The Choice Queen

The Choice Queen
TCQ 54: Hadiah untuk Raja


__ADS_3

Siang hari, restoran paling terkenal di ibukota sedang sibuk melayani tamu. Bagian terpenting dari restoran ini bukanlah makanan, melainkan siapa tamu yang datang.


Mereka, terutama yang ada di ruang makan VIP adalah penerima layanan terbaik. Selain makanan enak, tamu-tamu ini juga menerima pelayanan yang khusus.


Shen Jinglang berada di urutan teratas tamu VIP yang menerima layanan spesial. Setiap kali datang ke ibukilota, dia selalu mendapatkan sambutan hangat dari pemilik restoran. Bahkan, pemilik restoran itu tidak segan-segan memanggil seorang penghibur untuk menemaninya.


Hari ini, dengan layanan istimewanya, Shen Jinglang menikmati kesenangan di lantai teratas. Seorang bawahan, pangkatnya di bawah Chen Pang, baru selesai melaporkan sesuatu.


Ada senyum tersembunyi di wajahnya.


"Jadi, dia menghukum adikku dan mengurungnya sementara dia pergi?" tanyanya dengan ekspresi sulit diartikan. Bawahan itu mengangguk mengiyakan.


"Bahkan Ibu Suri juga memperingatkannya, Tuan. Dia berkata bahwa Ratu harus bersabar dan tidak boleh menggunakan taktik licik pada Raja untuk memikatnya."


Shen Jinglang terkekeh.


"Wanita tua itu begitu pandai mengajari orang lain. Heh, adikku yang bodoh itu mana bisa diperingatkan. Beritahu dia untuk mencari cara lain!"


Bawahan langsung pergi. Shen Jinglang meneguk tehnya sampai habis, kemudian melemparkan cangkirnya ke lantai dan pecah. Dia mengepalkan tangannya menahan perasaan.


Sialan, pikirnya. Raja ternyata memang sangat perhitungan dan tahu cara bertindak pada orang yang sudah menyinggungnya. Tidak mudah bagi Shen Jinglang untuk melangkah jika dia tidak tahu pola pikir Raja.


"Tuanku, apakah akan bertindak terang-terangan?" tanya Chen Pang.


"Tidak perlu buru-buru. Aku masih punya banyak waktu dan banyak cara untuk mengalahkannya."


Saat dia mengatakan itu, mata Shen Jinglang dipenuhi kebencian. Ketidaksukaannya pada Nangong Zirui bukan tanpa alasan. Selain kekuasaan, dia juga masih punya alasan lain mengapa dia begitu membencinya.


"Apakah dia sudah bertindak?" tanya Shen Jinglang pada Chen Pang.


"Ya, Tuan. Raja sudah tahu perihal penggelapan dana Rumah Bordil Xiaoqin dan mengamankan beberapa buku akun. Mungkin dalam beberapa hari, dia akan mengutus seseorang untuk menangkap Tuan Besar Jinchuan."


Shen Jinglang mengangguk puas. Dia tahu kalau Nangong Zirui mengetahui keberadaannya di Jinchuan dan terus mengutus orang-orangnya untuk mengawasi. Tapi, saat itu dia benar-benar tidak memiliki agenda untuk bertindak. Shen Jinglang hanya datang ke Jinchuan untuk jalan-jalan.


Karena Raja sangat memperhatikan gerak-geriknya, maka dia akan menuruti keinginannya. Shen Jinglang dengan sengaja memberikan celah kepada Pemangku Pedang agar dia bertindak, dia sengaja mengarahkan Li Fengran ke Rumah Bordil Xiaoqin.


Jika Raja tidak datang, maka pertunjukannya akan semakin menarik. Sayangnya, dia sangat menyayangi bawahannya sampai membuat Shen Jinglang tidak senang.


Dia tahu rahasia dan keburukan setiap penguasa di Donghao. Kebetulan, akhir-akhir ini Su Ren sering membuatnya kesal dan tidak senang dalam beberapa transaksi dan politik. Shen Jinglang merasa Su Ren sudah mulai lupa tujuan awalnya dan perlahan berbalik kepada Raja.


Shen Jinglang adalah orang yang pendendam, dia tidak pernah menerima seseorang yang tidak setia. Jika harus disingkirkan, maka disingkirkan.


Shen Jinglang sudah melemparkan umpan kepada Nangong Zirui, dan Nangong Zirui ternyata sudah mengambil umpannya. Dengan temperamennya, dia yakin Nangong Zirui akan mengusut kejanggalan buku akun sampai tuntas.


"Bagus. Dia pasti akan menyukai hadiah yang kuberikan."

__ADS_1


"Tuan, ada satu kabar lagi datang dari istana tadi pagi."


"Kabar apa?"


"Raja diracuni obat musim semi lewat dupa, Pemangku Pedang bersamanya sepanjang malam."


Raut wajah Shen Jinglang perlahan berubah, menegang dan emosi tertahan di matanya.


"Apa mereka tidur bersama?" tanya Shen Jinglang.


"Saya tidak tahu. Mata-mata hanya mengatakan kalau Pemangku Pedang berada di kamar Raja sepanjang malam."


Dalam diamnya, Shen Jinglang diaduk emosi dan ketidaksenangan. Dia diam-diam mengepalkan tangannya. Tidak, Raja tidak boleh bersama Pemangku Pedang!


Shen Jinglang bisa menahan diri dari setiap serangan yang diluncurkan Raja dan tiga tuan besar, tapi dia sering tidak terkendali ketika menyangkut wanita itu. Li Fengran, bagaimanapun caranya, dia akan merebutnya dari sisi Raja!


Jelas-jelas dia yang lebih dulu bertemu Li Fengran. Meskipun tidak memiliki banyak kenangan, sosoknya masih membekas dan perasaan itu terpupuk tahun demi tahun.


Tidak akan ia biarkan Raja mendapatkan hatinya dan membuat mereka bersama!


"Siapa pelakunya?"


"Seorang pelayan."


"Bodoh. Pelayan tidak akan berani tanpa diperintah."


Shen Jinglang terdiam karena dia juga tidak tahu siapa pelakunya. Apakah Ibu Suri? Tidak, Ibu Suri begitu menyayangi anaknya. Dia bahkan bisa bekerjasama dan menghukum Shen Lihua dan memperingatkannya dengan tegas.


Shen Lihua? Sepertinya bukan. Adiknya yang bodoh tapi masih berguna itu tidak akan bertindak cepat setelah mendapat peringatan. Itu bukan gayanya.


Selir Su? Tapi, jika dia melakukannya, mengapa dia memberikan kesempatan emasnya kepada Selir Fei?


Lalu siapakah yang begitu berani?


"Selidiki dan laporkan padaku."


"Baik, Tuan."


*


Nangong Zirui dan Li Fengran tengah berada di pusat keramaian. Karena sudah memutuskan meliburkan pengadilan dan berjalan-jalan, maka mereka menyamar dan berbaur di antara penduduk yang padat.


Puncak musim semi akan segera tiba dan festival akan segera diadakan. Kios-kios dan toko di sepanjang jalan sudah mulai bersiap dan menghias toko.


Li Fengran menghampiri sebuah kios penjual jepit rambut dan aksesoris wanita. Sekarang, dia memakai setelan wanita dan menanggalkan seragam Pemangku Pedang, jadi dia tidak akan disalahpahami sebagai pria lagi.

__ADS_1


"Yo, Nona, itu kamu kan?" si pedagang bertanya sambil menyambutnya dengan senang.


Li Fengran mengernyit. "Apa kita pernah bertemu?"


"Nona, terakhir kali Nona kemari adalah saat istana mengadakan perjamuan. Saya telah salah mengenali Nona sebagai pria waktu itu dan saya masih merasa bersalah. Tidak disangka saya akan bertemu Nona lagi."


Nangong Zirui ingin tertawa, tapi dia menahannya. Alhasil, wajahnya jadi konyol dan suara tawa kecil yang tertahan terdengar. Ternyata ada kejadian menarik seperti ini.


Li Fengran langsung tidak senang dan merasa malu. Ia mendengar suara Nangong Zirui lalu menoleh untuk melihatnya.


"Xiao Feng, kamu sepertinya harus memperbaiki gizi. Tubuhmu memang sedikit kurus dan dadamu tidak besar," bisik Nangong Zirui.


Wajah Li Fengran memerah. Dia menepisnya. "Yang Mulia, jangan mengejekku!"


"Aku bisa membantumu membesarkan dadamu jika kamu mau."


"Sejak kapan Yang Mulia-ku yang agung menjadi mesum? Apakah setelah menciumku dan membuatku tercebur lalu memelukku seolah aku adalah es untuk mendinginkan tubuhmu?"


"Kamu sangat pandai bicara," Nangong Zirui menjauh sedikit.


Benar juga, sejak kapan dia berani mengatakan hal-hal seperti itu? Dulu dia sangat menjaga kata-katanya terlebih di depan wanita manapun. Dia tidak akan mengatakan hal-hal yang mengarah seperti menggoda seseorang.


"Kenapa? Yang Mulia malu?" Li Fengran memicing. Dalam hatinya, dia bersorak karena berhasil membuat Nangong Zirui kehilangan kata-katanya. Rasakan, siapa suruh dia menggodanya!


"Nona, jepit rambut yang terakhir kali dipegang Nona masih saya simpan. Apakah Nona ingin membelinya?" si pedagang mengeluarkan jepit rambut yang waktu itu dipegang Li Fengran.


"Tidak mau. Terlalu mahal."


"Tuan, Nona ingin jepit rambut ini. Apakah Tuan akan membelikannya?" si pedagang tidak kehilangan cara agar jepit rambutnya terjual.


"Tidak, dia tidak akan membelikannya. Bos, simpan saja."


"Siapa bilang aku tidak akan membelinya? Berikan padaku."


Jepit rambutnya berpindah tangan setelah Nangong Zirui menyerahkan sebongkah perak. Mata pedagang berbinar.


"Tuan sangat dermawan. Nona ini sangat beruntung karena memiliki Tuan sebagai kekasihnya," si pedagang masih memuji.


Nangong Zirui hanya tersenyum.


"Kemarilah," ucapnya pada Li Fengran. Tiba-tiba saja dia mengambil jepitnya dari kotak dan memakaikannya di kepala Li Fengran. Li Fengran untuk sesaat terdiam.


"Karena kamu tidak leluasa memakainya di istana, maka biarkan jepit rambut ini ada di kepalamu sampai kita kembali."


Nangong Zirui sangat lembut. Siapapun yang melihat adegannya yang memakaikan jepit rambut pasti akan terpesona karena kelembutannya.

__ADS_1


Li Fengran juga berusaha menenangkan detak jantungnya. Nangong Zirui yang seperti ini jauh lebih berbahaya daripada saat dia memeluknya di bak mandi.


"Te-terima kasih, Yang Mulia."


__ADS_2