
“Yang Mulia, Selir Su, ah, Nona Su meninggal karena bunuh diri di Istana Dingin,” Wang Bi melapor setelah seorang pengawal memberitahunya di pintu gerbang.
Nangong Zirui yang sedang membahas urusan pemindahan harta Keluarga Su ke kas kerajaan bersama Mo Wei seketika tertegun. Mo Wei yang baru mengetahui masalah Su Min dari Nangong Zirui beberapa saat yang lalu ikut tertegun. Su Min mati bunuh diri?
“Yang Mulia, sepertinya dia tidak tahan menderita sehingga lebih memilih mati.”
Nangong Zirui menghela napasnya. Meski dia memberikan jalan hidup untuk Su Min, wanita itu tidak akan menghargainya. Nangong Zirui tadinya ingin Su Min merasakan betapa sengsaranya dia di Istana Dingin, sehingga Nangong Zirui memberinya hukuman pengasingan. Dia tidak menyangka Su Min memilih mati secepat ini, bahkan mendahului ayahnya yang masih dipenjara.
“Jangan beritahukan ini pada Pemangku Pedang,” ucap Nangong Zirui.
“Mengapa?” Mo Wei bertanya karena penasaran.
“Dengan temperamennya itu, dia pasti akan mendatangiku dan bertanya mengapa Su Min bunuh diri.”
“Apa Yang Mulia curiga kematiannya bukan bunuh diri yang disengaja?”
“Hanya firasat. Jika dia berniat bunuh diri, maka malam itu dia akan melakukannya, tidak harus menunggu sampai dirinya diasingkan ke Istana Dingin.”
Dia punya keyakinan bahwa kematian Su Min bukanlah kematian yang semata-mata karena bunuh diri. Ada banyak kemungkinan yang ada.
Su Ren memimpin Jinchuan dengan caranya, banyak orang tidak menyukainya. Bisa jadi, seseorang yang pernah menderita karenanya memanfaatkan situasi jatuhnya Keluarga Su dan menyerang Su Min untuk membalas dendam.
“Di mana jasadnya sekarang?” tanya Nangong Zirui kepada Wang Bi.
“Sudah dikirim ke Biro Persemayaman, Yang Mulia.”
“Mo Wei, ikut aku.”
Kemudian ketiga orang itu pergi ke Biro Persemayaman. Jasad Su Min yang sudah kaku ditutupi kain putih.
Ada bau yang menyengat begitu mereka tiba di ruang penyimpanan mayatnya. Petugas Biro Persemayaman membuka kain putih penutup, memperlihatkan kondisi jasad Su Min.
Ada bekas sayatan benda tajam di pergelangan tangan kiri, tepat di pembuluh darah utama. Selain bekas robekan dan memar di kepala, anggota tubuh lainnya tidak menunjukkan tanda-tanda penyiksaan. Hanya saja ketika petugas Biro Persemayaman membuka mulut jasad Su Min, bau menyengat menguar seperti bau busuk dan bangkai.
“Bukankah dia bunuh diri? Mengapa mulutnya sangat busuk?” tanya Mo Wei. Dia terkejut karena mulut Su Min yang sudah mati bisa menguarkan bau yang sangat busuk.
“Tuan, ketika ditemukan, Nona Su sudah dalam kondisi tidak bernyawa dengan darah mengalir deras dari pergelangan tangannya. Namun ketika autopsi dilakukan, kami menemukan hal lain yang mungkin menjadi penyebab utama Nona Su bunuh diri,” petugas menjelaskan.
Nangong Zirui menyuruh petugas menjelaskan.
“Yang Mulia, kami menemukan zat beracun di dalam tubuh Nona Su. Racun itu merusak jantung, paru-paru, dan pita suaranya. Itu sebabnya mulutnya berbau busuk karena racun di pita suara menyebar ke rongga mulut.”
__ADS_1
“Racun apa?” tanya Nangong Zirui.
“Menjawab, Yang Mulia. Racun Rumput Ungu. Orang yang terkena racun ini akan sangat menderita setiap kali menggunakan emosi. Pita suara yang rusak juga membuat mereka tidak bisa berteriak meminta tolong. Pada akhirnya, orang itu akan mati karena jantung dan paru-parunya hancur tanpa bisa meminta pertolongan.”
Mo Wei bergidik ngeri setelah si petugas menjelaskan tentang racun tersebut. Ternyata, seseorang bisa begitu kejam dalam membunuh. Menghilangkan nyawa dengan menyiksa sampai memaksa bunuh diri adalah metode yang sangat kejam dibandingkan mengeksekusi dengan pedang.
Dia jadi berpikir, sebesar apa dendam yang dimiliki pelaku sampai menyiksa Su Min sampai seperti itu?
Nangong Zirui hanya mengangguk kecil. Kekejaman seperti ini, adalah sebuah pemandangan biasa baginya. Hidup di istana memang begini.
Setiap kali melangkah, akan selalu ada bahaya yang siap menimpa kapan saja dan di mana saja. Cara pembunuhan seperti ini, hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang memiliki perencanaan yang baik.
“Yang Mulia, kami juga menemukan petunjuk lain ketika kami pertama kali tiba di Istana Dingin,” ucap petugas.
“Katakan!”
“Nona Su menuliskan kata ‘jing’ di lantai dengan darahnya. Selain itu, kami juga menemukan botol bekas racun itu tidak jauh dari tempat jasad Nona Su.”
“Biarkan Mahkamah Agung menyelidikinya. Jika Pemangku Pedang datang bertanya pada kalian, katakan bahwa petunjuk kata yang dituliskan oleh Su Min adalah ‘shen’, bukan ‘jing’.”
Meski tidak tahu tujuan Rajanya, petugas itu berkata, “Kami melaksanakan perintah, Yang Mulia.”
Seseorang telah membunuhnya dengan cara yang lain. Su Min begitu cerdas, sampai mati pun dia masih bisa membuat orang kerepotan mencari tahu siapa pembunuhnya.
Tapi karena dia menuliskan petunjuknya, itu artinya pelakunya sangat berbahaya. Jika hanya pelayan biasa, maka dia tidak mungkin menuliskan petunjuk.
Nangong Zirui memutar otaknya, memikirkan kemungkinan pelakunya. Tapi jika hanya berdasarkan petunjuk kata ‘jing’, kapan kasusnya terungkap?
“Yang Mulia, mengapa Yang Mulia mengarahkan kata ‘shen’ kepada Pemangku Pedang?” tanya Mo Wei yang penasaran akan alasan Raja mengubah arah petunjuknya.
Nangong Zirui hanya terkekeh dan dia tampak tidak bersalah sama sekali.
“Orang yang memprovokasi Su Min sampai membuatnya menyerang Xiao Feng adalah Shen Lihua. Biarkan dia menagih utang itu dengan caranya sendiri.”
“Jadi, Yang Mulia ingin Pemangku Pedang berpikir Nona Su menuliskan kata ‘shen’ sebagai petunjuk orang yang telah menebarkan api dan memprovokasinya? Sementara itu, jika Pemangku Pedang mempercayainya, dia akan fokus mencari perhitungan kepada Ratu. Memberi pelajaran pada seorang Ratu memerlukan perencanaan yang matang dan Pemangku Pedang akan sibuk memikirkannya. Jika dia sibuk, maka Yang Mulia bisa menggunakan kesempatan untuk menyelidiki petunjuk aslinya!”
“Oleh karena itu, kamu tidak boleh melakukan sesuatu yang membuatnya curiga,” ucap Nangong Zirui.
Mo Wei mengangguk bersemangat. Saat dia diberi tugas berat, dia mengeluh meski tetap melaksanakannya. Saat diberi tugas ringan, dia juga mengeluh dan mengatakan kalau Raja memiliki niat yang setengah-setengah dalam menugaskannya. Sekarang saat dia diberi tugas lagi, dia malah begitu bersemangat.
Mo Wei memang aneh. Jika dia bekerja pada orang lain, dia mungkin sudah dipecat berkali-kali. Tapi dari semua orang yang ada, hanya Nangong Zirui yang memahaminya dan Mo Wei sangat patuh padanya. Apapun tugas yang diberikan pasti dilaksanakan meski dia sering mengeluh dan protes.
__ADS_1
Nangong Zirui mengambil sesuatu dari lemari. Itu sebuah pedang panjang yang lentur dan mengkilap. Ketika dia memperlihatkannya pada Mo Wei, Mo Wei langsung terkejut dan dahinya berkerut.
“Yang Mulia, untuk apa Yang Mulia mengambil pedang korset ini?”
“Berikan ini pada Xiao Feng. Pedang Xingyu terlalu berat dan dia tidak bisa menggunakannya dalam kecepatan tinggi saat keadaan darurat. Pedang ini lebih ringan dan lebih mudah disamarkan.”
Nangong Zirui berkaca pada pengalaman sebelumnya. Li Fengran tampak kesulitan menggunakan Pedang Xingyu saat melawan pembunuh. Dia juga tidak sigap dan menaruhnya di mana saja sampai Su Min memiliki kesempatan melukainya.
Jika menggunakan pedang korset, selain lebih ringan, juga lebih praktis. Pedang ini bisa diselipkan di pinggang dan wanita itu bisa membawanya ke manapun, serta bisa mengeluarkannya kapan saja dibutuhkan.
Mata Mo Wei berbinar. “Apa bagianku juga ada, Yang Mulia? Aku juga ingin pedang baru! Pedang yang kamu berikan itu sudah lama kugunakan dan aku tidak ingin merusaknya.”
“Pedangmu masih bagus. Untuk apa menggantinya?”
“Jadi, tidak ada bagianku?”
Binar mata Mo Wei meredup saa dia sadar tidak ada bagiannya. Hatinya jadi sedih lagi. Raja lagi-lagi pilih kasih! Jika Pemangku Pedang diberikan pedang baru, maka dia juga seharusnya mendapat yang baru. Raja tidak adil!
“Jika aku tahu, aku tidak akan kemari. Huh, Yang Mulia pilih kasih lagi,” gerutunya sambil menoleh ke samping menghindari tatapan Nangong Zirui.
Nangong Zirui menahan tawanya. Pengawalnya ini semakin lama semakin tidak sabaran dan semakin sulit mengendalikan dirinya. Dia kemudian mengambil satu pedang lagi dari lemari, yang sangat bagus dan sangat tajam. Mungkin itu adalah pedang yang dibuat pengrajin paling terampil.
“Sudahlah. Ambil ini,” ucapnya. Dia melemparkan pedang itu kepada Mo Wei.
“Yang Mulia, benar-benar ada bagianku juga?”
“Jika kamu tidak mau, kembalikan padaku.”
“Barang yang sudah diberikan mana boleh diambil lagi. Ini adalah pemberian Yang Mulia, aku tentu sangat senang hati menerimanya. Yang Mulia yang terbaik!”
Lihatlah ekspresinya itu! Beberapa saat yang lalu dia memasang wajah kesal dan masih menggerutu, memprotes Nangong Zirui pilih kasih dan tidak adil. Sekarang setelah menerima hadiah yang sama, wajahnya langsung berubah senang dan mulutnya jadi pandai memuji!
Nangong Zirui hanya mengusilinya. Tidak mungkin dia hanya memberikan salah satu. Bagaimanapun, sebelum Li Fengran datang, Mo Wei adalah orang kepercayaan yang sudah ada di sisinya selama belasan tahun. Dia juga memperhatikan pengawalnya, hanya saja dia kesulitan menunjukkan ekspresinya.
“Jadi, apakah kamu masih menganggapku pilih kasih dan tidak adil?”
“Tidak, tidak. Aku salah bicara. Yang Mulia begitu baik hati, Mo Wei sebagai bawahan sangat bersyukur.”
“Hentikan pujianmu itu. Sekarang berikan ini pada Pemangku Pedang.”
“Baik, Yang Mulia.”
__ADS_1