan pedangnya ketika sebuah suara lantang menggema mengalihkan perhatian datang dari arah pintu masuk. “Yang Mulia Raja tiba!”
__ADS_1