The Choice Queen

The Choice Queen
TCQ 51: Jatuh dalam Pelukan Raja


__ADS_3

Li Fengran baru selesai mengganti baju dan makan malam. Dia berencana membicarakan sesuatu yang penting dengan Nangong Zirui, jadi dia meninggalkan Istana Changsun dan bergegas menuju Istana Qihua. Tangannya memegang sebuah lentera yang difungsikan untuk menerangi jalan.


Dia sedikit merasa heran saat tiba di depan istana, beberapa pelayan seperti baru saja mendapat bencana. Ketika ditanya, para pelayan tidak berani menjawab, karena itu berkaitan dengan reputasi Raja.


Dia juga bertanya-tanya mengapa malam ini istana sepi. Biasanya setiap kali dia datang, kepala kasim itu, Wang Bi, selalu sedang berjaga dan langsung melaporkan kehadirannya. Tapi kali ini, Wang Bi tidak ada.


"Apa Yang Mulia meliburkannya?" tanyanya dalam hati.


Sudahlah, Li Fengran tidak mau banyak berpikir. Dia langsung berlari ke dalam aula untuk mencari Nangong Zirui, tapi pria yang biasanya duduk di kursi kerjanya sekarang tidak ada. Bahkan dia melihat setumpuk dokumen berjejer tidak rapi dan di sudut ruangan, dia melihat wadah pembakar dupa yang rusak. Sepertinya, wadah itu baru saja dilemparkan dengan tenaga yang kuat.


"Yang Mulia? Apakah kamu di sini? Aku ingin membicarakan sesuatu yang aku temukan saat di Jinchuan. Yang Mulia?"


Li Fengran memanggilnya beberapa kali, tapi tidak ada jawaban. Karena tidak ada pelayan dan tidak ada Wang Bi, Li Fengran memberanikan diri masuk lebih dalam.


Kemudian, dia melihat pakaian Nangong Zirui tersampir di dinding kertas yang menjadi penghalang. Dari balik cahaya lilin yang terang, bayangan sosok seseorang tengah berada dalam bak mandi terlihat. Dia berpikir mungkin pria itu sedang mandi dan tidak pantas baginya untuk terus melangkah.


Jadi, Li Fengran berhenti beberapa langkah dari dinding kertas tersebut.


"Yang Mulia, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu," ucapnya. Tapi, tidak ada jawaban dan setelah bicara lagi, orang di balik dinding kertas masih tidak menjawab.


Li Fengran jadi khawatir. Dia memberanikan diri melangkah sedikit demi sedikit sambil menutup matanya. Bagaimanapun, dia adalah wanita dan bisa saja dianggap orang mesum karena melihat seorang pria mandi. Terlebih, pria itu adalah Raja yang tubuhnya sudah pasti sangat berharga.


Merasa ada yang aneh karena Nangong Zirui tidak merespon kedatangannya, Li Fengran langsung membuka matanya dan dia terkejut. Nangong Zirui dalam kondisi berendam memejamkan matanya dan dahinya berkerut dalam.


Dada pria itu yang bidang dan lebar setengahnya terendam di dalam air bersama setengah tubuhnya. Punggungnya bersandar pada ujung bak mandi, kedua tangannya tenggelam di dalam air. Keringat mengalir deras dan dia seperti sedang menahan sesuatu.


"Yang Mulia? Apakah kamu baik-baik saja?"


Saat ini, pikiran jernih Li Fengran tersisih akan penampilan Nangong Zirui. Dia yang biasanya waspada kehilangan kesiagaan dan tidak menyadari bahwa dia sedang mendekati bongkahan api yang sedang membara.


Jika dia melangkah lagi, maka api itu akan menyambar dan membakarnya sampai habis. Tapi, satu-satunya hal yang dikhawatirkan olehnya hanyalah Nangong Zirui.

__ADS_1


Li Fengran berdiri di samping bak mandi. Kemudian, dia mencondongkan tubuhnya dan sedikit membungkuk. Tangannya terangkat, menyentuh wajah Nangong Zirui dan menepuknya pelan.


"Yang Mulia, bangun! Kamu bisa masuk angin jika terus berendam air dingin," ucapnya.


Li Fengran terkejut karena saat tangannya menyentuh pipi Nangong Zirui, dia merasakan panas yang tinggi. Suhu tubuh pria ini berlawanan dengan air di bak mandi, jika terus berendam, maka dia bisa sakit.


Nangong Zirui berada di alam bawah sadarnya. Efek pil penahan hasrat baru mulai bekerja, sementara efek dupa musim semi sudah bereaksi sejak tadi. Itu membuat efek pil kehilangan fungsi dan tubuh Nangong Zirui menegang.


Pria itu menahan panas dengan tenaga dalamnya, namun kesadarannya perlahan menurun. Saat berada di alam bawah sadar, samar-samar dia mendengar suara Li Fengran memanggilnya.


Oh, tidak, wanita itu tidak seharusnya di sini!


"Xiao... Xiao Feng, pergi dari sini!" serunya lemah. Ledakan panas semakin kuat menerjang, hampir membobol pertahanan tubuhnya.


"Ah? Yang Mulia, aku tidak bisa mendengar suaramu," Li Fengan mendekatkan wajahnya dan menajamkan telinganya. Dia bisa merasakan napas Nangong Zirui menjadi cepat dan hembusan udaranya menepuk pelan telinganya, membuat bulu kuduknya seketika meremang.


Nangong Zirui tiba-tiba mengangkat tangan kirinya, menarik pundak Li Fengran dan mendorong tengkuknya. Li Fengran tidak siap dan sangat terkejut, namun dia langsung mematung saat bibirnya bersentuhan dengan bibir panas Nangong Zirui.


Jadi, Nangong Zirui membuka mulutnya dan memakan bibir Li Fengran dengan lahap tanpa tahu reaksi wanita itu. Dia hanya merasa bibir itu sangat manis dan sejuk. Semakin lama, semakin menuntut.


Li Fengran yang baru pulih dari keterkejutannya langsung mengernyitkan dahi dan berusaha melepaskan diri. Dia bisa merasakan panas dari tubuh Nangong Zirui menjalar ke dalam tubuhnya lewat persentuhan tersebut. Bahkan, dia yakin wajah keduanya sekarang mulai memerah.


Li Fengran akhirnya tahu maksud pria itu. Dia ingin melepaskan diri, tapi tangan Nangong Zirui mengunci pundak bagian belakang dan menahan lehernya. Pria itu juga semakin mendorong ke dalam mulutnya, memaksanya untuk membuka pintu.


Napas Li Fengran tercekat dan dia mengigit bibir bawah Nangong Zirui sampai berdarah. Nangong Zirui melonggarkan cekalannya dan melepaskan bibir Li Fengran, namun jarak wajah mereka tidak memiliki perbedaan yang jauh.


"Yang Mulia, aku harus pergi. Aku tidak akan mengganggumu lagi," ucap Li Fengran.


Dia bersiap untuk lari, namun sebelum dia berhasil melangkah, Nangong Zirui meraih tangannya dan menariknya lagi. Alhasil, Li Fengran jatuh ke dalam bak mandi dalam posisi yang sangat canggung.


Li Fengran duduk di pangkuan Nangong Zirui dan wajahnya menghadap pria itu. Sekujur tubuhnya basah kuyup tapi yang paling mengesalkan adalah kedua tangannya menyentuh dada bidang pria itu.

__ADS_1


Li Fengran tidak berani berpikir di bagian mana dia duduk dan bagian tubuh apa yang dia duduki saat ini. Satu-satunya hal yang dia pikirkan adalah melompat keluar dari bak mandi dan melarikan diri.


Sayangnya, Nangong Zirui tiba-tiba meraih pinggangnya dan menariknya dalam pelukan. Sekali lagi, Nangong Zirui merasakan kesejukan yang dialirkan dari tubuh Li Fengran ke dalam pembuluh darahnya. Dia memeluknya erat-erat, seolah ingin tulang belulang mereka menyatu.


"Yang Mulia! Sadarlah! Cepat lepaskan aku!"


Li Fengran meronta, tapi tenaganya seperti ikut membeku dalam air. Darahnya mulai memanas. Dia bisa merasakan detak jantung Nangong Zirui yang berdegub semakin kencang, seperti ingin melompat keluar dari rongga dadanya.


Nangong Zirui, di ambang kesadarannya hanya bisa berbisik, "Aku sudah menyuruhmu pergi."


Bulu di tubuh Li Fengran semuanya meremang lagi. Napas Nangong Zirui yang panas di telinganya membangunkan sesuatu yang membuatnya semakin takut dan khawatir. Pria ini sedang setengah sadar, dia seorang maskulin dan jika Li Fengran tidak segera pergi, sesuatu yang tidak diharapkan akan terjadi.


"Yang Mulia, sadarlah! Buka matamu dan lihat siapa aku!"


Tapi, Nangong Zirui sudah mulai kehilangan kendali. Dia tahu wanita yang dipeluknya adalah Li Fengran. Dia ingin melepasnya, namun sisi hatinya yang lain, yang telah dikuasai hasrat gelap memaksanya untuk menahannya.


"Xiao Feng, bantu aku..."


Nangong Zirui sedikit melonggarkan pelukan, dia meraih tengkuk Li Fengran dan menciumnya lagi. Kali ini, dia bersikap lebih lembut dan tidak menuntut.


Tubuh Li Fengran seperti lilin yang meleleh, tapi dia tahu bukan saatnya terlena. Li Fengran terpaksa menggigit kembali bibir Nangong Zirui. Dia mendengar pria itu mendesis dan mengenyitkan dahi.


Pada saat itu, Li Fengran langsung mendorongnya sekuat tenaga. Entah karena tenaganya yang besar atau kontrol tubuh Nangong Zirui yang melemah, dorongannya berhasil membuat pria itu menjauh.


Punggungnya berbenturan keras dengan bak mandi dan air beriak, sebagian tumpah. Li Fengran terkejut. Apakah dia mendorongnya terlalu keras? Bagaimana jika punggungnya memar?


"Yang Mulia, aku bukan sengaja ingin melukaimu! Ini karena kamu yang memaksaku!"


Nangong Zirui tidak merespon. Kerutan di dahinya menghilang dan wajahnya berubah tenang. Keringat tidak lagi mengucur. Bibirnya yang digigit dan berdarah perlahan berubah pucat.


Nangong Zirui sepertinya kehilangan kesadaran. Li Fengran panik dan mengguncang tubuhnya, menyuruhnya bangun tapi tidak ada respon. Dia mulai takut lagi dan tanpa memikirkan kondisi tubuhnya, serta terlepas dari bagaimana reaksi orang-orang nanti, dia tetap berteriak.

__ADS_1


"Seseorang! Cepat bantu aku menolong Yang Mulia!"


__ADS_2